
Jam rumah sakit menunjukkan pukul 08.00, seperti biasa jam kerja seperti ini pasti banyak sekali pasien yang datang. Dengan gejala dan juga penyakit yang berbeda, orang biasa pasti akan jenuh jika melihat pemandangan seperti ini, namun tidak dengan Reyna dan juga kawan-kawannya.
Bagi mereka hal ini adalah sebuah kewajiban, serta hobi sekaligus amal untuk mereka saling berbagi meski tidak memberi. Reyna kini tengah disibukkan dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, lelaki tua dengan tubuhnya yang renta. Darah mengalir di seluruh tubuhnya, termasuk lengan dan juga kaki.
Entah bagaimana cerita dibalik ini semua, baginya latar belakang mereka dan juga penyebab sakit mereka tidaklah penting. Mengobati dan juga melayani adalah peran yang utama untuknya.
"Suster, ambilkan kain kasa dan jarum suntik" ujar Reyna yang kini mulai mengobati luka-luka pasien yang hampir saja selesai.
"Reyna, kamu nggak pakek alkohol buat nyembuhin lukanya?" tanya Aldo yang kini tengah berdiri disampingnya melihat keadaan lelaki tua tersebut.
"Nggak, alkohol itu dapat merusak jaringan, daripada nanti lukanya sembuhnya lama, kita masih ada obat merah, tapi harus dibersihkan dulu pakai air mengalir dan juga sabun supaya kumannya mati, dengan gitu penyembuhannya lebih cepat" ujar Reyna yang kini masih fokus menyemprotkan air ke luka pria tersebut yang masih mengaduh kesakitan.
"Rey, kamu nggak bisa gitu dong, sesuai prosedurnya kita harus pakek alkohol buat pertolongan pertama" Reyna masih tak memperdulikan perkataan Aldo, setelah mencuci bersih luka tersebut ia segera membalutnya dengan kapas yang diberi obat merah serta kain kasa yang membalutnya.
"Suster, jarumnya" ujar Reyna yang kini dengan cekatan meraih jarum tersebut. Namun tanpa di duga tiba-tiba saja lengan gadis itu dicekal oleh Aldo membuat Reyna tersentak.
"Kamu ini kenapa sih Do? aku lagi selesain tugas aku" ujar Reyna membuat Aldo membelalakkan matanya seolah menantang Reyna yang kini menghempaskan lengannya.
"Kamu ini nggak tau apa-apa Rey, anak baru yang baru aja masuk tapi sok-sokan pinter dan ngubah cara ngobatin pasien. Kamu mau dianggap jagoan disini ha?" perkataan Aldo lantas membuat Reyna murka. Ia memberontak dan segera menyuntikkan bius penahan rasa sakit.
"Suster, maaf tolong tangani pasien dulu, saya mau keluar sebentar" kata Reyna membuat perawat tersebut mengangguk.
"Baik dokter" ujarnya.
Reyna kini beralih pergi dari ruangan tersebut, baginya ruang pengobatan tidaklah tepat untuk perdebatan antara dirinya dengan Aldo. Terlebih Aldo telah melontarkan kata-kata yang menyinggung dirinya.
"Kalo lo mau ngomong, silahkan, asalkan jangan di dalem" ujar Reyna yang kini mengubah bahasanya dari aku kmu, ke elo dan gue. Kini Reyna tengah beradu kata dengan Aldo yang menatapnya dengan tajam tepat dihadapannya.
"Maksud lo apa Rey?! gue senior disini, gue lebih tau apa yang harus dilakuin sama pasien yang luka-luka. Lagian gue khusus nanganin korban kecelakaan, lo ngapain ngerebut pasien gue?! siapa yang suruh lo."
"Do, kita sama-sama dokter, disini nggak ada dokter khusus ini itu, kita kerja sama, kita team Do. Dan masalah lo senior atau bukan gue nggak perduli, gue kesini bukan cuma buat kerja, tapi rasa kemanusiaan gue lebih penting daripada soal posisi" suara Reyna meninggi saat Aldo mulai menantangnya kembali. Ia tak tau lagi apa yang difikirkan Aldo kali ini, seharusnya dia tau attitude seorang dokter saat menangani pasien.
Mungkin Aldo memang lebih tua darinya, tapi Reyna sendiri adalah gadis yang berani. Meskipun apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan prosedur, tapi ia berusaha memberikan yang terbaik dari ilmu yang ia dapatkan sebelumnya. Baginya kesembuhan pasien lebih penting daripada hanya sekedar prosedur yang ada.
Aldo menatap tajam gadis itu lalu meninggalkannya begitu saja. Pria itu membiarkan Reyna masih terdiam dengan tatapan kecewanya kala dirinya melangkah menjauh darinya.
Gadis itu kembali pada pekerjaannya, ia memang sudah gila jika berurusan dengan Aldo. Untung saja pasien tidak banyak yang datang dan sudah ditangani oleh beberapa perawat, bahkan Tian dan Darwin kini mengambil alih pekerjaan mereka.
Sedang Reyna kini mendekati Dinda yang tengah berkutat dengan berkas dan juga file yang ada ditangannya.
"Berantem ya sama Aldo?" tanya Dinda tiba-tiba membuat Reyna menggeleng seraya tersenyum menyembunyikan wajah murungnya.
"Nggak kok Din, cuma salah faham aja."
"Emangnya kenapa Din?" tanya Reyna lagi yang mulai penasaran dengan perasaannya yang gugup karena baru saja bertengkar dengan Aldo.
"Kamu ya jangan macam-macam sama Aldo, gitu-gitu dia keponakannya dokter Martin yang kemarin itu loh. Dokter Martin itu juga manager, jadi kalau ada yang berbuat ulah dan nentang kata-kata Aldo, dia pasti bakal di aduin ke dokter Martin. Biasanya sih kalo bener-bener salah atau memang udah debat sama Aldo, dia bakal langsung dipecat, kalo nggak ya maksimal mutasi lah" kata-kata Dinda membuat Reyna tercengang.
Gadis itu menarik nafasnya, tiba-tiba saja ingatannya kembali pada kata-kata Adi yang dilontarkannya semalam padanya.
"Tidak ada dokter besar maupun kecil. Jasa mereka tetap sama, saya bangga sama kamu, karena pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mulia."
Kata-kata itu terus terbenam dalam batinnya. Meskipun nanti akhirnya ia akan di pecat dengan alasan tersebut, namun cita-citanya takkan pudar ditempat itu.
"Aku nggak takut buat dipecat, apalagi cuma masalah debat sama si Aldo itu. Mending aku keluar dari rumah sakit ini daripada masalah bocah di gedein kaya gini" ujarnya membuat Dinda membelalakkan matanya seraya menatap tak percaya pada Reyna yang kini tengah menekuk wajah masamnya.
"Jangan-jangan kamu beneran debat dan cari masalah ya sama Aldo? kamu gila ya Rey?" kata Dinda yang membuat Reyna memutar bola matanya. Reyna bahkan mengibaskan tangannya dan menghentikan situasinya yang tengah kacau hanya karena membahas soal Aldo.
"Ah udahlah, aku males bahas ini. Toh kalo pun ini hari terakhir aku, aku bakal selesaikan ini sampai akhir" kata-kata Reyna menyiratkan sebuah tanda bahwa dirinya memang bermasalah dengan Andre. Dinda bahkan tidak habis fikir dengan Reyna, padahal ia sudah tau Aldo adalah ketua dalam tim, dan tidak ada yang bisa menentangnya.
"Rey, kamu" kata-kata Dinda terhenti kala seseorang perawat memanggil gadis itu membuat Dinda semakin tak menyangka dengan situasi rumit yang akan terjadi.
"Dokter Reyna" ujar perawat itu membuat Dinda dan Reyna saling bertatapan, berbeda dengan Reyna yang terlihat santai, kini Dinda hanya bisa menggigit bibir bawahnya seraya menarik jas Reyna untuk menahannya.
"Iya, ada apa suster?" kata Reyna membuat suster tersebut mendekat.
"Maaf, anda dipanggil oleh dokter Martin keruangannya" ujar perawat itu semakin membuat Dinda gencar menahan lengan Reyna untuk tidak beranjak dari tempatnya.
Namun maksud hati ingin melindungi sahabatnya, Reyna malah menggeleng dan tersenyum santai. "Nggak apa-apa Din, kamu tetep jaga disini ya," ujar gadis itu dengan senyuman lembut. Entah apa yang harus difikirkan Dinda sekarang, haruskah ia takut karena Reyna sudah dipanggil oleh manager langsung, ataukah lega dengan sikap Reyna yang begitu tegar dan santai.
Reyna kini melangkah menjauh, keluar dari ruangan yang belum ada satu bulan ia jalani disana. Ia menghela nafas dengan derap langkah kakinya menyusuri lorong-lorong yang penuh sesak dengan keadaan orang-orang yang tengah dalam kesakitan.
Tanpa sengaja gadis itu menghentikan langkahnya kala berpapasan dengan Alfian yang kini menegurnya.
"Hay Rey, mau kemana?" pertanyaan itu membuat Reyna menelan salivanya seraya mencoba untuk tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.
"Ah ada keperluan sedikit Al, maaf ya aku udah ditunggu ini nanti kita sambung lagi" ujar gadis itu seraya berlalu pergi, meninggalkan kehadiran Alfian yang masih bertanya-tanya akan sikapnya barusan.
'Maafin aku Al, aku nggak bisa cerita. Aku nggak mau bikin kamu kecewa karena belum ada sebulan aku udah terancam keluar dari sini' batin gadget itu seraya berjalan dan sesekali menatap punggung Alfian yang masih berdiri ditempatnya.
Gadis itu melangkahkan kakinya kembali, kini tepat berada didepan kantor manager ia berdiri. Sebelumnya ia masuk, tangannya dengan bergetar mengetuk pintu tersebut agar dipersilahkan masuk.
"Masuk" kata-kata Aldo yang tiba-tiba saja membuka pintu dengan tatapannya yang datar juga senyum meremehkan membuat Reyna hanya bisa pasrah dengan apa yang hendak manager katakan padanya.