
Setelah selesai bersenda gurau, akhirnya Yasya dan Reyna memutuskan untuk mencari beberapa persiapan untuk hari lusa. Kini gadis itu berjanji untuk tidak bersikap nakal lagi pada calon suaminya itu.
Kali ini Reyna hanya memakai kemeja dan juga rok selutut. Gadis itu kini siap untuk mencari berbagai persiapan mereka.
Kini pasangan itu berada didalam mobil, entah mengapa fikiran Reyna masih berkecamuk dengan ingatannya semalam. Untung saja karakter Reyna datang diwaktu yang tepat, jika tidak ia tak tau lagi apa yang harus dilakukan mengingat ia tak bisa karate. Meskipun ia menyadari betul bahwa Falery bisa saja muncul, tapi ia tak ingin karakter itu mendominasi dirinya. Ia takut Falery menguasai tubuhnya. Kali ini yang ia takutkan bukanlah Michael tapi Falery yang sebenarnya.
"Sayang, kamu ngelamun?" pertanyaan itu membuat fikiran Reyna tersentak. Walau bagaimanapun saat ini Yasya tidak boleh tau tentang apa yang ia alami, karena ia takut hal itu mempengaruhi kebahagiaan mereka menjelang hari pertunangan.
"Nggak apa-apa kok, aku cuma kepikiran acara kita nanti aja" kata Reyna yang kini mulai menyandarkan kepalanya di bahu pria disampingnya itu yang tengah fokus menyetir.
"Apa yang kamu khawatirkan sayang? nggak akan ada masalah kok. Kamu tenang aja, aku bakalan atur semuanya dengan sempurna" perkataan Yasya membuat Reyna sedikit lega. Meskipun apa yang ia resahkan bukanlah permasalahan itu, namun dengan ada Yasya disampingnya ia merasakan hal yang lebih tenang dan indah dalam waktu bersamaan.
"Sya, aku mau tanya sama kamu. Jika aku hilang kamu akan apa?" pertanyaan itu mendapat beribu tanda tanya untuk Yasya, ia tak tau apa yang dimaksudkan Reyna padanya.
"Hilang gimana? emang kamu mau pergi kemana sayang? kalo kamu mau pergi, aku akan temani kamu kemanapun kamu mau" perkataan Yasya membuat Reyna cukup terharu. Namun bukan itu yang ia maksudkan, Reyna punya dua kepribadian, Falery dan juga dirinya. Falery juga menginginkan Yasya, namun sikapnya dingin dan angkuh. Mereka punya kemampuan yang berbeda pula, dengan kata lain hanya ada satu karakter yang harusnya menguasai tubuhnya.
"Nggak apa-apa kok Sya, aku cuma iseng aja" kata Reyna seraya tersenyum mengalihkan pembicaraan.
Sesampainya di butik, Reyna dan Yasya akhirnya memilih baju yang serasi untuk mereka berdua. Reyna memilih gaun berwarna putih semu biru, gadis itu mencobanya didepan cermin. Betapa pantasnya ia memakai gaun tersebut. Namun hal tak diinginkan pun terjadi, mata Reyna tiba-tiba saja memincing, ia menyunggingkan senyum yang tidak biasa.
"Sempurna" ujarnya seraya berkacak pinggang didepan cermin yang memantulkan wajahnya. Reyna kini membalikkan tubuhnya, ia tersenyum dengan tenang seraya beberapa kali memejamkan matanya untuk bersiap menatap Yasya yang kini tengah duduk memainkan ponselnya.
"Sya? gimana menurut kamu?" pertanyaan itu membuat pandangan Yasya menengadah, ia beralih menatap Reyna yang kini tampak anggun dengan gaun putih tersebut. Terlihat Reyna dengan tatapan angkuhnya berputar seraya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu menawan.
"Kamu cantik banget Rey, aku nggak nyangka kamu bisa secantik ini" ujar Yasya membuat gadis itu mendekat dengan tatapannya yang penuh arti. Reyna menyentuh dagu Yasya seraya mendekatkan wajahnya kearah pria tersebut. Tatapannya terasa janggal bagi Yasya, mata Reyna ketika menatapnya bukan seperti ini, pasti ada yang salah. Pria itu tiba-tiba bangkit dan menatap sekeliling, ia memasuki ruang ganti yang Reyna masuki tadi. Pandangannya menatap seluruh ruangan, namun ia tak mendapati Reyna disana.
"Sya, kamu kenapa? kamu cari apa di dalam?" pertanyaan itu membuat Yasya tersentak, ia membalikkan tubuhnya lagi, menatap Reyna dengan lamat-lamat. Namun yang ia temukan bukanlah tatapan lembut dari Reyna, melainkan orang lain.
"Kamu siapa?" pertanyaan itu membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya, ia mendekati Yasya yang tampak kebingungan dengan sifat dan diri Reyna yang begitu berbeda dari biasanya.
Yasya kini hanya bisa memijit pelipisnya dna menggeleng, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan hatinya. Perlahan langkahnya mendekati Reyna dan segera merengkuhnya dalam pelukannya yang begitu hangat.
"Aku minta maaf sayang, aku nggak bermaksud gitu. Aku cuma aneh aja, kamu bukan kamu yang biasanya, pandangan kamu nggak kaya sebelumnya, kau jadi bingung. Aku minta maaf ya" perkataan itu membuat Reyna luluh, ia membalas pelukan dari pria dihadapannya. Senyum kepuasan dan kemenangan Reyna tujukan tanpa sepengetahuan pria yang kini dengan erat memeluknya.
Ia begitu puas dengan apa yang ia rasakan selama ini. Diri yang dibunuh dan keinginan terpendam akhirnya datang dengan keinginannya sendiri tanpa diinginkan oleh Reyna sendiri. 'Sekarang aku akan menguasai mu Reyna' gumamnya dalam hati seraya memejamkan matanya.
***
Pria bertubuh tinggi itu keluar dari mobil, ia menatap pekarangan rumah Malik yang begitu damai untuknya, meskipun banyak kenangan disana, namun ia yakin, ia bisa menumbuhkan kenangan itu kembali meski hanya bersama dengan ayahnya.
Perlahan Reyhan memasuki rumahnya, ia memang berencana memberikan Reynaldi sebuah kejutan meskipun sederhana. Ia membawa sebuah kotak kue dengan tulisan indah terukir ulang tahun ayahnya yang ke-52. Perlahan pria itu membawa kotak tersebut kedalam kulkas yang berada di dapur.
Ia membalikkan tubuhnya seraya mencari keberadaan Reynaldi yang kini entah dimana keberadaannya. Pria itu perlahan mendekati ruang baca kerja yang khusus diperuntukkan Reynaldi maupun Reyhan yang ingin tempat yang lebih hening dan fokus.
"Pa, papa didalam ya?" pertanyaan itu membuat pria didalam sana berteriak lembut mempersilahkan.
"Masuk aja Reyhan" ujarnya membuat Reyhan tersenyum seraya perlahan membuka pintu tersebut untuk kemudian tersenyum kearah sang ayah yang masih berkutat dengan buku yang ia baca dengan memakai kacamata bacanya.
"Tumben pulang jam segini? biasanya pulang malam" perkataan itu membuat Reyhan menggaruk tengkuknya, ia menatap mata sang ayah yang kini sedikit meliriknya seraya duduk dengan tatapannya yang masih menjurus pada buku coklat didalamnya.
"Nggak apa-apa, cuma pengen pulang lebih awal aja" ujar pria itu seraya melangkah mendekati sang ayah yang kini menatap buku lusuh yang berada ditangannya.
"Itu foto mama pas masih muda ya?" pertanyaan itu muncul tatkala Reyhan menatap lembar demi lembar gambar seorang gadis dengan pria yang duduk disampingnya. Foto dengan latar hitam putih dan sedikit efek sepia membuat Reynaldi mengangguk.
"Mama mu dulu adalah bintang sekolah Reyhan, dia cantik, ramah dan baik, wajahnya seperti Reyna benar-benar mirip dengannya" perkataan Reynaldi membuat Reyhan memijit punggung pria paruh baya itu dengan lembut. Ia menatap foto itu dengan tatapannya yang nanar, memang jika dilihat sekilas mata ibunya memang seperti Reyna. Tubuh tinggi semampai, rambut yang indah bergelombang, pantas saja Reynaldi begitu mencintai Almira.
"Mama memang cantik, dan baik, semasa hidupnya bahkan ia tidak pernah punya dendam dengan kita pa" ujar pria itu membuat Reyhan menyentuh jemari Reyhan yang bersandar dipundaknya.