
Setelah mereka selesai berziarah, Yasya dan Reyna kini sudah sampai disebuah villa besar milik keluarga Yasya. Pemandangan disana sungguh indah, udaranya sejuk dengan pemandangan alam yang luas membentang dari sisi kiri jalanan yang berbentuk bukit kecil. Meskipun sepanjang jalan terdapat beberapa villa dan bukan hanya milik keluarga Yasya saja, tapi ada perbedaan dalam bangunan dihadapannya. Bangunan itu bergaya jaman dulu, dengan arsitektur yang sederhana namun klasik. Ingatan Reyna tiba-tiba kembali pada sosok rumah omanya tempo dulu. Jika saja tidak dirombak saat Reyna duduk dibangku SMP pasti tempat itu akan begitu mirip dengan rumah klasik tersebut.
"Masuk yuk" ajak Yasya yang kini masih betah menggandeng jemari Reyna dengan erat. Setelah bercerita tentang masalahnya tadi entah mengapa sikap Yasya semakin protektif terhadapnya. Yasya menggenggam jemari Reyna bahkan saat ia menyetir dari pemakaman sampai villanya ini.
Reyna melangkahkan kakinya, ia mengekor pada Yasya yang kini tengah mengetuk pintu. Setelah beberapa saat menunggu seseorang wanita tua membukakan pintu untuk mereka. Tampak wanita berdaster itu tersenyum sumringah saat Yasya datang membawa seorang gadis untuk pertama kalinya kesana.
"Eh den Irya, tumben kemari, mari-mari silahkan masuk" ujar wanita itu mempersilahkan.
"Lagi pengen refreshing ini mbok, oh ya ini calon istri saya namanya Reyna, cuma pengen liat-liat aja, rencananya setelah nikah saya mau nginep disini bareng istri" ujar Yasya tersenyum seraya melirik Reyna yang kini tampak senyuman ramahnya pada Mbok Sum si tukang bersih-bersih sekaligus orang yang merawat villa Yasya ini bertahun-tahun.
"Wah cantik banget calonnya aden, nemu dimana? kalau mau bulan madu disini kasih tau saya aja, nanti sekalian saya masakin. Saya seneng lo kalo aden sama non tinggal disini, rumahnya jadi rame" kata Mbok Sum dengan sumringah. Membuat Reyna dan Yasya saling melirik satu sama lain.
"Nggak usah repot-repot Mbok, kita cuma berdua aja kok, kalo gitu saya sama Reyna mau keatas dulu ya" ujar Yasya membuat Mbok Sum hanya mengangguk seraya mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.
Reyna dari tadi hanya fokus menatap lantai maupun langit-langit rumah yang berhias plafon kayu maupun furniture berwarna gelap kecoklatan menjadi ingat akan masa kecilnya. Datang ketempat ini membuat Reyna bernostalgia akan kehidupannya yang harmonis dengan keluarganya sebelum meninggalnya Almira.
Yasya dan Reyna menaiki anak tangga, diatasnya ada tiga ruangan bersebelahan. Yasya perlahan membuka kamar pertama dan menunjukkan kamar dengan lantai berbentuk kayu namun ranjang king size mewah yang dihiasi bunga-bunga. Ditengah-tengah ranjang terdapat foto besar keluarga Yasya dan bisa ditebak itu adalah foto ibu kandung Yasya yang tengah menggendong pria itu.
Disisi tempat tidur juga terdapat banyak sekali foto masa muda wanita itu juga ayah Yasya yang masih muda. Serta kenangan-kenangan mereka yang begitu manis.
"Aku tau muncul banyak pertanyaan dibenak kamu Rey, dia mami kandung aku. Mami meninggal karena kecelakaan, ini foto kami terakhir sebelum mami meninggal" Reyna meraih pundak Yasya. Ia tau bagaimana sedihnya ditinggalkan oleh seorang ibu yang sangat ia cintai, karena ia juga mengalami itu.
"Aku tau Sya gimana rasanya kehilangan orang yang paling kita cintai"
"Itu sebabnya, aku dulu bantu kamu nemuin kebenaran. Karena aku pernah ada diposisi yang sama" perkataan Yasya membuat Reyna tercengang. Pantas saja ia begitu peduli padanya dulu, pantas saja Yasya mau membantu Reyna sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta. Itu karena Yasya tidak ingin Reyna merasakan apa yang dia rasakan.
Kini mereka memilih bersantai di kamar itu, Yasya tidur dipangkuan Reyna yang kini tengah duduk seraya memandangi album foto ketika Yasya masih kecil. Sedangkan Yasya sibuk memainkan ponselnya seraya sesekali melirik kearah gadisnya itu.
"Rumah ini dari dulu nggak pernah diubah ya? kok dari kamu kecil masih sama aja?" pertanyaan itu akhirnya muncul ketika Reyna menyadari hal dari balik foto-foto Yasya dari album itu.
"Ini villa pertama dari papi buat mami, waktu mami meninggal, papi janji nggak bakalan ngubah apapun dari tempat ini. Mungkin cuma diganti yang baru kalau ada yang rusak, contohnya kaya ubin, kursi, maupun cat, papi nggak pernah mau ngubah" ujar Yasya membuat Reyna mengangguk. Pantas saja Reyna begitu kembali ke zaman masa kecilnya ketika melihat rumah ini yang begitu klasik.
"Oh ya, kalau Tante Dian-"
"Tempat ini adalah persembahan papi buat mami, jadi ibu tiri aku nggak pernah tau tempat ini. Yang tau cuma aku dan papi" potong Yasya membuat Reyna mengangguk. Reyna tak ingin terlalu bertanya mendalam mengenai keluarga Yasya. Apalagi dia baru saja menceritakan beban hidupnya yang tidak jauh berbeda dengan keadaannya dulu.
"Kita bulan madu disini yuk, disini jauh dari tetangga. Aku maunya nanti kalo kita udah sah, aku langsung bawa kamu kesini" ajak Yasya yang kini mulai merasa menghangat dengan suasananya.
"Boleh, aku juga suka tempat ini, sejuk klasik. Aku jadi inget masa kecil ku kalo main kerumah nenek" kata Reyna membuat Yasya bangkit dan memeluk tubuh Reyna dengan gemas.
"Yasya ih, meluknya jangan kencang-kencang aku nggak bisa nafas" ujar Reyna yang kini mendorong Yasya pelan membuat pria itu terkekeh seraya menatap mata Reyna dalam-dalam.
"Aku udah nggak sabar sayang, selama ini kita banyak lewatin hal yang nggak pernah kita duga sebelumnya. Banyak banget rintangan yang dateng dalam ujian cinta kita, dan aku nggak sabar nunggu momen-momen saat aku bisa milikin kamu sayang" kata Yasya seraya menggenggam jemari Reyna yang kini tersenyum padanya seraya menyentuh wajah Yasya.
Yasya memang sangat tampan, meskipun umur mereka begitu jauh, tapi Reyna merasa sangat beruntung memiliki pria yang begitu mencintai dirinya. Reyna tak pernah sebahagia ini, gadis itu menyatukan wajah mereka, bisa ia rasakan detak jantung dan deru nafas Yasya yang memburu.
"Yasya, aku bahkan masih nggak nyangka kalau kita masih bisa sama-sama. Saat aku menghadapi kematian, aku bahkan takut nggak bisa liat kamu lagi, aku sayang banget sama kamu sayang" Yasya semakin mengeratkan wajah mereka, kini bibirnya menyentuh lembut bibir Reyna. Yasya menyentuh lembut leher jenjang gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Bahkan bibir Reyna begitu manis saat ia berulangkali menghisapnya. Ciuman Yasya turun kebawah, meninggalkan bekas kepemilikan di leher Reyna membuat gadis itu menggelinjang dan beralih memeluk Yasya.