The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Penyesalan yang datang diakhir



Hosh... hosh hosh...


Suara deruan nafas dari Sarah kini terdengar kala dirinya telah usai bermain ice skating dan menuju kursi panjang tempat dirinya beristirahat bersama Yasya dan juga Falery.


"Kau sudah selesai?" pertanyaan itu membuat Sarah menoleh pada pria yang kini berdiri disebelahnya.


"Kau kemana saja Yasya?! aku sudah menunggumu dan Falery! dan kemana sekarang anak itu?" Yasya mengedikkan bahu, dirinya sendiri tak tau dimana keberadaan gadis itu yang tiba-tiba menghindar darinya.


drttt drttt...


Suara getar ponsel Sarah membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dan segera meraih ponsel yang berada di saku jaketnya.


"Falery mengirimkan pesan, katanya dia tidak enak badan.. dia pulang sekarang" ujarnya dengan nada ketus sambil menatap Yasya dengan wajah yang begitu kesal.


Yasya segera duduk disamping Sarah, entah mengapa fikirannya seolah beralih pada gadis yang kini tak lagi ada disekitarnya. Fikirannya melayang jauh, mengingat pelukan yang ia berikan pada Falery untuk menenangkan hatinya yang tengah gundah.


"Sarah... maafkan aku, sebelumnya aku tidak memberitahu mu" ucap Yasya dengan tenang sambil tersenyum lembut pada Sarah yang masih menekuk wajahnya.


"Apa maksudmu?!!" Sarah masih tak mengerti, dirinya menatap Yasya dengan segudang pertanyaan yang baru saja dimaksudkan.


"Aku hanya memberitahu Falery tentang Grace Anderson."


"Apa?!!" Sarah begitu antusias, dirinya menatap Yasya dengan rasa penasaran yang tinggi. Diraihnya tangan Yasya dan digenggamnya perlahan.


"Grace terlibat dalam penculikan Falery bersama Elizabeth dan juga Alex."


Mata Sarah terbelalak, dirinya tak menyangka dengan apa yang diceritakan Yasya padanya. Pantas saja melihat ekspresi Yasya yang begitu serius saat ingin berbicara pada Falery dirinya terlihat antusias.


"Maafkan aku Yasya... aku tidak tau apa yang terjadi, mungkin sekarang Falery sedang sedih, aku sangat mengerti keadaannya."


Yasya mengangguk, dirinya tak ingin menjelaskan secara detail apa yang terjadi pada Falery dan dirinya. Dalam benaknya saat ini Falery bukanlah yang terpenting saat ini.


Meskipun perasaannya sangat berarti, namun lebih dari itu ia tak ingin kejadian yang sama terulang kembali dalam hidupnya.


***


Falery kini duduk disebuah cafe dengan memesan secangkir coklat dan juga sepotong cheesecake menemani dirinya.


Gadis itu tersenyum, mengingat masa lalunya yang jauh dalam bayangan masa kini. Dulu dengan hanya memakan sepotong chees, dirinya kehilangan kakak yang sangat berarti dalam hidupnya, setelah secangkir coklat yang ia nikmati disore hari, awal dari kisah cintanya mulai di uji.


Tatapannya nanar bersamaan dengan tangannya yang meraih garbu dan mencicipi cheesecake yang telah lama menjadi dessert favoritnya.


"Bang Rey?" Falery tersenyum kecut dengan matanya yang berkaca-kaca. Hatinya bergejolak ingin meneteskan air mata yang kini telah siap menetes disudut matanya.


Namun perasaan itu kini ia tepis secepat kilat, untuk menghindari dirinya dari pusat perhatian orang-orang disekitarnya.


Falery menghembuskan nafasnya, dirinya bersiap untuk bangkit dan meninggalkan cafe itu.


Dirinya melangkah menuju pintu dan tepat disana seseorang yang tak asing dan sangat ia hindari menatapnya.


"Fay..." Falery tak menggubris, dirinya hendak melangkah lagi melewati pintu kaca yang terbuka. Kini gadis itu tak ingin berurusan lagi dengan apapun yang menyangkut keluarga angkatnya kecuali jika itu tentang Thomas.


"Falery berhenti" sebuah suara keras memanggilnya dan memerintahkannya untuk menghentikan langkah kala dirinya mulai menghilangkan rasa jengah.


"Apa yang ingin kau lakukan lagi kak? apa belum cukup aku keluar dari kehidupan mu?!" pertanyaan tegas dari Falery membuat Grace kini mengitari tubuh gadis itu dan menatapnya dengan sendu.


Tiba-tiba sebuah pelukan hangat membuat gadis itu tertegun seketika, rasanya air mata yang sempat tertahan kini akhirnya jatuh menggenang dipipinya.


Falery menghempaskan tubuh Grace yang kini ikut melemah dengan tangisannya yang menjadi.


"Aku mohon Falery dengarkan aku.. aku tau aku salah, tapi kumohon dengarkan aku, sekali saja."


Falery masih terdiam dengan air matanya yang mengalir deras dipipinya. Perlahan diusapnya air mata yang sempat terjatuh untuk menenangkan fikirannya.


Seolah geram, Falery akhirnya membalikkan tubuhnya dan menatap kesal pada Grace yang kini masih bertahan dengan air mata.


"APA YANG KAU MAU LAGI DARI KU GRACE! AKU SUDAH TIDAK PUNYA APA-APA!" Teriak Falery dengan nada tinggi sambil menunjukkan emosinya yang meluap-luap.


Grace berlari, dirinya bersimpuh dihadapan Falery. Baginya keberadaan Falery kini lebih penting daripada harus menuruti egonya.


"Maafkan aku Fay, tolong dengarkan penjelasan ku dulu, baru kau boleh pergi, percayalah padaku, aku takkan menyakitimu lagi."


Kini mereka kembali ke Cafe yang baru saja dikunjungi Falery. Dalam suasana yang hening Grace mencoba untuk membuka suara.


"Sebelumnya, aku minta maaf padamu Fay... aku mengaku salah, aku sengaja menjauhkan mu dari keluarga Gilbert, semua yang telah aku rencanakan, mulai malam itu saat kau hendak diperkosa, sampai."


"Kejadian penculikan yang aku alami, apa kau sebelumnya tidak berfikir Grace? apa kau tidak punya nalar sama sekali! aku sudah berusaha melindungi mu tapi kau..." Falery memotong kata-kata Grace dengan isi hatinya yang paling dalam. Gadis itu ingin meneruskan kata-katanya yang sempat tercekat, namun dirinya tak mampu untuk melanjutkannya.


"Aku... aku kehilangan segalanya, keluarga ku, pekerjaan ku, dan aku juga kehilangan harga diri, tak hanya itu, aku juga hampir kehilangan nyawaku."


Grace tak bisa menahannya, wanita itu bangkit dan berhambur memeluk adik iparnya dengan erat. Sebuah penyesalan yang mendalam membuatnya menitikkan air mata.


"Aku salah Fay, maafkan aku, aku terlanjur mengambil kesimpulan, dan itu semua karena Elizabeth."


Falery terdiam, dirinya menghapus jejak air matanya, tak disangka ia hampir lupa dengan keterkaitan Alex dan juga Elizabeth didalamnya.


"Aku berjanji Fay, setelah ini aku akan mengakui segalanya pada keluarga kita, aku akan menyerahkan diriku pada polisi, dan kau takkan hidup terlunta-lunta lagi."


Falery melepaskan pelukannya dari sang kakak. Dirinya masih enggan untuk menatap mata Grace meski dirinya telah mengakui segalanya.


"Tidak perlu kak... setelah aku mengetahui semuanya, aku sadar, aku bukan siapa-siapa, mungkin mereka juga beranggapan demikian, kaulah yang pantas kak, biarkan seperti ini, aku lebih menikmati hidupku yang sekarang."


Ucap Falery dengan nada pasrah sambil menunduk. Kini setelah semaunya yang terjadi, dirinya menyadari tiada yang perlu dibanggakan, gadis itu tidak ingin ada masalah lagi dalam hidup yang ia tata kembali.


Masalah yang terjadi tempo hari sudah membuatnya tak ingin mengulangi sesuatu yang sama.


"Tapi Fay, kau tidak boleh seperti itu, kau juga milik mereka, mereka adalah keluarga mu Fay."


Falery terkekeh, dirinya tertawa sinis sambil menatap sendu pada sang kakak.


"Keluarga? bahkan aku sudah tidak memiliki keluarga lagi setelah aku mengingat apa yang sebenarnya terjadi."


Grace terduduk lemas, dirinya seperti tak percaya dengan apa yang terjadi. Selama ini Falery telah mengingat jati dirinya.


"Jadi kau?" kata Grace yang kini menaikkan sebelah alisnya.


"Benar kak.. aku adalah Reyna Malik."


Falery menghembuskan nafasnya. Berat rasanya untuk mengungkapkan ini pada orang lain, namun saat ini hanya itu alasan yang tepat untuk menjauhkannya dari masalah yang akan terjadi nanti.


"Bagiku, siapa yang terkena masalah, aku atau kakak, itu semua sama saja, aku bisa memikirkan bagaimana jika kak Alan nanti akan menceraikan mu, lalu Louis? akankah kau berfikir tentangnya?" Falery menghentikan kata-katanya sejenak. Dirinya mengambil nafas dalam-dalam sambil mengatur perasaannya untuk tetap tenang.


"Mungkin aku terlalu egois pada diriku sendiri, atau mungkin aku terlalu jahat pada keluarga yang telah merawat ku selama ini, tapi selama hidup ini berjalan dengan semestinya, aku tak ingin mengubah segalanya, aku bukan tidak ingin kembali, tapi aku memikirkan kakak."


Grace kini mengerti mengapa Alan dan Zayn sangat menyayangi Reyna, karena dirinya sangat baik hati dan tulus. Entah setan mana yang merasuki dirinya, sampai harus mencelakakan adik ipar yang begitu baik seperti dia.


"Fay... aku menyesal, seandainya aku tidak melakukan tindakan bodoh mungkin semuanya tidak akan seperti ini hiks."


Falery menghembuskan nafas beratnya. Gadis itu mengusap wajahnya kasar sambil menenangkan Grace untuk tetap tenang.


"Sudah kak... aku mengerti, ini semua juga sudah terjadi, aku sudah memaafkan mu sejak kau berbuat salah padaku, aku tau itu bukan murni keinginan mu, tapi dibalik itu semua terdapat rencana jahat dari Elizabeth"


Kini perasaan Grace sedikit lebih tenang dan lega karena Falery. Entah mengapa dirinya begitu tega tanpa memikirkan kedepannya.