
Cekrek cekrek cekrek
Suara kamera silih berganti terdengar dari sayup-sayup sebuah ruangan studio perusahaan Forest.
Tepat didepan kamera Falery berganti gaya sambil tersenyum kearah kamera, terkadang pandangannya juga mengarah kekiri dan kanan mengikuti instruksi fotografer.
Tak lama kemudian seorang pria masuk kedalam ruangan itu, membisikkan kata-kata pada sang fotografer membuat Falery memutar bola matanya.
"Kau mengerti?" ucap Yasya dengan senyum liciknya.
Sedang sang fotografer hanya mengangguk dan menaikkan sebelah kanan jempolnya.
"Nona Falery, akan ada model yang akan menggantikan mu besok, jadi jika kau keberatan dengan pekerjaan ini maka katakanlah saja padaku."
Falery menarik jaket tebalnya yang berada di sofa memakainya dengan perlahan sambil menyeringai pada sang fotografer.
"Aku tidak akan mundur dari pekerjaan ini, ini tanggung jawab ku. Jika ada satu model lagi yang akan kalian sewa, silahkan saja. Aku tidak keberatan" ucap gadis itu seraya pergi meninggalkan Yasya yang kini menepuk kedua pundak fotografer disampingnya.
"Lakukan apa yang harus dilakukan" ucapnya lalu pergi untuk keluar.
"Nona Gilbert" suara berat itu membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Ada rasa kesal yang membuat Falery lagi-lagi memutar bola matanya.
"Ada apa lagi presdir?"
"Kukira kau seorang model profesional, jadi hanya begini kemampuan mu?" Falery hanya terdiam, dengan tangannya yang mengepal dan wajahnya memerah dan tatapan tajam yang siap untuk meledak oleh kata-kata Yasya yang semakin menyinggungnya.
"Tuan Ferdiansyah permisi, apa aku menyinggung mu?" ucapnya sambil memutar tubuhnya menatap pria yang kali ini tepat berada dihadapannya.
"Kau sama sekali tidak menyinggung ku. Aku hanya heran pada seorang wanita yang hampir saja menjebak ku."
Gadis itu membulatkan matanya bersamaan dengan giginya yang bergetak. Sorot matanya bukan lagi kesal, melainkan benci dan amarah yang menjadi satu.
"Apa maksudmu?!" Yasya menyunggingkan senyumnya sambil melipat kedua tangannya diatas perut.
"Kau telah sengaja membuat ku mabuk dan membawaku pulang. Kau berniat untuk mencuri perhatian dariku, dan hendak menjebakku. Setelah kau tau bahwa kau diawasi oleh pembantu ku, maka kau akhirnya mulai menunjukkan kebaikan palsu yang mana itu adalah hanya untuk menarik simpati dariku."
Plakkkkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Yasya.
Terlihat gadis itu berkaca-kaca dengan matanya yang semakin memerah, siap untuk menjatuhkan air mata yang mulai tertampung.
"Kau" Yasya hendak membalas tamparan dari Falery saat dia melayangkan tangannya, Falery tak menggubris perilaku pria dihadapannya.
Falery berlari dengan air matanya yang berlinang deras membasahi pipinya yang putih. Gadis itu masuk kedalam kamar mandi, menutup toilet dengan rapat dan menjatuhkan dirinya pada dinding yang ia himpit.
"Hiks, kenapa kau berubah Yasya? aku kira kau adalah pria yang hangat, tapi aku salah hiks. Aku salah menilaimu."
Falery menghapus air matanya yang berlinang, dilepasnya jaket yang ia pakai, hanya menyisakan baju dress tipis berwarna biru dengan rambutnya yang sengaja di gulung dan diikat sedemikian rupa, dandanan gadis itu bak pakaian Amerika zaman kuno dengan dandanan yang semakin cantik.
Namun kali ini air mata yang mengalir perlahan menghapus riasan cantik yang ia pakai.
Gadis itu menatap dirinya dibalik cermin, mengusap wajahnya dengan air yang ia nyalakan lewat wastafel dihadapannya. Dua menengadahkan wajahnya lagi, menatap bayangnya sendiri dalam suara yang tak lagi terdengar.
"Bukan aku yang merayumu, bahkan aku tidak pernah menjebakmu Yasya. Aku hanya ingin membantumu, hiks."
Gadis itu kembali menangis, menyesali kebaikannya yang tak dihargai oleh Yasya yang kini telah mengecewakan hatinya.
***
Yasya mengepalkan kedua tangannya, pria itu hampir saja meninju kaca kantor yang berhadapan langsung dengan jalanan penih salju dibawahnya.
Pria itu mendengus kesal seraya merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan.
"Bodoh kau Yasya! bodoh!"
tok tok tok...
Suara ketukan pintu itu membuat Yasya kembali menyeringai, dilangkahkan kakinya menuju pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
ceklek....
"Ada apa?!" pertanyaan itu membuat pria dihadapannya menegang dengan wajah lesu dan takut pada pria yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Bos, boleh saya masuk?!."
Yasya memutar tubuhnya dan membiarkan pria dibelakangnya untuk memasuki kantornya, Yasya melangkah mendekati jendela dan melihat pemandangan dibawahnya, pria itu menyandarkan tubuhnya pada sisi jendela, tatapannya kalut dengan rasa amarah yang ia rasakan, sedang pria dibelakangnya tak berani bergerak sedikitpun, mengingat betapa dingin dan garangnya Yasya saat melayangkan amarahnya.
"Duduk Peter!" ujarnya dengan suara berat, membuat Peter duduk dengan hati-hati tanpa bersuara, takut jika sang atasan akan murka padanya.
"Bos maaf. Kami belum bisa mengungkapkan siapa itu Falery Gilbert. Kami juga belum mengetahui siapa Reyna Malik itu sebenarnya" ucap pria itu dengan menundukkan kepalanya tanpa mau menatap tatapan tajam dari Yasya.
Brakkkkk...
Suara gebrakan meja terdengar begitu keras hingga membuat Peter berdiri dan berjingkat seketika. Wajah Yasya terlihat sangar dengan matanya yang merah,cdan rahangnya yang mengeras.
"APA KAU TIDAK BISA BEKERJA SEDIKIT PUN HAAAA?! AKU SUDAH MEMBERI MU BANYAK UANG! JIKA KAU TIDAK BISA MENEMUKAN INFORMASI ITU DALAM SATU BULAN! JANGANKAN PEKERJAAN MU, HIDUPMU AKAN LEBIH SENGSARA LAGI."
Suara pria itu membuat orang-orang dibalik kantor Yasya hanya bisa mengelus dada, merasakan kemarahan sang presdir yang begitu menggelegar disetiap telinga mereka masing-masing termasuk Peter yang kali ini hanya dapat berani mengangguk tanpa berani berkata satu patah kata pun.