The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hal yang wajar



"Hidup aku rumit Sya, hidup aku nggak normal, kamu tau kan? aku punya kepribadian ganda. Aku bahkan gagal jadi dokter, aku nggak sesempurna kamu Sya. Kamu tampan, kamu mapan, kamu baik, kamu punya kesempatan untuk ngejar impian kamu. Tapi aku? aku cuma sampah sya!" Yasya kini buru-buru mendekatkan bibirnya. Ia ******* bibir Reyna dengan lembut agar gadis itu tak melanjutkan perkataan yang membuat hatinya teriris.


Reyna yang semula terdiam kini mendorong tubuh Yasya, ia segera menghapus jejak air mata tatkala dirinya sudah tak sanggup lagi untuk menyembunyikannya pada pria dihadapannya.


"Kamu jangan pernah ngomong itu lagi Reyna, karena aku cinta sama kamu apa adanya. Aku terima semua kekurangan kamu sayang."


"Sya, aku lihat sendiri Syahbila meluk kamu kan di mobil. Itu artinya dia masih cinta sama kamu, masih ada kesempatan Sya, dan aku bakal berhenti buat nyakitin kamu" kata Reyna yang membuat Yasya meraih tubuh Reyna hingga kini gadis itu berada dalam pelukan Yasya.


"Kamu nggak pernah nyakitin aku sayang, aku sayang sama kamu, cuma kamu kebahagiaan aku. Aku hidup selama ini karena kamu masih bernafas, aku nggak akan tinggalin kamu sampai kapanpun."


Reyna memejamkan matanya, ia tampak masih kekeuh terhadap pendiriannya. Yasya tidak bisa seperti ini terus menerus, jika tidak ia tak akan pernah bahagia jika bersamanya.


Reyna melepaskan pelukan Yasya, ia berlari keluar dari ruangan itu dan pergi dari sana.


"Sayang, kamu mau kemana?" pertanyaan itu bahkan tak digubris olehnya. Yang ada kini Yasya malah dihadang oleh Agatha yang terlihat tengah memakai kacamata dengan pandangannya yang serius.


"Ta, Reyna."


"Kenapa sama dia? kamu jelasin" ujar Agatha seraya mempersilahkan Yasya untuk duduk di sofa. Yasya menuruti apa kata Agatha, karena bagaimanapun yang paling mengerti kondisi kejiwaan Reyna saat ini adalah dia.


Kini Agatha beralih duduk bersebelahan dengan Yasya, ia menatap serius pria itu yang terlihat khawatir. Kemudian Yasya menceritakan segalanya pada wanita itu. Mulai dari dirinya yang bertemu Syahbila sampai hari ini Reyna mengalami pingsan untuk kedua kalinya.


"Apa belakangan Falery yang lebih muncul daripada Reyna?" pertanyaan itu membuat Yasya mengernyit is bahkan mengingat-ingat kala Reyna pergi tanpa pamit dari apartemennya.


"Iya, tapi nggak lama, dia lebih cenderung jadi Falery" Agtha menghela nafasnya, ia tersenyum seraya mengangguk.


"Sepertinya semenjak kejadian Reyna mengoperasi ayahnya, perkembangan gadis itu mulai membaik. Kita hanya tinggal membentuk karakter Reyna yang dominan, setelah itu ketika Falery telah jarang muncul, aku bakal ngelakuin hipnotis. Tapi, kemungkinan kecil berhasil, karena penyakit ini nggak mudah buat disembuhin" kata Agatha yang kini mulai menimbang-nimbang keputusannya.


"Tapi Ta, gimana aku ngasih tau ke Reyna. Dia sekarang ngehindar dari aku" ujar Yasya yang membuat Agatha menyentuh punggung Yasya seolah memberikan pengertian.


"Itu hal wajar Sya, Learned Helplessness atau perasaan mudah menyerah itu hal wajar yang dialami setiap pasien. Entah mereka memliki penyakit fisik, maupun mental. Apalagi yang dihadapi Reyna ini bukan hal biasa bagi dia. Kamu harus lebih mengerti dia saat ini, ajak dia bicara dengan halus. Kalau perlu berikan kejelasan berulang kali, Reyna punya sifat keras kepala, jadi kamu harus sabar oke."


Perkataan Agatha membuat Yasya sedikit lega, ia tak perlu memikirkan sesuatu tentang Reyna terlalu berlebihan. Karena bagaimanapun ia juga sangat mencintai gadis itu. Yang harus ia lakukan ialah mencoba untuk mengembalikan Reyna yang dulu.


***


Reyhan kini menghela nafasnya, peluh menetes didahinya sudah sebesar biji jagung. Kini ia melihat sang ayah yang tiba-tiba saja keluar membawa kardus ditangannya. Hal itu membuat Reyhan tersentak, dan segera berlari menghampiri Reynaldi.


"Papa, jangan bawa yang berat-berat pa, kan aku udah bilang, papa duduk aja" kata Reyhan yang kini merebut kardus itu membuat Reynaldi menggeleng.


"Itu kan cuma kardus kecil Rey, masa nggak boleh" kata Reynaldi protes.


"Mau kecil atau besar, itu tetap beban buat papa. Aku nggak mau papa kenapa-kenapa lagi" perkataan sang putra membuat Reynaldi tersentuh. Ia bahkan mengacak rambut putranya membuat pandangan Reyhan melirik sang ayah dengan kesal.


"Ih papa nih" kata Reyhan sewot seraya membawa kardus itu untuk dimasukkan kedalam pickup yang hendak membantu mereka pindah.


"Kak, maaf nih aku telat" suara familiar itu membuat Reyhan dan Reynaldi menoleh. Ia menatap Hengky yang kini tengah membawa sebuah kardus misterius ditangannya.


"Kok kesini Ky, kan aku udah bilang kamu nggak perlu bantu, terus itu kamu bawa apa?" pertanyaan itu membuat Hengky tersenyum, ia segera meletakkan kardus itu kedalam mobil box tak jauh dari langkahnya.


"Mama papa baru aja keluar kota, terus bawa cemilan banyak. Jadi aku bawa deh hehehe" kata Hengky yang kini membuat Reyhan menggeleng seraya menepuk jidatnya.


"Kamu nih repot-repot aja."


"Apa sih kak, nggak repot kok. Lagian kemaren aku udah bilang mau bantu, maaf banget ya karena jalanan macet" ujar Hengky membuat Reyhan mengangguk. Kini Reynaldi melangkahkan kakinya, ia mendekati Hengky yang hendak mengambil sebuah kardus besar dihadapannya dan memasukkannya kedalam mobil.


"Kamu Hengky ya? temen SMA Reyna dulu" perkataan Reynaldi membuat pria itu melirik Reyhan yang mengangguk.


"Eh, i, iya om Reyna sama saya udah sahabatan. Bahkan saya sama kak Reyhan bisa sampe deket sampe sekarang" ujar Hengky yang kini tersenyum ramah pada Reynaldi.


"Nanti kamu ikut kami ke rumah baru ya, saya pengen denger cerita Reyna waktu SMA kaya gimana. Kamu ada waktu nggak?" pertanyaan itu sontak membuat Hengky mengangguk dan tersenyum. Ia juga melirik Reyhan yang kini tersenyum kearahnya, memberikan kode untuk menuruti apa yang diminta sang ayah.


"Bo, boleh kok om, kebetulan hari ini saya ambil cuti, sengaja karena orang tua baru pulang, dan sekalian bantuin kak Reyhan" ujar Hengky membuat Reynaldi tersenyum.


Meskipun hanya mendengar cerita dari sahabatnya Reyna, Reynaldi mungkin akan lebih tenang nantinya. Begitu merindukannya ia pada putrinya, sebelumnya bahkan Reyhan telah bercerita pada Hengky permasalahan apa yang terjadi pada keluarganya saat Reyna masih hidup dulu.


Ingin rasanya ia memberitahukan pada Reyhan jika sebenarnya adik kandungnya masih ada di dunia ini. Tapi jika Hengky sendiri belum bisa menemukan keberadaan dan mendapatkan kontak gadis itu, ia takut Reyna ternyata menghilang lagi dan akhirnya membuat Reyhan menjadi sedih.