The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Putri dari Khayangan



"Tapi mata mu seperti sedang memikirkan sesuatu" ujar Michael lagi membuat Falery semakin gugup dibuatnya. Dia hanya menggeleng sekenanya seakan malas menanggapi sesuatu yang tidak penting untuk dibahas.


"Setelah ini... ikuti aku" ucap Michael dengan tatapan yang lagi-lagi datar.


"Ke... kemana?" tanya Falery bingung.


"Di depan sana" lanjut Michael dengan suara khasnya yang dingin.


Falery melirik taman disebrang jalan yang memang memiliki keindahan oleh bunga yang bermekaran pada musim seperti ini. Kupu-kupu saling berterbangan dengan matahari yang tidak terlalu terik diatasnya.


Dibawahnya banyak pasangan kekasih yang hanya sekedar duduk-duduk di kursi panjang maupun gazebo. Membuat taman itu terlihat ramai.


"Kenapa? kau tidak mau?."


"Aku hanya tidak suka keramaian bos" ujar Falery jujur. Pria itu mengangguk dan mulai menyantap makan siangnya lagi.


Usai makan siang Falery kini bersiap untuk membayar pada kasir. Begitupun Michael terlihat berdiri didepan Cafe dan menelfon seseorang, seraya menunggu Falery yang kini mulai menghampirinya.


"Bos..." panggil Falery pada pria itu yang masih berkutat dengan ponselnya.


Michael menghentikan panggilannya sesaat, pria itu menatap gadis yang kini tengah berdiri dihadapannya.


"Aku akan kembali dulu" kata gadis itu dengan sedikit ragu.


"Kemana?"


"Bekerja bos... makan siang telah usai" ucap Falery dengan wajahnya yang sedikit menggerutu.


Michael tak memperdulikan tatapan Falery, dirinya beralih menarik lengan gadis dihadapannya dan mengajaknya ke taman kota tepat didepan cafe tersebut.


"Ah... bo bos... ini kemana??"


"Taman sepi..." ucapnya lagi membuat Falery hanya menurut dengan sikap aneh pria yang kini berjalan didepannya sambil memegang lengannya.


Falery mendengus, dirinya menggigit bibir bawahnya sambil menahan gugup yang tiada kira. Ada rasa aneh dalam dirinya setiap Michael bersikap lembut padanya.


Beberapa hari lalu ia hanya memergoki Michael yang selalu menatapnya saat bertugas mendampingi anak-anak. Pandangannya tersenyum dan kadang tertawa saat anak-anak ikut tertawa.


Namun Falery menepis hal itu, baginya Michael hanya tak sengaja lewat dan kebetulan melihat anak-anak tengah tertawa dengan gurauan yang ia buat.


Namun beberapa hari terakhir, dirinya dibuat heran oleh perlakuan hangat dari Michael ditengah sifat dinginnya.


Michael mengajak Falery didepan bangku panjang dan menyuruhnya untuk duduk. Tampak beberapa orang yang tadinya ramai kini berubah menjadi sepi, dan hanya terdapat beberapa orang lewat saja.


Aneh memang rasanya, apalagi cuaca cukup bagus untuk menikmati hari dimana musim semi tiba.


Sebuah es krim yang tersodor didepannya membuat gadis itu tersentak, menatap sebuah tangan putih yang mengulurkan makanan dingin kesukaannya.


"Bo.. bos...," kata Falery gugup, enggan untuk menerima pemberian dari Michael.


"Tidak mau? aku buang" ucapnya datar membuat Falery buru-buru menyerobot es krim dihadapannya.


"Te.. terimakasih" kini Michael beralih duduk disamping Falery yang masih terheran-heran sambil membuka es krim rasa coklat miliknya.


Beberapa kali matanya melirik Michael yang hanya diam sambil meminum sebuah kopi yang ia pesan bersamaan dengan ice cream yang ia berikan.


"Bagaimana kau tau kalau aku suka es krim?" tanya Falery yang kini penuh dengan pertanyaan dibenaknya.


Michael terdiam, mendengar pertanyaan dari Falery membuat pipi pria itu sekilas sedikit merona dengan perasaannya yang tiba-tiba gugup tiada terkira.


"A...aku... hanya menebak-nebak saja, baguslah jika kau suka" katanya acuh namun sedikit terbata.


Falery mengangguk. Ditatapnya lagi Michael yang kali ini enggan untuk membalas tatapannya.


"Omong-omong, kenapa kau ajak aku kesini?" tanya Falery lagi melepas kecanggungan.


"Bosan, ingin cari udara hebas" jawab pria itu dengan datar lagi.


"Oh" Falery memutar bola matanya malas ia hanya ber'oh' ria sembari ikut mengabaikan apa yang dikatakan oleh manusia es disampingnya.


Dirinya beberapa kali melirik Michael yang hanya bertahan dengan kebungkamannya. Membuat gadis disampingnya akhirnya percaya dengan rumor yang beredar dikalangan rumah sakit.


'Seperti bicara sendiri saja, jawabannya singkat sekali... duhhh, aku harus bilang apalagi ya?' batin gadis itu gusar.


Falery merasakan keringat didahinya kala dirinya mulai bosan dengan kecanggungan yang ada.


"Kau bercerita tentang putri dari khayangan, memang itu kisah nyata?".


"Ah i.. iya... kau mendengarnya juga?" tanya Falery yang kini mulai tersenyum.


"Aku tak sengaja lewat saat kau menceritakan itu pada anak-anak. Tentu saja ketika melihat anak-anak yang antusias aku jadi tertarik."


"Pftt..." Falery menahan tawanya agar tidak keluar begitu saja. Mengingat cerita anak-anak menjadi menarik untuknya, baginya itu sangat lucu, semakin lama Falery semakin tak mengerti dengan selera Michael.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Michael dengan tatapannya yang tajam.


Falery menggeleng, segera dihapusnya ekspresi yang hendak tertawa tadi dan melirik Michael yang kini juga menatapnya.


"A.. aku tidak tertawa" gadis itu menelan salivanya, siap melanjutkan perkataannya yang baru saja terpotong oleh sikapnya sendiri.


"Kisah seorang gadis dan khayangan... Suatu hari didalam sebuah kerajaan hiduplah sang putri dengan seorang ratu jahat. Ratu jahat itu sebenarnya adalah kakak dari si gadis, dia membuat rumor bahwa adiknya telah melakukan hubungan terlarang dengan iblis jahat yang mengganggunya tiap malam, ratu jahat itu sangat iri kepada adiknya yang memiliki orang-orang yang perduli padannya terlebih putri akan menikah dengan seorang pangeran, membuatnya semakin membenci adiknya itu. Pada akhirnya warga desa yang mengetahui rumor itu sepakat untuk mengasingkan sang putri di hutan belantara.


Suatu hari ketika ratu jahat keluar, dia menaiki seekor kuda yang membawanya untuk mengitari bukit. Namun ditengah perjalanannya, kuda tiba-tiba mengamuk dan membuat sang ratu terpental hingga dirinya hampir jatuh ke dasar jurang. Untung saja dengan ranting dan juga bebatuan membuatnya bisa bertahan sambil meminta pertolongan.


Tak butuh waktu lama seseorang gadis mendengar suara itu, yang mana suara itu tak asing baginya. Buru-buru langkahnya ia percepat kala tengah mencari kayu ditengah hutan.


Gadis itu menemukan sang ratu yang hampir terjatuh ke jurang. Gadis itu tanpa pikir panjang langsung menarik sang kakak sebelum wanita itu jatuh karena tak kuat memegang ranting pohon.


Akhirnya setelah kejadian itu sang ratu meminta maaf kepada putri. Ia berusaha mengajak putri untuk kembali ke istana.


Ia sangat menyesal akan perbuatannya yang menuduh putri melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sama sekali.


Ditengah perjalan manenuju istana, sang putri tak sengaja melihat seorang pangeran yang pernah menjadi kekasihnya berjalan bersama sahabatnya.


Pada saat itu ratu meminta maaf lagi dan mengatakan bahwa pangeran telah menikah dengan seorang putri dari desa sebrang.


Mendengar perkataan dari sang kakak, sang putri langsung syok, dirinya berlari kearah hutan lagi. Dia memohon pada dewa untuk mencabut nyawanya karena tak tahan melihat sang pangeran telah menikah.


Namun akhirnya, permintaan itu tidak dikabulkan oleh dewa. Dengan buah kesabaran dan kebaikan hatinya. Gadis itu bereinkarnasi menjadi dewi dan berjanji tidak akan menikah. Ia banyak dikaruniai anak-anak yang mencintainya, ia hidup bahagia di negeri khayangan. Negeri yang tidak pernah dijamah manusia biasa, hanya ada dewi dan dewa serta peri-peri kecil (anaknya). Dan akhirnya sang putri hidup bahagia."


Senyuman manis dari Falery menjadi penutup kisah yang ia buat. Begitupun Michael yang nampaknya juga menikmati apa yang Falery ceritakan padanya.


Entah pandangan apa yang Michael berikan, seperti kesedihan mengingat bagian kisah yang Falery ceritakan adalah kehidupan nyata dari seseorang.


Pandangannya tak teralihkan dari gadis yang kini mulai menatapnya heran dan bertanya.


"Ada apa bos?" pertanyaan itu membuat Michael menggeleng seketika dengan pandangannya menatap langit yang cerah diatas sana.


Tatapan lekat itu masih teringat dibenak Falery. Tatapan kesedihan yang ikut terbawa karena ceritanya yang mungkin benar-benar nyata. Seolah Michael juga merasakan apa yang menjadi kesedihan didalamnya.


"Kisah siapa yang kau bicarakan?" tanya pria itu asal membuat Falery tertegun tanpa berani menatapnya.


"Te... teman ku" jawabnya singkat sambil menunduk.


Setelah acara pertemuannya bersama Michael, Falery kini kembali bersama dengan bosnya yang bisa dibilang irit dalam berbicara.


Sepanjang jalan dari semenjak Falery menceritakan kisah itu membuat Michael terdiam tanpa kata. Bahkan diajak bicara pun ia hanya membalas dengan gumaman dan juga isyarat dari matanya.


Kini gadis itu keluar dari mobil Michael, dan beralih memasuki rumah sakit Sun Town. Beberapa dari perawat melihat Falery dengan pandangan kagum karena hanya dirinyalah selama ini yang dapat berhubungan baik dengan manager. Beberapa juga ada yang tidak suka melihat kedekatannya dengan Michael, dan berbagai macam cibiran yang dapat ia dengar meskipun begitu samar-samar.


Awalnya Falery merasa tidak nyaman dengan keadaan yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun Michael yang meyakinkan dirinya untuk tetap bersikap biasa dan lebih tenang.


Hembusan nafas ia rasakan kala dirinya tengah sampai di kantor pribadinya. Perlahan langkahnya mendekati jas putih yang biasa ia kenakan untuk bekerja.


***


Tap tap tap...


Derap langkah kaki gadis yang kini keluar dari rumah sakit menggema. Langkah gadis itu ia percepat bersamaan dengan pandangannya yang menatap cemas pada arloji yang ia kenakan.


tin... tin... tin...


Suara klakson mobil terdengar tepat dibelakangnya. Membuat gadis berkacamata itu menghentikan langkahnya tanpa memperdulikan mobil yang kini mulai mensejajari tubuhnya.


"Masuk Fay" suara familiar itu membuatnya membulatkan matanya. Dan benar saja, orang yang sama tengah membuatnya menjadi pusat perhatian lagi dan lagi.


'Kenapa harus dia lagi? aduh... bagaimana jika ada yang lihat nanti?' gumamnya dengan matanya yang masih menyiratkan sebuah kecemasan.


"Bo.. bos... aku, aku naik bus saja ya" ucapnya dengan gugup sambil memperlihatkan wajahnya yang memohon pada Michael.


"Masuk atau potong gaji?" Falery tersentak, dirinya buru-buru membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya dengan pandangan terpaksa.