The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bahagia atas nama rasa



Yasya mengusap wajahnya yang kini memerah dengan air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tertumpahkan.


Mungkin 'bahagia' adalah kata yang pantas mewakili perasaannya kali ini. Meski ada berbagai macam rasa ia rasakan dalam satu waktu, namun apapun itu ia tak perduli dengan yang lain.


Fikirannya hanyalah Reyna masih hidup dan berada disekitarnya tempo hari.


"Hahaha.... udah gue bilang, Reyna nggak mungkin ninggalin gue kan Sat... hahaha" tawanya yang menggema dengan wajah Yasya yang memerah beserta air mata yang mengalir dipipinya.


"Gue nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan ini lagi Sat... gue nggak mau kesalahan yang gue buat terulang lagi."


Satya menatap sahabatnya dengan pandangan sendu. Dirinya tak menyangka begitu gilanya rasa cinta Yasya pada Reyna.


Yasya tak pernah serapuh dan sebahagia sepanjang hidupnya. Hanya dengan mengenal gadis itu perasaannya mulai mudah terbawa.


Yasya kini mengusap rambutnya dengan kencang sambil masih tersenyum pada Satya yang kini meraih pundaknya dan memberikan semangatnya sebagai sahabat.


"Bawa do'i pulang Sya... dia kebahagiaan lo, jangan lepasin dia lagi" ucap Satya dan dibalas anggukan oleh Yasya yang kini beralih pergi meninggalkan sahabatnya.


Ditengah pelarian dan juga tangisannya pria itu merasakan kebahagiaan lagi setelah sekian lama hidup dengan rasa sedih dan terpuruk.


"Reyna, tunggu aku sayang" ucapnya sambil terus berlari tanpa henti, memasuki mobilnya untuk mempersiapkan paspor dan juga memesan tiket untuk kembali ke Florida.


***


Tap tap tap


Derap langkah kaki Falery kini berdiri didepan halte sambil membawa beberapa berkas ditangannya.


Kini gadis itu bekerja di Sun Town Hospital, meskipun beberapa kali dirinya harus memohon karena tidak datang wawancara, namun dengan keterangan dan juga tekat gadis itu untuk meyakinkan HRD, akhirnya Falery dapat menjadi bagian dari cita-cita yang ia dambakan.


Falery berdiri sambil beberapa kali menoleh pada jalanan yang belum terjamah bus selama 10 menit lalu.


Perlahan hatinya mulai gelisah dengan perasaan gundah, takut jika kedatangannya akan terlambat dari jam biasa.


Wajahnya mendadak cemas dengan tak lepas dari jalanan didepannya dan beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri.


Tak ada pilihan lain lagi, gadis itu nampak tak sabar dengan pandangannya yang berkali-kali menatap arloji dilengannya. Kini penantian Falery yang hampir seperempat jam berakhir dengan langkah kaki dengan harapan cepat sampai pada tujuan.


Tak ia hiraukan hari yang panas dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Dalam fikirannya saat ini hanyalah menjalankan tugasnya dengan tepat waktu seperti biasa.


Tak disangka hari yang terik seperti ini malah menjadi penghalang baginya untuk menemui anak-anak yang tengah menanti kisah dan juga kesemangatan yang gadis itu bagi.


Sudah sekitar sepuluh menit ia berjalan, panas yang ia rasakan bersama dengan keringat yang bercucuran membuatnya menahan nafas sambil sesekali berhenti untuk beristirahat.


"Huh... tidak biasanya seperti ini, kenapa bus kota tidak sampai tepat waktu?" gumam gadis itu dengan langkahnya yang semakin lamban disusul dengan wajahnya yang mulai memerah.


tin... tin...


Suara klakson mobil membuat gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap mobil yang tepat dibelakangnya kemudian mensejajari tubuhnya.


Kaca mobil pun terbuka, membuatnya mengerjapkan mata, dan menyesuaikan pandangannya menatap seorang pria yang kini pandangannya juga mengarah padanya.


"Tuan Michael" panggilnya pelqn setengah tak menyangka.


"Falery....? masuk saja" ujarnya membuat Falery menelan salivanya. Gadis itu tampak ragu dengan tawaran Michael padanya, apa yang dikatakan orang-orang nanti jika tau dirinya berangkat bersama manager rumah sakit.


Fikirannya melayang kemana-mana, perasaan cemas akan terlambat jika menolak, dan perasaan malu jika terlihat mereka berangkat bersama.


Falery menahan nafasnya, dengan hati yang bergetar, perlahan ia melirik arloji ditangannya.


'Oh Tuhan... tinggal lima belas menit lagi, aku harus bagaimana ini' gumamnya dalam hati menahan kekhawatirannya.


"MASUK!" teriakan dari Michael membuat gadis itu terperanjat dan memejamkan matanya kemudian membuka pintu dengan segera.


huhhhhh....


Falery menghembuskan nafasnya, entah dirinya harus merasa lega karena tidak akan terlambat, atau merasa lega karena keraguannya yang kini telah berakhir.


Falery masih terdiam, tak berani menatap sang bos yang duduk tepat disampingnya.


Gadis berkacamata itu terperanjat kala Michael mendekat pada tubuhnya, buru-buru gadis itu memundurkan kepalanya agar menjauh dari wajah pria dihadapannya.


Seakan tak menghiraukan gerakan Falery, Michael pun tak ragu untuk mendekatkan wajahnya. Tanpa pikir panjang gadis itu menahan wajah Michael menggunakan kedua telapak tangannya.


"Bo... bos... jangan," seketika Michael menghentikan pergerakannya dan menatap Falery yang kini masih bertahan dengan posisinya. Pria itu terkekeh sambil menutupi sebagian bibirnya.


Falery menaikkan sebelah alisnya, menatap heran pada Michael.


Baru pertama kali ini dirinya melihat Michael tertawa.


'Tenyata orang seperti bos bisa tertawa juga' batinnya dengan bibirnya yang sedikit berkedut menahan tawa.


Bahkan ketika tertawa kerutan tegas dari wajah tampan pria dihadapannya seperti menghilang begitu saja.


"Kamu belum memakai sabuk pengaman Falery" ujarnya membuat Falery terperanjat dan segera memasang sabuk pengaman dibelakangnya.


Tak henti-hentinya gadis itu terheran kala Michael menampakkan senyuman dan juga tawanya.


Dirinya pun merasa malu dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Michael. Semburat merah dipipi Falery menandakan dirinya tengah menahan malu yang amat luar biasa oke perilakunya yang memalukan.


'Bodoh kau Fay bodoh, apa yang kau lakukan, kau telah merusak citra mu sebagai seorang dokter... apa yang akan difikirkan bos saat aku menyentuh wajahnya tadi, apa dia akan marah, atau gaji ku akan dipotong? tamatlah riwayat ku' gumamnya dengan keringat dingin membasahi dahi yang ditutupi poni.


Falery masih diam dengan perasaan gugup serta wajahnya yang begitu cemas. Terlihat jelas dari jemarinya yang memegang erat kemeja yang ia kenakan serta guratan alis yang begitu ketakutan.


"Dokter Gilbert... kenapa kau berkeringat? bukankah AC dimobil ku menyala."


Gadis berkacamata dengan rambutnya yang dikuncir kuda itu terperanjat kala mendengar pertanyaan dari Michael yang menjurus padanya.


Falery menggigit bibir bawahnya, merasakan angin luar jendela yang masuk melalui celah mobil yang kini berjalan dengan kecepatan sedang menuju Sun Town hospital.


"Ternyata kau orang yang pendiam" ucapnya membuat Falery mendongak menatap Michael dan menunduk kembali.


"I... iya..." ucapnya dengan terbata membuat bibir Michael berkedut menahan tawa pada karyawannya satu ini.


"Sepertinya aku salah memilihmu menjadi dokter konsultan di Sun Town."


"Ba... bagaimana bisa begitu" tubuh Falery bergetar seketika, merasakan kegugupan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Apalagi dengan perkataan Michael yang membuatnya terancam dari posisinya.


"Jika kau begitu pendiam, bagaimana bisa anak-anak mendengarkan mu, yang ada mereka malah akan ketakutan nantinya."


"aku... aku tidak pendiam" Falery menatap intens Michael yang kali ini mulai tertawa lagi, membuatnya sadar akan perkataannya barusan.


"Mak.. maksud ku... aku tidak pendiam ketika bertemu dengan anak-anak" lanjutnya membuat Michael hanya tersenyum menimpali.