
Yasya membalikkan tubuhnya lagi tanpa memperdulikan tatapan tajam dari mata Falery, membuat gadis yang berada dibelakangnya naik pitam.
"Fay!" teriakan dari sahabatnya Sarah bahkan tak digubris olehnya, membuat gadis yang membawa syal milik Falery itu menggeram kesal.
"Anak itu, sudah kuberitahu jangan membuat masalah lagi, dia malah mengikuti seorang pria" gumam gadis itu sambil memperhatikan Falery yang kian jauh dari pandangannya.
Falery menarik lengan pria itu dengan
kasar, membuat tubuhnya menghadap gadis itu, dan dengan cepat tangan gadis itu melayangkan tamparannya.
Plaakkkkkk.....
Yasya masih terdiam, dengan Falery yang menatapnya penuh amarah melanda dalam tubuhnya, bahkan dinginnya suasana hari itu kalah dengan panas dalam darahnya yang mendidih. Untung saja dalam keramaian itu tiada orang yang memperhatikan perkelahian mereka, membuat Falery tambah semakin gila dalam amarahnya.
"Dasar pria sombong, tidak tau malu, tidak punya etika, kau pantas mendapatkan itu. Kenapa? kenapa ketika bertemu dengan mu hidupku menjadi sial."
Yasya mengalihkan pandangannya, membalas tatapan tajam dari Falery membuat gadis itu tak gentar. Ditariknya lengan Falery membuatnya meronta.
"Kau... lepaskan aku!" Falery mencoba menarik tangannya namun sayang kekuatannya tak sebanding dengan Yasya yang kini mulai menariknya di gang sempit disebuah persimpangan jalan.
"Apa kau gila! kau mau bawa aku kemana?" Falery meronta dengan kekuatannya yang tersisa, gadis itu dengan sigap mendorong tubuh Yasya menikam tubuhnya menggunakan tangannya.
"Kau... gadis gila!" ucapan dari Yasya terkesan menekan dengan amarahnya, kali ini posisi gadis itu tampak menahan leher Yasya menggunakan lengannya dan memelintir tangan pria itu dengan erat membuat Yasya tak bisa berkutik lagi.
"Kau yang gila..." ucap Falery di gang sempit itu sambil tersenyum menang. Tanpa pikir panjang Yasya segera mengembalikan tubuh gadis itu hingga kini pria itu dapat menahan tubuhnya menghadap tubuh mungil Falery.
"Kkk.. kau" mereka saling bertatapan, ada rasa rindu dalam mata pria itu serta pandangan tanya dari Falery oleh hatinya yang bergejolak bersamaan dengan nafasnya yang menderu.
"Apa mau mu gadis bodoh?" pertanyaan dari Yasya membuat Falery mengubah pandangannya lagi.
"Kau yang selalu memulai gara-gara, tiap kali bertemu dengan mu kau selalu membuat masalah untukku."
"Dasar bodoh! aku telah menyelamatkan mu, seharusnya kau berterima kasih pada penyelamat mu, bukan seperti ini" ujar Yasya sambil berbisik pada gadis itu, membuat Falery membulatkan matanya.
"Aku tidak merasa diselamatkan" kats Falery sambil mendorong tubuh Yasya hingga tubuhnya menghantam dinding tepat di belakangnya.
"Kau yang merebut ruangan VIP ku, kau juga yang merebut ciuman pertama ku, dan kau dengan tidak hormat membuang syal kesukaan ku, seharusnya kau minta maaf padaku."
Yasya memalingkan wajahnya dengan senyum sinis dan tawaan menghina, membuat gadis didepannya tak berhenti menatap tajam wajah pria itu.
"Hahahaha... aku? minta maaf padamu? apa kau bercanda?"
"TUTUP MULUT MU ITU ********!" Yasya menghentikan tawanya, rahangnya mengeras bersamaan dengan suara Falery yang berteriak keras dihadapannya. Pria itu menangkup kedua pipi Falery, membuat gadis itu merasakan sakit dibagian kedua pipinya.
"Tidak ada yang berani melawan ku selama ini gadis! jika kau berani muncul dihadapan ku lagi. Kau akan menyesal seumur hidup mu. Terlebih lagi, kau telah menamparku, benar-benar wanita gila!" Yasya melemparkan wajah gadis itu, membuat amarah Falery memuncak, sedang Yasya membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari sana. Falery segera menarik tangannya lagi.
"Tunggu...." Yasya menoleh dengan tatapan malas, membuat Falery dengan cepat menendang bagian ************ pria itu, membuat Yasya meringis kesakitan sambil memegangi juniornya.
"Kau... uuuuggghhht" Falery tersenyum menang dan segera berlari menjauh dari Yasya yang kini terlihat tak berdaya oleh rasa sakit dibagian alat vitalnya.
"Itu balasan yang setimpal untukmu" Falery segera berlari, menghindari tatapan
tajam dari pria yang membuat harinya kesal itu itu.
"Masa depan ku suram" ucap Yasya dengan bibir yang bergetar. Dan tubuhnya yang merasa kesakitan.
***
Sebuah restoran dengan interior mewah, dengan beberapa pelayan yang berlalu lalang, membuat malam penyambutan musim dingin semakin menyenangkan.
Tak terkecuali Falery dan Sarah yang kali ini menikmati steak kesukaan mereka dengan dua cangkir caramel, membuat malam yang dingin menjadi lebih hangat.
"Bagaimana dengan rencana mu setelah lulus?" pertanyaan dari Sarah membuat Falery menghentikan aktivitasnya.
"Aku" kata Falery yang kini mulai mengantungkan kata-katanya.
"Keenapa kau gugup?" Falery menghembuskan nafasnya, merasakan bingung dalam setiap keputusan yang ia ambil.
"Sebenarnya, aku ingin pindah ke Indonesia."
"Apa Fay?! kenapa kau tak pernah membicarakan apapun padaku" protes Sarah yang kini mulai bernafas kasar. Kesal akan sikap sahabatnya satu ini.
"Bukan seperti itu Sarah, tapi entahla, aku sendiri masih bingung" ujar Falery yang kini merasakan sedikit pening di pelipisnya.
"Aku ingin menemui seseorang disana."
"Siapa?" pertanyaan dari Sarah membuat Falery tersenyum simpul sambil beralih menatap minuman yang ia nikmati sedari tadi.
***
drrtt... drtt ...
Suara getar ponsel membuat pria yang kini memperhatikan laptopnya segera beralih, menatap layar ponsel yang membuatnya malas.
"Halo pi."
"Hay nak, apa kabar kamu disana?" tanya seorang pria paruh baya yang sudah bisa ditebak itu adalah Adi.
"Oh, papi juga ingin tau gimana kabar Yasya ternyata, aku kira yang difikirkan papi hanyalah bisnis saja."
Ucapan dari Yasya membuat Adi terkekeh dengan tingkah anaknya yang selalu berbicara sembarangan itu.
"Kau lucu nak, bagaimana jika kau tinggal di lebih lama lagi, papi ada sedikit pekerjaan disini. Kau urus masalah cabang kita di Florida, dengan begitu pekerjaan akan cepat selesai dan kamu bisa menemui liburan mu" kata Adi menegaskan membuat sang putra menghela nafasnya sembari menahan amarah yang sempat hampir meledak seketika.
"Please pi berapa kali lagi papi akan manfaatin Yasya, Yasya udah muak disini. Aku ingin pulang."
"Boleh, sangat boleh karena papi sudah mempersiapkan calon menantu untuk keluarga kita" kata Adi dengan nada bicaranya yang tampak serius. Dan tentu saja itu hanyalah alibi, agar Yasya tidak semaunya sendiri bermain dan bersenang-senang.
Dengan cara itu semoga Adi bisa merubah pemikiran Yasya menjadi seperti dulu lagi.
"Pi!" teriakan dari Iryasya membuat telinga Adi sakit, hingga dirinya secara spontan mematikan ponselnya secara sepihak.
Yasya menatap dingin pada ponsel itu, membantingnya diatas kasur miliknya dengan amarah yang kembali memuncak.
"Jadi, papi akan menjodohkan ku?" gikirannya menerawang, menembus bayangan yang pernah hilang dalam ingatannya pada sosok gadis yang pernah menghiasi harinya.
Flashback on
Lima tahun lalu.
Yasya menghembuskan nafasnya, menarik laptop dan membuka email yang masuk beberapa hari lalu.
Diantara email yang ia buka, ada satu email yang membuat perhatiannya teralihkan.
"Reyna Malik?" gumamnya sambil membuka email itu dengan cepat, matanya memerah kala membaca surat dari orang yang sangat ia cintai itu.
*dear pak Yasya...
Ini saya Reyna
sebelumnya saya sangat meminta maaf pada pak Yasya perihal keputusan saya.
n6amun, ada satu hal yang membuat saya tak mampu menutupi sesuatu yang membuat beban dihati saya terasa berat setelah pergi dari dunia ini meskipun saya tidak ingin.
Ada satu keinginan saya untuk pak Yasya, namun saya takut pak Yasya marah ataupun kecewa kala membaca surat dari saya, maka dari itu saya menyampaikan pesan email ini lebih lambat dari surat yang saya tulis...
pak Yasya, saya menyadari bahwa saya tidak pantas untuk bapak, dan saya lebih memilih mundur untuk kesekian kalinya ketika saya tau pak Yasya ternyata telah bertunangan.
Hati saya hancur bersama dengan kenyataan pahit, namun akhirnya dengan kepergian saya dan keputusan saya ini, mungkin saya tidak akan merasa terbebani lagi untuk kehidupan bapak selanjutnya.
Apakah bapak ingat, tempo hari pak Yasya pernah bilang pada saya bahwa bapak tidak akan pernah membuat keluarga bapak kecewa?
Saya harap, pak Yasya tidak akan lupa dengan kata-kata anda sendiri.
Maaf karena saya tidak bisa mendampingi bapak sesuai janji saya pada anda, saya tidak akan mampu untuk menjadi pendamping pak Yasya suatu saat nanti mengingat betapa menderitanya saya saat ini.
Maafkan saya, karena saya memilih untuk pergi daripada memilih bapak meski anda menerima saya apa adanya.
Pak Yasya, Syahbilla adalah gadis yang sangat baik, jangan lukai dia, cukup saya yang terluka sampai disini.
Selamat tinggal*
Flashback off