The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sampai



Luna turun dari dalam mobil Cindy, setelah acara yang mereka hadiri kini akhirnya Luna telah sampai di depan apartemennya.


"Lo beneran nggak mau mampir dulu?" tanya Luna sekali lagi sebelum ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam gedung tinggi itu.


Cindy tampak menggeleng, wajahnya yang penuh make up kini terlihat luntur beberapa. Pastinya dia akan malu jika terlihat seseorang nantinya. Ditambah lagi wajah lesu dan letih yang kini semakin mendominasi ekspresi Cindy yang sedari tadi mengoceh ria, menceritakan perihal dirinya yang begitu mengidolakan sosok pria misterius itu.


"Nggak lah Lun, gue udah capek banget. Mana udah malam banget lagi."


"Ya udah, makasih tumpangannya. Gue duluan ya, hati-hati lo. Kalo liat cowok ganteng jangan ngiler" kata Luna seraya membuka mobil sambil tertawa renyah pada sahabatnya satu ini yang memutar bola matanya.


"Si*lan lo!" umpat Cindy membuat Luna semakin menahan tawanya kali ini.


Setelah diyakini mobil Cindy menjauh seraya memberikan lambaian tangan terakhir dari Luna, kini gadis itu menghela nafas lega. Langkahnya mendekat kearah bangunan besar dihadapannya. Namun belum sampai lima langkah berjalan, tiba-tiba saja suara tak asing membuat gadis itu membalikkan tubuhnya.


"Luna!"


"Zayn, ngapain kamu kesini?" Zayn melangkah mendekat, ia memang sengaja membuntuti Luna dari acara pernikahan saudara angkatnya. Zayn memang sengaja tidak menghadiri acara itu, karena ia tau pasti kehadirannya akan menjadi sorotan, dan Luna pasti akan mengetahui identitasnya sebagai petinggi perusahaan nomor satu itu.


"Aku baru ada proyek di luar kota. Maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu hari ini ke pestanya Kanaya" Luna hanya tersenyum dan mengangguk. Benar-benar senyuman yang membuat Zayn tambah gila. Dengan bibir tipis merah menggelora dan riasan tipis diwajah Luna membuat Zayn tambah terpikat dibuatnya.


Zayn juga laki-laki normal, dengan disuguhi pemandangan cantik dari gadis dihadapannya ini membuat Zayn ingin sekali mengecup bibir ranum Luna yang terlihat menggoda.


"Nggak apa-apa kok, lagian ini juga udah malam. Aku mau ke atas dulu" Zayn masih terpaku, ia mengangkat sebelah tangannya dan hendak menyentuh pipi Luna. Namun sedetik kemudian pikirannya urung, melihat gadis manis yang kini menatap bingung padanya Zayn jadi salah tingkah.


"Besok, kita jadi kan ke Bantul?" pertanyaan itu membuat Luna menepuk jidatnya. Bagaimana bisa lupa jika besok ia akan pulang dan kali ini bersama dengan pria dihadapannya. Ini semua juga karena pernikahan Kanaya dirinya jadi sibuk sendiri dan melupakan sesuatu yang seharusnya menjadi momen penting dalam hidupnya.


"Ya ampun Zayn! aku hampir lupa" Luna menggigit bibir bawahnya, ia menatap Zayn yang kini tampak tersenyum seraya menepuk puncak kepalanya membuat Luna terdiam, terpaku oleh ketampanan pria blasteran satu ini.


"Makanya lain kali jangan sibuk mulu. Ini udah malam, lebih baik kamu cepetan naik dan tidur. Karena besok aku bakal jemput kamu pagi-pagi" Luna menelan salivanya, perhatian Zayn yang seperti ini dapat membuat hati Luna berdebar tak karuan. Perasaannya membuncah bersamaan dengan pipinya yang memerah.


"I-iya, kalo gitu aku duluan ya" Luna menyelipkan rambutnya di daun telinganya. Dengan menunduk seraya menyembunyikan wajahnya yang kian memerah, gadis itu membalikkan tubuhnya seraya tersenyum malu.


"Selamat malam Luna" Luna yang awalnya berjalan cepat kini menghentikan langkahnya, sejenak ia memejamkan mata untuk memberanikan diri agar bisa membalas sapaan dari Zayn padanya.


***


Sebuah mobil berwarna putih berhiaskan bunga-bunga cantik berhenti disebuah rumah besar. Rumah dengan interior cantik nan mewah yang sudah dihiasi berbagai bunga dan red carpet ditengah-tengah gerbang. Menandakan bahwa ini adalah persembahan dari Reyhan yang paling spesial untuk Kanaya.


"Kak, ini rumah kita?" tanya Kanaya yang seolah tak percaya dengan pemandangan dihadapannya. Takjub dan masih tak percaya dengan rumah megah dihadapannya.


"Kamu tau nggak? Reynadan Yasya datang terlambat itu buat persiapan ini semua" Kanaya membulatkan matanya. Ternyata ia sudah berburuk sangka pada Reyna. Sebuah kejutan yang indah dengan lampu membentuk hati ditengah jalan menuju pintu membuat Kanaya berdecak kagum.


Sedikit penyesalan ia rasakan kala mengingat bagaimana Kanaya marah pada adik iparnya itu.


"Kenapa?" tanya Reyhan yang mengetahui mimik wajah istrinya kini berubah muram. Berbeda dengan ekspresi sebelumnya.


"Aku tadi salah paham sama Reyna, sampek ada acara ngambek lagi sama dia. Aku jadi malu sendiri kak" Reyhan menghela nafasnya, tanpa aba-aba pria itu menggendong tubuh Kanaya yang masih mengenakan kebaya membuat gadis itu menjerit keras saking terkejutnya.


"Kak Reyhan!"


"Sstt, nggak usah mikirin yang lain. Ini malam pertama kita sayang, kamu siap-siap ya" wajah Kanaya berubah merona, pikirannya nakal bergerilya kesana kemari membayangkan hal yang tidak pasti. Kanaya menggeleng, ia memukul dada bidang Reyhan yang kini tampak terkekeh melihat tingkah istrinya satu ini.


"Kak Reyhan apaan sih" Reyhan hanya bisa menatap wajah istrinya ini yang begitu cantik. Dengan Kanaya yang juga sama memandangi lekat wajah pria yang kini sah menjadi suaminya itu.


Reyhan membawa istrinya ke lantai atas, dimana kamar mereka berada. Pria itu meletakkan tubuh Kanaya diatas ranjang seraya berbisik pelan.


"Kamu cantik sayang" hanya kata singkat itu, sudah mampu membuat jantung Kanaya berdetak begitu kencangnya. Gadis itu buru-buru mendorong tubuh Reyhan yang hendak menghimpitnya.


Terlihat guratan kecewa di dahi Reyhan yang kini tampak heran dengan tingkah istrinya.


"A-aku mau mandi dulu kak" Reyhan tersenyum, ternyata itu yang dikhawatirkan istrinya. Reyhan akhirnya memberikan izin untuk Kanaya memasuki kamar mandi dengan dirinya yang kini membuka baju kemeja yang ia kenakan.


"Itu kamar mandinya" tunjuk Reyhan pada pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar mandi. Kanaya buru-buru melangkah, bisa gila jika ia melihat tubuh Reyhan yang atletis itu.