
Seminggu kemudian.
Sudah berhari-hari semenjak Kanaya dirawat dirumah sakit dan kembali pulang, namun kehadirannya tak kunjung kembali untuk bekerja. Partisipannya juga nampak berdebu dengan beberapa file miliknya yang memang sengaja ia tinggalkan disana.
Sudah terhitung seminggu juga perang dingin antara Reyhan dan Edwin belum juga berakhir. Sesekali Reyhan menyapa maupun mengajaknya bicara, tapi Edwin dengan sengaja mengabaikannya.
Jam makan siang pun tiba, kini langkah kaki Edwin dengan cepat melalui partisipan Reyhan. Ia tau, bahkan Edwin selalu buru-buru jika hendak keluar dari kantor, ia tak mau melihat wajah Reyhan maupun memberikan Reyhan kesempatan untuk berbicara padanya.
Reyhan bahkan mencoba untuk menghubungi Kanaya namun hasilnya nihil, sepertinya Kanaya juga mencoba untuk menghindarinya. Hari-hari bahkan Reyhan lalui tanpa semangat untuk bekerja, bahkan dirinya mencoba untuk menghindari Novi yang selalu menempel padanya. Andaikan Kanaya tau apa yang terjadi sesungguhnya, Reyhan mungkin tak akan merasa bersalah dan menyesal seperti saat ini.
Pria itu keluar dari kantornya, ia meninggalkan partisipannya yang memang masih banyak file yang menumpuk, tidak seperti pekerjaannya yang cepat rampung. Kini langkahnya dengan cepat menuju kantin untuk sesekali makan mengisi perutnya yang kosong.
Mata pria itu tertuju pada sebuah bangku kosong dan duduk disana, ia sengaja membelakangi orang-orang agar Novi tidak menemukannya. Reyhan menghela nafasnya, secangkir kopi dan sepotong roti, mungkin cukup untuk membuat perutnya terganjal walau tak lama. Mau bagaimana lagi, sudah beberapa hari ini ia tak nafsu untuk makan.
Beberapa kali Reyhan mencoba untuk menyesap kopinya, ia juga dengan lihai membuka bungkusan roti yang berada ditangannya.
"Eh tau nggak lo, gosip soal Kanaya" tiba-tiba saja suara itu membuat Reyhan menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menajamkan indera pendengarannya untuk memastikan suara itu yang memang tengah membicarakan Kanaya.
"Kenapa sih lo kepo banget"
"Bukannya kepo, tau nggak kalo Kanaya itu udah seminggu nggak kerja emang sengaja mau resign, katanya bentar lagi mau nikah!"
Gleg,
"Serius lo?! gila? kenapa dia nggak ngasih tau gue?"
Reyhan menelan rotinya dengan kasar, ia bahkan tak bernafsu lagi untuk makan kali ini. Dadanya berdebar kencang, dengan hatinya yang begitu perih. Benarkah Kanaya akan menikah? dengan siapa? lalu bagaimana perasaan Kanaya terhadapnya? apa ia terlalu kecewa melihat Reyhan bersama Novi?, Reyhan tak perduli lagi, ia segera bangkit dan meninggalkan tempat itu.
Langkahnya dengan cepat menuju basemen tempat motornya di parkirkan. Reyhan segera meraih kunci motornya yang berada disaku celananya. Ia tak perduli lagi, bahkan pekerjaannya yang menumpuk ia abaikan begitu saja. Segera setelah itu Reyhan memakai helm dan bergegas menghidupkan motornya.
Motor Reyhan membelah jalanan yang macet, ia bahkan mengebut untuk sampai sesegera mungkin di kediaman Kanaya. Ia harus meminta kejelasan pada Kanaya, sekaligus Reyhan akan mengatakan segalanya.
Fikiran Reyhan kini tak bisa terkontrol, matanya memanas dengan emosinya yang semakin memuncak. Jika saja hubungan dirinya dengan Edwin baik-baik saja, maka ia tak akan segugup ini.
Setelah lima belas menit berlalu, Reyhan segera menghentikan motornya kala dirinya telah sampai disebuah rumah yang cukup besar. Ia memasuki gerbang tersebut dan menerobos masuk dan mengetuk pintu rumah Kanaya.
Tok tok tok
Tak lama kemudian pintu pun terbuka membuat Reyhan sedikit lega. Terlihat wanita paruh baya yang kini tersenyum padanya seraya mengernyitkan keningnya.
"Siapa ya?"
"Permisi tante, saya teman kerja Kanaya, kemarin waktu Kanaya sakit saya sibuk sama kerjaan, belum sempat jenguk. Boleh saya ketemu dia tan?" pertanyaan itu membuat Mama Kanaya hanya bisa menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian keluar dari rumahnya. Padahal Kanaya sudah keluar dari rumah sakit seminggu lalu, tapi ternyata masih ada temannya yang menjenguk.
"Em boleh sih, tapi Kanaya lagi nggak ada dirumah, tadi tante suruh belanja ke supermarket."
"Ah dia tadi pergi sama calon suaminya, bentar lagi pasti pulang kok, udah setengah jam juga, kamu tunggu disini aja ya, biar tante bikinin minum" sejenak Reyhan terdiam, ia mencoba untuk mencerna kata-kata dari Mama Kanaya yang kini mencoba untuk kembali masuk itu.
"Tante, kalau Kanaya masih diluar lebih baik saya balik dulu aja ke kantor, nanti saya hubungi Kanaya lagi, bilang aja salam dari Reyhan. Sekali lagi maaf udah ganggu waktu tante, saya permisi dulu, terimakasih" ujar Reyhan yang kini melangkah mundur untuk menjauh dari kediaman Kanaya itu.
"Aduh maaf ya, nanti tante bakal kasih tau Kanaya kok, jadi nggak enak" kata Mama Kanaya yang kini mengerutkan keningnya. Reyhan hanya tersenyum seraya menggeleng, ia kemudian berlalu pergi untuk menaiki motor besarnya lagi.
Reyhan mengepalkan jemarinya kuat-kuat seraya menarik gas motornya dengan kencang. Ia ingin sendiri dulu saat ini, menghilangkan perasaannya yang tengah kacau akan kenyataan yang baru saja ia dengar. Motor besar Reyhan berhenti disebuah taman, taman yang kauh dari hiruk pikuk kehidupan ibukota, sekaligus tempat terakhir yang ia kunjungi bersama dengan Kanaya.
Reyhan duduk dibangku taman, ia mengusap kasar wajahnya seraya menahan matanya yang kini tengah memerah. Jika semuanya dapat kembali, ia akan menjelaskan segalanya terhadap Kanaya. Reyhan benar-benar menyesal kali ini. Tangannya merogoh kantong celananya seraya mengeluarkan sebuah kotak beludru berisi cincin permata didalamnya.
Ia mengingat terakhir kali sebelum Kanaya menunggunya berjam-jam di depan kantor. Reyhan sudah berjanji pada Kanaya untuk mengatakan sesuatu dan mengajaknya kesuatu tempat, sebenarnya saat itu ia ingin memberikan cincin itu pada gadis pujaannya.
"Aku cinta sama kamu Nay, maafin aku karena aku terlambat buat ngasih tau kamu ini semua. Aku mau kasih kamu kejutan, sekaligus ngasih alasan kenapa aku deket sama Novi, aku diancam Nay, aku sama nggak berdayanya kaya kamu Kanaya."
Reyhan menutup kotak beludru itu dengan kasar, tak terasa air matanya kini terjatuh tanpa seorangpun yang tau. Ia meremas kotak itu kuat-kuat, ia tau bagaimana tersiksanya Kanaya saat dirinya dekat dengan gadis lain. Tapi disini yang lebih tersiksa adalah Reyhan, dia mengingat kembali setiap hal yang ia lalui bersama Kanaya. Seandainya dari awal Reyhan mengatakan yang sejujurnya, mungkin semuanya tak akan terjadi seperti ini.
Flashback on.
Reyhan memainkan kunci motornya setelah ia keluar seharian bersama Kanaya. Ia hendak memasuki rumahnya dengan wajahnya yang merona mengingat peristiwa hari ini.
"Reyhan!" suara itu membuat Reyhan membalikkan tubuhnya sebelum ia membuka pintu untuk masuk kedalam rumahnya. Ia melihat Novi yang kini mendekati dirinya seraya tersenyum hangat membuat Reyhan semakin muak saja.
"Mau apa lo kesini? gue udah bilang, gue nggak suka sama lo, lo mendingan pergi deh!" ujar Reyhan kasar penuh dengan emosi. Padahal sebelumnya ia merasa bahagia, kini moodnya hancur seketika hanya karena kehadiran cewek yang selalu mengejar-ngejar dirinya beberapa hari lalu itu.
"Lo harus jadi pacar gue Rey, gue cinta sama lo!" teriak Novi dengan lantang seraya memegang lengan Reyhan kuat-kuat. Reyhan yang merasa risih hanya bisa menghempaskan tangan Novi dengan kencang membuat gadis itu meringis kesakitan memegangi pergelangan tangannya.
"Lo kira gue nggak tau kalo lo bukan cewek baik-baik, ditambah lagi kelakuan lo sama adek gue dulu yang nggak bakalan gue maafin. Terus sekarang lo mau gue macarin lo gitu? jangan mimpi! gue udah jijjk sama lo! pergi lo dari sini!" usir Reyhan pada Novi yang kini terlihat menahan emosinya.
"Lo kira gue juga nggak tau apa yang lo lakuin sama adek lo itu selama ini!" perkataan Novi membuat langkah Reyhan terhenti lagi. Reyhan mengepalkan jemarinya kuat-kuat, jika saja Novi bukan wanita pasti dari tadi dirinya sudah menyumpal mulutnya menggunakan sepatu yang ia kenakan saat ini.
"Gue juga tau rahasia tentang lo Reyhan! bukannya seharusnya yang duduk di kursi presdir itu elo ya, kenapa lo harus capek-capek ngelamar kerja jadi CS, padahal adek lo kan udah duduk di kursi pimpinan" Reyhan membalikkan tubuhnya, ia menatap Novi dengan tajam seraya masih bertahan mengepalkan jemarinya.
"Lo jangan coba-coba buat main-main sama gue!"
"Gue bakalan diem kok, atau papa lo bakal tau, atau yang lebih celakanya lagi adek lo bakalan tau kalo sekarang lo tinggal ditempat dekil kaya gini!"
"Mau lo apa sih!" Ingin saja Reyhan menampar wajah wanita sialan dihadapannya ini jika ia tak ingat posisinya yang terancam saat ini. Reyhan sangat membenci Novi, bahkan ia juga jijik terhadap wanita yang kini tersenyum licik padanya itu.
"Mau gue, lo jadi pacar gue dan jauhin Kanaya!"
Flashback off.