The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Salju pertama



Seorang gadis dengan sepatu hak tinggi boots nya kini memasuki restoran VIP dengan kaca jendela yang menembus jalanan dengan banyak lampu kota Florida dibawahnya.


Hawa dingin membuat gadis itu memeluk tubuhnya yang meski kini memakai sweater tebal. Seorang lelaki dari belakang menutup punggungnya menggunakan jas yang baru saja ia lepas untuk menambah hangat tubuh gadis itu.


"Dingin?" pertanyaan dari Yasya dibalas anggukan oleh Falery yang kini mengalihkan pandangannya lagi.


"Terimakasih" ucapnya sambil menunduk. Yasya segera menarik kursi makan dihadapan Falery untuk mempersilahkan gadis itu duduk, membuat Falery menurut padanya.


Mereka saling duduk berhadapan direstoran dengan interior klasik nan mewah dan sebuah lilin temaram di meja makan membuat suasana romantis bertambah hangat.


"Kenapa kau ajak aku kesini?" pertanyaan dari Falery membuat pria dihadapannya mendongak setelah sebelumnya pria itu memilih menu makanan yang belum sempat ia pesan.


"Malam ini adalah awal dari pergantian musim, kita akan melihat salju pertama, dan tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk melihat keindahannya."


Falery terdiam, ada rasa hangat seperti menyelimuti tubuhnya, bahkan syal dan juga sweater miliknya seperti kalah akan perasaannya sendiri.


"Iryasya, maaf" ucap Falery sembari menunduk, membuat pria dihadapannya menatap heran pada gadis itu.


"Untuk apa?"


"Untuk semua yang pernah kulakukan, aku menampar mu, memukulmu, bahkan aku juga berkata-kata kasar padamu, sedangkan, kau yang selalu menyelamatkan nyawa ku."


"Santai saja, aku juga minta maaf, karena dari awal pertemuan kita, tidak bisa dikatakan baik karena aku yang mengawali pertengkaran ini."


Falery mengangguk, ada rasa canggung dihatinya kala mengingat dirinya yang begitu bodoh akan perkataannya barusan. Entah karena malu atau apa.


"Fay."


"Heum...." pria itu kini menatap gadis cantik dihadapannya. Ada perasaan yakin pada dirinya bahwa gadis itu adalah Reyna.


'Falery .. kau adalah Reyna, aku yakin itu, karena sejak pertemuan kita, aku sudah sadar jika wajahmu memang benar adalah dia, tapi mengapa? kau berubah menjadi dingin dan sombong... itu bukan sifat aslimu, hingga aku tak bisa mengenali dirimu, namun sejak saat itu.'


Fikiran pria itu melayang, mengingat sebuah peristiwa ketika gadis itu hampir terjatuh, namun berada dipelukannya.


'Pak Yasya.'


"Iryasya... hey" ucap Falery sambil melambaikan tangannya pada pria yang kali ini tengah terbangun dari lamunannya yang membuat ia seperti lupa.


"Maaf... aku."


"Apa yang kau fikirkan?" tanya Falery dengan matanya yang intens.


"Tidak apa-apa, kau mau pesan apa?" Falery tersenyum dan menggeleng, membuat Yasya ikut tersenyum bahagia karena baru pertama kali ini gadis dihadapannya mampu tersenyum tulus padanya.


"Aku tidak makan, aku hanya ingin dessert dan minuman hangat" ucapnya membuat pria itu mengangguk dan memberi tanda padanya untuk mendekat.


"Tuan dan nona... ingin pesan apa?"


"Cheesecake ukuran sedang dan coklat ekstrak vanila panas" ucap mereka bersamaan, membuat keduanya saling melempar pandangan.


"Baiklah... dua cheesecake ukuran sedang dengan coklat ekstrak vanila panas" ucap pelayan itu dan melangkah menjauh.


"Kau juga suka chess dan coklat?" 0ertanyaan dari Falery tak mendapat respon dari Yasya yang kini menatapnya dengan tatapan kosong.


"Iryasya, kau melamun lagi?" Yasya memegang tangan Falery yang kini berada diatas meja, membuat gadis itu menoleh padanya, dan segera menarik tangannya yang terasa tak nyaman.


"Maaf" ujar pria itu, membuat Falery mengangguk.


***


"Zayn.... aku" ucapannya terbata.


"Untuk apa kau datang kemari!" tatapan tajam dari pria blasteran itu membuat Reyhan menghentikan langkahnya.


"Bukankah sudah aku katakan, jangan pernah muncul dihadapan ku."


Reyhan menunduk pasrah, namun dirinya masih tak mau menyerah pada Zayn yang kini duduk santai di kursi direkturnya.


"Aku cuma pengen tau dimana Reyna dimakamkan."


"Reyhan... jangan pernah memanggil namanya, bukankah kau sangat membenci dia, bukankah kau menyesal gadis itu lahir. Apa kau tak ingat apa yang pernah kau katakan?" Reyhan mendekat kearah pria blasteran itu yang kini bangkit dan dengan tegas menghentikan langkahnya.


"Berhenti disana Reyhan."


"Zayn kumohon."


"Apa kau ingin memiliki saham ibu Almira? jika itu yang membuatmu datang kemari berulang kali, maka akan aku berikan, asalkan kau tak pernah datang kehadapan ku lagi."


Reyhan semakin mendekat, tak ada alasan untuknya menolak perintah Zayn.


"Aku nggak akan minta sepeserpun dari harta mama."


Brakkkk....


Reyhan menggebrak meja kerja pria blasteran itu membuat Zayn kini menahan nafasnya.


"Zayn... aku mohon... tolong lah papa ku, dia hampir gila karena memikirkan putrinya. Dia hanya ingin berziarah ke makam Reyna, aku tak perduli dimanapun makamnya, aku akan kesana walau sampai ke ujung dunia sekalipun."


Hatinya seakan teriris dan pedih mengingat perlakuannya sendiri pada gadis itu yang kini tak lagi berada di sampingnya.


Pria blasteran itu kini berdecak dengan nada mengejek pada pria dibawahnya. Rasa kesal dan amarah kini seperti melambung tinggi difikirkannya.


"Ckckck.... baru menyesal haaa? sudah terlambat Reyhan."


Reyhan dengan cepat bangkit, berdiri dihadapan pria yang kini mendorongnya untuk keluar.


"Zayn, aku mohon" mohon Reyhan dengan isakannya.


"SECURITY.....!" teriak Zayn membuat tenaga Reyhan melemah dan pasrah oleh dorongan keras dari Zayn membuatnya kini berdiri diruangan direktur yang tertutup rapat.


"Tuan Malik, mohon maaf, direktur tidak bisa diganggu, kami mohon kerjasamanya" ucap seorang satpam yang kini mendekati tubuh pria itu dan dibalas anggukan olehnya.


***


Falery bangkit, dirinya berjalan melewati pintu kaca dibelakangnya dan keluar, memandang langit yang tak berbintang malam itu. Sedang jauh dari tempatnya berdiri seorang pria tengah memandanginya dengan tatapan penuh harap dari sorot matanya.


Gadis itu memeluk tubuhnya, memandangi bunga-bunga yang sengaja ditanami didepan matanya.


"Apa kau pernah jatuh cinta Fay?" pertanyaan itu membuat Falery membalikkan tubuhnya, menghadap pria yang kini berdiri tepat dibelakangnya dan segera mensejajarkan tubuhnya dengan Falery sambil menatap langit malam itu.


Falery tak bergeming hanya hembusan nafasnya yang terdengar.


"Aku tidak tau" ucap Falery sambil mengedikkan bahu, membuat Yasya tersenyum kearahnya.


"Kau tau, jika kau jatuh cinta pada seseorang, maka jangan pernah menahannya atau malah membuang perasaan itu sendiri."


"Kenapa?" tanya gadis itu penasaran


"Karena kau tidak pernah tau, kapan orang yang kau cintai akan pergi."


Falery menoleh, menatap wajah pria tampan yang kini masih enggan untuk melepaskan pandangannya dari langit diatas sana. Hatinya terasa bergetar selepas pria itu mengatakan hal demikian, seperti ada makna yang tersirat dari kata-kata yang dilontarkan pria itu barusan.


"Yasya, apa dia itu Reyna?" Yasya menatap wajah Falery dengan matanya yang sayu membuat tatapan mereka saling bertemu.


"Maaf... aku tidak bermaksud" ucap gadis itu lagi membuat pria itu menggeleng dan terkekeh.


'Itu memang Reyna, dan Reyna adalah kau Falery. Aku takkan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya' batin Yasya dalam bungkam.


"Lupakan soal cinta, lihat salju mulai turun."


Falery menengadah wajahnya, menatap langit dan sekitarnya yang perlahan turun butiran putih, membuat gadis itu tersenyum mengembang.


"Iryasya... ini indah sekali" ujar Falery sambil menatap salju yang berjatuhan disekitarnya. Senyumnya menggoda semakin membuat pria itu terpesona, mengingatkan akan masalalu nya bersama gadis pujaannya.


"Ada yang bilang, jika sepasang kekasih melewatkan hari dimana salju turun untuk pertama kalinya, maka pasangan itu akan menjadi cinta sejati" kata Yasya yang kini enggan mengalihkan pandangannya dari Falery.


Falery hanya tersenyum sembari melirik Yasya dan ia menggeleng tanpa memperdulikan tatapan mata pria itu.


"Kau ini bisa saja, siapa juga yang percaya tentang mitos itu" kata Falery sembari terkekeh.


"Aku percaya, siapa tau itu adalah sebuah doa" kata Yasya menimpali, pandangannya beralih menatap salju yang turun perlahan dihadapannya.


"Kenapa kau tak mengajak kekasih mu kemari? dan malah mengajakku" ujar gadis itu dengan senyuman dan juga kekehan darinya membuat Yasya ikut tertawa.


"Karena aku tidak punya kekasih, aku mengajakmu karena aku harap kau mau menjadi kekasih ku" kata Yasya yang kini mulai menatap manik mata Falery lamat-lamat setelah gadis itu tertegun dan ikut menatapnya.


Sejujurnya hati gadis itu dilanda keraguan. Bahkan hanya berdekatan dengan pria dihadapannya itu mampu membuat hatinya berdebar hebat. Baru kali ini ia memberanikan diri untuk menatap Yasya dengan sungguh-sungguh. Karena sedari tadi ia tak berani menatap pria tampan itu yang terlihat familiar dalam kehidupannya.


Falery tak tau apa itu cinta, bahkan ia takut untuk mengakuinya. Hatinya berkata untuk tidak terlalu mencintai, ataupun berharap pada seseorang laki-laki. Entah mengapa, seperti ada kehidupan lalu yang membuatnya trauma, hingga hatinya sulit untuk terbuka.


"Yasya" gumam gadis itu dengan suaranya yang begitu lirih membuat Yasya mendekat kearahnya. Pria itu tanpa permisi menggenggam kedua tangan Falery yang begitu terasa lembut menyentuh kulitnya.


"Kau tidak perlu menjadi kekasih ku, jika dengan cara ini aku bisa terus dekat dengan mu. Aku sudah senang jika kau tak membenciku Falery" ujar pria itu membuat semburat merah dipipi Falery terlihat begitu manis ditambah dengan senyumnya.


Yasya kini yang memperhatikan Falery hanya bisa menahan gejolak dihatinya. Ia bahkan seakan bisa membaca fikiran gadis itu yang nampak ragu dengan jawabannya, tapi tidak dengan perasaannya.


Ia mulai semangat lagi meraih cintanya setelah Falery tak menolaknya. Dengan begitu secara perlahan ia pasti akan menemukan bukti siapa sebenarnya Falery.


Yasya mendekatkan wajahnya kearah gadis itu, ia menunduk beberapa senti karena gadis dihadapannya lebih tinggi dari sebelumnya. Tidak seperti Reyna dulu yang tingginya seleher darinya.


"Aku mencintaimu Falery" bisiknya tepat ditelinga Falery yang kini berubah memerah akibat nafas pria itu yang menerpa kulitnya.


Falery hanya bisa tersenyum menahan wajahnya yang kian menampakkan semburat merah dipipinya.


Tiba-tiba pria itu beralih tepat dibibir gadis itu dan menciumnya sekilas. Tak ada penolakan dari gadis itu, yang ada hanya wajahnya yang terkejut bukan main serta tubuhnya yang kini berbalik sembari melepaskan genggaman pria itu dari tangannya.


Yasya merasa senang, ia begitu bahagia telah menemukannya. Kini akhirnya ia bisa bernafas lega. Dengan melihat ekspresi Falery yang begitu merona, ia yakin bahwa gadis itu juga merasakan perasaan yang sama terhadapnya.