
Setelah selesai makan siang Reyhan dan Kanaya mengobrol sedikit untuk menjalin hubungan mereka agar semakin dekat. Banyak orang yang melirik mereka dengan tatapan iri, yang satunya cantik dan yang satunya lagi tampan, benar-benar pasangan yang sempurna.
"Kayanya aku harus umpetin kamu nih tiap kali kita jalan bareng" kata Reyhan yang kini melirik pria-pria dengan tatapan menggoda pada kekasihnya yang kini hanya bisa terkekeh itu.
"Bukan cuma kamu kok, kayaknya aku harus beli borgol biar mata cewek-cewek itu berpaling dari kamu" ujar Kanaya yang kini melirik para gadis yang menatap Reyhan penuh kagum. Reyhan menghela nafasnya, memang pesona keduanya tidak ada yang dapat menyangkal. Namun dengan begitu Reyhan juga beruntung mendapatkan gadis yang diimpikan oleh setiap pria untuk dimiliki. Bahkan kini ia juga senang jika Kanaya cemburu padanya.
Reyhan mencubit pipi gadisnya dengan gemas, kemudian ia bangkit dan mencium puncak kepala Kanaya membuat gadis itu menunduk menahan merahnya pipinya.
"Aku bayar dulu ya sayang, kamu tunggu bentar" kata Reyhan yang kini tersenyum pada gadisnya seraya melangkahkan kakinya menuju kasir.
Kanaya menatap punggung pria itu yang kini menjauh, ia tersenyum dengan pipinya yang merona. Kanaya beralih menatap cincin permata yang kini melingkar indah dijari manisnya. Tiba-tiba saja ingatannya menerawang, kembali dalam bayangannya yang liar bersama dengan kekasihnya itu.
Flashback on.
"Panggil aku Nay"
"Kak-Reyhan, ah ah!" teriakan Kanaya bahkan tak terindahkan lagi membuat nafsu Reyhan kini semakin meninggi.
Ia semakin gencar menciumi bibir, leher maupun dada Kanaya bergantian serta memberikan bekas kepemilikan disana. AC yang menyala bahkan tak dapat mendinginkan suasana, bahkan tubuh keduanya mulai berkeringat dipagi itu. Reyhan menggenggam kedua tangan Kanaya dan menyatukannya.
Setelah lima belas menit berlalu, Kanaya kini sudah hampir telanjang bulat, ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja yang tertutup oleh selimut. Sedangkan Reyhan hanya memakai boxer serta terlihat dada bidang dan otot-ototnya yang begitu atletis dari balik selimut putih yang sama oleh selimut yang dikenakan Kanaya.
Meskipun mereka tidak melakukan 'itu' tapi itu sudah cukup membuat hari mereka berdebar dipagi hari ini. Kanaya masih memeluk tubuh Reyhan erat, sedangkan pria itu memainkan rambut gadisnya dengan gemas.
"Kamu nggak takut aku bakalan ambil virgin kamu Nay?" Kanaya menggeleng, ia menatap Reyhan dengan rona diwajahnya.
"Aku percaya sama kakak, kalaupun kakak khilaf, aku yang bakal ingetin kakak sebelum kakak ngelakuin itu ke aku" seru Kanaya seraya mengecup singkat pipi Reyhan membuat pipi pria itu merona.
"Kalau aku minta ke kamu, apa kamu bakal ngasih itu ke aku?" pertanyaan itu membuat Kanaya sedikit bergidik, ia bahkan belum siap untuk melakukannya bersama Reyhan.
"Aku bakal ngasih kalau kita udah nikah, aku bakal persembahkan ini buat suami aku nantinya" terang Kanaya membuat Reyhan mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Kanaya yang kini menikmati kehangatan itu. Meskipun sejujurnya nafsunya sudah tak dapat terbendung, dan kini ia hanya bisa menahannya tapi setidaknya nanti ia bisa bermain sendiri di dalam kamar mandi sambil membayangkannya dengan Kanaya.
"Kak Reyhan kenapa senyum-senyum sendiri?" pertanyaan itu membuat mata Reyhan membulat, pipinya memerah mengingat fikirannya yang liar itu.
'Apa yang kamu pikirin sih Reyhan!' gumam Reyhan dalam batinnya. Ingin sekali ia memukul kepalanya keras-keras kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga pria normal yang butuh kepuasan, meskipun belum saatnya tapi melihat Kanaya yang sekarang membuat birahinya memuncak.
"Aku cinta sama kamu Nay, aku sayang sama kamu, aku cuma pengen milikin kamu dan bahagiain kamu seumur hidup aku, Kanaya sayang, will you marry me?" Kanaya menutup mulutnya, ia bahkan meneteskan air matanya yang tadinya memang menggantung kala Reyhan mengeluarkan cincin itu yang sudah ia persiapkan.
Kanaya mengangguk, ia tersenyum, lalu Reyhan memakaikan cincin itu dan pas sekali di jari manis gadisnya. Kanaya terisak, ia menangis bahagia, gadis itu memeluk Reyhan yang juga membalas pelukannya.
"Aku juga cinta sama kak Reyhan" gumam Kanaya seraya tenggelam dalam pelukan Reyhan pagi itu.
Flashback off.
Reyhan tersenyum mengingat pagi tadi, kini matanya masih tak dapat beralih dari pigura yang ia pegang yang menampilkan foto kebersamaannya bersama dengan Kanaya. Senyumnya terulas mengingat lamarannya yang begitu romantis.
Kini ia tengah berada dikamarnya, menatap langit berbintang dengan cahaya bulan purnama ditengahnya dari balik jendela. Sesekali ia menyesap kopi yang ia bawa ditangannya seraya tak henti-hentinya memandangi foto mereka yang kini berada ditangannya.
"Kapan lo mau ngenalin dia sama papa?" pertanyaan itu membuat Reyhan terkejut, ia membalikkan tubuhnya saat Zayn kini dengan santainya tidur beralaskan kedua lengannya diatas kasur Reyhan.
"Menurut lo? harusnya kapan?" kata Reyhan seraya menaruh kopi dan foto itu di meja kerjanya. Reyhan kini beralih duduk dikursi kerjanya, dirinya memang butuh solusi akan hal serius seperti ini. Apalagi ia tak mau keduluan Angga itu yang selalu mengganggu hubungan mereka.
"Ya secepatnya lah, masa lo mau kalah sama Yasya. Reyna baru ketemu dua hari, Yasya udah berani ngelamar, nggak pakek acara tunangan, langsung netapin tanggal pernikahan" seru Zayn membuat Reyhan membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa lo bilang?!" Zayn tersenyum miring, dasar abang tak berguna. Bisa-bisanya ia tak tau menahu soal pernikahan Yasya yang berlangsung dadakan.
"Kudet! lo sih sibuk pacaran mulu, nggak tau info kan" kata Zayn meledek membuat Reyhan rasanya ingin mengomel saja. Moodnya yang bagus jadi hancur gara-gara berita yang tiba-tiba seperti ini. Tapi memang sih ini juga salahnya, mau bagaimana lagi prioritasnya bukan hanya Reyna saja melainkan Kanaya.
"Zayn! gue seriusan, gue bener-bener nggak tau, lo juga gitu nggak ngabarin gue" omel Reyhan yang kini terlihat frustasi oleh keadaan. Padahal sebelumnya mereka tidak semudah itu setuju, dan hendak mengerjai Yasya terlebih dahulu. Tapi tidak disangka ternyata Yasya malah cepat-cepat mencari jalan aman.
"Empat hari lagi Reyna sama Yasya bakal nikah, elo sih sibuk pacaran mulu, emang lo fikir gue nggak berusaha buat ngabarin lo ha?!" omel Zayn tak kalah emosi membuat Reyhan kini membulatkan matanya seraya bangkit.
"Apa?! empat hari? lo halu ya?!"
"Lo tanya apa maksa? udah tanya, giliran dijawab gue dikatain halu" ujar Zayn kesal seraya menarik gitar disisi ranjang dan memainkannya asal.
Fikiran Reyhan tiba-tiba buyar, tatapannya seolah frustasi dengan pandangannya yang menatap ubin dikamarnya. Sedangkan Zayn dengan santainya memainkan gitar tanpa memperdulikan Reyhan yang masih tak percaya dengan kenyataan bahwa Reyna akan segera menikah.
"Lo bisa diem nggak sih?!" teriak Reyhan yang kini mengacak rambutnya.