The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sebuah kisah dan harapan



Didalam mobil suasana tampak hening, dengan Falery dan juga Sarah yang kini duduk di jok belakang sedang Yasya yang fokus menyetir dengan pandangannya yang menjurus pada jalanan didepannya. Tak ada percakapan sama sekali, entah mengapa rasa canggung mulai terasa saat Falery hanya menatap jalanan yang penuh dengan salju dimana-mana.


"Fay...umm" Falery menoleh pada sahabatnya yang kini mulai membuka suara untuk mengajaknya bicara.


"Ada apa Sarah?" tanya gadis itu.


"Aku sudah berjanji bukan untuk menceritakan perihal pertunangan ku padamu, sebelumnya aku benar-benar minta maaf padamu karena aku tidak memberitahu mu."


Falery menggeleng dengan lemah, apapun yang Sarah katakan jika itu tentang Yasya dan dirinya, rasanya seperti duri tajam disetiap kata yang keluar dari mulut Sarah menusuk hatinya.


"Tidak apa, aku mengerti, kau belum cerita pasti ada alasan dibaliknya, aku juga tidak akan memaksamu" ujar Falery dengan santai sambil memalingkan wajahnya lagi.


"Tapi aku serius Fay" kata Sarah merengek, membuat Yasya menaikkan sebelah alisnya menatap kedua sahabat itu dari kaca mobil.


"Baiklah baiklah ceritakan padaku, aku akan mendengarnya, kebetulan aku juga penasaran dengan ceritamu" Kata-kata Falery sangat bertolak belakang dengan perasaannya saat ini. Setiap kata setiap kalimat didalamnya membuat hati gadis itu tersakiti oleh cerita bahagia yang hendak sahabatnya bagi.


Falery menghela nafas, menahan gejolak dihatinya agar tidak termakan oleh emosi.


"Kau memang sahabat ku Fay, jadi... sebenarnya aku dan Yasya, tidak saling mengenal. Dan asal kau tau, yang lebih mengejutkan lagi adalah, pertemuan pertama ku dengannya, berawal ketika dia satu hotel dengan mu, saat aku menjemputmu dihotel Georgia."


Falery menaikkan sebelah alisnya, dirinya menatap Yasya yang kini terlihat tubuhnya dari samping.


"Itu pertama kali aku bertemu dengannya,benarkan Yasya?" Yasya hanya mengangguk tanpa berkata. Hatinya seakan masih dingin pada Sarah yang notabennya adalah tunangannya sendiri.


"Malam itu, tanpa kabar dan tanpa pembicaraan, keluarga ku mengundang sebuah keluarga yaitu keluarga Yasya, dia datang bersama paman Adi, aku terkejut melihat keberadaannya di rumahku. Aku hanya di perintahkan untuk berdandan dan kedua keluarga akhirnya berbicara, aku baru tahu ternyata paman Adi adalah sahabat ayahku."


Sarah tersenyum mengembang, sedang Falery hanya tersenyum nanar sambil menatap Yasya dari spion mobil. Yasya hanya tersenyum tipis sambil beberapa kali membalas tatapan Falery.


Ada rasa sakit yang menjalar salam hati gadis itu. Gadis yang seharusnya mengikhlaskan masa lalunya untuk sahabat yang sangat berarti baginya.


Falery kembali tersenyum, mencoba menyimak apa yang dikatakan Sarah olehnya, walaupun ia harus menahan sakit yang tiada akhirnya.


"Aku sangat bahagia Falery, kau tau... meskipun keluarga ku tidak pernah membicarakan ini, tapi aku cukup senang dengan keberadaannya."


"Kau terlalu berlebihan Sarah" ucapan dari Yasya yang kini menahan tawa membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Kau diamlah Yasya, aku sedang menceritakan kisah romantis kita, jangan mengganggu suasana."


Yasya terkekeh, yang hanya dapat dilakukan Falery hanyalah tersenyum palsu dengan perasaannya yang membara.


"Aku tidak mau memberitahu ini pada publik, dan pada waktu yang sama ketika aku menemui mu di apartemen, aku baru menyadari jika keadaan mu... hummm" Falery membungkam mulut Sarah dengan tangannya, gadis itu mengisyaratkan pada sahabatnya untuk diam karena keberadaan Yasya yang kini satu mobil dengannya.


"Bisakah kau menjaga bicaramu?" bisik Falery tepat ditelinga Sarah.


Gadis itu terkekeh saat Falery memelototi dirinya dengan tatapan membunuh seolah Falery yang dulu kembali dalam wujud yang lebih lembut.


"Hehehe maafkan aku."


***


Tap tap tap...


Derap langkah kaki Grace yang kini tengah bimbang tak menentu, membolak-balikkan tubuhnya yang kini gelisah tiada terkira. Beberapa kali dirinya duduk dan bangkit dari ranjang kamarnya yang bernuansa biru dengan meja rias dihadapannya.


Matanya mengerjap untuk kesekian kalinya, dengan pandangan dan juga ekspresi kekhawatiran.


Wanita itu berulang kali menyentuh dahinya dan sesekali menggigit kuku jari.


"Mom...." teriakan kecil dari Louis membuatnya beralih pandang menatap sang putra yang kali ini digendong oleh Alan.


"Alan..." ujarnya seraya membulatkan matanya.


Tampak Alan yang berdiri di ambang pintu menatap curiga pada sang istri.


"Kenapa kau begitu gugup Grace?" pertanyaan itu membuat Sarah tak bisa bergeming, bagai sihir yang dapat membuat tubuhnya kaku seketika oleh guratan wajah takut untuk menatap suaminya.


"A... aku... aku sedang mengkhawatirkan daddy, ba.. bagaimana ini Alan, jika Falery tidak."


"SUDAH KUKATAKAN... JANGAN MENYEBUT NAMANYA!" teriakan Alan membuat Louis merinding ketakutan dan memilih untuk turun dari dekapan sang ayah padanya.


"Ayah... aku mau turun" sedetik kemudian Alan baru menyadari keberadaan Louis yang berada gendongannya. Dirinya buru-buru keluar untuk menyerahkan putranya pada pengasuh yang menunggu di lorong ruangan.


"Maafkan aku Grace... aku salah, tidak seharusnya aku membentakmu" ucap Alan yang kini memeluk tubuh Grace dari belakang.


'Alan... asal kau tau, aku yang menyebabkan semua ini terjadi... jika kau dan seluruh keluarga tau, aku tidak tau lagi harus menghadapi kalian seperti apa' gumam Grace dalam hati dengan wajahnya yang dirundung kekhawatiran.


"Tidak apa-apa... aku bisa mengerti Alan" ucap wanita itu dengan lirih. Alan membalikkan tubuh Grace dengan lembut dirinya memegang kedua tangan istrinya dan membuat ikrar untuk menenangkan hatinya yang terdalam.


"Grace... berjanjilah padaku, kau jangan menyebutkan namanya lagi, atau membawa dia dalam keluarga ini, karena jujur aku benar-benar kecewa padanya."


"Tapi Alan" kata Grace yang belum sempat memberikan penjelasan.


"Sssttt..." Alan menyentuh bibir Grace dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan pada sang istri untuk tetap bungkam dengan masalah ini.


"Aku tidak bisa mentolerir sesuatu yang berhubungan dengannya... aku terlalu kecewa padanya Grace."


Grace kini menyerah, sebuah pengertian yang seharusnya ia dapatkan dari Alan malah berbalik seperti bumerang baginya.


Kini keluarga Gilbert terlanjur membenci Falery, Falery yang tidak berdosa dan bersalah, bahkan disisa dirinya harus membela diri, gadis itu malah mengorbankan harga dirinya untuk membela Grace yang begitu kejam pada Falery.


Kini harapan wanita itu, hanya ingin menemui Falery meski hanya diberi waktu sementara. Wanita itu menghela nafasnya, merasakan hawa dingin yang terbawa oleh angin menerpa melalui jendela kamarnya.


'Harusnya aku yang kau benci Alan bukan adikmu... sesungguhnya adikmu adalah gadis yang baik, dirinya bahkan menemui daddy untuk membangunkan jiwanya.'


Kesedihan dan penyesalan Grace kini tiada arti. Baginya diam lebih penting daripada salah berucap. Sebelum dirinya mengatakan yang sejujurnya pada semuanya, dia hanya ingin menjemput Falery kembali.


'Aku tidak bisa hidup dalam kedustaan dan mengorbankan kebahagiaan Falery, lebih baik aku yang hancur daripada orang lain yang menanggung kesalahan ku' lanjutnya dalam hati sambil meremas tangannya sendiri.


"Akhirnya... kita sampai juga..." ujar Sarah yang kali ini tersenyum merekah sambil berkacak pinggang menatap pemandangan dihadapannya.


Falery kini berjalan mendekati Sarah sambil ikut tersenyum tipis dengan kacamata hitam yang menutupi matanya.


Gadis itu melepaskan kacamatanya dan mulai melangkah maju untuk melihat pemandangan sekitar.


Terlihat banyak orang yang memainkan ice skating di atas danau yang membeku.


Yasya kini mulai keluar dari mobilnya dan ikut memandangi pemandangan didepannya bersama dengan tatapannya mengarah pada Falery.


'Kenapa kau selalu membuat jantungku berdebar Falery?' batinnya, namun sedetik kemudian pandangannya beralih. Menghilangkan rasa kagumnya pada Falery yang kini duduk di bangku panjang dengan Sarah yang menyusul keberadaannya.


"Kita main ice skating?" pertanyaan Sarah membuat Falery menggeleng, dirinya sama sekali tidak menyukai permainan ini, meski ingin tapi sudah beberapa kali gadis itu diajari oleh Zayn namun sampai saat ini dia sangat mudah terjatuh, apalagi suasana semakin ramai.


"Hey... ayolah Fay, kita sangat jarang melakukan ini."


Falery terdiam, pandangannya menjurus pada seorang gadis yang dituntun oleh pria dihadapannya meski langkahnya tertatih dan seringkali terjatuh namun sang pria tidak pernah menyerah untuk meraih tangan gadis itu yang lembut.


Pemandangan indah itu mengingatkannya pada sosok Zayn yang begitu menyayanginya.


"Kak... sudah kubilang aku tidak bisa..." ujar Falery sambil merengek manja pada sang kakak yang kali ini tetap kukuh untuk menarik tangannya tanpa melepas genggamannya dari Falery.


"Ayolah Fay... aku pasti bisa... ini sangat menyenangkan" Zayn tiba-tiba melepaskan genggamannya dari tangan Falery, membuat gadis itu membulatkan matanya, dirinya masih berdiri mematung tanpa berani bergerak sedikitpun.


"KAKAK...!"


DUBRAKK*....


Falery melihat pemandangan dihadapannya sendiri, gadis itu terjatuh, reflek dirinya bangkit dan menatap sendu kearahnya.


"FAY...!" Falery menatap Sarah dan duduk kembali bersamanya.


"Kau kenapa?" pertanyaan itu membuat Falery menggeleng dengan nafasnya yang menderu.


"Aku.. aku akan membeli coklat hangat" ujar Falery sambil masih memegangi dadanya yang baru saja bergetar hebat.


"Fay... kau tidak apa-apa kan? atau mau ku antar?" Falery menggeleng dan tersenyum pada Sarah, mengisyaratkan hatinya yang tenang untuk beberapa saat.


"Baiklah kalau begitu, aku akan main dulu ya, jangan lupa untuk menyusulku nanti."


Falery hanya tersenyum dan mengangguk. Dirinya seperti tak bisa berkata, ada rasa cemas ketika mengingat Zayn dengan dirinya, terlebih sang ayah.