The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hati wanita



Tatapan gadis itu kosong tanpa fikiran, ia hanya diam mematung tanpa menyentuh makanannya yang sudah berada didepan mata.


"Sayang, jangan difikirin omongan dokter Martin yang tadi, kita pasti bisa nemuin keluarga kamu tanpa informasi dari rumah sakit" kata Yasya seraya menyentuh lembut jemari Reyna yang kini terasa agak dingin.


Reyna hanya bisa menampakkan senyumnya, ini semua juga salahnya. Jika saja dari awal dia tidak egois, maka dia takkan menyesal seperti ini. Bahkan perusahaan Malik juga sudah ditutup sejak bulan lalu, semua social media milik Reyhan juga sudah tidak aktif lagi.


Reyna begitu mengkhawatirkan keluarganya, nasib mereka seperti apa, sedang makan apa, tidur layak atau tidak. Apalagi ayahnya baru saja melakukan operasi. Ia tak bisa membayangkan betapa susahnya kehidupan dari Reyhan dan Reynaldi, mata gadis itu memanas dengan derai air mata yang disusul isakan dari suaranya yang mulai serak.


"Rey, kenapa? kamu jangan sedih, ada aku disini. Kita pasti bisa Rey, aku yakin mau pergi kemanapun mereka, mereka juga nggak akan jauh-jauh pindah dari ibukota" ujar pria itu yang beralih duduk disamping kursi makan Reyna dan memeluknya dengan erat.


"Sya, aku nyesel sya, kenapa dulu aku egois nggak mau maafin mereka. Sekarang kehidupan mereka nggak kaya dulu lagi, perusahaan papa udah bangkrut, mereka tinggal dimana?, makan apa?, layak atau enggak aku juga enggak tau. Sya ini semua salah aku" tutur Reyna yang kini memegang dadanya yang begitu sakit.


Yasya semakin mempererat pelukannya, ia mengingat kembali dimana Reyna terbaring dirumah sakit dan Reyhan ditampar oleh Ajeng. Pria itu mengatakan bahwa ia takkan mengganggu kehidupan Reyna lagi. Mungkinkah ini yang dimaksud? keluarga mereka telah bangkrut, jadi keinginan Reyhan untuk membawa Reyna kembali membuatnya takut untuk memberikan kehidupan yang layak. Padahal jika difikir setengah dari saham yang dimiliki Reyna dari perusahaan Syakieb adalah miliknya.


Yasya menghela nafasnya, mungkin ia harus menceritakan hal ini pada gadisnya. Pria itu mengecup puncak kepala gadis itu seraya membelai lembut rambut hitam panjang yang tergerai sampai ke punggungnya.


***


Keesokan harinya.


Tiada hari tanpa sibuk di perusahaan Syakieb, termasuk Kanaya yang kini mengedit beberapa proposal yang harus terkumpul siang ini. Sedari pagi ia tak bertegur sapa dengan Reyhan karena kejadian kemarin, ia sedikit melirik partisi yang memang tertutup dari samping. Ia bahkan enggan untuk mendorong kursinya kebelakang, jujur saja ia sebenarnya lelah cuek terhadap Reyhan. Tapi Kanaya cukup sadar untuk tidak berharap lebih, ia takut jika dirinya semakin dekat dengan pria itu dia malah tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Apalagi banyak sekali dari gadis dikantornya yang mengidolakan sosok Reyhan. Bisa saja bukan hanya dirinya yang dekat dengan Reyhan. Kanaya menghembuskan napas lelah, bibirnya mengerucut dengan matanya yang menyipit kesal. Seharusnya ia tak bersikap demikian dengan Reyhan, memang apa haknya untuk diam tanpa alasan.


'Inget Nay, dia itu cuma anggep kamu sahabatnya, nggak lebih. Please deh, jangan ge'er'


Batin Kanaya yang kini tengah bimbang, gadis itu memberanikan diri untuk menyapa Reyhan yang kini mungkin tengah sibuk dengan pekerjaannya. Kanaya mengatur nafasnya, ia memegang dadanya yang berdetak semakin kencang mengingat dirinya akan mengakhiri kebungkaman yang ia buat sendiri.


Kanaya mendorong kursinya seraya menoleh kearah kanan untuk menyapa Reyhan, namun tanpa disangka kini Reyhan melakukan hal yang sama dengannya. Kini posisi mereka hanya berjarak beberapa senti saja dengan pandangan keduanya yang sama-sama terkunci.


Kanaya masih menikmati betapa indah netra hitam milik Reyhan, manik mata lentik, dan juga hidungnya yang bangir, jangan lupa bibir tipisnya yang membuat Kanaya hanya bisa menelan ludahnya kasar.


"Ciyeeeee, lagi PDKT nih!" kata Edwin yang tiba-tiba saja merangkul pundak Reyhan dari belakang membuat keduanya tersentak dengan keberadaan pria jahil satu itu.


Reyhan mengusap kasar wajahnya yang tengah malu oleh Kanaya dan setengahnya lagi menatap kesal pada pria yang kini masih tersenyum tanpa dosa merangkulnya. Sedangkan Kanaya hanya bisa tersenyum tenang meskipun dihatinya ingin sekali mengajak kakak sepupunya itu untuk adu mulut saat ini juga.


"Enggak, gue cuma mau ngasih list produksi aja ke Kanaya, lo ngapain juga ngerangkul gue kayak gitu, jijik tau!" kata Reyhan yang kini melepaskan rangkulan Edwin yang membuat gadis itu terperanjat.


Kanaya menunduk, ternyata ia hanya salah paham saja terhadap Reyhan. Dia kira mereka akan melakukan hal yang sama, tapi tak disangka. Entah mengapa dada Kanaya terasa sakit, padahal ia tau posisinya sejak awal, tapi mengapa dirinya masih berharap juga.


Edwin menggeleng, ia menatap Reyhan yang kini menaikkan sebelah alisnya pada gadis dihadapannya.


"Kerjaan gue lagi numpuk, nih ada si Reyhan" kata Edwin yang kini mendapat tatapan tajam dari pria yang meliriknya.


"Eh lo mau kan bantuin sepupu gue, nanti pasti ditraktir kok. Tenang aja, iya kan Nay?" perkataan Edwin membuat Kanaya hanya bisa mengangguk ragu seraya tersenyum. Ia tak bisa menutupi kegugupannya dihadapan Reyhan.


Padahal Kanaya ingin menghindari pria itu, tapi dengan sengaja Edwin malah menghancurkan rencananya. Tapi tak apalah, kalau saja nanti dia bisa bersikap biasa terhadap Reyhan lagi. Sejujurnya Kanaya sangat rindu, meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi setidaknya ia masih bisa melihat Reyhan dari dekat.


"Mau aku bantu?" pertanyaan itu sontak membuat mata Kanaya membulat. Reyhan kini tersenyum padanya, entah mengapa hati Kanaya rasanya ingin berteriak saja. Gadis itu kemudian mengangguk, ia kembali ke partisipan kantornya disusul dengan Reyhan yang kini bangkit dan beralih berdiri disamping Kanaya yang tengah terdiam menatap monitor di hadapannya.


Reyhan menunduk seraya memperhatikan pekerjaan Kanaya yang memang masih belum rampung tersebut. Kini posisi mereka begitu dekat, hingga hanya menyisakan satu senti dari wajah keduanya. Kanaya hanya dapat terdiam seraya menelan ludahnya, ia bisa mendengar deru nafas Reyhan yang tepat berada disampingnya.


"Nay, kamu masukin data yang aku kasih tadi ya, jangan lupa anggaran juga yang teliti" kata Reyhan yang hanya mendapat anggukan dari Kanaya.


"Nay, aku mau tanya sesuatu" ujar Reyhan yang kini beralih menatap Kanaya dengan tatapannya yang begitu serius. Kanaya hanya bisa menoleh, ia takut jika wajah mereka saling bersentuhan. Apalagi detak jantung gadis itu tak bisa dikontrol lagi. Kanaya menarik kepalanya kebelakang agar wajah mereka berjarak.


"Hah, apa?" tanya gadis itu yang memang pura-pura polos dihadapan Reyhan yang kini terlihat menelan ludahnya.


Reyhan memejamkan matanya sejenak, ia menghela nafas seraya menyentuh puncak kepala Kanaya dengan lembut tanpa mengubah posisinya saat ini. Kanaya yang diperlakukan seperti itu hanya bisa membulatkan matanya seraya menahan rona merah yang kini terlihat semburat di bagian pipinya.


"Aku ada salah ya sama kamu? kalo ada salah aku minta maaf ya" perkataan Reyhan yang spontan itu membuat Kanaya hanya bisa menggeleng dengan cepat. Ia bersikap biasa lagi meskipun dihatinya ia merutuki sikapnya terhadap Reyhan.


"Enggak kok, ken kenapa kakak tanya gitu?" tanya gadis itu balik membuat Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal jelas jika dari pagi Kanaya cuek padanya, bahkan saat membuat kopi gadis dihadapannya itu tak menggubris keberadaannya.


Tapi memang begitulah perempuan, lain di mulut lain dihati. Jika saja Reyhan tidak peka mungkin dia juga sampai sekarang dan seterusnya bakalan di cueki terus-terusan.


"Oh ya udah, aku kira ada yang salah dari aku. Soalnya dari pagi kamu cuekin aku terus sih" kata pria itu yang kini tersenyum seraya menahan kepalanya dengan satu tangan yang ia sangga diatas meja kerja Kanaya.


Lagi-lagi Kanaya menunduk, ia benar-benar malu saat ini. Kenapa juga Reyhan seperti terlihat menggodanya. Gadis itu membuat segala kegugupan yang ia rasakan, meskipun wajahnya lagi-lagi memerah tapi ia ingin menutupi segalanya dari pria dihadapannya.


"Ak, aku lagi nggak mood aja hari ini, kalo kak Reyhan ngerasa gitu, aku minta maaf ya" kata Kanaya membuat Reyhan mengangguk. Ia melirik monitor dan tersenyum kearah gadis itu lagi. Sebenarnya Reyhan sadar jika wajah Kanaya memerah, hanya saja ia takut nanti Kanaya malah canggung terhadapnya.


"Iya nggak apa-apa, tuh tugas kamu selesai. Aku balik ke tempat ku dulu ya, kamu semangat kerjanya" sontak saja Kanaya membuang muka dengan alibi menatap monitor dihadapannya. Degup jantung di dadanya berdebar semakin cepat dengan wajahnya yang semakin memanas.


Reyhan hanya bisa menahan tawanya yang sedari tadi hendak ia utarakan saja jika dirinya tak berhadapan langsung dengan Kanaya. Reyhan bangkit, ia melangkahkan kakinya menuju tempatnya kerja meskipun tiada respon lagi dari Kanaya yang kini tanpa disadari telah senyum-senyum sendiri.