The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Misteri keberadaan Dian



"Oh, iya mbak, boleh minta tambah satu lagi ya?" perkataan itu membuat sang pelayan mengangguk dan meninggalkan tempat itu.


"Kak, ini minuman coklat buat kakak" ujar Kanaya membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.


Edwin yang melihat hal itu hanya bisa menyebikkan bibirnya pada Kanaya yang kini mencoba PDKT dengan Reyhan.


"Loh, kok buat aku, kamunya?" pertanyaan Reyhan membuat Kanaya menggeleng, ia menggeser minuman coklat dingin dihadapannya untuk diminum oleh Reyhan.


"Aku salah pesen, seharusnya coklat panas" kata Kanaya membuat Reyhan mengangguk seraya tersenyum kearahnya.


"Makasih ya Nay" seru Reyhan membuat Kanaya tampak tersipu dengan tatapan Reyhan yang begitu menawan baginya.


***


"Lo naksir ya sama si Reyhan?" pertanyaan itu membuat Kanaya yang kini hendak mencuci tangannya di wastafel depan kantin terkejut. Ia bahkan baru menyadari jika kakak sepupunya itu kini berada dibelakangnya.


"Kak Edwin? ngagetin mulu sih, si siapa juga yang naksir sama kak Reyhan, aku cuma sekedar kenal aja kok, nggak usah sotoy deh" kata Kanaya yang kini memutar bola matanya.


Kanaya paling risih jika Edwin selalu kepo dan ingin tahu tentang masalahnya. Bahkan jika itu tentang percintaan, pasti Edwin lah yang menggodanya. Namun semenjak Kanaya mengenal Reyhan, ia kini enggan untuk mencari sosok pria idaman. Bahkan selama ini meskipun banyak yang mengincar Kanaya, namun ia tak mudah untuk merespon.


"Yakin? entar kalo Reyhan gue comblangin ke temen-temen cewek gue, emang lo rela?."


Deg.


Tiba-tiba aktivitas Kanaya terhenti seketika mendengar perkataan dari Edwin yang membuatnya begitu kesal. Gadis itu segera meraih tisu dan mengelap tangannya dan kemudian pergi tanpa memperdulikan kakak sepupunya itu.


Kanaya begitu kesal, ia bahkan kini beralih pergi ke kantornya, ia sama sekali tidak mood, apalagi bertemu dengan Edwin, rasanya ingin sekali mencakar wajahnya yang selalu membuat Kanaya sebal setengah mati itu.


Jika saja Reyna masih ada, mungkin hanya dirinyalah yang menjadi ladang curhatan dari Kanaya. Meskipun yang dia curhat kan adalah kakaknya sendiri, tapi ya yakin Reyna pasti mengerti. Tapi jika dipikir-pikir lagi, mana mau Reyhan dengannya, seorang gadis kecil seumuran adiknya. Apalagi dirinya tak terlalu cantik, berbeda dengan pria itu, yang selalu menunjukkan kharisma dan juga ketampanannya. Kanaya menggerutu dalam hati, ia bahkan menyumpahi Edwin dalam hatinya.


"Kamu kenapa? berantem sama Edwin?" pertanyaan itu membuat Kanaya mendongak, ia menatap Reyhan yang kini tiba-tiba duduk disampingnya, tepat dimana kantornya berada.


"Kak Reyhan? eng, enggak kok, biasa aku sama dia juga kaya gitu" kata Kanaya yang kini mengalihkan pandangannya.


"Pertama lihat kamu, Aku ngerasa nggak asing, aku lupa pernah ketemu kamu di mana, tapi aku yakin kita pernah ketemu. Dan ternyata benar, kamu malah sahabatan sama adikku" kata Reyhan seraya duduk bersebelahan dengan Kanaya yang kini merasakan getaran di dadanya yang begitu kuat.


Ia bahkan takut jika saja Reyhan mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Aku, sebenernya nggak kenal pribadi sama kakak, tapi Reyna sendiri yang sering cerita" kata Kanaya membuat Reyhan manggut-manggut.


"Kayanya dulu kamu sahabat baik Reyna. Makasih ya udah mau jadi sahabat dia, meskipun kadang dia juga ngeselin hehehe" kini Kanaya bisa leluasa menatap Reyhan yang tengah tersenyum ringan. Bahkan tatapan matanya begitu teduh dan indah bagi Kanaya.


***


Kini mereka berdua masuk kedalam mobil, tampak Reyna wajahnya ditekuk seperti ada beban di dalamnya.


"Kenapa sayang? kan tadi Agatha udah bilang kalau perkembangan kamu cukup baik, kok kamu kaya nggak seneng gitu? ada masalah apa?" pertanyaan itu membuat Reyna menoleh, ia segera memeluk Yasya.


"Aku pengen cepet nikah sama kamu" kata Reyna membuat Yasya kini tak dapat menahan tawanya, hal itu membuat Reyna semakin kesal saja, ia bahkan mencubit perut Yasya hingga dirinya mengaduh kesakitan.


"Aduh sayang, maaf" kata Yasya membuat Reyna bersedekap dada.


"Aku itu serius Sya, aku pengen cepet nikah sama kamu, setelah apa yang kita lalui selama ini, aku takut kita renggang lagi" perkataan gadis itu menyadarkan Yasya.


Pria itu segera memeluk Reyna dengan erat. Namun ditengah apa yang telah terjadi, ia tak bisa secepat itu menghalalkan Reyna sebagai istrinya. Ia ingat posisi, seharusnya keluarganya ada disaat Reyna diamabang kebahagiaan.


"Aku juga pengen, tapi kita harus temuin papa kamu dulu. Jujur sayang, aku juga takut kehilangan kamu lagi, tapi mau bagaimana lagi."


Reyna menghela nafasnya, ini juga adalah permintaannya untuk menemukan Reyhan dan juga Reynaldi sebagai keluarga yang masih tersisa.


"Kamu tenang aja, gimana kalau weekend kita coba kunjungi rumah lama kamu itu, kali aja mereka masih tinggal disana" Reyna hanya bisa mengangguk, ia tersenyum tenang ketika Yasya memeluknya seperti ini.


Kini mereka telah sampai di apartemen. Beberapa hari ini memang Yasya jarang pulang, ia lebih memilih untuk menjaga Reyna diapartemen. Kini gadis itu memegangi foto keluarga mereka, lengkap dengan Almira disana.


"Udah lama Sya, foto ini hampir 10 tahun lamanya, kalo aja mama masih hidup, aku kangen sama mama Sya" kata Reyna yang kini duduk di balkon seraya menatap langit yang penuh bintang diatas sana.


"Sayang, semuanya udah terjadi sekarang kamu harus membuka lembaran baru, mama kamu pasti bangga sama kamu yang sekarang, sekarang berkat orang-orang yang sayang sama kamu, kamu masih ada di dunia ini" perkataan Yasya memang benar, ini memang harusnya terjadi. Entah itu Almira atau Thomas, mereka sama-sama berartinya untuk Reyna, mereka meninggalkan Reyna di dunia ini adalah sebuah takdir yang tak daoat dihindari.


"Sya, aku mau tanya, selama aku pergi, mama kamu kemana?" pertanyaan itu membuat Yasya membuang muka. Ia seperti tak ingin menceritakan perihal mamanya.


"Kamu bilang disebuah hubungan nggak perlu ada yang ditutup-tutupi, semua serba kejujuran, dan aku cuma mau tanya itu ke kamu" perkataan Reyna membuat Yasya tersenyum tipis seraya menatap mata gadis itu.


Ia menghela nafas beratnya sebelum menceritakan apa yang terjadi.


"Papa dan mama udah pisah Rey?" perkataan itu sontak membuat Reyna tercengang.


"Apaa?! tapi kenapa?" pertanyaan itu membuat Yasya enggan untuk mengatakan yang sebenarnya. Jika ia tau dulunya Yasya begitu depres, dan itu karena kehilangan dirinya, lalu Adi bertengkar hebat dengan Dian, pada akhirnya Adi memutuskan untuk menceraikan Dian begitu saja.


'Kalau aku cerita itu semua, apa kamu bakal nerima Rey?' batin Yasya seraya menatap Reyna dengan wajahnya yang penuh kebimbangan.