
Suasana tegang kini menyelimuti ruang tamu Oma. Tatapan kesal dan kecewa dari Reynaldi dan juga Ajeng hanya bisa disambut tundukan kepala oleh Zayn yang kini berada dihadapan mereka. Duduk dengan jemarinya yang mengepal dan bergetar.
"Kenapa kamu putus dari Luna?!" suara kencang itu membuat Zayn hanya mampu melirik papanya yang kini tampak menunjukkan aura kekesalan.
"Kami jauh-jauh kesini mau melemar dia Zayn. Kami mau bantu kamu, tapi ini balasannya?"
"Pa-"
"Atau kamu memang sengaja ya bikin papa nunda buat jodohin kamu, makanya kamu tiba-tiba putus sama dia!" Zayn menghela nafasnya, ia menarik rambutnya kebelakang seraya memejamkan matanya erat-erat.
"Zayn, kamu lagi nggak bohongi kami kan?" tanya mommy menambahi membuat Zayn semakin stress dibuatnya. Sekarang perasaannya, kekhawatirannya terhadap Luna semakin membuat hatinya tak tenang saja.
Bagaimana mungkin Zayn mengatakan jika mereka putus karena orang tua Luna tidak setuju terhadapnya. Zayn tidak mungkin mengatakannya, itu terlalu beresiko.
"Maaf, tapi jujur mom, pa aku belum siap-"
"Omong kosong apa kamu ini! terus apa kamu nggak mikirin gimana perasaan Luna?! kamu udah bilang serius ke dia kan?!"
"Tapi aku sama dia udah selesai pa! dia juga setuju sama keputusan aku!" Reynaldi menatap tajam putranya satu ini. Ia bangkit dari sofa seraya menggertakkan giginya.
Ada apa dengan pikiran Zayn sebenarnya, kenapa dia mendadak mengejutkan mommy dan papanya?. Reynaldi juga tak bisa tinggal diam. Ia melirik Ajeng yang kini mengangguk seraya menghela nafasnya. Memberikan padanya kode untuk tetap tenang dan melanjutkan rencana berikutnya jika hal buruk seperti ini akan terjadi.
"Lusa kita ketemu sama temennya mommy" ucap datar papa disusul mommy yang kini bergerak bangkit dari duduknya. Wajah tampan Zayn kini mendadak pucat saja. Meskipun ia mengerti dengan maksud Reynaldi, tapi ia bahkan belum siap untuk menghadapinya nanti.
"Maksud papa apa mom?" tanya Zayn dengan matanya yang membulat.
"Karena kamu sendiri main-main sama hubungan kamu sendiri. Mommy sama papa udah mutusin buat jodohkan kamu sama anak temennya mommy"
"Tapi aku nggak mau dijodohin!"
"Zayn stop! jangan buat kesabaran mommy dan papa habis lagi!" teriak Reynaldi membuat Zayn hanya mampu menghela nafas berat seraya menunduk dan mengusap kasar wajahnya. Zayn kemudian bangkit, ia kembali ke kamarnya dan membanting pintu.
***
Baik Luna maupun dirinya harus mundur dan menghadapi kenyataan masing-masing. Jika saja Zayn bisa meluluhkan hati orang tua Luna, mungkin saja saat ini dirinya akan berada disisi Luna dan menggenggam erat jemarinya.
"Luna, apa kamu juga ngerasain apa yang aku rasa?" Zayn berdecak, ia kemudian mengetik beberapa kata di dalam kontaknya. Rasanya ragu ketika ingin ia menelfon gadis disebrang sana. Saat ini yang Zayn butuhkan hanyalah suara Luna. Ia ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja.
Zayn menggenggam erat ponselnya, ia kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Kalau ini yang terbaik buat kita, aku bisa apa?" gumam Zayn sekali lagi seraya memejamkan matanya erat-erat.
***
"Luna, kamu udah tidur?" suara terbukanya pintu membuat Luna buru-buru meringkuk seraya menyembunyikan tubuhnya dibawah kain selimut tebal yang menutupinya.
Ia mendengar suara langkah kaki kakaknya yang kini semakin mendekat kearahnya. Luna memejamkan matanya erat-erat.
"Aku tau kamu belum tidur, aku cuma mau ngasih tau kamu aja Lun. Apa yang kamu lakuin kemarin itu salah, aku sama Indah juga sebelumnya nggak menerima perjodohan kami, tapi karena kami ingat sama perjuangan orang tua, kami jadi paham" wanita yang kini tengah duduk ditepi ranjang Luna bernama Lala, kakak tertua Luna. Sikapnya tegas dan penurut terhadap orangtua.
"Luna, kakak-kakak kamu cuma berharap semoga kamu nggak ngecewain kami lagi" suara itu terdengar lirih, bersamaan dengan langkah kaki Lala yang keluar dari kamar Luna.
Luna kemudian bangkit, ia memperhatikan pintu yang tertutup itu dengan perasaan gusar. Sejujurnya Luna amat mencintai Zayn. Apakah salah mencintai seseorang dan kemudian memperjuangkannya?.
Sayangnya cinta Luna bertepuk sebelah tangan, tidak mungkin Luna kabur dan menemui Zayn lalu mengajaknya kawin lari. Itu adalah hal yang tidak masuk akal. Luna menghela nafas, pikirannya terlalu tinggi untuk disebut berkhayal.
Jika saja Luna bisa mengembalikan waktu, maka ia takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatakan hal sejujurnya pada Zayn. Perasaan yang selama ini ia simpan, dan karena gengsi juga kebodohannya akhirnya ia terlambat.
Setidaknya, meskipun Zayn juga tidak mencintainya, tapi Luna bisa lega untuk mengatakannya. Mengutarakan isi hatinya yang selama ini selalu berbunga ketika berada disampingnya.
"Aku, cinta sama kamu Zayn" tak terasa bulir air mata menetes di pipinya. Kali ini, ia tidak bisa lari lagi. Kesempatannya sudah hilang bersamaan dengan perjodohannya yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Luna memeluk lututnya, ia sedari pagi benar-benar tidak bersemangat. Hidupnya seperti tertekan, rasanya ia tidak mau menghadapi ini semua. Kenapa Luna bisa jatuh cinta seperti ini? bahkan ia benar-benar dibuat menyesal karena tidak memberikan kesempatan bagi Zayn untuk berbicara.
Pada akhirnya, entah dirinya ataupun Zayn tetap akan dijodohkan dengan orang lain.