
Falery mencoba memakaikan pakaian pria itu lagi, kadang tangannya tak sengaja menyentuh otot dada bidang pria itu, membuat Falery menelan salivanya untuk kesekian kalinya.
Meski kini Yasya masih terbaring dengan kesadaran yang hampir musnah, namun gadis itu seperti masih bisa terhipnotis oleh pesona pria itu, gadis itu mengalihkan pandangannya, menggeleng pelan sambil melepaskan jaket tebalnya, menyisakan sweater berwarna biru muda.
Perlahan dengan telaten gadis itu memakaikan jaket pada pria dihadapannya dan membopong tubuh Yasya dengan sekuat tenaga, mengeluarkan pria itu dari keadaan club yang ramai dan juga aroma minuman keras yang tercium sangat khas.
Falery membawa Yasya kedalam mobil hitam miliknya, tak sengaja tubuhnya terjatuh didada bidang pria tampan itu membuatnya menatap manik mata indah Yasya yang tengah terlelap.
"Aw" teriaknya sambil memandang sayu pria yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa inci darinya.
Perasaannya begitu hangat dan akrab kala Falery memandang pria itu dengan seksama, disentuhnya pipi Yasya dengan lembut.
"Iryasya, sebenarnya kau siapa? apa hubungan mu dengan Alfian? tak lama kemudian pria itu menggeliat, membuka matanya perlahan, memperhatikan Falery yang kini tepat berada di atas tubuhnya.
"Rey... Reyna" Falery mengerutkan keningnya, bibirnya mengerucut, sambil mendorong pria itu tanpa perasaan. Entah mengapa, ada rasa kesal saat Yasya memanggilnya dengan nama Reyna. Gadis itu kemudian menutup pintu mobilnya dan menaiki mobilnya untuk segera melaju dengan kecepatan tinggi ditengah hujan salju yang mengguyur kota Florida.
"Rey... Reyna... aku sangat mencintaimu."
Gumaman Yasya membuat gadis yang kini tengah fokus pada jalanan itu memandangi dirinya dengan tatapan kesal, gadis itu terus melajukan mobilnya seakan acuh dengan apa yang dikatakan oleh Yasya.
"Reyna Malik... aku... tidak akan menikahi siapapun kecuali kau."
Gumaman itu membuat Falery mengerem kendaraannya dengan seketika, wajahnya semakin masam dengan kepalan jemari yang kini tepat berada diatas setir mobil.
"Kenapa?! kenapa kau tergila-gila pada gadis itu Yasya! apa kau menarik perhatian ku hanya karena aku mirip dengannya!" gadis itu menghempaskan punggungnya dan menyandarkan kepalanya pada tangannya yang kini terlihat pasrah.
Dadanya terasa sakit ketika Yasya selalu menyebutkan nama gadis lain, Falery seperti putus asa akan keadaannya. Dia mencoba untuk melepaskan perasaannya sendiri, namun rasa itu seperti kalah kuat dengan pesona Yasya yang mampu menariknya.
Falery merasakan hawa dingin yang sempat hilang semenjak kemarahannya yang memuncak, tangannya yang dibungkus oleh sarung tangan kini seperti tak ada gunanya.
Gadis itu tak memperdulikan apapun lagi, dia segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lebih sedang, membawa pria itu kembali ke mansion milik Yasya.
Falery membopong tubuh pria itu, menaiki anak tangga untuk kemudian berhenti diteras dan segera memencet bel pintu rumah mewah itu.
Ting tong....
Suara itu seperti menggema dari luar rumah agung milik keluarga Yasya.
Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya mengenakan baju pelayan lengkap dengan topi dan juga celemek membukakan pintu, disusul dengan wajahnya yang semakin khawatir kala melihat Yasya yang kini tak berdaya.
"Oh Tuhan tuan Yasya, apa yang terjadi, dan anda siapa nona?"
"Bibi, saya rekan kerja Yasya, tolong saya, dia sedang mabuk berat. Boleh tolong bantu saya membawanya ke kamarnya?" wanita itu segera mengangguk dan ikut membopong tubuh Yasya kedalam rumah yang begitu besar.
***
"Ishhh... ah..." suara itu menggema di ruangan dengan shower dan kran tepat didepannya. Gadis itu meringis kesakitan sambil memegangi pelipisnya yang terasa pusing.
"Kenapa aku ada disini?" gumamnya sambil mencoba untuk bangkit. Fikirannya melayang, mengingat kejadian yang baru saja terjadi padanya kala dirinya hendak memuaskan seorang pria yang kemudian datang gadis yang begitu ia benci.
"Cih... Falery! kau menghancurkan seluruh rencana ku!" kata gadis itu dengan pandangannya yang membunuh.
***
Hujan salju menyelimuti kota Florida, hawa dingin merambah tatkala angin berembus menyapu malam yang semakin larut dalam waktu jangka panjang.
Falery kini memeluk tubuhnya, dia masih setia menjaga sang pria yang kini terlelap dengan nyaman dibawah selimut yang hangat membungkus tubuhnya setelah sebelumnya gadis itu menggantikan pakaian Yasya dengan baju yang lebih hangat.
Gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap lekat manik mata hangat pria itu yang membuat Falery dapat mabuk dalam senyuman dan keramahan Yasya.
Dilangkahkan kakinya menuju arah ranjang pria itu dan berdiri disana masih setia memandangi setiap jengkal wajah tampan Yasya.
Falery mengalihkan pandangannya, ditatapnya buku kecil diatas nakas, ada rasa ingin tau dan penasaran dihatinya. Namun Falery sepertinya menepis fikirannya, mengingat privasi yang seharusnya tidak pernah ia ketahui.
"Yasya, apa yang kau sembunyikan pada ku?" ucapnya seraya duduk di atas ranjang bersejajar dengan tubuh pria yang kini masih terlelap dalam mimpinya.
Gadis itu menggeleng, diraihnya buku kecil berwarna hitam itu, kiranya rasa penasaran Falery lebih besar daripada fikirannya.
Falery menghembuskan nafasnya, dibukanya perlahan buku itu, dia mencoba membaca kata demi kata yang tertulis dalam bahasa Indonesia.
*K*aulah segalanya.
Reyna..
Ingatkah kamu saat kita pertama bertemu, aku menjadi gurumu dan kamu adalah murid ku... perlahan kita semakin dekat meski perasaan kita tidak pernah kita ungkapkan satu sama lain.
Meskipun begitu kamu selalu mencintaimu dan sebaliknya,
aku selalu mencintaimu Reyna.
Falery membuka lembaran kedua, entah mengapa dadanya terasa sesak setelah membaca kata-kata manis dari Yasya untuk gadis idamannya, yang ia sendiripun tak mengenalnya.
Gadis itu membelalakkan matanya kala melihat foto berinisial F yang mirip sekali dengan miliknya, ada sebuah kata-kata disana yang membuat hatinya tambah tercengang lagi ketika membacanya.
You are my sunshine....
Selamat padamu, karena kamu berhasil meraih peringkat pertama dalam ilmu sains Reyna.
Kamu ingat? ini adalah kalung dari ibuku berinisial F yaitu Ferdiansyah.
aku sengaja memberikannya padamu sayang, karena aku berharap kaulah yang akan mendampingiku untuk selamanya nantinya.
Hati gadis itu bergetar, dia menutup mulutnya yang menganga tak percaya dengan apa yang ia baca. Dilihatnya lagi lembaran-lembaran berikutnya membuat hatinya semakin tergores dengan kata-kata Yasya yang semakin menyedihkan oleh suara hatinya yang paling dalam.
Falery membuka laman terakhir dimana terdapat foto yang persis dengan wajahnya, berpakaian putih abu-abu dan berwajah cantik, semuanya sama persis dengan dirinya.
Falery juga menemukan foto romantis Reyna dan Yasya yang terkadang berpelukan, dan bermain air dipantai, juga foto mereka kala mereka tengah piknik disebuah taman kecil.
Hati Falery seperti tersayat dan hancur, ada rasa ingin tahu dan tak mengerti setelah melihat semua yang ada, kenyataan pahit bahwa Yasya takkan pernah mencintai wanita manapun kecuali gadis masa lalunya itu.
Gadis itu menjatuhkan buku kecil itu, matanya memerah dengan air mata yang siap menetes melalui pipinya yang putih dan mulus.
"Jadi, ini alasanmu, inilah alasan mu kenapa kau selalu mendekatiku."
Falery terisak, tubuhnya ambruk seketika dibawah ranjang, dirasakan hawa dingin dan rasa sakit seperti menusuk tubuhnya.
Gadis itu memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya untuk meneteskan air mata.