The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ziarah



Langkah kaki seorang gadis kini memasuki sebuah pemakaman umum. Rambutnya panjang dengan netra berwarna coklat dimatanya.


Di usapnya batu nisan bertuliskan Almira Syakieb disana. Sebuket bunga mawar dengan tulisan tangan khas membuat gadis itu tersenyum sembari meletakkannya diatas gundukan tanah bertabur bunga diatasnya.


"Mama, ini Reyna, Reyna kembali ma. Aku kangen banget sama mama" ujar gadis berpakaian hitam itu sembari tersenyum dengan air mata yang perlahan merembes disudut matanya.


"Maafin Reyna ya ma, Reyna udah lama nggak nyambangi mama. Ada banyak peristiwa yang Reyna alami, Reyna sampai bingung harus cerita dari mana, karena jujur Reyna nggak tau awalnya" gadis itu menyeka air matanya yang terjatuh.


Sebuah ingatan tiba-tiba sekelebat terngiang difikirkannya. Kala keluarga kecilnya madih berkumpul dengan ria dan kebahagiaan sederhana.


Superman dan sang peri kecil, adalah ingatan paling kuat darinya ketika mengingat sosok ayahnya yang kini entah ada dimana dan bagaimana keadaannya.


Reyna bahkan belum siap bertemu dengan keluarganya. Entah keluarganya akan tau atau belum tentang kebenaran akan status dirinya, namun tubuh gadis itu terasa bergetar hanya dengan membayangkannya saja.


Ia takut nasibnya akan terus berulang sepanjang masa. Di kehidupan sebelumnya bahkan is banyak disia-siakan, akankah ia akan mendapat penolakan dan juga perbuatan kasar lagi seperti dulu.


Hanya mengingat itu saja, rasanya Reyna tidak kuasa. Rasa takut seperti menghantui dirinya, ia takut akan tamparan dari Reyhan dan Reynaldi yang begitu menyakitkan diwajahnya.


Wajah merah dan panas yang ia rasakan, bersamaan dengan rasa pedih dan juga hatinya yang ikut hancur akan kekecewaan. Hal itu ibarat sebuah trauma yang tidak ingin ia ulangi.


Selesai gadis itu berdoa, is bangkit seraya memeluk tubuhnya. Ingatan itu kembali dengan jelas, tatapan kebencian pada gadis yang tidak bersalah namun akhirnya menjadi bagian tak bisa dilupakan.


Tiba-tiba saja, ingatannya terlintas pada sosok Cintya dan juga Keyla. Fikirannya murung dengan wajahnya yang ditekuk membuat Reyna sedikit sedih dengan kenyataan.


Langkah gadis itu melambat, fikirannya menerawang jauh menuju angkasa berwarna biru.


"Mungkin saja kalian sudah bahagia dengan Keyla dan juga Cintya" gumam Falery yang kini mulai menegarkan hatinya kembali.


Gadis itu melangkah cepat keluar dari pemakaman bersama dengan fikirannya yang kembali menerawang.


'Sudahlah Reyna, kamu harus kuat, kamu harus ingat keberadaan mu disini hanya untuk mama. Cuma dia orang yang kamu punya untuk semangat untuk memperbaiki kehidupan mu, agar kamu selalu dekat dan selalu bisa berziarah ke tempatnya' gumam Reyna dalam hatinya.


Langkah gadis itu semakin cepat, ia meraih kacamata hitam yang kini berada disaku bajunya dan segera memakainya sembari berjalan anggun.


Belum sampai gadis itu keluar dari gerbang tempat itu. Seseorang pria bertubuh tinggi melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Reyna baru saja berkunjung.


Pria itu membungkuk sembari melepaskan kacamatanya yang berwarna hitam lalu bersimpuh dihadapan batu nisan tersebut.


"Mama, Reyhan kangen sama mama. Papa juga kangen banget sama mama, kami juga kangen sama Reyna. Entah dimana makamnya, kami juga nggak tau, andai aja ya ma, dulu papa ngasih kesempatan buat mama jelasin segalanya, mungkin semuanya nggak akan kaya gini. Reyhan juga nyesel ma, Reyhan selalu kebawa emosi, bahkan Reyhan udah mukul adik Reyhan sendiri, Reyhan telantarin dia, bahkan Reyhan sengaja nyebab in Reyna keluar dari sekolah. Setelah itu, Reyns masih dengan baiknya mendonorkan hatinya untuk papa. Ma, maafin Reyhan nggak bisa jagain dia, maafin Reyhan yang selalu bilang kalo mama bukan ibu yang baik. Reyhan yang salah ma, sekarang papa sama Reyhan udah dihukum, kami dihukum untuk penyesalan yang kami buat sendiri" Reyhan menyeka air matanya.


Entah sudah berulangkali bahkan beribu-ribu kali ia selalu menangis ketika menyambangi makam ibunya. Dia selalu mengatakan penyesalannya sepanjang waktu sebelum berdoa.


Pria itu beralih menatap sebuket bunga mawar besar yang kini tanpa sengaja menjadi pusat perhatian baginya.


Diraihnya bunga itu dan terlihat sebuah note kecil bertuliskan 'maaf' dengan gambar senyum disampingnya.


"Siapa? siapa yang berziarah kemari barusan? bukannya keluarga mama cuma aku dan papa?" gumamnya dengan kerutan didahinya.


Langkah kaki Reyna semakin cepat meninggalkan tempat tersebut, gadis itu tiba didepan jalan raya dan menunggu taksi yang telah ia pesan beberapa menit lalu.


Pandangannya mengarah pada jalanan, dilepaskannya kacamata hitam tersebut seraya tersenyum menatap langit siang itu yang begitu cerah. Setelah beberapa saat menunggu taksi yang ia pesan akhirnya sampai didepan matanya.


Sesegera mungkin Reyna masuk untuk melanjutkan perjalanannya. Tanpa disadari dari arah belakang seseorang seperti mengejar langkahnya. Tatapan pria itu beralih pada Reyna yang kini bahkan tak mengetahui keberadaannya.


Reyhan menghela nafasnya, ia masih tak habis fikir dengan fikirannya yang menerawang. Siapa gerangan wanita tersebut, wanita dengan rambut panjang dan tinggi semampai. Rasanya ia tak pernah melihat wanita itu sebelumnya, namun rasanya tak asing untuknya.


"Siapa ya? apa aku kenal?" gumamnya sembari menunduk untuk sekedar berfikir.


***


Hiruk pikuk ibukota yang menjadi kerinduan Reyna kini berada didepan matanya. Pandangannya meluas menatap lampu hijau yang kini menyala, menandakan kendaraan yang ia tumpangi akan kembali membelah jalanan.


Gadis itu membuka kaca jendela taksi yang menghubungkannya langsung pada jalan raya.


Wajahnya kembali menghangat disertai senyuman khas dari gadis itu.


"Aku kembali" ujarnya sembari menghirup nafasnya dalam-dalam.


Setelah beberapa saat ia menaiki taksi, gadis itu keluar untuk memasuki gedung bertingkat dihadapannya. Sebuah apartemen yang sengaja ia pesan untuk kehidupannya selanjutnya. Gadis itu melangkah dengan pasti, setelah sampai di ruangannya. Ia menghempaskan tubuhnya disebuah sofa.


Gadis itu kembali menghela nafasnya. Ditatapnya foto yang kini berada didinding apartemen, foto Almira dan dirinya semasa SMP.


Gadis itu melangkah dan kembali menatap foto itu dengan lekat, diraihnya foto tersebut sembari tersenyum dan memeluknya dengan perlahan.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, is memasuki kamarnya yang telah dipenuhi dengan hiasan dinding dan juga alat musik kesukaannya. Apalagi jika bukan gitar yang selalu menjadi kesayangannya.


Reyna menghempaskan tubuhnya untuk sejenak rebahan diatas kasurnya. Ia menatap langit-langit kamar yang membuat pandangannya menjadi hangat kembali.


Gadis itu perlahan memejamkan matanya, tak ia hiraukan keadaannya yang masih memakai baju hitam lengkap dengan span hitam yang menjadi pelengkap dirinya berziarah.


"Cuma mama keluarga yang aku punya. Meskipun mama udah nggak ada di dunia, tapi aku harap mama bisa denger apa yang aku bilang barusan. I love you ma, I love you so much, you're the only family in my heart" ujarnya sembari terlelap dalam pelukannya pada sebuah pigura.