The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pulang



Kini Yasya merapihkan beberapa perlengkapan Reyna yang sebelumnya berada disana dalam waktu dua hari lalu. Gadis itu kini tengah duduk dengan tatapannya yang mengarah pada Yasya dan juga Dinda yang kini membantunya untuk merapihkan tempat itu sebelum dirinya angkat kaki dari rumah sakit.


"Rey, kamu yakin mau keluar hari ini juga? keadaan kamu belum baik" ujar Dinda yang kini menatap khawatir pada sahabatnya.


"Nggak apa-apa kok Din, kan ada Yasya juga yang nemenin aku" gadis dihadapan Reyna itu semakin mendekat. Tiba-tiba saja matanya memerah dan berkaca-kaca, gadis itu memegang jemari Reyna seraya menahan air matanya yang hendak tumpah.


"Maafin aku ya Rey, aku nggak bisa bantu kamu buat tetep jadi dokter disini. Aku juga bantu kamu buat operasi, seharusnya aku juga di pecat" ujar Dinda yang kini mulai tak terasa air mata membasahi pipinya.


Reyna merasa bersalah, ia tak ingin melihat temannya satu itu bersedih. Apalagi ia tak lagi mempermasalahkan pekerjaannya yang kini sudah diujung tanduk kegagalan.


"Din, kamu jangan ngomong gitu, walau gimanapun aku terimakasih banyak sama kamu, karena kebaikan kamu, papa keadaannya semakin membaik" ujar Reyna membuat tatapan Dinda berubah menjadi tak menyangka. Matanya membelalak menatap Reyna, perlahan ia menghapus jejak air matanya seraya mengerutkan dahinya.


"Papa, maksud kamu?" pertanyaan itu membuat Reyna tersenyum.


"Tuan Reynaldi adalah ayah kandung Reyna, dan saya berterimakasih pada dokter Dinda telah membantu Reyna menyelamatkan papanya" ujar Yasya membuat gadis itu menoleh menatap Yasya yang kini mengungkapkan kesungguhannya.


"Aku nggak masalah Din kalo aku dipecat. Yang paling penting, papa aku bisa selamat itu juga berkat bantuan dari kamu. Aku tau pasti banyak segudang pertanyaan dalam diri kamu soal aku, dan kenapa aku melukai diri aku sendiri. Aku nggak bisa ceritain semuanya, tapi aku minta tolong sama kamu" Reyna mengatakan sesuatu pada Dinda, ia hanya ingin ayahnya segera pulih dan tak ingin menambah beban dari keluarga kandungnya.


Yasya yang berada disana hanya bisa menatap Reyna dengan pandangan sendu. Ia ingin sekali mengatakan padanya tentang Reyhan, namun Reyhan telah berpesan padanya untuk tidak memberitahukan tentang apa yang ia lakukan kemarin.


Tiba-tiba saja pintu terbuka, terlihat Ajeng dan juga Zayn yang kini berdiri diambang pintu menatap Reyna dengan senyuman lega seraya menghampirinya.


"Reyna, akhirnya kamu udah pulih nak, mommy seneng banget" ujar Ajeng yang kini mendekati Reyna dan mengusap rambut gadis itu dengan lembut.


"Reyna baik-baik aja kok mom, oh ya Din, kenalin ini mommy, ibu angkat aku" ujar Reyna memperkenalkan membuat Dinda tersenyum dan menatap Ajeng yang kini terlihat ekspresinya yang berbeda dari sebelumnya. Ajeng terlihat sedikit mengguratkan senyum, berbeda dari sebelumnya yang begitu ceria menatap keadaan Reyna. Namun Dinda tak memperdulikan itu, ia mencairkan suasana dengan menyalami Ajeng dan mencium punggung tangannya.


"Hay tante, apa kabar?" pertanyaan itu membuat Ajeng menampakkan guratan senyum sedikit ragu seraya mengalihkan perasaannya oleh perkataan Reyna.


"Baik nak, kamu sendiri gimana?" ujar Ajeng dengan santai. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Reyna hendak keluar dari tempat itu.


Kadang Reyna merasa hidupnya seakan kurang, entah apa yang membuatnya merasa demikian. Tapi ketika melihat ayahnya dan juga Reyhan, ia merasa ingin selalu berada didekat mereka.


Kini gadis itu bangkit, ia dibantu oleh Yasya dan juga Ajeng yang kini memapah tubuhnya. Disisi lain, sebuah pandangan mengarah pada ruangan itu, pandangan pilu dari seorang pria yang kini mengepalkan jemarinya.


"Reyna, maafin abang" ujar pria itu seraya memejamkan matanya untuk melangkah menjauh dari tempat itu. Ia melihat sendiri betapa Reyna kini dikelilingi oleh orang-orang yang paling ia sayangi, tidak sepertinya yang hanya bisa membuat Reyna bersedih.


Memperlihatkan Reyna yang kini hendak disambut kursi roda. Tatapan gadis itu beralih, ia menatap punggung pria yang sepertinya tak asing untuknya. Reyna menaikkan sebelah alisnya seraya bertanya dalam hati.


"Rey, kamu lihat apa?" pertanyaan dari Zayn membuat Reyna tersentak, ia tersenyum seraya menggeleng kemudian beralih duduk di kursi roda tersebut dengan dibantu Yasya dan juga Ajeng.


Kini gadis itu telah berada didepan mobil berwarna putih milik Yasya. Ajeng menghentikan dorongan kursi roda itu


dan seketika fikirannya terganggu entah karena apa.


"Reyna, kamu yakin nggak mau tinggal sama mommy dan Zayn? kami pasti bakal jaga kamu nak selama kesehatan kamu masih belum membaik" kata Ajeng seraya mengelus pundak Reyna yang kini membuat gadis itu tersenyum lembut seraya menengadahkan wajahnya pada ibu angkatnya tersebut.


"Nggak mom, aku masih ada Yasya kok, lagipula aku juga bisa sendirian, aku udah terbiasa" ujar Reyna membuat Ajeng menghela nafasnya seraya mengalihkan pandangannya untuk menutupi ekspresi kesedihannya.


Wanita dengan rambut yang digulung itu kemudian mencoba untuk tersenyum dan mengangguk.


"Oke, tapi jangan halangi mommy buat jenguk kamu."


"Mommy ngomong apaan sih, ya enggak lah. Reyna sayang sama mommy dan kak Zayn, mommy bisa main ke rumah Reyna kapanpun mommy mau" perkataan Reyna disambut senyuman getir dari Ajeng yang kini mencoba untuk mengangguk meski ada sedikit hal mengganjal dihatinya.


***


Ajeng masih terdiam, tatapannya mengarah pada jalanan. Namun entah mengapa fikirannya seperti kosong, wanita paruh baya itu memeluk tubuhnya sendiri. Zayn yang kini fokus menyetir tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh sang ibu yang sedari tadi hanya diam membisu.


"Mom, kenapa?" pertanyaan itu tak mendapat respon dari Ajeng sama sekali. Bahkan tatapannya masih kosong menjurus pada bayangan dihadapannya yang teralihkan oleh fikirannya.


"Mom," ujarnya lagi seraya menyentuh punggung tangan sang ibu dengan lembut, membuat sang pemiliknya tersadar, dan seketika mengusap wajahnya kasar.


"Ah, Zayn maaf, fikiran mommy lagi kalut" perkataan itu membuat Zayn menyunggingkan senyumnya seraya sedikit melirik pada sang ibu yang kini terlihat guratan kesedihan diwajahnya.


"Mommy mikirin Reyna ya?" pertanyaan itu seketika membuat Ajeng menatap sang putra dengan pandangan keheranan. Seketika Ajeng mengangguk dengan wajahnya yang begitu lesu akan fikirannya pada Reyna.


"Zayn, mommy ngerasa Reyna sekarang seperti menganggap kita ini orang asing. Kenapa Zayn? apa karena Reyna belum bisa ngelupain apa yang mommy perbuat" perkataan itu membuat Zayn menggeleng.


"Mom, aku kenal sama Reyna, dia bukan orang yang pendendam. Mungkin keputusan Reyna untuk menjauh dari kita itu bukan semata-mata menghindar, tapi dia nggak ingin membuat masalah lagi yang berdampak pada kita" ujar pria itu membuat tatapan mata Ajeng kini berubah menjadi sedikit lega, meskipun sebenarnya hatinya masih ragu.