The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Clara



'Aku merasa ada yang aneh dengan mereka, kenapa mereka seakan menutup-nutupi masa laluku' batin Falery gusar.


Sebuah tepukan tepat dipudaknya membuat Falery berjingkat, merasakan terkejut seperti menjalar dalam tubuhnya.


"Fay...."


"dad...."


"ada apa dengan mu???"


Falery menggeleng sambil tetap tersenyum pada sang ayah.


.


.


.


.


.


.


Bammmm.....!!!!


Suara tertutupnya pintu mobil terdengar tepat ditelinga Alfian yang kini mulai beranjak melangkah untuk berbelanja disebuah pusat minimarket tengah kota.


Dengan sepatu boot dan pakaian yang hangat melengkapi penampilannya yang semakin rupawan.


Pria itu melepaskan kacamata yang ia kenakan sehari-hari, melangkahkan kakinya menuju toko yang dipenuhi hujan salju didepannya dengan ornamen natal dan bunga-bunga indah.


Pria itu mendengus kedinginan sambil melewati pintu kaca didepannya, melangkah dengan pasti sambil memilih beberapa perlengkapan makanan yang harus ia sediakan.


Tangannya terampil memilih beberapa kaleng makanan untuk dibawanya pulang. Rak sengaja tangannya menyentuh sesuatu membuatnya harus mengalihkan pandangan pada sosok didepannya.


"Alfian...."


Sebuah panggilan itu membuat Alfian tersentak. Ditatapnya mata indah itu, dinikmatinya sayup-sayup wajah yang begitu ia rindukan dalam hatinya. Mata mereka saling bertemu, begitupun dengan Alfian yang kini perlahan menelan salivanya.


Pria itu tersadar dari lamunannya, pandangannya mengarah pada kaleng jamur yang hendak ia ambil, dengan cepat pria itu mengambilnya dan segera pergi dari hadapan Clara.


"tunggu Al...."


Suara itu membuat Alfian tak bisa bergerak, bagai sihir mempermainkan dirinya. Berjuta-juta kali pria itu selalu mencoba untuk menolak keberadaan gadis itu, namun apa yang ia lakukan hanyalah berakhir merutuki kebodohannya sendiri.


Gadis itu memeluk pinggang Alfian dari belakang, dengan senyuman mengembang dan rasa lega kini berada di dadanya yang semakin bergetar oleh perasaannya pada mantan kekasihnya itu.


"Ra... lepasin...."


"Alfian... aku sangat mencintaimu... aku rindu kamu Al..."


Tatapan mata sayu terlihat dipandangan pria itu, rasanya ingin sekali membalas pelukan hangat dari gadis cantik yang kini masih tak bergeming dibelakangnya.


"ini tempat umum Ra..."


"aku nggak perduli Al... kalau kamu ngizinin aku untuk bicara sama kamu, aku bakal ngelepasin pelukan ku.. please Al... aku hanya butuh bicara"


Pria itu menghela nafasnya seperti pasrah akan keadaan yang menghimpitnya.


.


.


.


.


.


.


"aku kesini untuk pekerjaan...."


"aku tidak perduli..."


Ujar pria itu dengan nada ketus sambil melipat kedua tangannya, terlihat Clara kini menunduk dengan pasrah sambil berulang kali meyakinkan mantan kekasihnya.


Mereka berdua saling duduk berhadapan tepat didepan minimarket dengan dua minuman hangat sebagai teman untuk berbicara.


"Al... apa kau tau jika aku sangat mencintaimu...."


Alfian mengalihkan pandangannya, matanya tak berani menatap kedua bola mata gadis yang kini berada dihadapannya.


"jika itu memang benar, kamu nggak akan pernah ninggalin aku disaat kita mau tunangan Ra....!!!!! cukup untuk semua ini... aku butuh hidup yang normal, bukan dikejar-kejar masa lalu seperti ini..."


Ucapnya tegas seraya bangkit, namun pergerakan pria itu sempat ditahan oleh Clara yang kini beralih berdiri dihadapannya.


Alfian masih tak bergeming, dirinya masih enggan untuk menatap Clara yang tingginya tak lebih dari dirinya.


Cup...


Sebuah ciuman mendarat dibibir Alfian, membuat pria itu tertegun tak menyangka. Matanya masih membelalak, memperhatikan wajah Clara yang kini mulai memejamkan mata, gadis itu mulai memasukkan lidahnya kedalam mulut Alfian. Tangannya beranjak menarik tengkuk Alfian, membuat Alfian terlena dan ikut memejamkan matanya.


Sebuah kecupan hangat ditengah malam yang sepi tanpa bintang dan ditemani hujan salju.


"ALFIAN....!!!!!"


Suara keras itu membuat Alfian refleks menarik tubuhnya dan melihat sosok pria yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rahang pria itu mengeras dengan tatapan mata benci yang tak dapat diartikan.


"Zayn.... aku...."


Sebelum mendengar kata-kata dari Alfian, pria blasteran itu kini buru-buru melangkah mendekat, mensejajarkan tubuhnya dengan Alfian dan menatap Clara yang kini terdiam tanpa kata disamping Alfian.


"Aku bisa jelaskan..."


"gue kecewa sama lo Al... tinggalin adek gue..."


Ucapnya seraya pergi meninggalkan Alfian yang kini berdiri mematung tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Wajahnya bersalah dan menyesal dengan apa yang dia lakukan barusan, sedang Clara tengah tersenyum licik. Tiada penyesalan dalam batinnya, yang ada hanyalah senyum kemenangan untuk mendapatkan pria idamannya kembali.


Tangan gadis itu hampir mengusap kelapa Alfian yang kini tanpa sengaja malah menepis lengannya, membuat gadis itu mundur beberapa langkah darinya.


"TINGGALIN GUE....!!!!"


Teriaknya sambil pergi dengan langkah cepat.


.


.


.


.


.


.


"Reyna... aku mencintaimu... aku sangat mencintaimu..."


"Reyna, aku tidak akan pernah meninggalkanmu..."


"ini adalah kalung untukmu... kalung berinisial F"


Suara itu menggema semakin dalam dalam lelapnya tidur sang gadis cantik.


Matanya semakin erat menutup dengan kepalanya yang bergerak kekanan dan kekiri.


Brakkkkk.....


Sebuah mobil menabarak tubuhnya, membuat tubuhnya terpelanting diaspal jalanan. Gadis itu bergelinjang hebat.


"AAAAaaaaaaaahhhhhhhh"


Hosh.... hosh... hosh....


Suara nafasnya menderu, membuat peluh dikeningnya menetes dengan sempurna padahal hawa dingin masih menyelimuti kota Florida. Gadis itu menahan keningnya dan dadanya yang seakan berpacu dengan tinggi, tubuhnya bergetar merasakan sesuatu yang seperti nyata terjadi padanya.


tok tok tok....


Suara ketukan pintu terdengar nyaring ditelinganya membuat Falery beralih dan bangkit, berjalan kearah pintu, menyentuh gagangnya dan membuka pintu itu perlahan.


"Fay... kenapa kau berteriak, apa yang terjadi padamu???"


Sebuah pertanyaan dari Alan membuat dirinya menggeleng dengan lemas.


"tidak apa kak, aku hanya mimpi buruk saja... oh ya, kapan kakak kembali, bukankah seharusnya kakak menikmati hari libur bersama kak Grace dan Louis ya???"


"bibiiiii....."


Belum sempat Alan membuka suaranya, muncul seorang anak kecil yang kini berlari dibelakang Alan. Pria kecil itu memeluk lutut Falery sambil bergelayut manja, rasa bahagia sempat gadis itu rasakan tatakala ia melihat bagaimana manisnya wajah balita dari keponakannya.


"aku baru saja sampai, aku lebih memilih untuk mengunjungimu, dan ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan berkaitan dengan pekerjaan mu Fay"


Falery mengendong tubuh Louis, menciumi pipi merah pria dalam dekapannya itu membuat Louis tertawa kecil.


"kak... bukankah masalah pekerjaan sudah kakak pasrahkan padaku??? jika begitu biarkan aku yang menanganinya, jangan libatkan dirimu lagi. Disini ada daddy, mommy dan kakak Zayn mereka selalu melindungi ku"


"aku tau Fay... tapi kau juga butuh seorang manager...."


"tidak perlu, ada Lucy dan juga aku punya Daniel, kau tidak perlu seperti ini padaku... Kakak Grace dan Louis juga butuh liburan, benarkan sayang...???"


Pertanyaan itu mengarah pada Louis yang kini masih bertahan didalam gendongan Falery, pria kecil itu tersenyum dan mengangguk sambil menampakkan giginya yang rapi dan putih membuat Falery semakin gemas padanya.


"eh... Fay...."


"apa yang dikatakan oleh kakak mu itu benar Fay...".


Suara itu terdengar tak jauh dari kaki mereka berdiri, wanita itu berjalan mendekat sambil tersenyum kearah Falery dan Alan secara bergantian.


"biarkan kakak mu melindungi mu, dia sangat ingin menjagamu Falery... apa kau tak menghargai kebaikannya???"


Falery menggeleng, dirinya seperti tak enak hati pada kakak iparnya. Walau bagaimanapun Alan juga punya keluarga sendiri, ia tak seharusnya membuang-buang waktunya untuk sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.


"jangan begitu kak, aku tau kalian butuh liburan..."


"jangan membuang-buang waktu untuk liburan, karena keamanan mu itu lebih penting daripada liburan kami..."


Falery menelan salivanya menatap sayu pada Geace yang kini masih menyunggingkan senyumnya.


"mommy...."


Suara kecil itu membuat Grace beralih, mengambil Louis dari tangan Falery yang kini masih mematung.


"kakak apa aku menyinggung mu???"


"bagaimana mungkin kau menyinggung ku Fay... kau kan...."


"CUKUP GRACE....!!!! kau keterlaluan...."


Suara tegas dan kencang dari Alan membuat Grace membulatkan matanya.


"oh... jadi begini.. kau bahkan membentak ku didepan anak kita sendiri, kau egois Alan...!!! kau tidak perlu pulang, tidak perlu bekerja...!!! cukup jaga adik kesayangan mu ini dalam mengurusi kehidupannya"


Falery tersentak, kata-kata pedas dari Grace begitu menohok hatinya. Dadanya sesak beserta matanya yang kini berkaca-kaca.


"GRACE....!!!!"


Teriakan dari Alan bahkan tidak sedikitpun digubris oleh Grace yang kini pergi meninggalkannya.


Falery masih terdiam dengan menunduk tanpa mau menatap sang kakak, hatinya seperti tersayat dan luka yang begitu dalam. Padahal Grace adalah kakak perempuan yang ia anggap sebagai saudara kandung baginya, kini sepertinya Grace sangat membenci Falery.


"Fay... maafkan sikap Grace padamu... aku .."


Falery masih membisu, dengan mulut yang tertutup rapat namun air matanya yang tak bisa ia tahan lagi.


Brakkk....


Falery membalikkan tubuhnya, menutup pintu kamarnya rapat-rapat.