The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Secara tiba-tiba



Ting tong


Sebuah surat seperti sengaja diselipkan seseorang dari luar rumah yang cukup besar. Tak butuh waktu lama, hanya berkisar lima menit berlalu, langkah seorang pria terhenti disana dan perlahan meraih surat tersebut.


Alan menaikkan sebelah alisnya sembari membuka surat itu perlahan. Dibacanya surat tersebut yang bertuliskan nama seseorang yang tak asing untuknya.


"Reyna Malik" gumamnya sembari berlari kearah dalam rumah untuk menemukan sosok Ajeng dan juga Zayn.


"Mom, Zayn!" teriaknya dengan pandangan khawatir dan juga mata yang sayu.


Tepat disebuah ruang makan terdapat Zayn dan juga Ajeng yang kini tengah menikmati sarapan mereka. Penampilan mereka agak berbeda karena terkesan rapi.


Tiba-tiba saja, kedatangan Alan beserta kertas yang ia bawa membuat ibu dan anak itu menatap Alan dengan pandangan penasaran.


"Ada apa kak?" tanya Zayn yang kini bangkit seraya melangkah mendekat kearah Alan.


"Surat ini."


"Surat apa? dari siapa?" tanya Ajeng yang kini masih terdiam dengan mangkuk sup yang ada dihadapannya. Dengen segera Zayn menarik surat itu dari tangan Alan karena begitu penasaran dengan isinya.


Tiba-tiba saja mata Zayn membelalak, ia seolah tak percaya dengan sesuatu yang baru saja ia baca. Sebuah surat dari Falery, yang lebih membuatnya tak percaya lagi Falery pergi jauh dari mereka. Tiba-tiba saja tubuh Zayn melemas, kakinya bergetar dengan pandangan matanya yang kosong.


Kini rencana mereka untuk memberi kejutan pada Falery pupus seketika.


"Kenapa Zayn? siapa yang mengirim surat?" pertanyaan dari Ajeng membuat Zayn menggeleng. Seketika rasa bersalah seperti menjalar ditubuhnya. Ini semua salahnya, mengapa ia tak menceritakan pada Ajeng dan juga Alan, jika saja semuanya tau tentang kebenarannya.


Falery takkan pernah berfikir untuk pergi, mungkin saja masih ada kesempatan lagi. Tapi kini bayang-bayang gadis itu seperti menjauh begitu saja.


Ajeng dengan segera meraih surat itu tanpa permisi. Dibacanya surat itu dengan perasaannya yang menggebu dan juga matanya yang membelalak bersamaan dengan tangisannya yang pecah.


"Fay, Falery putriku, dia pergi kemana Alan? pasti ini hanya lelucon kan. Dia pasti hanya ingin sendiri dulu, aku yakin dia takkan pergi jauh" ujar Ajeng dengan matanya yang berlinang air mata. Gak dapat disembunyikan lagi rasa sedih yang dirasakan Ajeng saat ini.


Rasa sesal dan bersalah bercampur menjadi satu. Ia bahkan belum mengucapkan maaf pada putri tercintanya. Namun angan itu hanya akan menjadi sebuah fikiran belaka, tak ada yang tau gadis itu dimana.


Bahkan terlihat dari tanggal pengirimannya saja sudah tiga hari lalu.


"Ini salah faham terbesar kita, tapi tidak adil untuk Falery. Dia yang menderita, dia yang menahan rasa sakitnya, tapi mommy malah menamparnya. Mommy gagal nak, mommy bukan ibu yang baik" ujar Ajeng yang kini menangis sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Pandangannya sayu mengingat putrinya, sedang Zayn kini masih termakan oleh penyesalannya sendiri. Entah dimana Falery kali ini, namun kepergiannya takkan pernah jauh dari hati mereka.


***


Pria yang kini memakai kacamata itu masih fokus pada pekerjaannya. Ia berkutat dan berkonsentrasi penuh dengan berkas yang ia bawa.


Tiba-tiba saja, suara telepon disampingnya berdering membuat fikirannya kini teralihkan.


"Fay, angkat telfonnya" ujarnya sembari kembali tanpa menggubris telepon tersebut. Namun semakin lama telepon itu tak kunjung diangkat membuat fikirannya teralihkan.


"Nona Gilbert!" tatapan tajam dari Michael membuat kesadarannya kembali. Ia lupa sudah dua hari ini Falery tak masuk kerja. Ia bahkan melupakan tentang itu, tentang wanita yang ia suka kini pergi entah kemana.


Jangankan dia, Lilia sahabatnya juga tidak dapat dihubungi semenjak keberadaannya tidak diketahui. Hanya izin cuti beberapa hari dari Lilia.


Diangkatnya panggilan itu membuat matanya memutar beberapa kali.


"Hallo."


"Mike, aku sudah menerima asisten pribadi yang baru untukmu. Besok dia akan menggantikan posisi nona Gilbert" ujar seseorang lelaki diseberang sana membuat Michael terkejut seraya bangkit dari duduknya.


"Apa kau bercanda! kau mengganti posisi Falery tanpa seizin ku" ujar Michael dengan kemarahannya yang memuncak. Bagaimana tidak, tanpa alasan yang jelas atasannya akan mengganti posisi yang sengaja diberikan olehnya pada Falery agar mereka semakin dekat.


Padahal perihal jabatan CEO rumah sakit telah memberikan wewenang itu pada manager, tapi sekarang malah mereka yang membuat keputusan sendiri.


"Mike, apa kau tak tau? nona Gilbert telah mengundurkan diri dari rumah sakit ini. Suratnya sudah aku terima dua hari yang lalu" kata-kata dari CEO itu membuat mata Michael membelalak tak percaya.


Ia menjatuhkan telepon itu dengan pandangannya yang kosong. Serta amarah dan rasa kecewa yang bercampur menjadi satu.


"Falery resign? ada apa ini? kenapa dia tiba-tiba keluar" ujar pria itu yang kini mulai mengacak rambutnya.


Tak butuh waktu lama, ia mengambil kunci mobil miliknya. Pandangannya tajam serta pertanyaan besar seperti terngiang dikepalanya.