
Sebuah gantungan jam berayun ditengah tatapan Reyna yang kini fokus akan terapi yang dilakukan Agata padanya. Hari ini memang ia sengaja menggunakan waktu makan siangnya yang singkat itu untuk proses penyembuhan dari penyakitnya.
Ditemani Yasya yang kini duduk seraya menatap Reyna dengan seksama. Ia hanya berharap Reyna bisa kembali seperti semula dan melanjutkan kehidupannya dengan normal seperti dulu.
"Falery, kamu bisa dengar saya?" Reyna hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Agatha. Ia masih menatap gantungan jam yang berayun teratur dihadapannya.
"Falery?" tanya Agatha lagi, namun hal yang masih sama terjadi. Agatha menghentikan praktiknya ia menatap Reyna dengan seksama. Tangannya menyentuh punggung gadis itu untuk menyadarkan dirinya kembali.
Agatha tersenyum, ternyata Falery tidak lagi merespon. Ia hanya berharap semoga ini awal mula dari kesembuhan Reyna. Setelah terapi itu selesai Agatha hanya bisa menyampaikan kemajuan dari ketidakhadiran Falery, bukan berarti Falery menghilang. Tapi mengingat hal itu adalah sebuah kemajuan Reyna menjadi kembali bersemangat.
Gadis itu keluar dari ruangan tersebut bersama Yasya, ia harus kembali ke kantor sebelum jam istirahat selesai. Untung saja sebelum mereka sampai ditempat Agatha Reyna dan Yasya sudah membeli dua burger untuk mengganjal perut mereka selama perjalanan kembali.
"Sya, aku kangen banget sama papa. Gimana keadaan mereka sekarang ya?" pertanyaan itu membuat Yasya menyentuh puncak kepala Reyna. Ia tersenyum seraya menenangkan hati gadis itu yang tengah gundah.
Fikirannya kali ini dipenuhi dengan Reyhan dan Reynaldi. Bagaimana tidak, mereka adalah keluarga kandungnya. Sebaik-baiknya Ajeng dan Zayn padanya tak akan bisa menggantikan posisi orang yang paling dekat dengan hubungan darah Reyna.
"Sayang, kamu tenang aja mereka pasti baik-baik aja kok. Aku juga yakin Reyhan pasti jaga papa kamu dengan baik, kita sabar aja ya" kata Yasya membuat Reyna mengangguk.
Sebenarnya Yasya sudah beberapa hari lalu menyewa seorang agen rahasia untuk mencari keberadaan Reynaldi dan juga Reyhan. Namun entah mengapa sampai saat ini belum ada kabar lagi dari mereka. Kali ini baik Reyna maupun Yasya harus sama-sama sabarnya, mencari keberadaan seseorang meskipun dalam satu lingkar kota tidak semudah dalam cerita fiksi.
Yasya memberikan bungkusan burger disampingnya pada Reyna menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menyetir.
"Aku nggak mau liat calon istri aku kurusan, kamu makan gih" ujar Yasya membuat Reyna mengangguk dan segera memakan burger tersebut. Sejujurnya ditengah kegundahan yang ia rasakan Reyna juga tidak ingin ikut
membebani Yasya, walau bagaimanapun Yasya telah banyak membantunya selama ini.
Sesampainya di kantor Yasya menarik jemari gadis itu sebelum ia melepaskan sabuk pengaman disampingnya. Ia menatap lamat-lamat wajah Reyna dengan pandangannya yang serius, begitupun sebaliknya dengan Reyna. Tatapannya menjurus pada pria tampan yang kini hampir menginjak usia kepala tiga itu. Yasya yang begitu mempesona dan tampan setiap harinya.
Reyna menepuk dahi Yasya dengan tangannya membuat tatapan mata Yasya buyar seketika. Reyna yang melihat hal itu hanya bisa terkekeh geli. Ia tau saja jika Yasya meminta sesuatu yang manis sebagai tanda perpisahan saat mereka hendak melakukan kegiatan masing-masing. Tapi sekali-kali menjahili calon suami sendiri boleh juga kan. Pikir Reyna dalam batinnya, sedang Yasya hanya bisa bertingkah manja dengan bibirnya yang mengerucut itu.
"Reyna, kamu lupa ya sama ritual kita, masa jidat aku di tabok sih!" kata Yasya kesal membuat Reyna hanya bisa terkekeh. Ritual katanya, ingin sekali Reyna mencubit dengan gemas pipi Yasya yang tampak cemberut itu.
"Udah ah, aku mau lanjut kerja dulu, kamu ati-ati ya" ujar Reyna seraya membuka pintu setelah selesai melepaskan sabuknya.
"Rey, tapi kan belum" belum sempat Yasya melanjutkan perkataannya, Reyna dengan cepat menyambar bibir pria itu sekilas membuat mata Yasya membulat.
"Udah ya, kamu jangan ngebut nanti di jalan, awas lo, dah sayang" kata Reyna yang kini tersenyum manis melihat Yasya yang hanya bisa mematung tak percaya. Reyna kemudian turun dari mobil dan masih membalikkan tubuhnya sebelum ia benar-benar masuk ke kantor.
"Halo?" tiba-tiba saja mata pria itu terperanjat, mata yang semula berbinar kini seolah menatap tajam dan membulat.
***
Kanaya merogoh uang disaku rok span-nya, ia menaruh lembar merah diatas meja teman-temannya. Ia tak perduli
lagi, toh yang diharapkan malah mengecewakan.
"Eh buset, anak ini kenapa yak?" tanya Cindy yang kini masih menikmati siomaynya yang hanya bersisa beberapa itu.
"Kenapa sih kamu Nay? pasti ada hubungannya sama temen janjian kamu kan?" tanya Luna yang menebak-nebak dan sialnya tebakan Luna memang benar adanya. Kanaya hanya menggeleng, kenapa juga ia harus sesebal ini. Padahal jika dipikir-pikir Reyhan juga bukan siapa-siapanya, Kanaya hanya bisa menguatkan hatinya untuk tersenyum.
"Nggak apa-apa Lun, aku lagi nggak mood, soalnya temen aku ternyata makan diluar" kata gadis itu seraya mencoba
untuk mengulas senyum.
Sikapnya yang tadi berubah 180° dari sebelumnya, namanya juga wanita, suasana hatinya gampang berubah sesuai dengan keinginannya.
"Eh btw, kalian liat si Novi itu nggak? pinter banget cari cowok, ganteng lagi, nggak tau pakek pelet apa" kata Cindy yang kini mulai keluar aura gosipnya itu. Luna hanya bisa terkekeh, sedangkan Kanaya hanya bisa mencoba untuk menguatkan hatinya yang kini semakin memanas itu.
"Dia kerja belum ada setaun aja udah bisa naik pangkat kaya gitu. Mungkin dia punya kelebihan kali" kata Luna ikut nimbrung.
"Kelebihannya seksi sama suka goda cowok aja bangga, udah gitu siapa aja digaet. Gosipnya nih demi bisa naik pangkat si Novi itu sampek mau tidur sama atasan loh" kata Cindy seraya memelankan suaranya. Luna yang mendengar itu hanya bisa mengangkat jari telunjuknya, agar temannya satu itu bisa diam, bisa gawat kalau mereka kepergok bergosip soal atasan ditempat umum seperti ini.
"Kalo ngomong jangan sembarangan, kedengaran atasan ****** lo" ujar Luna memperingatkan. Kanaya hanya bisa melirik teman-temannya itu seraya menggeleng, meskipun ia juga termasuk rival dari Novi tapi ia tak ingin termakan gosip itu. Baginya urusannya jauh lebih penting daripada hanya sekedar mengurusi permasalahan orang.
"Emang bener kok, gantian ada anak baru yang bening dikit pasti dideketin. Cuma satu itu yang mau aja sama cewek macam uler kaya dia, sayang banget cowoknya ganteng lagi. Padahal kan dari dulu nggak pernah ada yang mau sama kelakuannya yang gatel itu" kata Cindy seraya mengunyah siomaynya yang kini tinggal hanya satu buah saja.
Kanaya hanya bisa menggeleng, mungkin juga Reyhan juga sudah lama PDKT dengan Novi, dia saja yang tidak tau. Gadis itu kemudian bangkit, ia sudah muak dengan pemandangan dibelakangnya yang menampilkan kemesraan dari dua orang yang membuat hatinya tambah sakit.
"Mau kemana Nay?" tanya Cindy diikuti Luna yang juga menatapnya keheranan.
"Cabut, lagi mau ngerjain tugas, aku duluan ya" kata Kanaya yang kini melangkahkan kakinya tanpa mau menatap kedua temannya itu. Baginya ia hanya ingin bekerja dengan tenang disini, ia tak mau lagi termakan janji manis seorang lelaki.