
"Sayang, liang kamu nikmat banget. Aku takut kalo kecanduan deh."
"Kanaya ku, hati kamu, dada kamu, tubuh kamu semuanya milikku. Aku akan buat kamu nggak bisa nolak setiap kali aku minta. Semua kecantikan ini cuma milik aku sayang."
Suara serak dan aroma mint itu takkan membuat Kanaya lupa. Kegiatan mereka semalam adalah hal yang paling indah yang Reyhan berikan untuknya. Reyhan benar-benar luar biasa, wanita itu kini melirik pintu kamar mandi yang terbuka memperlihatkan tubuh sispack dengan beberapa tanda kepemilikan disana. Kanaya menelan ludahnya, ia memalingkan wajahnya kala Reyhan tersenyum menatapnya.
Kali ini Kanaya hanya memakai kemeja kebesaran yang diberikan Reyhan untuknya. Karena memang tiada baju lagi yang pantas ia kenakan. Ini semua juga karena Reyna, adik iparnya itu berani-beraninya membalaskan dendam padanya.
Kanaya yang kini berdiri di samping jendela kamar menggigit bibir bawahnya kala Reyhan semakin mendekat. Pria tampan yang kini keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk melilit pinggang sampai lututnya.
"Sayang, kamu cantik banget sih" bisik Reyhan kala dirinya kini menghimpit tubuh Kanaya diantara dinding kamar membuat gadis itu tersenyum dan mengalungkan tangannya dileher Reyhan. Kanaya mengecup bibir Reyhan sekilas.
Pria dihadapannya ini benar-benar sempurna, tampan dan seksi. Bahkan kini Reyhan dengan sigapnya menggendong tubuh Kanaya membuat istrinya itu terkejut dibuatnya.
"Kak Reyhan, jangan lagi" seru Kanaya saat wanita itu kini dibawa oleh Reyhan diatas ranjang. Menghempaskannya dan menindih tubuh Kanaya yang hanya memakai kemeja transparan milik suaminya.
"Kamu udah bangunin adikku, harus puasin dulu baru boleh bebas"
"Tapi kamu kan baru umm-" Kanaya menghentikan perkataannya kala Reyhan mulai ******* habis bibirnya. Reyhan bahkan dengan gencar membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Kanaya dan mulai beraksi lagi. Bercinta di pagi hari dengan hentakan dan teriakan kecil serta lenguhan dari kedua pengantin baru yang sedang di mabuk asmara.
***
Sebuah mobil berhenti didepan rumah besar dengan dua lantai tinggi menjulang diatasnya. Luna menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian membuangnya. Tangannya masih bergetar hebat, hatinya masih ragu. Akankah ia melakukan ini? haruskah Luna kembali saja ke Jakarta dan melupakan semua ini.
Nyali Luna yang semula terkumpul besar kini kembali ciut melihat pagar rumahnya yang masih tertutup dengan taman kecil serta kolam ikan dibaliknya.
"Nggak usah gugup gitu, dulu mommy PD aja kok pas ngenalin daddy ke kakek sama nenek" hibur Zayn seraya mengelus punggung tangan Luna yang terlihat keringat membasahinya.
"Zayn aku takut, kalo mama sama papa marah. Bukan cuma aku yang kena, tapi kamu juga. Aku takut kamu kenapa-kenapa Zayn" wajah khawatir Luna membuat Zayn tersenyum lembut seraya memegang pipi gadis dihadapannya ini. Jadi Luna mengkhawatirkan dirinya? manis sekali, apalagi saat Zayn melihat tatapan wajah takut dari gadis ini yang begitu menggemaskan dan tidak menghilangkan cantiknya.
"Kamu percaya kan sama aku? kamu kan udah bantuin aku ngadepin papa. Aku nggak takut kok, kalaupun aku kenapa-kenapa itu juga demi kamu" semburat merah dipipi Luna membuat sang pemilik buru-buru menunduk untuk menghindari tatapan Zayn itu.
Lagi? bahkan jantung Luna tidak bisa di kontrol dengan detaknya yang begitu amat cepat. Ia bahkan hampir saja terlena dan terbawa suasana oleh perlakuan lembut Zayn padanya.
Tidak mungkin kan Zayn menyukainya, tipe sempurna dihadapannya ini sangat jauh level dengannya. Apalagi perkataan Zayn tadi memang benar, perlakuannya hanya sebatas bantuan semata. Luna menggeleng pelan, menghilangkan perasaannya yang kian lama dirasa semakin dalam untuk Zayn.
Zayn melangkahkan kakinya untuk keluar, membuka pintunya disusul dengan langkahnya yang hendak membukakan pintu untuk Luna pula. Luna meremas jemarinya kuat-kuat, ia menghilangkan perasaannya tasi seketika. Lagipula hal yang paling penting yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kedua orangtuanya saat ini.
"Ayo Luna" Luna terbangun dari lamunannya kala Zayn berkata lembut padanya. Helaan nafasnya membuat Luna semakin kuat dalam menghadapi ini semua.
Gadis itu menerima uluran tangan dari Zayn, ia mencoba untuk tersenyum. Namun terlihat jelas lengkungan bibir itu bukanlah ketulusan, melainkan keraguan yang memang ada dalam dirinya. Luna melangkahkan kakinya, membuka gerbang tinggi berwarna hitam dihadapannya, seraya berjalan beriringan bersama dengan Zayn disampingnya.
"Luna!" suara itu bahkan tak kuasa membuat Luna mendongak, gadis itu berhenti saat mamanya terkejut tatkala hendak menyambutnya. Sedangkan Zayn, dia hanya tersenyum lembut pada wanita yang kini menutup mulutnya seraya mengernyit.
"Selamat siang tante, kenalin saya Zayn, pacarnya Luna" begitu ujar Zayn kala mamanya hendak mengatakan sesuatu, namun ia urungkan. Luna masih terdiam, ia menunduk tak berani menatap sang ibu yang kini terlihat tak suka menatap kedua pasangan dihadapannya secara bergantian.
"Masuk dulu, mama butuh penjelasan dari kamu" kata mama membuat Luna masih bertahan menunduk seraya mengangguk. Luna menggenggam jemari Zayn, ia bahkan tak menghiraukan apa yang akan difikirkan mama nantinya. Baginya, tidak ada alasan maupun jalan lagi untuk mundur. Ia harus maju, menghilangkan segala kerisauan dan juga kekhawatirannya saat ini.
Zayn duduk disamping Luna yang masih bertahan menunduk. Rumah besar mewah ini adalah rumah Luna, dengan ruang tamu luas serta pernak-pernik lampu diatas ruang tamu yang besar bak berlian.
Zayn bahkan tak menyangka jika sebenarnya Luna adalah keturunan konglomerat. Darah biru yang sangat kental dengan adat, termasuk rumahnya yang memang di desain khusus tidak hanya memiliki arsitektur kemewahan modern, tapi ukiran dan juga hiasan kayu yang menambah kental suasana Jawa didalamnya.
"Luna, ini yang mama takutkan kalau kamu jauh dari jangkauan kami nak. Itu sebabnya mama nggak mau kamu kerja jauh-jauh. Sekarang apa kamu bisa jelasin?" kata mama seraya melirik pria yang kini masih tersenyum ramah meskipun pandangan mama terlihat tak suka ketika melihatnya.
"Ma, maafin Luna, tapi Luna nggak mau dijodohin" mama memijit pelipisnya seraya menyandarkan punggungnya di sofa. Benar-benar anak satu ini membuat orangtunya stres saja. Bahkan kakak-kakaknya dulu tidak pernah berani berpacaran atau sekedar dekat dengan pria, karena mereka tau, pada akhirnya mereka akan pasrah dengan perjodohan keluarga.
"Saya cinta sama anak tante, saya kemari selain mengantar Luna juga ingin menyampaikan keseriusan saya."
"Lancang sekali kamu! kamu udah denger kan kalo Luna mau dijodohin! jadi kamu jangan berharap buat dapat restu dari saya."
Luna mengangkat pandangannya, ia menatap sang ibu yang kini nafasnya seolah menggelora dengan tatapan mata tajam memberikan ancaman pada Zayn.
"Ma!"
"Kamu juga sama Luna! kamu anggap apa mama selama ini sebagai orang tua kamu ha?!. Bisa-bisanya kamu pacaran dan ngajak laki-laki kemari tanpa bilang sama mama dulu. Keterlaluan!" kata mama dengan nada tinggi membuat hati Luna terasa sesak. Luna menatap Zayn yang kini terlihat gugup seraya masih menyembunyikan perasaannya dengan senyuman yang ia buat sebaik mungkin.
Luna benar-benar tidak tau lagi apa yang harus dilakukan. Rasanya semuanya seolah buntu dan tidak ada jalan. Setelah ini rasanya ia tak bisa menghadapi Zayn lagi, melihat emosi mamanya yang meledak-ledak.
"Sekarang, saya nggak mau lihat kamu lagi. Dan kamu Luna! besok nggak usah kerja lagi di Jakarta, barang-barang kanu yang disana nggak usah dipikirin. Mama mau kalian putus!"
Luna membulatkan matanya, apa? jadi kini Luna akan bernasib sama dengan kakak-kakaknya? terkurung dirumah dan berakhir dengan perjodohan yang tidak ia inginkan. Luna benar-benar tidak menyangka jika hal ini akan berdampak besar termasuk pada pekerjaannya.
"Tante, kasih saya kesempatan buat memantaskan diri. Saya akan membahagiakan Luna setelah kami menikah nanti. Lagipula tante tidak boleh memaksakan Luna dalam memilih pasangannya. Apa tante tidak ingin Luna bahagia?"