
Hari pertama Reyna bekerja memang tidak langsung menangani pasien, ia hanya menyakin data para pasien yang masuk. Meskipun begitu bekerja diruang UGD tidak seperti apa yang ia bayangkan. Satu persatu orang masuk dengan keluhan yang berbeda. Ada yang sakit biasa, kejang-kejang, sampai orang yang baru saja mengalami kecelakaan. Meskipun gadis itu hanya melihat pemandangan yang bisa dikatakan berlalu lalang dihadapannya tapi tak bisa dipungkiri bahwa sifat kemanusiaannya tergugah.
Kalau difikir kembali, ia tidak akan pernah menyesal untuk menjalani profesinya sebagai seorang dokter mengingat banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan dan juga pertolongan.
Reyna hanya bisa menghela nafasnya kala setiap pasien yang datang mengalami keadaan yang berbeda-beda. Ia hanya bisa berharap semoga orang-orang itu dapat kembali sembuh dan segera sehat kembali.
Jam berlalu, bersama detik yang berjalan semakin cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.30 dimana semua karyawan istirahat termasuk Reyna dan teman-temannya.
Reyna masuk kedalam kantornya, gadis itu melenguh seraya memijit pelipisnya yang terasa pening dan sedikit pegal. Ternyata bekerja di rumah sakit sebesar ini juga mempunyai resiko yang besar juga, mungkin karena belum terbiasa saja.
"Dokter Reyna" seru seseorang seraya menepuk pundak gadis itu membuat Reyna tersentak seraya mengangkat kepalanya.
Ia menatap Tian yang kini tersenyum dan beralih duduk tepat disampingnya. Bukan disampingnya, tapi memang disanalah letak meja kerjanya.
"Gimana kesan pertama kerja? luar biasa kan?" tanya pria itu yang kini melepaskan kacamata yang selalu menemani kerja pria itu membuat Reyna menghela nafas.
"Nggak nyangka sih bakal sesibuk ini, padahal aku cuma nyalin data pasien yang masuk aja loh, apalagi kalian yang turun tangan" kata Reyna yang kini mulai terbuka dengan teman dokternya tersebut.
"Kamu belum terbiasa aja, nanti lama-lama kamu juga biasa sendiri kok. Lagian suster juga banyak, kamu jangan ragu buat minta tolong mereka."
"Iya, mungkin juga gitu, soalnya aku masih baru nggak enak nyuruh-nyuruh gitu."
"Hehehe, santa aja, aku dulu juga gitu kok baru pertama kali kerja, cuma karena udah biasa sekarang jadi lebih tenang dan relax kalo kerja. Yang penting kamu bikin nyaman sama enjoy aja" Reyna yang mendengar penuturan Tian hanya manggut-manggut saja. Sebenarnya apa yang dikatakan Tian memang masuk akal, ternyata Reyna masih harus lebih banyak belajar dari seniornya.
Disini dan di negara Amerika memang berbeda, mental dan juga psikis yang Reyna buat haruslah berbeda.
"Reyna, makan siang yuk" ajak Dinda yang kini tengah berdiri diambang pintu seraya tersenyum kearah gadis itu membuat Reyna membalas senyumannya.
"Tapi aku udah ada janji loh, mau makan bareng diluar sekalian nggak" tawar Reyna membuat Dinda mengerutkan keningnya.
"Pasti sama calon tunangan kamu kan?" tanya Dinda yang kini mulai mengintrogasi Reyna seraya memberikan senyuman jahil pada gadis itu membuat Reyna membulatkan matanya.
"Ngomong apaan sih, mau nggak?" tanya Reyna lagi yang membuat Tian kini mulai menggeleng mendengar alibi dari Reyna yang nampak salah tingkah.
"Makan sama gue aja Din" ujar Aldo yang kini tiba-tiba datang dari arah belakang gadis itu membuat Dinda tersentak karena kehadiran Aldo.
"Aelah Din, gue kan waktu itu emang beneran khilaf, pelit banget sih jadi cewek."
"Pelit pala lo! gara-gara elo, gue harus bayar dobel dan jatah bedak gue abis buat beliin lo steak" ujar Dinda dengan kesal membuat Aldo mengerucut sebal.
Tiba-tiba saja seorang lelaki datang dengan pandangannya yang tegas dan tubuhnya yang berjalan tegap membuat Aldo san Dinda akhirnya diam seketika dan membelah jalan untuk mempersilahkan dokter muda itu masuk dalam ruangan mereka.
Reyna yang kini hanya menggeleng tanpa menatap mereka yang baru saja bertengkar.
"Eh dokter Al, siang dok" ujar Dinda yang kini mulai gugup setengah mati, setelah Alfian menatap mereka dengan tatapan tanya.
Bisa dibilang Alfian adalah dokter yang paling disegani dan paling dikagumi seantero rumah sakit. Ia adalah dokter paling berpengaruh melebihi manager yang notabennya adalah bos mereka.
Reyna mengangkat pandangannya kala mendengar suara Dinda yang begitu pelan mendengar nama Alfian disebut olehnya.
"Al, kamu kesini?" tanya Reyna yang spontan membuat teman-temannya menatap Reyna tak percaya.
Dinda memberikan kode untuk diam, lalu gadis itu melirik Tian yang kini hanya sesekali meliriknya seraya menunduk tanpa berani menatap Alfian yang kini masih terdiam.
"Kalian kenapa sih?" tanya Reyna polos, hal itu membuat Aldo menepuk jidatnya seketika membuat Alfian menatap mereka secara bergantian.
"Hay everyone, makan siang yuk" tiba-tiba saja suara familiar itu datang dan membuat Alfian membalikkan tubuhnya. Ia menatap Darwin yang kini tiba-tiba menutup mulutnya seraya menunduk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh, si, siang dokter Al" ujar Darwin memberi hormat membuat Alfian masih tak bergeming dan kini beralih menatap Reyna yang masih tak mengerti.
Reyna menatap polos teman-temannya, maklum saja, ia adalah dokter baru yang hanya tau pekerjaannya tanpa tau hal lain dalam rumah sakit. Gadis itu memberikan kode pada Alfian, dan pria itu hanya terkekeh dibuatnya.
"Makan yuk Rey, laper nih" ujar Alfian yang sontak membuat semua dokter yang berada disana mendongak dengan pandangan yang tak menyangka.
Reyna hanya mengangguk atas kecanggungan yang terjadi. Ia berjalan mendekati Alfian dengan pandangannya yang menatap pada teman-temannya yang juga melirik padanya.
Reyna masih tak mengerti, untuk apa teman-temannya seformal itu pada Alfian yang notabennya adalah juga seorang dokter.