
Satu usapan lembut tangan lelaki berbadan tinggi pada batu nisan dihadapannya. Yasya tampak bangkit, dirinya menutup wajahnya bersama dengan kedua telapak tangannya, mengusapnya dari pipi hingga keujung rambutnya.
Tak tahan dengan kesedihan yang oa rasakan Yasya akhirnya meneteskan air mata untuk nama Reyna yang terukir disana.
"Reyna... hiks maafkan aku" suaranya serak, tangisnya seolah pecah begitu saja mengingat betapa indahnya kenangan itu. Kenangan yang seharusnya ia lalui lagi saat ini, namun harapan itu hanyalah imajinasi Yasya yang ia lukiskan sendiri.
"Aku bahkan tidak menyadari kepergian mu, aku menganggap orang lain adalah dirimu, namun sekarang aku sadar. Kau hanyalah satu-satunya didunia Reyna."
Yasya kembali berjongkok, dirinya sangat menyesal karena selama ini selalu menuduh Reyna mengkhianatinya karena kesedihan yang semakin mendalam dalam hidupnya. Namun kali ini ia sadar, setelah melihat sendiri pemakamannya kehilangan dan rasa perih seakan mencekam dan mencekat hatinya yang paling dalam.
Wajah Yasya terlihat lesu kala dirinya keluar dari pemakaman bersama Peter dibelakangnya. Wajahnya muram tanpa harapan, pria itu mendengus menatap langit diatas sana, membayangkan kehadiran dan kenangan bersama orang yang ia cinta.
Pria itu tersenyum, meski hatinya teramat sakit.
Selang waktu yang begitu singkat, suara dering ponselnya membuat pria itu beraling pandang. Mengindahkan ponsel dari sakunya untuk mengangkat panggilan tanpa ia lihat siapa gerangan orang itu.
"Hallo..." suara sumbangnya masih terdengar ditengah ia menjawab panggilan seseorang disebrang sana.
"Yasya... ini papi nak" pria itu mendengus malas.
"Papi sudah sampai di mansion, malam ini kita akan melangsungkan pertunangan mu?."
Yasya membelalak mata, dirinya tak percaya pada apa yang dikatakan Adi padanya. Selama ini kehadiran Adi di Florida dan rencana untuk menjodohkan dirinya dia anggap sebagai gurauan dari ayahnya, namun ternyata fikiran itu salah, kali ini Yasya akan bertunangan dengan seseorang bahkan dirinya tak mengenal orang itu.
"Pi... aku udah bilang kan, aku nggak mau dijodohin."
"Sya... kamu itu udah berumur, pokoknya papi nggak mau tau, malam ini kita akan melangsungkan pertunangan mu bersama gadis pilihan papi."
"Tapi pi..." suara Yasya menggantung begitu saja kala Adi tiba-tiba mematikan ponselnya secara sepihak.
"AAAAaaaaaaaahhhhhhhh... papi!" teriaknya emosi. Belum sempat ia selesai berduka, bagai kabar buruk menghantam jiwanya yang tak karuan.
***
Falery berjalan santai menuju perusahaan Forest, dirinya merasa senang hari ini. Tampak wajahnya seperti tak sabar bertemu dengan pujaan hatinya.
Gadis itu meraih gagang pintu, menatap studio yang masih kosong tanpa ada orang disana.
Meskipun ia bahagia ingatannya kembali namun ia sangat merindukan Thomas. Wajah Falery mendadak murung, ditatapnya layar background berwarna hitam itu, dirinya maju beberapa langkah.
Fikirannya jauh menerawang, hatinya seolah seperti dihantam badai kala mengingat Grace yang mengusir dirinya.
"Bahkan mommy dan daddy tak mau bertemu denganku lagi."
Falery menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa sakit yang ia alami.
"Sudahlah Falery... mungkin dengan perginya aku dapat membuat mereka menahan malu."
ceklek...
Suara pintu studio foto membuatnya membalikkan tubuhnya dan menatap Kenzo yang kali ini menatapnya datar. Falery tak mengerti, dirinya melihat sosok Elizabeth yang berada dibelakang Kenzo dengan tatapan angkuhnya.
"Nona Falery... maafkan kami, dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa kau sudah dipecat" ucap Kenzo membuat Falery membelalakkan matanya, dirinya juga menatap nanar pada gadis dibelakang Kenzo yang kini maju beberapa langkah untuk mendekati Falery.
"Kenapa? aku melakukan kesalahan apa?!" tanya gadis itu dengan suaranya yang meninggi menahan emosi.
"Kesalahanmu?! masih berfikir tidak punya salah rupanya?" ucap Elizabeth, membuat Falery menggertak kesal. Dirinya semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tak lama kemudian Elizabeth membuang foto-foto yang berterbangan diatas Falery. Gadis itu melihat beberapa dari foto itu sekilas.
Dirinya terkejut dan menatap sayu pada setiap lembar fotonya yang terlihat bersama Alex semalam.
"Aku sungguh tidak melakukannya!" ucap Falery dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Percaya padaku Kenzo... aku...aku" ucap Falery terbata, dirinya seakan ingin menangis kala itu juga, namun apalah daya. Ketidakberdayaan itu, tak mungkin dipercaya oleh semua orang.
"Maaf Fay... kau harus pergi sekarang juga, perusahaan kami telah membatalkan kontrak denganmu."
"KENAPA? apa Yasya yang memecatku? apa dia lagi yang mempersulitku?."
Kebahagiaan Falery dan harapannya semakin menipis, dirinya terlanjur kecewa dengan kesalahpahaman yang terjadi.
"Bukan.. tapi, investor kami. Presdir sama sekali tidak tau tentang ini."
"Biar aku bertemu dengannya" ujar gadis itu membuat Elizabeth menghadang tubuh Falery. Dirinya mendorong tubuh Falery, membuat gadis itu seperti lemah tak berdaya.
"Sudah kubilang, kau itu anak pungut Falery... jika saja waktu itu kau mau mendengarku dan berhasil keluar dari keluarga Gilbert sebelum kau diusir, maka itu akan menambah harga dirimu."
Falery mengernyitkan dahinya ditengah-tengah air matanya yang berlinang deras membasahi pipinya. Dirinya tak tau mengapa gadis dihadapannya bisa mengetahui suatu hal tentang masalahnya.
"Kenzo... biarkan kami bicara sebentar." Kata Elizabeth yang dibalas anggukan oleh Kenzo. Pria itu keluar dari studio dan meninggalkan mereka berdua disana.
"Kau pasti bertanya-tanya kan? kenapa aku bisa tau apa yang kau alami, bukankah begitu" kata Elizabeth sambil memutari tubuh Falery.
"aakan kuberitahu... kau pasti mengenal Grace bukan?"
Falery masih diam membisu, fikirannya melayang mengingat Grace yang selama ini membenci dirinya.
'Ada apa dengan kakak Grace?' batin Falery sambil menggigit bibir bawahnya.
"Grace dan aku adalah sahabat Falery, sudah sepantasnya dia membantuku bukan?" Falery terhenyak, dirinya menatap tajam sorot kebencian dari Elizabeth padanya. Gadis itu sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi. Grace bahkan bersekongkol dengan Elizabeth selama ini, pantas saja sikapnya berubah.
"Jadi kakak Grace dan kau dibalik semua ini."
"Tebakan mu benar nona Gilbert, ck.. biar kuceritakan sedikit kisah padamu."
Flashback on.
Alan, Grace dan Louis kini tengah menyantap makan siang bersama disebuah restoran. Grace tampak tersenyum kepada keluarga kecilnya. Akhirnya setelah sejak lama dirinya bisa berkumpul dengan anak dan suaminya setelah beberapa saat Alan berada dalam titik kesibukan menjadi manager Falery.
Tak lama kemudian...
Suara dering ponsel Alan berbunyi, membuyarkan lamunan Grace yang kini berubah menjadi seringaian sebal setelah didapati nama Falery dilayar ponsel pria itu.
"Hallo Fay."
"Baiklah kakak akan kesana sekarang" kata pria itu dengan wajahnya yang tampak kusut menatap istrinya.
"Falery lagi?" tanya Grace dengan tatapan malas pada Alan. Alan hanya mengangguk dan berpamitan pergi pada Grace dan Louis.
"Kenapa selalu Falery?" ujar perempuan itu dengan nada gusarnya dan juga amarah dalam matanya.
"Hallo kak..." suara perempuan asing berdiri disamping tempat duduk bekas Alan. Gace masih enggan berkata, dirinya memalingkan muka dan menatap Louis yang masih fokus ada makan didepannya.
"Boleh aku duduk disini?" pertanyaan itu membuat Grace mengangguk dengan lemas tak perduli.
"Namaku Elizabeth... " Grace masih enggan menjawab, dirinya masih bungkam dalam kemarahan.
"Aku dengar kau dan suamimu bertengkar ya?" pertanyaan itu jelas membuat Grace memelototi Elizabeth dengan wajahnya yang garang.
"Kenapa kau ikut campur urusan pribadi kami... memangnya kau siapa?!" pertanyaan itu membuat Elizabeth terkekeh. Lantas kemudian tersenyum jahat pada Grace.
"Sepertinya gara-gara gadis itu ya kita bernasib sama."
Grace menatap Elizabeth dengan tatapan mengintimidasi. Dirinya masih tak mengerti dengan apa yang maksud oleh gadis dihadapannya.
"Maksudmu?" tanyanya yang kini masih tak mengerti dengan apa yang gadis dihadapannya katakan.
"Aku lihat, kak Grace sangat membenci anak pungut itu rupanya."
Grace menaikkan sebelah alisnya, tatapannya masih sama seperti sebelumnya. Dirinya masa enggan terbuka pada orang yang baru saja ia kenal.
"Kak... jika kau juga terancam oleh gadis itu, maka kusarankan kita bekerjasam"
"Apa maksudmu?" Grace tak mengerti, dirinya masih mengulas tanya dalam fikirannya, mencoba menebak jalan fikiran Elizabeth.
"Aku juga membenci Falery, dan kau juga... aku juga tau dia siapa? kau bukankah juga tau bukan? jika kita berkerja sama untuk menghancurkan kehidupan gadis tak berguna itu, maka keuntungan ada di pihak kita?."
"Kenapa kau mengajakku untuk bekerja sama? apa maksud dan tujuanmu?."
"Kak... asal kakak tau, begitu banyak keangkuhan Falery... dia punya banyak musuh, dan salah satu musuh terbesarnya adalah aku.. jika kau tanya motif dibalik kekesalan ku, maka kisah ini akan berlanjut hingga esok hari."
Grace menimbang-nimbang, dirinya tak yakin dengan tawaran Elizabeth. Namun mengingat Alan yang selalu menyibukkan diri membuatnya mau tak mau yakin dengan tawaran Elizabeth.
Flashback off...
'Jadi... selama ini... kak Grace?' Falery menghapus jejak air matanya. Dirinya menatap tajam kearah Elizabeth dan langsung pergi dari tempat itu.