
Falery melangkahkan kakinya dengan senyuman yang terpancar manis diwajah cantiknya. Gadis itu mendadak memiliki semangat yang tinggi usai mendengar suara merdu dan lembut dari pria yang selama ini menjadi rindu baginya.
Falery memperhatikan pintu yang tak asing untuknya, dibukanya pintu ruang VIP itu dengan kunci yang ada digenggamannya.
Ceklek
Tiba-tiba wajahnya yang semula tersenyum manis kini berubah menjadi kilat amarah tajam dari Falery yang kini memperhatikan seorang pria yang tak dikenal tengah meneguk botol anggur ditemani oleh dua wanita disisinya.
Pria itu duduk dengan santai sambil memperlihatkan dada bidangnya yang terbuka membuat gadis itu semakin jijik.
Falery masih terdiam dengan sorot mata kebencian, bisa-bisanya ada orang yang dengan lancang mengambil alih tempat pribadinya.
Tiba-tiba mata pria itu tertuju pada Falery, dengan senyuman sinis pria itu memberi isyarat pada kedua wanita yang menemaninya untuk pergi dari ruangan itu membuat mereka berdua dengan langkah cepat pergi melalui tubuh Falery yang kini menegang menahan emosi yang tak tertahankan.
Pria itu menatap lurus wajah Falery dengan seksama, ada harapan besar dan bayangan indah yang terlintas bersamaan dengan kebenciannya.
"Berani-beraninya kau masuk kedalam ruangan ku" kata gadis itu dengan nada yang menekan namun suara yang pelan membuat pria itu setengah sadar dari mabuknya.
"Reyna" Yasya bergumam dengan wajahnya yang kian memerah efek alkohol yang baru saja ia konsumsi. Falery hanya terdiam dengan tatapannya yang tak suka, Yasya kemudian berjalan mendekati Falery yang kini mengerutkan keningnya.
Yasya dengan cepat menarik tubuh Reyna dan segera mengunci pintu dengan segera, membuat gadis itu terhempas disofa yang semula diduduki oleh Yasya.
"GILA! KAU GILAAA! apa yang kau mau ********?"
Teriak Falery geram, membuat Yasya menatap penuh harap pada gadis itu yang kini dengan cepat bangkit dari duduknya.
"Reyna ini aku, aku Iryasya."
Falery menatap heran pada pria satu ini, meskipun dia tampak sadar, namun akalnya masih dipengaruhi alkohol.
"Aku bukan Reyna, kau salah mengenali orang" ucap Falery seraya menghentakkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu dengan segera. Namun Yasya menarik lengannya sebelum gadis itu berhasil untuk menyentuh engsel pintu.
"Kau itu Reyna. Reyna ku, tidak mungkin aku salah mengenalmu sayang" Yasya mengecup bibir Falery membuat gadis itu tersentak dan segera mendorong tubuh pria bertubuh kekar itu hingga dirinya terjatuh, namun Falery juga ikut kehilangan keseimbangan hingga membuat tubuhnya menindih pria itu.
Yasya masih menikmati mata indah Falery yang sangat ia cintai dalam hidupnya yang telah hancur itu, bersama dengan harapan yang hampir pupus disetiap detiknya, kini menjadi berharga bagai berlian bersinar disetiap sisi lembut Yasya.
Gadis itu seperti tak berdaya, bak sihir yang membuat tubuhnya menjadi kaku seketika kala mata mereka saling bertemu. Ada keakraban dimata pria itu, tapi Falery tak mengerti, apa yang dirasakan oleh hatinya.
"Kau ught" Falery dengan cepat bangkit dan berdiri dengan angkuh.
"Dasar orang gila yang tak tau diri" lanjutnya.
Falery segera menepis perasaannya sendiri, meski ada rasa nyaman, namun ada amarah yang membuat dirinya kembali angkuh.
"Reyna, Reyna jangan pergi! aku sangat mencintaimu" kata-kata dari pria asing itu membuat Falery semakin muak. Yasya masih terbaring dengan matanya yang sedikit terpejam dan kesadaran yang mengecil.
"Kuharap ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan mu ********" kata Falery dengan nada kesal sambil menjauh pergi menuju ambang pintu.
"Reyna, hidupku sudah hancur, tolong kembalilah padaku,hiks" suara tangisan itu membuat Falery menoleh, menatap pria asing itu dengan tatapan iba, entah mengapa gadis itu merasa sangat sakit ketika pria itu menangis walau tanpa kesadaran.
Falery yang hendak pergi kini langkahnya seperti terhenti dan kembali membopong Yasya yang masih lemah.
"Ishhh kau berat sekali" ujarnya dan segera menghempaskan tubuh pria itu disofa dan kemudian meluruskan kakinya.
"Reyna, Reyna" gumam Yasya membuat Falery menatap pria itu dengan iba.
"Ck hanya karena wanita dia jadi seperti ini, dasar pria bodoh" gumam gadis itu sambil memutar bola matanya. Falery tanpa sengaja menatap manik mata dan wajah tampan Yasya, membuatnya tersenyum tipis, meskipun pria dihadapannya ini adalah seorang psiko, tapi wajahnya sangat tampan jika pria ini tidur.
Falery menggeleng dengan cepat, wajahnya kembali mengeras mengingat perbuatan bejat pria yang telah merenggut ciuman pertamanya.
"Reyna jangan pergi!" Yasya menangkup punggung Falery yang kini tersentak dengan hebat, membuat gadis itu ambruk dalam pelukan pria yang sama sekali tidak ia kenal.
"Aku mencintaimu" kata Yasya untuk terakhir kalinya membuat Falery tak sengaja merasakan jantungnya yang berdegup kencang.