
Pria bertubuh tinggi tegap itu tampak mondar-mandir diruang tamu seraya menatap jam dinding yang berdetak menunjukkan pukul 19.25, beberapa kali ia juga mengeratkan jemarinya yang kini nampak berkeringat menunggu kehadiran seseorang dari balik gerbang rumah minimalisnya.
Tak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari luar rumah. Buru-buru pria itu bangkit seraya mengintip dari balik jendela.
"Dasar si cowok licik, demi ngehindar dari permainan gue, lo berani mempercepat nikahan sama adek gue, awas aja lo ya" gumam pria itu seraya menatap dua sejoli yang kini melangkah masuk melalui gerbang.
"Reyhan! Reyna udah pulang?" suara pria paruh baya itu membuat Reyhan membalikkan tubuhnya.
Ceklek
Suara terbukanya pintu membuat Reynaldi dan Reyhan saling menatap Yasya dan Reyna yang kini tengah hendak masuk kedalam rumah seraya membawa banyak sekali barang belanjaan.
"Malam pa"
"Malam om" kata mereka bersamaan. Reyhan hanya bisa menghela nafasnya, niatnya yang hendak melabrak Yasya urung karena kehadiran Papanya yang tak diundang itu.
"Kemana aja kalian?" tanya Reyhan datar menatap Yasya yang kini hanya bisa tersenyum dengan andalannya. Ia tau kini Reyhan pasti mau cari gara-gara dengannya, dari tampangnya saja sudah bisa ditebak jika tatapannya itu seperti hendak memburu mangsa yang ada didepan mata.
"Belanja kok bang, bentar lagi kan aku sama Yasya bakal nikah" kata Reyna seraya membawa kantong belanjaan kedalam rumah.
"Sya, kamu duduk dulu sama papa, aku buatin minum dulu" kata Reyna seraya berlalu pergi membuat Yasya tersenyum mengangguk. Reyhan kini hanya bisa melangkah untuk duduk disofa kembali dengan raut muka masam. Bukannya dia tak setuju perihal hubungan Yasya dengan Reyna, atau dirinya yang tak suka dengan Yasya.
Tapi belum juga menikmati kebersamaan keluarga Yasya malah mengambil Reyna secepat itu. Bikin kesal saja, Reyhan menaikkan satu kakinya seraya menatap Yasya dengan mimik wajah tak suka.
"Mari nak Yasya, duduk dulu" tawar Reynaldi membuat Yasya tersenyum seraya melangkah untuk duduk dihadapan Reyhan.
"Hey! kamu kalo duduk yang sopan dong! masa ada tamu kakinya kaya gitu. Turunin!" bentak Reynaldi membuat Reyhan memutar bola matanya.
"Dia kan mau jadi adik ipar aku, anggap aja rumah sendiri, nggak usah sungkan" celetuk Reyhan sewot seraya menatap Yasya dengan pandangan tajamnya. Anak satu ini membuat Reynaldi menarik nafasnya dalam-dalam, mau sampai kapan ia mengerjai Yasya seperti itu. Memang dasar anak kurang ajar! kalau pernikahan adiknya sampai batal, siapa yang bakal marah nantinya. Pastinya dia juga menyesal. Pikir Reynaldi yang kini menatap tajam anak sulungnya satu itu. Reyhan yang menyadari tatapan membunuh dari ayahnya kini hanya bisa tertegun seraya mau tak mau menurunkan kakinya itu.
Yasya yang melihat pemandangan itu hanya bisa menahan tawanya saja. Siapa suruh jadi anak durhaka, dia saja yang masih jadi calon sudah lebih disayangi dari Reyhan apalagi nanti.
"Kamu bukannya banyak kerjaan Rey?" tanya Reynaldi membuat Reyhan memanyunkan bibirnya. Ini pasti akal-akalan papanya agar dia bisa menghindar daripada berbuat ulah nantinya.
"Masuk sana, dicariin Zayn tuh dikamar" potong Reynaldi sebelum Reyhan berbicara lepas. Reynaldi benar-benar tak habis fikir dirinya sampai melotot dan memberikan kode untuk mengusir putranya itu agar tidak mengacaukan suasana.
"Iya-iya" ujar Reyhan kesal seraya bangkit untuk meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya. Reynaldi yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa menggeleng heran.
Reynaldi kemudian duduk berhadapan dengan Yasya yang kini tersenyum padanya.
"Gimana keadaan om? udah cek ke dokter minggu ini?" tanya Yasya memecah keheningan sepeninggal Reyhan yang menjengkelkan itu. Untung saja Reynaldi cepat-cepat mengusir pengganggu utamanya itu, kalau tidak pasti dia mau membuat gara-gara lagi.
"Baik kok, kebetulan minggu lalu om baru cek. Kalo kerjaan kamu gimana? kamu tinggal cuti nggak ada masalah kan?"
"Enggak ada om, udah jauh-jauh hari juga saya persiapin buat acara, jadi sempet lembur bulan lalu" Reynaldi mengangguk, sementara itu Reyna kini datang dari arah dapur dan menyuguhkan minuman hangat untuk mereka.
"Loh, bang Reyhan-nya mana?" tanya Reyna yang kini mencari sosok kakaknya itu.
"Di kamar, papa usir tadi" ujar Reynaldi dengan senyuman liciknya membuat Reyna menahan tawanya seraya mengangguk.
Mereka akhirnya duduk dan berbincang sebentar sebelum akhirnya Yasya pamit pulang. Sudah larut juga untuk bertamu malam-malam seperti ini. Setelah Yasya meninggalkan kediaman Reynaldi, Reyna akhirnya melangkah masuk dan menatap sang ayah dengan pandangan serius.
"Aku mau ngobrol sama papa sebentar" kata Reyna membuat Reynaldi menaikkan alisnya dan mengangguk.
"Mau ngomongin apa Rey? ada masalah ya?" pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng, sedangkan Reynaldi kembali duduk disofa di susul dengan Reyna yang kini duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Aku tadi sama Yasya belanja sekalian cari-cari rumah buat kita. Aku pengen setelah nikah nanti papa sama abang nggak tinggal disini lagi, aku pengen papa sama bang Rey bisa tinggal ditempat yang layak" Reynaldi tampak mengerutkan keningnya. Memang rumah ini begitu kecil dan sempit, namun jika hanya mereka berdua yang tinggal tidak masalah baginya.
"Memangnya rumah ini nggak layak ya?" tanya Reynaldi sontak membuat Reyna menggeleng.
"Bukan gitu pa, tapi abang kan juga suatu hari nanti bakal nikah. Lagian perusahaan mama itu nantinya bakal yang megang abang, aku mau jadi ibu rumah tangga yang baik dan istri buat Yasya. Aku nggak mau kerja lagi" tutur Reyna membuat Papanya kini berfikir seraya menatap langit-langit rumahnya dengan lekat.
Betul juga apa yang dikatakan putrinya, mereka saja tinggal disini bingung mau tidur dimana. Lagipula ini bukan tentang layak atau tidak layak, selama rumah itu nyaman ada keluarga dan tidak mengalami kerusakan maka masih dikatakan layak untuk dihuni.