The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bos galak



Falery kembali memasuki ruangannya. Ia memilih untuk menghindar sejenak daripada harus memperkeruh suasana.


Memang seharusnya Falery tiada jika keberadaannya hanya akan menjadi semakin rumit seperti ini. Kini tiada lagi yang tersisa untuknya, bahkan mungkin Sarah pun begitu. Mana mau dia bertemu dengannya yang telah merebut calon suaminya.


Falery menghela nafasnya, fikirannya tertuju pada Zayn sekarang. Bahkan keadaannya pun ia tak tau. Ingin rasanya ia melihat pria itu meskipun hanya dibalik kaca.


Falery segera mengemasi barang-barangnya. Ia bahkan tak perduli dengan luka yang ada ditubuhnya. Gadis itu kini beralih memakai kacamata untuk memperjelas penglihatannya usai memakai soflen.


***


Kini Ajeng termenung sembari menunggu kedatangan Grace yang masih berada dirumah. Alan nampak gusar dengan pandangannya pada Ajeng.


"Mom."


"Apa maksud perkataan pria tadi Alan? apa kau mengetahui sesuatu yang tidak mommy ketahui" ujar Ajeng yang kini tengah mengelus dadanya. Pria itu pun juga sama tak mengertinya. Ada rahasia apa antara Falery dan juga Grace.


Seorang dokter masuk keruangan Zayn yang kini tengah terbaring lemah disana. Dengan wajah gugup Ajeng dan Alan bangkit sembari menatap pintu kaca yang menampilkan Zayn tengah dipasangi banyak alat-alat menempel pada tubuhnya.


"Alan, mommy takut nak. Bagaimana jika Zayn..."


"Mom, jangan berkata seperti itu, aku yakin Zayn pasti kuat. Dia pasti bisa melewatinya" ujar Alan dengan penuh keyakinan.


Pria itu meraih pundak Ajeng dan menenangkan fikirannya untuk kembali duduk dibangku tunggu. Tiba-tiba saja terdengar derap langkah kaki seseorang menuju kearah mereka.


Tak disangka pandangan keduanya menatap seorang wanita familiar yang kini pandangannya begitu khawatirnya.


"Mom, Alan" ujarnya kala menatap Alan dan Ajeng bergantian. Namun tatapan itu dibalas tatapan intens dari keduanya.


***


Falery kini telah sampai di lobi. Gadis itu tengah berusaha untuk keluar dari rumah sakit yang membuat indera penciumannya berfungsi dengan tajam oleh bau obat-obatan.


Sejenak Falery duduk dengan tatapannya yang kosong, memikirkan bagaimana keadaan Zayn didalam sana.


Namun apalah daya, berusaha untuk melihatnya. Dia saja tak diizinkan apalagi mengetahui bagaimana keadaannya.


Gadis itu berjalan dengan setengah pincang. Kakinya masih dibalut perban. Saat tepat di ambang pintu gadis itu menemukan sosok sahabatnya yang kini tengah berlari kearahnya.


"Falery..." teriak Lilia yang kini terlihat tengah membantu gadis itu untuk berjalan.


"Lia, kau kemari?" ujarnya sembari tersenyum kearah gadis yang kini membopong tubuhnya itu.


"Diamlah Fay, apa kau tidak bisa membuat aku berhenti untuk mengkhawatirkan mu?" Falery mendengus. Ia bahkan tak bisa menceritakan kejadian sebenarnya meski ingin.


Mereka tepat berhenti didepan gedung rumah sakit. Yang semakin membuat Falery bingung dibuatnya. "Kenapa kita berhenti disini? bukannya parkiran ada dibelakang?" tanyanya namun hanya dibalas senyuman oleh sahabatnya itu.


Tak lama kemudian mobil melintas didepan mereka dan berhenti tepat dihadapan Falery dan Lilia. Perlahan kaca tersebut terbuka menampilkan seorang lelaki tengah memakai kacamata hitam dan melepasnya.


"Masuk" ujar pria itu membuat Falery membelalakkan matanya.


"Bos..! kau kemari bersamanya?" tanya Falery pada Lilia yang kini mulai tersenyum dan mengangguk. Sontak saja mata gadis itu membulat sempurna sembari mencubit perut gadis disampingnya dengan kesal.


"Aw sakit Fay" ujarnya pelan sembari menahan tawa.


"Kalian ini kenapa? saya suruh masuk malah mengobrol sendiri" ujar bos galak itu membuat Lilia melirik Falery yang kini menunduk tak berani menatap Michael yang tengah menatap tajam keduanya.


"Baik bos" ujar Lilia santai dan membawa Falery untuk duduk disamping pria itu tepat duduk di jok depan. Hal itu sontak membuat Falery membelalakkan matanya.


"Lia" ujarnya yang kini menatap tajam sahabatnya itu yang terlihat tak perduli dengan rengekan Falery padanya.


Lilia memang sengaja mengajak Michael untuk menjenguk sahabatnya itu. Terlebih ia mengetahui betapa Michael sangat memperdulikan Falery. Gadis itu kembali duduk di jok belakang untuk memberikan keduanya ruang agar lebih akrab dari sebelumnya.


Falery memang gadis yang pendiam. Terlihat ia menunduk tanpa berani mengangkat pandangannya. Sesekali ia hanya melirik jalanan disampingnya.


Selama perjalanan hanya lirikan mata gadis itu yang menatap jalanan tanpa mau mengucapkan sepatah katapun untuk berbicara.


"Ehem" suara besar itu membangunkan fikiran Falery yang semula khawatir dan bergerilya entah kemana. Dengan matanya yang meredup ia memberanikan diri untuk melirik Michael.


"Bagaimana keadaan mu Fay?" tanya Michael dengan lembut, lebih lembut dari sebelumnya. Bahkan kini mata kedua gadis itu membelalak dengan sempurna kala mendengar suara Michael yang tidak seperti biasanya.


Kemana suara tegas dan garang itu? seperti hilang ditelan bumi.


"Fay, apa kau tak mendengar ku?" ujarnya lagi membuat Falery tersentak sembari menggeleng pelan.


"Sa, saya baik-baik saja tuan" kata Falery gugup seraya kembali menunduk.


Terlihat senyum mengembang dibibir Michael yang kini mulai melirik gadis disampingnya. Memangnya seberapa menakutkannya dirinya sampai-sampai Falery bahkan tidak berani menatap kedua bola matanya.


Mengetahui suasana mulai membaik, Lilia akhirnya memutuskan untuk turun disebuah persimpangan jalan. Bahkan kini sahabatnya hendak ikut bersamanya namun tolakan dari Lilia membuat Falery mendengus seraya memijit pelipisnya.


"Lia, aku juga ingin ikut dengan mu" ujar Falery yang kini menatap sahabatnya itu lewat jendela mobil milik Michael.


"Kau sedang sakit Fay, aku akan menitipkan mu pada bos. Kau berjalan saja masih pincang begitu. Sudahlah, daripada nanti kau ada apa-apa bersama ku, lebih baik kau diantar tuan Michael saja" kata-kata dari Lilia memang ada benarnya juga.


Namun siapa sangka, ia harus berduaan dengan bos galak seperti Michael. Padahal apartemennya juga tak jauh dari pusat perbelanjaan itu. Namun kini ia harus menghela nafasnya lagi tatkala tatapan mata Lilia yang terlihat membujuk.


"Baiklah" ujarnya pelan membuat sahabatnya kini bisa bernafas lega.