
Reyhan memasuki ruangan intensif pasca ayahnya baru saja melakukan operasi. Ia tersenyum lega kali ini, meskipun kesadaran Reynaldi belum kembali tapi setidaknya kesehatan ayahnya sudah mul
kembali pulih.
Ini semua berkat Reyna, adik satu-satunya itu telah menyelamatkan nyawa papanya untuk kedua kalinya. Tapi apa yang ia lakukan dulu? ia terlalu membuat Reyna memiliki banyak beban yang bersumber darinya.
Mungkin Yasya juga mempunyai kesalahan terhadap Reyna, tapi kesalahan itu sudah diperbaiki sejak dulu. Mungkin Alfian telah melakukan kesalahan yang sama juga, tapi ia juga telah menyelamatkan nyawa gadis itu. Dan keluarga angkatnya juga telah melukainya, tapi mereka yang telah mengasuh Reyna selama ini. Meskipun kesalahpahaman itu terjadi karena Reyna sendiri dan ia tak ingin memperpanjang masalah lagi.
Tapi apa yang telah dilakukan Reyhan dan Reynaldi? mungkin mereka yang membesarkan Reyna penuh kasih sayang. Namun ditengah kehidupan Reyna yang semakin menginjak masa remaja, Reynaldi dan Reyhan malah mengusir dan memperlakukan gadis itu dengan tidak baik.
Ia masih ingat betul ketika Reynaldi menampar wajah Reyna tepat didepannya dan Cintya sekaligus Keyla. Pada waktu itu Reyhan begitu mengingat betapa Reyna hendak menjelaskan sesuatu namun yang ada malah sikap kasar dari Reynaldi yang membabi buta. Ia juga ingat betul kala dirinya dengan sengaja membuat Reyna dipermalukan didepan teman-temannya dan juga kepala sekolah. Ia membuat Reyna dikeluarkan dari sekolah, padahal saat itu seharusnya Reyna masuk dalam perlombaan MIPA mewakili sekolahnya. Selama ini Reyna hendak menjelaskan semuanya, namun Reyhan dan Reynaldi tidak pernah sedikitpun memberikan sebuah kesempatan untuk gadis itu.
Jangankan memberikan kesempatan, msta hati mereka seperti tertutup oleh kebencian yang tidak pernah dilakukan Almira selama ini. Reyhan mengacak rambutnya, ia beralih duduk dan menyentuh jemari papanya.
Ia memang pantas merasakan seperti ini, merasakan bagaimana jauhnya ketika keluarga yang ia butuhkan jauh dari jangkauannya meskipun begitu dekat dengan dirinya. Mungkin inilah yang dinamakan karma, apa yang ia tanam itulah yang Reyhan tuai.
Tak sadar air mata pria itu menetes, menunduk menatap jemari sang ayah yang masih terdapat sebuah infus disana. Ia memejamkan matanya, merasakan perih tiada habisnya dalam hatinya. Rasa bersalah dan juga kehilangan yang tak dapat ia lupakan.
Setetes air mata membuat jemari Reynaldi bergerak merasakan hawa dingin yang begitu menyayat hati untuknya. Perlahan matanya terbuka, menatap sang putra yang kini tengah menangis seraya menunduk dan duduk disamping ranjangnya.
"Reyhan" suara lemah itu membuat Reyhan membuang muka, ia buru-buru menghapus jejak air matanya yang masih tersisa walau hanya sekedar isakan lirih darinya. Pria itu kembali tersenyum, menatap sang ayah yang kini menatap khawatir padanya.
"Kamu kenapa nangis nak? apa keadaan papa semakin memburuk?" pertanyaan itu sontak membuat Reyhan menggeleng.
"Papa sekarang udah pulih kok, syukurlah papa baik-baik aja. Reyhan cuma seneng aja liat papa sehat lagi" ujar Reyhan yang kini mencoba tersenyum meskipun hatinya masih begitu terasa hancur.
"Reyhan, kamu nggak bohong kan sama papa. Kamu bukan menangis karena papa, tapi pasti ada hal lain. Apa nak? apa penyakit papa nggak bisa disembuhin lagi?" hal itu membuat Reyhan berulangkali menggeleng.
"Nggak pa, aku cuma, cuma sedih keinget mama. Reyhan kangen sama mama, apalagi saat terpuruk kaya gini" ujarnya seraya menunduk membuat Reynaldi mengusap kepala putranya dengan lembut.
***
Sementara itu tepat diruangan Reyna, telah ada Ajeng yang kini sedari tadi menggenggam jemari Reyna seraya terus menangis meratapi keadaan putrinya.
Perlahan jemarinya bergerak, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum akhirnya ia membuka mata secara perlahan.
Reyna menatap Ajeng yang kini melepaskan jemari Reyna, ia tersenyum kepadanya disusul Zayn yang memanggil Alfian dari luar. Sedang Yasya kini menatapnya dengan rona bahagia membuat Reyna tersenyum.
Namun entah mengapa, rasanya begitu sakit ketika mengingat dimana ia bermimpi sosok abang dan juga papanya yang tersenyum padanya. Senyum itu bukanlah senyuman bahagia, namun senyuman kerinduan yang tak dapat diungkapkan oleh mereka. Reyna masih terdiam, ia melihat Alfian yang kini tengah memeriksa keadaannya.
Reyna seperti mengingat sesuatu ketika dirinya hendak siuman tadi, ia tidak salah , ia mengingat Reyhan yang menggenggam jemarinya dan meninggalnya begitu saja. Terkesan seperti mimpi, namun begitu nyata ketika diingat kembali.
"Gimana keadaan Reyna Al?" pertanyaan itu bertubi-tubi keluar dari mulut Yasya dan Ajeng. Membuat pria itu menghela nafasnya sejenak.
"Keadaan Reyna belum terlalu baik, jadi saya mohon kalian jangan mengganggu istirahat Reyna dulu. Termasuk kamu Sya, aku bakal kasih darah tambahan buat Reyna, karena keadaannya belum memungkinkan kali ini. Aku mohon, kalian boleh nungguin Reyna disini, tapi jangan diajak bicara dulu" kata Alfian seraya menyuntikkan sesuatu ke infus gadis itu membuat Reyna meringis kesakitan.
Reyna akhirnya mendapat perawatan yang lebih intensif karena keadaannya yang membaik, namun ia masih banyak kehilangan darah akibat luka diperutnya.
Gadis itu yang semula terbangun, kini memejamkan matanya kembali. Disampingnya sudah ada Yasya yang menatap manik mata itu. Manik mata indah yang selalu menemaninya, kini terbaring diatas bangsal yang membuat kepahitan di hati Yasya semakin menjadi.
Tak sadar, air mata Yasya mulai berjatuhan. Hari bahkan semakin larut namun pria itu tak memperdulikan waktu yang terus berjalan.
"Mom, kita pulang yuk. Ini udah malam, besok kita kesini lagi buat jenguk Reyna" ujar Zayn membuat Ajeng yang kini tengah duduk di sofa menggeleng seraya tak mengalihkan pandangannya dari putrinya tersebut.
"Mommy bakal nunggu sampai Reyna baikan, mommy nggak tenang Zayn" kata Ajeng yang kini penuh dengan rasa khawatir dan gundah menyelimuti hatinya.
"Tapi mom, mommy juga harus istirahat, kalau mommy sakit gara-gara nungguin Reyna, dia pasti juga bakal sedih nantinya" ujar Zayn membuat Ajeng menghela nafasnya sebelum ia akhirnya mengangguk dan menerima bujukan dari sang putra.
"Oke, mommy bakal pulang, karena ini semua juga demi Reyna" ujar wanita itu membuat Zayn tersenyum lembut seraya bangkit untuk berpamitan pada Yasya yang kini tengah menghapus jejak air matanya.
"Kuatin diri lo Sya, Reyna pasti bakal baik-baik aja kok. Gue sama mommy cabut dulu, kasih kabar ke gue kalo ada apa-apa sama dia" ujar Zayn seraya menepuk pundak Yasya membuat pria itu tersenyum dan mengangguk.
Yasya buru-buru menyalami Ajeng seraya mencium punggung tangan wanita itu. Terlihat wanita itu tersenyum seraya mengusap lembut lengan Yasya untuk menegarkan hatinya.
"Tolong jagain anak tante ya, tante pamit dulu" Yasya mengangguk, ia tersenyum untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini.