The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kerinduan yang mengharukan



"Terimakasih tuan Iryasya" ucapnya sembari tersenyum kearah pria yang kali ini menatap Falery dengan intens. Setelah acara makan malam di salju pertama musim dingin, mereka telah sampai disebuah rumah mewah dengan gerbang besi didepannya.


Tatapan mata mereka saling bertemu, begitupun dengan Falery yang kini menikmati setiap jengkal keindahan wajah dari seorang Yasya, bak malaikat yang turun dari surga.


Yasya memajukan tubuhnya, membuat gadis dihadapannya seperti dihipnotis tanpa sadar matanya terpejam, diikuti cumbuan dari pria yang kini meraih tengkuk gadis itu dengan lembut.


Melodi yang indah serta hawa dingin, membuat mereka menemukan titik kehangatan yang tanpa sadar mereka inginkan. Lidah Falery kini menyatu dengan bibir Yasya yang semakin menikmati ciuman mereka. Sebuah pagutan dan gulatan lidah kini semakin dalam membuat mereka menyalurkan kenikmatan satu sama lain.


drttt drttt...


Suara getar ponsel milik gadis itu membuat keduanya menghentikan aktivitas mereka, membuat gadis itu mengatur nafasnya lagi.


Yasya mengalihkan pandangannya, sedang Falery kini tengah sibuk menerima panggilan dari seseorang disebrang sana.


"Halo"


"Kau berada dimana Fay?" ucapan dari Alan membuat gadis itu panik, dan mengeluarkan keringat didahinya.


"Ada apa?" pertanyaan dari Yasya dengan nada pelan membuat Falery memberikan tanda untuk diam pada pria dihadapannya.


"Aku, aku sudah berada didepan rumah kak."


"Mobil siapa yang mengantarmu?" pertanyaan mengintimidasi itu membuat Falery membelalakkan matanya sambil menatap Yasya yang kini mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng. Gadis itu mengintip dibalik kaca mobil untuk melihat keberadaan kakaknya yang kini memandanginya diatas sana, tepat dilantai dua kediaman keluarga Gilbert.


"Tadi aku bersama tuan Iryasya mengadakan rapat, dan sekalian kami makan malam."


"Baiklah... cepat naik, cuaca semakin dingin."


Falery menghembuskan nafas beratnya dan segera mematikan panggilannya.


"Ada apa?" pertanyaan itu membuat Falery menoleh.


"Kak Alan, dia memintaku untuk segera naik."


Falery dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya, dan segera bergegas untuk membuka pintu mobil itu.


"Tuan Ferdiansyah, terimakasih atas makan malamnya, saya sangat terkesan dengan jamuan anda."


"Iya, kau cepatlah naik, jangan tidur terlalu malam okay!" kata Yasya penuh perhatian.


"Baiklah" mereka saling melempar senyuman, dan dengan langkah cepat gadis itu segera masuk kedalam rumah, sedang Yasya kini segera menjalankan mobilnya.


Gadis itu tak bisa menghentikan senyumnya yang terukir indah setiap kali mengingat betapa hangatnya perasaannya terhadap Yasya.


Wajahnya bersemu merah kala mengingat betapa tampan pria itu, sentuhannya dan juga bibir lembutnya yang ******* bibir tipis Falery semakin membuat Falery gila.


Kini gadis itu bersiap untuk segera tenggelam dalam mimpinya, kala selimut hampir menutup tubuhnya yang indah.


drtt... drttt...


Sebuah panggilan itu membuat Falery menghela nafasnya lagi dan meraih ponsel yang berada diatas nakas.


"Hallo"


"Selamat malam Falery" ucapan dari pria yang tak asing baginya itu membuat gadis itu mengernyitkan dahi.


"Dokter Al" kata Falery dengan sedikit terkejut.


"Kenapa? kau seperti terkejut mendengar suara ku? apa kau tidak ingat untuk menelfonku?" gadis itu menggeleng, ada perasaan bimbang dalam lubuk hatinya yang paling dalam, kebersamaannya bersama Yasya membuat gadis itu seolah lupa pada keberadaan pria yang sangat ia cintai.


"Apa yang aku lakukan" ucapnya sambil menepuk jidatnya.


"Apa yang kau lakukan? kau melakukan apa Fay?" Falery menepuk jidatnya lagi untuk yang kedua kalinya, gadis itu menggigit bibir bawahnya.


"Aku tidak melakukan apapun, hanya saja aku terlalu sibuk Al... maaf, karena aku tidak menghubungi dirimu."


"Hahaha... tidak apa, aku mengerti."


"Al maafkan aku, mungkin aku tidak bisa kembali ke Indonesia."


"Apa ada masalah Fay?" Falery menggeleng dan melangkahkan kakinya menuju balkon, menatap butiran salju yang kini berjatuhan.


"Daddy dan kak Alan, mereka tidak mengizinkan ku" ucapan gadis itu membuat dokter disebrang sana menghela nafasnya dan tersenyum hangat, memandangi foto pada bingkai kecil yang ia sentuh.


"Jangan khawatir, jika kau tak bisa kesini. Maka aku yang akan kesana untuk menyusulmu."


Entah apa yang difikirkan gadis itu, tempo hari ia sangat menginginkan pria yang kini menelfonnya, namun kehadiran Iryasya justru membuat perasaanya seperti luntur dalam sekejap. Falery mencoba untuk tersenyum meski hatinya diliputi rasa gundah yang kian bertambah.


"Alfian... apa kau yakin?" tanya gadis itu mulai meyakinkan pria disebrang sana.


"Kenapa? apa kau tidak senang?" tanyanya lagi membuat hati Falery bimbang


"Aku sangat senang, aku akan selalu menunggumu ditempat ini" ucapnya sambil menegarkan hatinya yang hampir sempat goyah dalam bayangannya sendiri.


"Aku mencintaimu Fay."


Falery membelalakkan matanya, entah apa yang ia rasakan namun hasrat untuk mencintai kini seperti tak lagi berarti baginya. Gadis itu seperti melayang membayangkan betapa hampa dan sepinya hari tanpa hadirnya satu pria yang baru saja ia kenal.


"Fay?"


"A, Al... aku... aku" kata Falery gugup.


"Apa kau mengantuk?" Falery menghembuskan nafasnya.


"Iya maaf."


"Tak apa, kau bisa segera istirahat. Aku tak ingin mengganggu waktu tidurmu" ucap pria itu dibalas deheman dari Falery.


"Selamat malam Falery."


"Selamat malam Alfian" ucapnya seraya menutup panggilannya. Gadis itu menghela nafasnya, sambil memandangi boneka yang kali ini tepat berada didepannya dan memeluknya dengan erat.


***


"Falery Gilbert... putri dari Jendral Thomas Gilbert" ucap seorang pria paruh baya yang kini membuat gadis cantik itu bangkit dari duduknya tepat dideretan teman-temannya, gadis itu tampak cantik dengan baju toga berwana hitam dan riasan yang membuat gadis itu tambah semakin cantik.


prokkk prokk prokk...


Suara tepukan tangan dari seluruh mahasiswa kini menambah riuh suasana kelulusan. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan anggun.


"Mari kita sambut kesan dan pesan dari Nona Gilbert yang telah meraih prestasi dengan nilai tertinggi di kampus kita" ucap salah satu MC membuat gadis itu tersenyum didepan teman-teman dan juga para wali mahasiswa yang kini menempati ruang kelulusan dengan hikmat.


prokkk prokk prokk prokk prokk prokk...


Suara tepukan itu kembali menggema, membuat gadis itu kini mengambil mic yang berada didepannya.


"Terimakasih untuk teman-teman semua yang telah hadir disini, seperti yang kita ketahui ilmu adalah salah satu pondasi kita untuk membangun masa depan kita yang lebih cerah, ini semua aku dapatkan karena bantuan dari kalian semua, Mommy... Daddy... kakak-kakak ku... sayangnya mereka tak bisa hadir dalam acara kali ini" ucapnya menggantung, Falery tak bisa menahan matanya yang kian berkaca-kaca oleh kerinduannya pada keluarganya, mengingat walinya yang dapat hadir hanyalah kakak iparnya saja dan juga Louis.


Grace tersenyum kearah adik iparnya itu dan mengisyaratkan untuk melanjutkan kata-katanya.


"Siapa bilang tidak hadir" ucap seorang pria setengah baya yang tak asing baginya, gadis itu kini memandangi sang ayah yang tak jauh dari tempatnya berdiri, kini memandanginya dengan senyuman merekah. Membuat gadis itu kini meneteskan air matanya oke kerinduan yang kini akhirnya terobati di momen spesial nya.


"Falery" ucap pria yang masih lengkap memakai baju Army itu yang kini berjalan mendekati Falery, membuat gadis itu ikut melangkah dan memeluk sang ayah.


prokkk prokk prokk prokk....


Suara sorakan dan juga tepukan tangan kembali menggema, namun suara itu seolah hilang begitu saja ditelinga gadis yang kini menangis di pelukan sang ayah yang juga meneteskan air matanya.


"Dad" kata gadis itu dengan berlinang air mata


"Kau membuatku bangga nak" sebuah pelukan hangat membuat seluruh teman-temannya ikut terharu oleh pemandangan didepannya. Termasuk Sarah yang kini tak bisa melepaskan pandangannya dari sahabatnya itu.