The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Spesial story 1



"Selamat ya Luna, nggak nyangka lo nikah sama Pak Zayn" senyum terulas di pipi Luna meski ia sedikit canggung dengan keadaannya saat ini. Ia melirik Zayn yang hanya ikut tersenyum tipis menyambut teman-teman Luna yang menyalaminya dengan binar kebahagiaan menyertai acara pernikahan yang telah usai tersebut.


"Selamat ya pengantin baru, nggak nyangka kita jadi ipar Lun!" kata Kanaya seraya memeluk sahabatnya yang kini sudah sah menjadi iparnya kala itu. Semua keluarga tidak ada yang percaya dengan kejadian ini, terlebih Luna yang kini mengetahui identitas Zayn sebenarnya. Ia hanya melirik suaminya sesekali yang tersenyum padanya penuh arti. Sejujurnya Luna tidak berpikir panjang saat mereka bertemu dalam satu meja canggung dalam lingkar perjodohan. Ia hanya meyakinkan dirinya untuk setuju akan pernikahan yang telah terjadi saat ini. Hanya saja, ia lupa bahwa ia tidak mengetahui pasti apakah Zayn merasakan hal yang sama atau malah sebaliknya.


"Itu tadi pacar kamu yang kemarin Luna? kok kamu nggak bilang sama mama?" Luna hanya tersenyum lega dan senang karena lelaki itu adalah pria yang amat ia cintai, ia hanya terdiam tanpa mengatakan apapun pada mamanya.


"Gimana dong, mama udah ngomong kasar kemarin ke dia. Aduh, mama jadi nggak enak nih" Luna hanya menggeleng seraya menaikkan sebelah alisnya, ia tidak tahu harus berkata apa tapi yang jelas hatinya yang runtuh kini seolah bangkit kembali.


"Pokoknya setelah ini mama mau minta maaf secara pribadi sama Zayn, walau gimanapun kamu maupun dia nggak ada yang bisa batalin perjodohan ini kalau kita sudah ketemu kaya gini" senyum Luna mendadak pudar, ia memberanikan diri untuk bertanya pada mamanya meskipun hal itu tidak masuk akal untuk dipertanyakan.


"Ja-jadi Zayn juga nggak bisa menghindar meskipun dia blum mau nikah atau nggak suka sama aku?"


"Hah? kamu kan pacarnya, otomatis dia suka dong sama kamu nak, kamu ini gimana. Beda ceritanya kalau kalian belum pernah ketemu sebelumnya. Mama yakin ini takdir kalian, jadi selamat ya, pilihan kamu kali ini nggak salah karena dia juga pilihan kami" ucap mama dengan entengnya membuat hati gadis itu cukup bimbang dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Saat ini Luna tengah menatap pantulan wajahnya didepan cermin rias, ia sudah membersihkan makeup yang menempel diwajahnya. Ia menatap kosong dirinya, padahal pikirannya dipenuhi dengan perasaan aneh yang mungkin tidak akan pernah ia bayangkan sebelumnya. Sejak perjodohan itu, Zayn tidak pernah lagi menghubunginya seperti sebelumnya, paling-paling Zayn hanya mengirimkan pesan untuk persiapan pernikahan, tidak lebih dari itu. Bahkan kini, tiada lagi percakapan antara dirinya dengan pria satu itu. Rasa canggung yang menyelimuti seperti mereka tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya.


Suara guyuran air shower terdengar dari luar kamar mandi tepat di dalam kamar pengantin Luna yang kini berisi ranjang ukuran king size dengan kelopak mawar membentuk hati ditengahnya. Rasanya ia ingin lari saja dari kamar itu, ia tak siap menatap pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Zayn nanti saat mereka saling bertukar pandang.


Sebelumnya Luna hanya membantu Zayn agar ia menjadi pacar pura-puranya, agar perjodohan ini dibatalkan. Luna tidak menyesal menikah dengan Zayn, ia malah teramat senang, namun ia juga bimbang, mana kala Zayn tidak menginginkan pernikahan ini. Rasa bahagia itu kian memudar, ditambah Zayn tidak lagi mau berkomunikasi seperti dulu lagi.


"Ceklek" suara pintu kamar mandi membangunkan lamunan Luna, wanita itu tanpa sadar menoleh menatap pria tampan yang kini berdiri seraya menggosok rambutnya yang basah sehabis mandi. Pria yang memakai handuk kimono itu begitu tampan, senyuman itu pun masih sama untuknya. Senyuman yang mampu membuat jantung Luna berdebar. Tanpa sadar Luna membuang muka, ia kemudian berjalan kearah kamar mandi saat pria itu sudah berjalan kearah lemari pakaian.


Setelah selesai membersihkan diri, kini Luna keluar dengan memakai piyama terusan, yang menutupi tubuhnya dari atas sampai bawah pahanya. Sejujurnya ia tidak berharap banyak pada malam pertamanya itu, apalagi gelagat Zayn sedari awal sudah dingin meski tersenyum sesekali pada Luna. Gadis itu hanya ingin segera berbaring dan memejamkan matanya, ia lelah dengan pikiran dan perasaannya yang bercampur aduk.


"Luna" suara lembut itu membuat gadis itu menoleh, matanya menangkap wajah tampan yang duduk di pinggir sofa tepat didepan ranjang yang menghadap kearahnya. Luna syok bukan main, saat dada bidang Zayn terpampang didepan matanya, bagaimana ia tidak syok, Zayn hanya memakai handuk yang melilit perutnya. Wajah Luna memerah seperti kepiting rebus, ia buru-buru menutup matanya untuk menghindari pemandangan yang baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya.


"Zayn! kamu ngapain nggak pakai baju sih?!" ucap kesal Luna disertai suaranya yang bergetar membuat pria itu terkekeh lalu berjalan mendekat kearah istrinya.


"Kyaaaa! Zayn!"


"Apa sih?! jangan teriak-teriak dong, nanti kedengaran sampe luar" bisik pria itu seraya menutup mulut Luna menggunakan satu tangannya. Tanpa disadari mata mereka bertemu, jantung Luna sudah dipastikan berdebar hebat karena itu, bahkan ia sendiri takut kalau saja Zayn bisa mendengar suara jantungnya yang berdebar begitu keras. Mata Luna seolah terhipnotis dengan pria dihadapannya itu, ia hanya pasrah saat Zayn menarik lengannya dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang bersebelahan dengannya.


Luna benar-benar tidak menyangka jika malam ini benar-benar akan terjadi, sesuatu yang ia takutkan dan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, membuatnya tambah cemas saat Zayn tiba-tiba menyentuh punggung tangannya.


"Luna, apa kamu siap?" Luna menelan salivanya, ia menoleh kearah suaminya lalu mengangguk.


"Aku nggak mau maksa kamu, oleh sebab itu aku tanya duluan, barangkali kamu belum siap untuk-"


"Aku mau kok Zayn" pria itu tersenyum senang, Zayn kemudian menarik jemari Luna lalu mencium punggung tangannya, membuat wajah Luna semakin memerah di buatnya.


Zayn menarik lengan gadis itu, membuat tubuh Luna tanpa sadar duduk di paha pria itu. Luna ikut tersenyum, ia memang tidak mengetahui isi hati Zayn, tapi hanya begini saja sudah membuat Luna bahagia, untuk pertama kali dalam hidupnya, Luna akan melakukan hal itu bersama suaminya, sekaligus orang yang paling ia cintai. Zayn menyentuh bibir Luna menggunakan ibu jarinya, bibir mungil yang membuatnya tergila-gila hingga ia tidak bisa mengendalikan diri jika hanya berdua saja dengan gadis itu, dan sekarang bibir ranum itu adalah miliknya. Zayn menarik tengkuk Luna dan ******* bibir manis itu dengan lembut, memberikan pengalaman pertama pada istrinya itu agar bisa mengimbangi ciumannya.


"Za-Zayn, ini apa ya? kok ganjel gitu?" tanya Luna dengan polosnya saat ia tanpa sadar mengangkat kakinya lalu menyentuh milik suaminya, membuat Zayn tidak bisa menahannya lagi.


"Luna!" pria itu kemudian memeluk Luna erat-erat lalu membalikkan tubuhnya hingga tubuh gadis itu berbaring dibawahnya. Wajah Zayn berubah semakin memerah, sementara itu Luna hanya menutup mulutnya tanpa bisa berkata-kata, bodohnya ia tidak menyadari bahwa itu adalah milik suaminya yang kini tengah berdiri tegak karenanya.


"Kamu ya, gadisku yang nakal " ucap Zayn lalu ia kembali ******* bibir Luna lalu beralih ke leher, tak hanya itu, tangan besar pria itu bergerilya menyentuh tubuh Luna yang kini semakin sensitif dengan sentuhan pria itu.


Setengah jam berlalu, kini tubuh mereka telah telanjang bulat. Ketika Zayn sudah cukup yakin jika istrinya mampu menerima tubuhnya ia langsung membuka kaki Luna lebar-lebar, membuat gadis itu hanya mampu menutupi wajahnya yang cantik.


"Luna, kamu tahan ya. Ini memang agak sakit, tapi nanti kamu pasti akan terbiasa" Luna hanya mampu mengangguk pasrah, satu hentakan keras membuat Luna meringis, ia mencengkeram bahu Zayn dengan keras, seraya berteriak di telinga Zayn. Ia merasakan sakit yang luar biasa, namun sakit itu seolah ditutupi rasa bahagia yang membuatnya tak mampu berkata-kata.


"Aaaaakh Za-Zayn, pe-pelan" Luna mengeluarkan air matanya, ia hampir menyerah saat Zayn memasukkan miliknya kedalam tubuhnya, rasanya tubuh Luna akan remuk, tapi disamping itu ia merasakan perasaan bahagia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski rasanya teramat perih, namun ia hanya diam saja saat Zayn mulai menggoyangkan tubuhnya.


Mata Luna mengerjab, ini sudah hampir subuh namun ia tak kunjung bisa memejamkan matanya. Rasanya ia masih tak menyangka bisa melakukannya dengan pria yang kini memeluknya dari belakang itu. Jemari hangat yang memeluk tubuh ramping Luna membuat perempuan yang kini sudah secara resmi menjadi seorang wanita itu tersenyum lebar. Meskipun setelah menghabiskan malam yang indah, Zayn tidak mengatakan apapun, tapi Luna tetap saja merasa bahagia.


***


"cheers dulu buat pengantin baru!" ujar Cindy seraya mengangkat gelas moktail miliknya disusul gelas Luna dan Kanaya yang kini saling menyentuh gelas tersebut.


"Apaan sih, kemaren aja habis nikahan Kanaya nggak ada acara kaya gini" sewot Luna seraya terkekeh, membuat kedua sahabatnya itu saling melirik dan menatap intens wanita yang kini menyesap minuman dari jemarinya itu.


"Lo beda Lun, lo kan di jodohin sama orang yang lo nggak suka" tawa Cindy membuat Kanaya menaikkan sebelah alisnya seraya menggeleng. Kalau dipikir-pikir, Luna memang membenci sosok rahasia dari CEO perusahaan tempat mereka bekerja. Memang sih, sosok misterius Zayn juga sempat membuat Kanaya merasa penasaran.


"Nah lo, kemakan omongan sendiri kan? makanya kalo benci sama seseorang jangan berlebihan, sekarang jadi suami lo kan?" kata Kanaya menimpali membuat Luna tersipu dan menunduk malu. Pasalnya Zayn sendiri tidak pernah membahas hal tersebut setelah perjodohan mereka dilakukan, padahal Luna sudah pernah mencoba untuk berbicara seperti biasa pada pria itu, namun respon tak terduga justru membuat hati Luna risau dengan itu semua. Namun sejauh ini, Zayn tidak pernah sedikitpun melontarkan kata-kata buruk maupun perbuatan yang membuat Luna tersinggung sedikitpun.


"Hey Luna, lo kok ngelamun? jangan bilang lo terpaksa ya nikah sama Zayn?" kata Kanaya, membuat Cindy melirik sahabatnya itu yang kelabakan sendiri.


"Haaa atau jangan-jangan, lo sama pak Zayn belum malam-"


"Udah kok!" ujar Luna memotong kata-kata Cindy yang membuat kedua sahabatnya itu saling menghela nafas lega.


"Kirain" tambah Kanaya.


"Setuju sih, soalnya lo kaya banyak pikiran gitu"


"Gue nggak apa-apa kok guys, gue cuma belum terbiasa aja sama kehidupan pernikahan. Apalagi yang nikahin gue orang yang belum pernah gue kenal sebelumnya. Yah, mungkin kira-kira kakak-kakak gue juga kaya gini kali pas pengantin baru" keluh Luna membuat kedua sahabatnya itu saling memeluk Luna untuk menguatkannya. Meski apa yang dikatakan Luna bukanlah suatu kebenaran, tapi ia juga tidak mungkin mengatakan isi hatinya begitu saja pada kedua sahabatnya itu. Hal ini pasti akan tambah rumit jika keduanya tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik perjodohan Zayn dan Luna.


Luna tengah mengeringkan rambutnya didepan cermin rias, ia baru saja mandi dan mencuci rambutnya. Saat ia tengah sibuk membuka helai demi helai rambutnya, tangannya tiba-tiba terhenti saat seorang pria masuk kedalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Zayn yang saat ini menaruh tasnya di dalam lemari dan perlahan mendekati Luna yang kini segera melanjutkan lagi kegiatannya yang sempat terhenti.


"Lun, mommy suruh kita honeymoon ke Hawaii, gimana menurut kamu" ujar pria itu seraya menyentuh pundak Luna dari belakang, Luna kemudian menghentikan aktivitasnya lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap tubuh jakun suaminya.


"Terserah aja, aku ngikut" kata wanita itu lalu bangkit dan mengambil baju dari dalam lemari. Wajah Zayn terlihat sedikit kecewa melihat respon Luna yang begitu dingin terhadapnya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya satu itu. Semenjak mereka dijodohkan, Zayn memang tidak mau membuka obrolan seperti sebelumnya, ia takut jika Luna mengatakan isi hatinya, ia takut jika Luna mengutarakan kekesalan dan kebenciannya karena telah membohonginya selama ini, bahwa ia adalah CEO ditempat wanita itu bekerja, sekaligus orang yang paling ingin ia hindari.


Tapi setelah menikah, ingin rasanya ia membuat kenangan manis untuk wanita yang dicintainya itu, tapi mungkin Zayn terlalu gugup dan terlalu bahagia hingga ia tak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Walau begitu Luna masih terus tersenyum terhadapnya, dan hal itu yang membuat Zayn tidak bisa mengerti apa yang dirasakan istrinya satu itu juga.


"Kamu mau makan malam apa?" tanya Luna yang membuat pikiran Zayn buyar, ia menatap istrinya yang sudah berdiri dihadapannya dengan senyum yang biasa ia torehkan.


"Apa aja deh" jawabnya seraya menerima handuk dari Luna yang sudah dipersiapkan untuknya itu. Luna hanya mengangguk lalu kemudian pergi keluar kamar tanpa permisi. Padahal hubungan mereka baik-baik saja, tapi rasanya Zayn merasa ada jarak di antara mereka.