
Yasya turun dari mobilnya, tak lupa ia juga membukakan pintu untuk Reyna. Yasya semakin manis setiap harinya, ia selalu diperlakukan layaknya tuan putri oleh pria itu. Gadis itu tersenyum, ia meraih jemari Yasya yang bergantung di udara menyambutnya.
"Makasih" kata Reyna malu-malu membuat Yasya mengangguk seraya menggandeng jemari gadis itu lembut dan menuntunnya kedalam butik besar didalam sana.
"Selamat siang tuan dan nona bisa saya bantu?" kata sang karyawan butik kala Reyna dan Yasya melangkah masuk kedalam butik tersebut.
"Tolong ya bantu calon istri saya cari gaun pengantin yang paling cocok untuk dia" seru Yasya seraya menatap gadisnya dengan senyuman manis andalannya. Reyna hanya bisa menunduk malu-malu, padahal biasanya Yasya selalu bersikap romantis, tapi entah mengapa, setelah mendengar kabar bahwa pernikahan akan dilangsungkan sebentar lagi, perasaan Reyna menjadi tak karuan. Seolah rasa cintanya bertambah pada calon suaminya yang tampan itu.
Reyna dan Yasya masuk kedalam sana, ditemani oleh sang karyawan yang kini menunjukkan arah untuk menuju ruang ganti pelanggan. Reyna seolah dibuat takjub oleh gaun-gaun yang menggantung berjejer dihadapannya. Indah dan berkilau, Yasya benar-benar tak salah memilih.
"Kamu coba sayang, aku bakal nunggu disini"
"Iya" jawab gadis itu dengan senyuman yang mengembang. Reyna melangkahkan kakinya untuk mencoba beberapa gaun yang berada disana, setelah memakai gaun berwarna putih dengan renda bunga dibawahnya Reyna keluar untuk menunjukkan penampilannya pada calon suaminya itu.
"Gimana Sya?" pertanyaan Reyna membuat Yasya mendongak setelah ia beberapa kali memainkan ponselnya. Yasya menatap takjub gadisnya itu, begitu cantik dan anggun, ditambah lagi rambut Reyna yang bergelombang indah panjang sampai ke punggung. Benar-benar cantik, pria itu menelan ludahnya seraya masih terpana dengan penampilan Reyna kali ini, gaun tanpa lengan itu seolah pas dipakai oleh Reyna seorang.
"Yasya! gimana?" tanya Reyna sekali lagi yang merasa kesal karena Yasya dari tadi hanya diam melamun menatapnya.
"Ehemm, ganti yang lain, itu kamu coba yang warna biru" kata Yasya menunjuk gaun disamping Reyna. Gadis itu mendengus kesal, padahal menurutnya ini adalah gaun yang bagus, tapi kenapa Yasya malah bilang ganti.
Reyna kembali dengan gaun berwarna biru cerah, gaun yang lagi-lagi tanpa lengan dengan motif bunga-bunga dibawahnya. Sungguh indah, lebih bagus dari yang tadi menurutnya.
"Ganti! yang merah" Kata Yasya menunjuk gaun berwarna merah tepat disamping karyawan yang kini berdiri disamping Reyna.
Dan setelah setengah jam kemudian, Reyna masih sibuk keluar bergonta-ganti gaun, namun Yasya berulangkali memintanya untuk ganti. Jika saja ini butik milik temannya bukan butik kelas atas, pasti dari tadi Reyna memilih untuk memarahi Yasya habis-habisan.
Kali ini Reyna sudah hampir mencoba semua gaun yang berada disana. Yang terakhir, ia mencoba gaun berwarna cream tanpa lengan, gaun indah yang sekaligus menonjolkan buah dadanya. Jujur saja Reyna tidak nyaman memakai ini, tapi mau bagaimana lagi, ia harus tetap mencoba karena Yasya yang memintanya. Reyna keluar dari ruang ganti, kesabarannya sudah habis kali ini, tatapannya pun mulai murka dengan semua keinginan Yasya.
"Ini yang terakhir" ujar Reyna seraya memutar bola matanya menatap Yasya.
"Nggak ada yang lain lagi ya mbak?" tanya Yasya pada karyawan yang berdiri disampingnya. Reyna hanya bisa menahan amarahnya yang kini berapi-api karena permintaan Yasya itu.
"Ini semua sudah yang terbaik dari butik kami tuan"
"Kalau gitu kalian bungkus semua yang telah dicoba calon istri saya ya mbak, kecuali yang ini" Reyna membelalakkan matanya tak percaya, semuanya? apa telinganya tak salah dengar.
"Sya? tapi kan kita cuma mau nikah, masa aku harus ganti baju sebanyak ini dipernikahan kita?" tanya Reyna yang memang ia kuwalahan sekali saat ini. Bukannya apa juga, karena melihat dari tempatnya saja, gaun ini pasti bernilai rata-rata puluhan hingga ratusan juta.
"Tapi kan pasti mahal Sya!" bisik Reyna yang kini mulai menggerutu mendongak menatap Yasya dihadapannya.
"Apapun yang pantas buat kamu, aku bakalan kasih Rey, aku pengen kamu jadi satu-satunya tuan putri dalam hidupku" ujar Yasya yang kini menyentuh wajah Reyna menggunakan jari telunjuknya.
"Tapi, tadi kamu bilang nggak cocok semua, gimana sih"
"Siapa bilang nggak cocok, aku bilang suruh ganti, bukan berarti nggak cocok kan?" Tatapan Yasya kini beralih pada belahan dada yang berada dibawah sana, ia menelan ludahnya menatap pemandangan indah itu. Reyna yang tidak menyadari hal itu hanya bisa tersenyum manis seraya menyembunyikan wajahnya yang kini mulai merona.
"Kamu ganti aja dulu, aku tunggu disini" Reyna hanya bisa menghembuskan nafasnya. Memang Yasya selalu begitu, ia bahkan selalu dibuat merona oleh setiap kejutan yang pria itu berikan. Reyna kembali ke ruang ganti saat ini, menatap wajahnya didepan cermin besar itu.
"Mbak beruntung ya, dapat calon suami ganteng, sayang lagi sama mbak, mbaknya juga cantik, kalian bener-bener cocok deh" Reyna hanya bisa menggeleng seraya menunduk ketika karyawan itu memuji dirinya dengan Yasya. Hem, dasar trik pemasaran memang selalu begitu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Yasya benar-benar menyayanginya, hal itu membuat Reyna menjadi wanita yang paling beruntung.
Karyawan itu hendak mencoba membantu Reyna melepaskan resleting yang masih terkunci dari punggungnya, namun belum sempat ia menyentuh resleting itu, tiba-tiba datang karyawan lain yang kini memanggil namanya.
"Lin, ada pelanggan kita didepan cari kamu" kata karyawan itu yang kini membuat dirinya mengerutkan kening dan kini beralih menatap Reyna dengan perasaan bersalah.
"Mbak, maaf ya, saya tinggal dulu, nanti saya akan kembali lagi"
"Iya mbak nggak apa-apa kok, santai aja" ujar Reyna yang kini mempersilahkan karyawan itu untuk pergi dari sana.
Setelah mereka keluar dari ruang ganti, Reyna mendengus, ia menatap pantulan dirinya yang berada di cermin. Ia tersenyum malu mengingat perkataan Yasya tadi yang membuat hatinya masih merasa berdebar saat ini. Reyna memainkan kukunya, sesekali ia menggigit bibi bawahnya mengingat pernikahannya akan berlangsung hitungan hari mulai dari sekarang.
Sepasang tangan besar kini tiba-tiba memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Reyna terkejut, ia menatap pantulan dirinya bersama pria itu yang kini tersenyum intens pada dirinya yang kini saling menatap didepan cermin.
"Yasya! kamu kok disin? aku kan belum ganti baju" kata Reyna seraya membalikkan tubuhnya membuat Yasya menggigit bibir bawahnya.
"Kamu cantik sayang, aku cinta sama kamu"
"Aku tau, tapi kamu-" perkataan Reyna tiba-tiba terhenti kala Yasya tiba-tiba ******* bibir gadisnya dengan lembut. Begitu lembut sampai Reyna sendiri merasa terbang dibuatnya. Tangan Yasya kini beralih meremas bokong Reyna yang begitu sintal. Sejenak ciuman mereka terhenti, dengan pandangan Yasya yang mengarah pada kedua gunung dibawah sana.
"Sya, ini di tempat umum, nanti kalau ada yang lihat gimana?" Yasya tidak memperdulikannya, ia sudah membayar karyawan tadi untuk segera pergi. Jemari Yasya menyentuh wajah gadis itu dengan gemas.
"Aku tau, aku udah nggak sabar sayang, aku pengen milikin kamu, kamu cantik banget" Reyna membelalakkan matanya kala Yasya kini mendorong tubuhnya dan menjatuhkannya disofa tepat dibelakang Reyna. Yasya mencium dada Reyna dengan beberapa kecupan dan meninggalkan bekas ****** disana. Yasya benar-benar tahan, ingin sekali ia menikmati Reyna tiap kali gadisnya itu berpakaian cantik seperti saat ini.
"Sya, jangan Sya, sayang! ah!"