
Reyna semakin tak bisa menahan senangnya ketika Yasya melihat penampilannya kali ini. Gadis itu melangkah menuju tirai kain yang menutupi ruangan tersebut.
Senyumnya terpancar kala Yasya kini mendongak menatapnya tanpa bisa berkedip sedikitpun.
Yasya kini tengah bangkit, tatapannya masih terpana melihat kecantikan dari calon istrinya yang semakin menawan hatinya. Gadis itu tersenyum seraya menyelipkan sebagian rambutnya tepat ditelinganya.
"Sayang, ini kamu?" tanya Yasya yang masih tak mampu berkedip menatap sorot mata indah Reyna yang kini terpancar dari cahaya lampu yang menyilaukannya.
"Yasya, gimana? dandanan aku ada yang salah ya?" tanya gadis itu seraya menggigit bibir bawahnya membuat Yasya mulai mendekat dengan jemarinya yang menyentuh lembut wajah Reyna yang begitu cantik.
"Cantik" ujarnya seraya menatap Reyna seperti seolah tersihir dengan tatapannya yang begitu mendalam. Reyna hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang mulai tersipu.
"Sya, ih berlebihan deh. Jalan yuk" ajak Reyna seraya menarik lengan Yasya setelah tatapan dari para pelayan salon membuatnya malu.
Ketika sudah sampai mobil pun Yasya bahkan tak mau melepaskan pandangannya yang masih terpaku.
"Yasya sayang, ayo berangkat nanti kemalaman" kata Reyna sembari menarik lengan Yasya untuk mengajaknya bergegas.
Tiba-tiba saja Yasya menyentuh dagu gadisnya, entah mengapa sosok Reyna yang berpenampilan seperti saat ini membuat hatinya semakin berdebar dan merasakan cinta yang luar biasa. Reyna adalah gadisnya, tidak salah lagi. Maka dari itu ia hendak mempercepat rencananya untuk mempersunting gadis idamannya itu.
Yasya juga pria normal, meskipun mereka hanya sekedar tidur bersama, namun hasratnya pada orang yang paling ia cinta sudah terlalu besar ia tahan, dan ia juga tidak mau menahannya lebih lama.
Dalam sekejap Yasya kembali pada kesadarannya, pria itu terasa gugup kala Reyna kini tersenyum kearahnya.
"Ehem, kita jalan sekarang?" tanya pria itu membuat Reyna tersenyum seraya mengangguk membuat Yasya semakin gugup dan gusar.
Rasanya Reyna seperti ingin kembali, ia sebenarnya belum siap menghadapi orang
tua Yasya. Apalagi mengingat dulunya ia pernah ditolak oleh ibunya Yasya.
Reyna hanya bisa pasrah dengan keadaan, toh ada Yasya yang akan selalu berada disampingnya. Beberapa kali gadis itu begitu gusar dengan fikirannya yang melayang, mengingat bagaimana kesan pertamanya nanti tatkala bertatapan langsung dengan orang tua pria disampingnya.
Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan, akhirnya mereka berdua telah sampai di pekarangan rumah Yasya yang begitu indah dan sejuk. Kali ini pertama kalinya Reyna menginjakkan kakinya dirumah Yasya, bahkan dulunya ia juga tak pernah tau dimana tempat tinggal pria itu.
"Rey, ayo turun?" kata Yasya seraya menyalurkan tangannya untuk menyambut kehadiran Reyna dalam rumahnya. Reyna meraih tangan pria itu, senyum manis ia pancarkan meski ada rasa nervous dalam hatinya.
"Nggak usah gugup gitu kalo ketemu calon mertua, papi itu nggak gigit orang loh" ujar Yasya membuat gadis itu memukul pelan lengan Yasya.
Yasya menuntun gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya, seperti biasa usai pulang dari kantor Yasya selalu di sambut oleh bi Ina dengan membawakan tas nya yang berisikan file yang ia bawa. Sedang Reyna hanya tersenyum kearah wanita paruh baya tersebut yang kini juga tersenyum ramah padanya.
"Malam den Irya, dan non?" tiba-tiba saja bi Ina mengisyaratkan untuk bertanya perihal gadis yang Yasya bawa.
"Reyna bik" ujar Yasya dengan senyumnya membuat bi Ina tersenyum simpul mengagumi kecantikan gadis pujaan Yasya.
"Non Reyna, saya pembantu disini, panggil aja bi Ina, nggak usah sungkan-sungkan non kalo maen kesini. Den Irya ini orangnya baik banget, udah cakep, baik lagi" ujar bi Ina membuat Reyna dan Yasya terkekeh.
"Apaan sih bik, jangan lebay deh" ujar Yasya seraya tertawa kecil mendengar pujian dari bi Ina membuat Reyna menggeleng. Meskipun bi Ina hanyalah seorang pembantu biasa, tapi kedekatannya dengan Yasya bagaikan seperti keluarga sendiri. Bahkan ketika kesepian pun bi Ina yang selalu mengajaknya bicara membuat Yasya semakin terbiasanya dengan keberadaan bi Ina disampingnya.
"Iryasya memang orang yang baik bik, lain kali kalo dia ke luar negeri minta ikut aja, pasti di ajak" ujar Reyna dengan kekehannya membuat bi Ina menahan tawanya sejenak.
"Bi Ina, bi Ina, tahun depan mau naik haji tapi malah takut naik pesawat. Bibi tau nggak sih kalo dari sini sampek Mekkah itu nggak ada ojek" ujar Yasya sambil terkekeh disusul Reyna yang tertawa kecil mendengar gurauan dari Yasya.
Bi Ina adalah seseorang yang humoris dan humble, ia tak pernah menganggap asing tamu dari luar kecuali petinggi-petinggi sesama rekan kerja Yasya maupun Adi. Karena mereka memang harus dihormati dengan serius dan sopan.
"Kalo yang itu beda den, oh ya non, kalau butuh apa-apa jangan sungkan panggil bibi ya, anggap rumah sendiri. Insyaallah bibik bakal selalu every time, dan online buat non."
"On time bik" ujar Yasya meralat kata-katanya membuat bi Ina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kini Reyna hanya bisa menahan tawanya.
"Salah ya den?" pertanyaan itu hanya dibalas anggukan oleh Yasya membuat Reyna menggeleng.
"Kalian udah datang rupanya" suara ading itu terdengar ditelinga Reyna. Suara yang berasal dari pria paruh baya yang kini menyambut keduanya dengan senyuman membuat Reyna tersenyum malu.
"Papi, kenalin ini Reyna" ujar Yasya memperkenalkan membuat Adi mengulurkan tangannya, dan Reyna membalas jabatan tangan itu seraya mencium punggung tangannya.
"Reyna om."
"Saya Adi papinya Yasya, ayo silahkan masuk. Bi Ina sudah masak banyak untuk makan malam bersama, sambil ngobrol-ngobrol yuk" ujar Adi seraya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam.
Sepanjang Reyna memasuki rumah tersebut, hanya ada foto Adi dan juga Yasya, ia bahkan tak melihat sosok foto yang ia kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Dian, maminya Yasya. Jangankan foto, keberadaan orangnya saja sepertinya mustahil berada ditempat tersebut membuat gadis itu bertanya-tanya.
"Yasya" suara Reyna tiba-tiba saja melemah kala Yasya telah menarik sebuah kursi makan untuk dirinya. Pria yang masih memakai kemeja putih serta celana kerja itu mengisyaratkan Reyna untuk duduk dibangku yang telah ia persiapkan.
Reyna pun mengangguk, ia tersenyum kearah Adi yang kini sedang duduk menunggu mereka berdua.
"Silahkan, jangan sungkan-sungkan nak Reyna" ujar Adi membuat Reyna mengangguk dan tersenyum.
Memang benar tebakan Adi, putranya satu itu begitu mencintai Reyna. Jika saja ia menawarkan harta yang berlimpah atau memilih gadis itu, maka ia yakin pilihan Yasya adalah memilih Reyna sebagai miliknya. Terlihat dari mata Yasya yang selalu memancarkan kebahagiaan ketika berada disamping gadis itu.
Semenjak kehadiran Reyna, Yasya menjadi berkembang. Yang dulunya ia adalah pria trauma dan kacau karena kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Menghabiskan waktu dan uang untuk menyewa banyak perempuan untuk menemaninya minum, itulah Yasya dulu. Kini mata kesombongan dan keangkuhan itu telah hilang. Yasya kini menjadi dirinya di masa lalu yang lembut dan perhatian, itu semua berkat Reyna. Gadis sederhana, cantik dan juga berpendidikan seperti Reyna.
Mereka kini memulai acara makan, Yasya sedari tadi hanya melirik gadis disampingnya seraya mengunyah makanannya. Begitu anggun dan cantik, cara makannya itu begitu sopan seperti keluarga bangsawan.
Memang tak dipungkiri, setelah gadis itu masuk dalam keluarga Gilbert yang penuh glamor dan juga berdarah biru, termasuk karena Thomas adalah keluarga terpandang, Reyna menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.
"Nak Reyna sekarang kerja dimana?" pertanyaan itu membuat Reyna menelan makanannya yang masih tersisa, mulutnya juga ia lap dengan tisu yang berada disamping piringnya.
"Profesi saya seorang dokter om" ujarnya seraya tersenyum kearah pria itu membuat Adi membalas senyumannya.
"Cara makan kamu dan bahasa tubuh kamu itu kaya orang dari Amerika berdarah biru lo, sopan sekali. Saya suka seperti itu, oh ya rumah sakit mana?" tanya Adi lagi membuat Reyna sempat berfikir sejenak.
Entah mengapa fikirannya terganggu dengan apa yang baru saja Adi sampaikan. Jika saja nanti ia bertanya perihal pendidikan dan juga keluarga, apa yang harus ia katakan.
"Om bisa aja. Saya kerja dirumah sakit Mitra Dharma om, kebetulan masih jadi dokter kecil masih lama perjuangan saya disana" kata Reyna dengan senyuman yang mengembang.
"Bagus itu, sejujurnya Reyna, tidak ada dokter besar maupun kecil. Jasa mereka tetap sama, saya bangga sama kamu, karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mulia" kata-kata Adi membuat Reyna mengangguk dan tersenyum simpul.