
Reyna menghela nafasnya, ia kembali berkutat pada layar laptop dihadapannya. Namun fikirannya seperti terganggu, buru-buru gadis itu menutup laptop sambil menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
"Didepan itu temen kamu ya?" tanya Zayn yang kini tiba-tiba masuk sambil meraih gitar Reyhan yang berada disisi ranjang. Pria itu duduk seraya memainkan gitarnya, matanya menatap Reyna lamat-lamat yang entah mengapa seperti banyak fikiran dalam benaknya.
"Iya, dulu" jawab Reyna singkat seraya memalingkan wajahnya menatap jendela kamar dan menopang dagunya.
"Jadi sekarang bukan temen lagi nih?" Reyna masih terdiam mengenai pertanyaan itu, ia enggan menjawab. Dijelaskan pun ia tak tau menjelaskannya seperti apa.
"Reyna, kamu disini nak?" suara Reynaldi membuat kakak beradik itu membalikkan tubuh mereka bersamaan. Zayn tampak menghentikan aktivitasnya, dan ia mengembalikan gitar ke posisi semula.
"Zayn, papa mau ngobrol sama Reyna, kamu keluar sebentar ya."
"Iya pa" kata Zayn singkat seraya melangkah keluar kamar untuk membiarkan kedua ayah dan anak itu saling berkomunikasi.
Zayn tau ini pasti ada hubungannya dengan pria yang tadi bermain kemari. Wajahnya tampak tak asing, namun dibalik itu semua mungkin ada sesuatu yang belum terselesaikan mengingat masa lalu Reyna yang kelam.
"Papa mau ngomong apa?" tanya gadis itu dengan senyuman setenang mungkin. Reyna tak mungkin menunjukkan kegalauannya saat ini, sebenarnya dibenaknya ia juga sempat bertanya-tanya, mengapa Hengky bisa sampai mengenal papanya. Dan melihat dari perbincangan keduanya bisa dipastikan jika mereka benar-benar akrab.
"Hengky sering main kesini, semenjak perusahaan papa bangkrut kebetulan Reyhan ketemu sama dia dan tanya-tanya kabar. Semenjak saat itu kami jadi akrab dan udah kayak keluarga sendiri" kata Reynaldi menjelaskan, seolah tau apa isi hati Reyna. Gadis itu mengerti, ia mulai memaklumi kedatangan Hengky yang tiba-tiba, tapi tetap saja, ia masih bingung harus bagaimana menghadapi sahabatnya itu ketika mereka kembali bertemu.
"Kenapa papa jelasin ke aku?"
"Papa tau pasti diantara kalian ada masalah kan? papa emang nggak tau apa yang melatarbelakangi kalian sampai kalian yang awalnya sama-sama perduli kini seolah nggak mengenal satu sama lain" Reynaldi menghembuskan nafasnya, ia menjeda kalimatnya sejenak seraya menatap putrinya dengan tatapan penuh harapan.
"Dia itu sahabat kamu Reyna, ini semua cuma masalah miss komunikasi. Papa yakin kok kalau diantara kalian ada yang buka suara pasti nggak akan terjadi salah paham" tutur Reynaldi membuat Reyna terdiam. Reynaldi memang sangat peka dengan perasaan putrinya, apalagi melihat hubungan Reyna dan Hengky yang memang ada benarnya jika keduanya kurang komunikasi.
Reynaldi membetulkan kacamatanya, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, membiarkan Reyna merenung dengan fikirannya yang masih menerawang.
***
Lirikan mata Kanaya kini menjurus pada kedua orangtuanya yang masih cuek dan melahap makanan yang berada dihadapannya. Begitupun juga Reyhan yang kini dengan lahap memakan makan siang yang sudah disiapkan olehnya tadi.
"Masakan kamu enak sayang" bisik Reyhan yang kini duduk tepat disamping gadis itu membuat Kanaya tersenyum malu-malu.
"Ehem" Papa Kanaya berdehem, memergoki dua insan yang kini seperti tengah dimabuk asmara. Dasar anak muda, inginnya cepat-cepat mulu. Batin papa Kanaya yang kini melirik keduanya dengan wajah dinginnya.
Setelah hampir ketauan tadi bahkan Kanaya mencoba untuk bersikap biasa. Untung saja Kanaya sudah masak dan masakannya cukup banyak, jadi bisa dimakan bersama orangtuanya yang tiba-tiba datang.
"Jadi, kamu pacarnya Kanaya?" tanya papa Kanaya yang kini memulai sesi interogasi ditengah makan siang mereka. Kanaya hanya bisa melirik Reyhan yang kini tersenyum pada Papanya satu itu. Sedangkan Mama Kanaya hanya bisa menahan tawanya mengingat anaknya kini laku keras oleh pria tampan. Ya, meskipun tadi ia sempat murka dengan perilaku Kanaya yang nyosor duluan. Tetap saja, ia bangga pada anaknya.
"Iya om, sebenernya saya udah mau datang buat nemuin om tante dan ngelamar Kanaya, tapi karena om dan tante keluar kota jadi saya sama Kanaya masih sama-sama nunggu."
Papa Kanaya hanya bisa manggut-manggut seraya menelan makanannya. Ia kembali menatap intens Reyhan yang kini tersenyum tenang tanpa dosa seraya masih mengunyah suapannya. Punya nyali besar juga anak ini, batin papa Kanaya yang kini menyunggingkan senyum miring.
"Reyhan, saya denger kamu atasan Kanaya. Jabatan kamu apa?" Reyhan yang mendengar itu sontak terbatuk-batuk, ia membulatkan matanya. Segera setelah itu Kanaya mengambilkan air untuknya dan menepuk pelan punggung pria itu.
"Kak, kalo makan pelan-pelan dong" tutur Kanaya yang kini terlihat khawatir dengan keadaan Reyhan yang kini wajahnya tampak memerah karena baru saja terdesak. Bagaimana tidak tersedak jika papanya Kanaya menanyakan soal jabatan. Bukannya is tsk mau jujur, tapi takutnya mereka akan terkejut jika mendengar posisi Reyhan yang berada di kantor.
"Jadi Reyhan? Kanaya nggak bohong kan soal kamu atasan anak saya?" lanjut papa Kanaya sontak membuat Reyhan menggeleng seraya meneguk air putih yang ada dihadapannya.
"Saya, sa-ya ehem, perwakilan direktur om, kebetulan 40% saham atas kepemilikan saya" ujar Reyhan dengan takut-takut dan gugup. Kedua orang tua Kanaya membulatkan matanya tak percaya, mereka saling berpandangan dan menelan ludah masing-masing. Terlihat papa Kanaya membetulkan posisi kacamatanya seraya menatap lekat-lekat Reyhan yang kini tersenyum canggung itu.
"Ehem, tapi kami bukan dari keluarga kaya seperti kamu, kami dari keluarga biasa. Apa keluarga kamu masih mau nerima anak kami" lanjut Papa Kanaya yang memang meyakinkan Reyhan yang kini tampak yakin dengan pandangannya yang serius.
Sebenarnya ini yang ditakutkan Reyhan ketika menyinggung soal jabatannya. Ia takut nyali keluarga Kanaya menciut, tapi dengan segenap hatinya ia akan memperjuangkan Kanaya sampai akhir hayatnya.
"Papa saya bukan tipe pemilih om, rencananya saya mau bawa Kanaya ke orangtua saya setelah saya ketemu om dan tante" Papa Kanaya hanya bisa tersenyum saat ini. Dilihat dari tampang Reyhan yang memang tampan, kepribadiannya juga sopan. Baju yang ia kenakan juga sederhana, tidak terlihat orang kaya sama sekali. Terlebih lagi ia kemari membawa motor, tidak dengan mobil makanya ia sedikit tidak percaya dengan jabatan Reyhan yang menjadi atasan putrinya.
"Tapi, apa kamu udah tau kalau anak saya sudah dijodohkan?" pertanyaan itu membuat Kanaya membulatkan matanya. Sama halnya dengan Reyhan yang kini hanya terdiam menunduk tanpa berekspresi.
Bahkan Kanaya tidak bisa menebak apa yang berada difikiran Reyhan saat ini. Jemari Kanaya berkeringat dingin, ia mengambil air minum dan meneguknya.
"Ya Reyhan, saya sudah menjodohkan Kanaya" ucap tegas papa Kanaya membuat Reyhan menatap Kanaya dengan dahinya yang berkerut dan ekspresi yang penuh tanda tanya membuat Kanaya hanya bisa menelan ludahnya.