
Falery melangkahkan kakinya keluar, namun tangan Elizabeth menahannya hingga dirinya berhenti seketika.
"Falery sayang... apa kau tau resiko jika kau mengadu pada keluarga mu?" Falery masih diam, dirinya enggan untuk membalikkan tubuhnya. Namun ancaman Elizabeth membuat atmosfer didalam ruangan itu terasa mencekam.
"Jka kau berani mengadukannya, maka lihat apa yang terjadi... kau akan menghancurkan keluargamu sendiri dan Grace akan kehilangan suami dan juga anaknya."
Falery menghempaskan tangan Elizabeth. Dirinya kembali beralih pada pintu yang belum sempat ia lalui.
***
.
"Kenapa kehidupan ku seperti ini kembali? kenapa? Tuhan... apa aku tidak berhak untuk bahagia? kenapa kau tidak ambil nyawaku saja waktu itu agar aku bisa bertemu dengan mama."
Falery duduk di bangku taman, dirinya nampak kacau dengan hanya memakai sweater. Padahal bulan Desember sebentar lagi akan berakhir. Namun nampaknya bukan hanya bulan yang akan berakhir... tapi kehidupannya juga.
Salju turun dimana-mana menyisakan benda putih menyelimuti kota Florida. Dirinya termenung dengan air mata yang menetes deras dipipinya. Kini Falery bukanlah Falery yang dulu, dia adalah Reyna yang sebenarnya. Nampak kuat meski sebenarnya lemah dalam hatinya.
"Falery..." suara pria terdengar tak asing ditelinganya. Gadis itu mendongak menatap Alfian yang kali ini mencoba duduk disampingnya. Namun gadis itu bangkit, Falery mencoba untuk pergi meninggalkan Alfian, namun dengan gerakan cepat Alfian menarik lengannya hingga dirinya berbalik dan hampir terjatuh dari keseimbangannya.
Falery mencoba menghapus air matanya yang sebelumnya menetes.
"Kenapa kau begitu marah padaku?" tanya Alfian dengan tatapan polosnya membuat Falery kini hanya bisa menahan amarahnya selama pria itu tidak mencoba untuk menyentuhnya.
"Dokter Alfian, aku fikir seharusnya kita berhenti disini?" kata Falery dengan nadanya yang tegas.
Alfian bangkit, dirinya seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Falery padanya. Pria itu mulai membelai wajah Falery, namun gadis itu dengan cepat menghempaskan tangannya.
"Kau pasti bercanda kan sayang? bukankah kita saling mencintai?" Falery menatap tajam Alfian yang kali ini menatapnya serius.
"Aku tidak bercanda... aku serius ingin mengakhiri hubungan ini."
"Kenapa Fay? kenapa kau begitu aneh... kau tiba-tiba saja menolak ku tanpa alasan, sedangkan pernikahan kita, sudah hampir menghitung minggu, apa kau punya seseorang yang baru dalam hidupmu? apa kau selingkuh?" pertanyaan itu begitu menohok hatinya. Ia benar-benar masih tak percaya dengan ketidaktahuan Alfian yang berpura-pura dihadapannya.
Plakkkk...
"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu! aku sudah tau semuanya Alfian, apa kau fikir aku akan mudah dibohongi terus menerus olehmu! sudah kukatakan bahwa aku menerima semua masalalu mu... tapi apa yang kau lakukan! kau bahkan berbuat mesum dengan Claramu itu!" Falery menatap tajam kedua mata Alfian yang kini terperangah tak percaya. Tiba-tiba saja matanya gelagapan seketika.
"Kenapa? apa kau fikir aku tidak tau? aku melihat dengan kedua mataku sendiri Alfian."
Alfian masih terdiam, dia beralih menatap kakinya yang menapak diatas dinginnya salju malam itu.
Falery terduduk, dirinya tak bersedih sama sekali. Namun matanya menyiratkan sebuah kekecewaan yang mendalam, ia tak menyangka dengan perilaku Alfian yang begitu membuatnya terpuruk ditambah dengan dirinya yang jelas-jelas tau hubungannya dengan Yasya.
"Satu lagi Alfian... oh maaf dokter Alfian yang terhormat. Aku sudah mengingat semuanya."
"APA?!" Alfian tersentak, matanya menyiratkan kegelisahan dan tubuhnya tegang. Falery hanya bisa tersenyum tipis menatapnya, menatap Alfian yang kali ini membisu dihadapannya.
"Aku adalah Reyna, aku Reyna Malik... kau tau bagaimana hubungan ku dengan Yasya, tapi kau malah membiarkan ku jatuh dipelukanmu. Seingat ku... kau adalah sahabat Yasya bukan? mengapa Al? mengapa kau lakukan ini?."
Falery menutupi wajahnya, gadis itu berlari menerjang hujan salju malam itu. Sedang Alfian dia hanya duduk bersama dengan renungan yang membuatnya menyesal.
"Maafkan aku Rey" ujarnya sambil menjatuhkan dirinya, bersimpuh diantara salju yang semakin tebal.
***
Malam yang dingin ditemani oleh selimut yang tebal menghangatkan tubuh Falery yang kini meringkuk di atas ranjang. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ada rasa gelisah dalam diri Falery, entahlah apa yang dia rasakan.
Dialihkan pandangannya ke ponsel yang berada dihadapannya. Gadis itu meraih ponsel , memencet beberapakali dan dibukanya aplikasi Instagram miliknya.
Gadis itu bangkit, dicari pemilik aku Iryasya Ferdiansyah. Dilihatnya dari atas sampai bawah, begitu terkejutnya ia kala melihat kenangannya bersama Yasya. Falery tersenyum hangat, dirinya melihat beberapa kenangan yang begitu jelas didepan matanya. Kenangan itu seolah berputar kembali, mengingatkan beberapa peristiwa penting dalam hidupnya.
"Yasya... selamanya... Reyna akan selalu mencintaimu, kau adalah cinta pertama dan cinta terakhirku Yasya" ujarnya sambil menangis sejadi-jadinya. Falery memeluk lututnya, matanya memerah bersamaan dengan wajahnya yang sembab oleh tangisannya hari ini.
Tangisannya beralih reda setelah beberapa saat dirinya memeluk ponsel itu dan tertidur pulas bersamaan dengan rasa lelah yang ia alami selama ini.
.