The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Fitting



tak....


Sebuah bingkisan berwarna merah muda terpampang tepat didepan Falery. Gadis itu kini berada didalam apartemen miliknya tengah berdua bersama Lilia yang kini memberikan sebuah bingkisan untuk dirinya.


"Sudah kubilang aku tak mau pakai" ucap Falery dengan lenguhannya yang terdengar malas.


"Coba saja Fay, tidak ada ruginya, atau mau aku ajari?" Falery tersentak dan buru-buru menggeleng dengan cepat. Membuat hembusan nafas kasar dari sahabatnya terdengar sampai di telinganya.


"Ayolah... itu hanya lensa kontak biasa, tidak akan membuat mu buta."


"Aku bukannya takut, tapi menurutku tidak ada bedanya memakai kacamata ataupun lensa kontak" ujar Falery mengelak.


"Apa kau tidak ingin tampil cantik? ayolah Fay... kau harus mencobanya okay, hanya dengan begitu kau bisa mencari lelaki yang tampan dan mapan? kau bisa melanjutkan hidup mu..." terang Lilia dengan tegas sambil meyakinkan Falery.


"Aku tidak ingin tampil cantik, kedua aku juga tidak ada keinginan untuk menikah."


"Lalu bagaimana dengan masa depan mu? siapa yang akan merawat mu dihari tua nanti?? apa yang kau harapkan Fay? aku sebagai sahabat mu hanya ingin mendukung mu, aku ingin Falery punya cerita yang bahagia, yang dapat dibagi bersama keluarganya... siapapun laki-laki yang mampu menjadikan mu sebagai istri nanti, dia pasti akan sangat bahagia. Kau harus semangat Fay... kau juga punya kehidupan, jangan terlalu memikirkan masa lalu yang tidak akan mungkin menjadi masa depan."


Falery terdiam seketika, mendengar penuturan dari Lilia membuatnya mencerna sedikit demi sedikit apa yang dimaksud olehnya.


Sebuah cerita kehidupan yang dapat dibagi? dengan keluarga yang bahagia?


Itu semua bagai mimpi yang tak dapat dijangkau olehnya. Bagaimana ia bisa bahagia jika orang yang menjadi harapan terbesarnya hanyalah Yasya.


'Tidak, aku tidak bisa membuat dia hanya menjadi bagian dari masalalu ku. Bagiku dia ada dalam setiap masa yang aku lalui, meskipun dia tak pernah ada di sisiku. Meskipun dia melupakan ku, melupakan kenangan kita yang pernah indah dan berakhir berpisah, tapi aku tak bisa jika harus mendua dan berbagi perasaan" ujarnya dalam hati.


"Aku... aku tetap tidak bisa Lilia... apa kau tau ketika seseorang tengah mencintai sepenuhnya, kau tak perduli bagaimana kau menderita asalkan kau bisa melihatnya bahagia. Lilia, bagiku masa depan ku dan cintaku hanya untuknya, dan lagi, untuk masalah keluarga, aku bahkan tidak pernah memiliki keluarga yang sempurna dalam hidup ku, keluarga ku, semuanya hancur dengan aku yang menghilang diantara mereka."


Kini Lilia hampir pasrah dengan keputusan bodoh yang diambil sahabatnya untuk masa depannya sendiri. Apapun itu, ia seperti tak percaya lagi dengan kebahagiaan ditengah keluarga, mengingat apa yang ia alami di masa lalu yang membuat hatinya begitu terluka.


Perlahan dirinya mulai memahami betapa keras kepalanya gadis yang kini duduk dihadapannya dengan pandangan sayu.


Pandangan kepedihan yang ia pertahankan meski ia tau itu begitu menyakitkan tapi tetap ia teruskan dengan dalih kepasrahan.


Drrtt...


Suara getar ponsel membuat Falery yang kini memijit pelipisnya terperanjat dan menatap layar ponsel yang berada dimeja tepat dihadapannya.


Gadis itu melirik sekilas dan langsung meraihnya.


"Sarah ingin aku menemaninya ke butik hari ini."


Lilia terlihat pasrah dengan bola matanya yang memutar. Bagaimana ia bisa menerima penderitaan yang tiada habisnya ini. Sahabatnya sendiri akan menikah dengan orang yang paling ia cintai.


"Fay jika kau tak mau datang...." ucapan Lilia terhenti seketika kala Falery memotong kata-katanya.


"Aku mau, Sarah adalah sahabat ku, sahabat yang selalu ada untuk ku, aku tidak akan mengecewakannya Lilia."


"Baiklah jika itu mau mu" kata Lilia yang kini menghela nafas.


Kini Lilia hanya bisa pasrah, dia menyadari bahwa statusnya hanyalah sebagai sahabat. Dia hanya berhak memberi pendapat tidak untuk mengatur kehidupannya.


Apapun yang ingin dilakukan Falery secara pribadi itu bukan urusannya.


Seorang gadis tengah memakai gaun cantik berwarna putih yang menyeret lantai. Terlihat beberapa wanita dibelakangnya membenahi resleting dan yang lain membetulkan posisi gaunnya.


Ia tampak berlenggang didepan cermin besar yang terpantul tubuhnya yang tengah memakai gaun pengantin.


"Anda terlihat menawan nona... sangat cocok."


"Tidak... aku hanya akan mendengar pendapat sahabat ku... dia yang akan menilai seberapa pantas gaun yang aku kenakan nanti" sahut Sarah yang kali ini tersenyum mengembang dengan pantulan dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama beberapa detik kemudian seorang gadis cantik dengan kacamata bulat berdiri tepat dibelakang Sarah dan tersenyum kearah pantulan wajahnya.


"Falery...! akhirnya kau datang juga" ucap Sarah yang kini buru-buru membalikkan tubuhnya menatap sahabatnya dan segera berhambur kepelukan Falery.


"Kau cantik sekali...." ucap Falery.


"Benarkah??"


"Iya Sarah, sungguh..." kata Falery meyakinkan.


"Tapi aku ingin tau pendapat mu, mana gaun yang paling cocok untuk ku" ucap Sarah yang kini merengek dan memeluk lengan Falery membuat sahabatnya itu tersenyum untuk kesekian kalinya.


"Baiklah, kau coba satu-satu aku pasti akan memberikan pendapat untukmu."


Saat setelah itu Falery dan Sarah menghabiskan waktu untuk memilih baju yang cocok untuk upacara pernikahan Sarah.


Meskipun Sarah sangat cocok jika memakai gaun mana saja, namun Falery tak ingin membuat sahabatnya kecewa. Bagaimanapun pendapatnya sangat penting untuk hari membahagiakan untuk Sarah.


"Bagaimana? ini yang kesekian kalinya, aku sudah mencoba enam gaun... mana yang cocok untuk ku Fay?" tanya Sarah lagi yang kini semakin antusias.


"Um...sepertinya kau cocok memakai gaun yang barusan kau coba... kalau yang ini terlalu polos, hiasannya tidak terlalu mencolok... aku ingin pengantin ku ini menjadi pusat perhatian semua tamu undangan yang datang..." kata Falery membuat sahabatnya semakin tersanjung dan tersenyum merekah dengan pipi yang memerah menahan malu.


"Kau ini... bisa saja... umm baiklah aku akan mencoba lagi dan pasti aku akan membungkusnya."


Falery mengangguk, gadis itu menatap Sarah yang kini masuk kedalam ruangan yang terdapat di sudut tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


Entah sampai kapan dirinya harus menahan sesak yang ia terima untuk kesekian kalinya. Kini Falery bisa bernafas lebih lega, meskipun dengan hati yang begitu tak rela akan keadaan yang menyudutkannya.


Membayangkan bahwa Sarah dan Yasya akan segera menikah saja dirinya tak mampu apalagi datang di acara membahagiakan itu.


Membahagiakan?


Membahagiakan untuk mereka. Sedang Falery hanya menangis dalam diam, karena bahagia dalam kesedihan itu pilihannya.


Kini setelah acara fitting selesai, kedua sahabat bagai saudara itu keluar dari butik dan mengendarai mobil dengan Sarah yang memberikan Falery tumpangan.


"Fay... terimakasih ya kau telah menemaniku seharian ini, kau pasti sangat lelah."


Falery menggeleng dengan pandangannya yang tak pernah melepas senyum palsu yang ia buat.


"Tidak... santai saja Sarah..." kata Reyna kembali tersenyum.


"Oh ya... bagaimana kabar Alfian?" tiba-tiba Sarah teringat akan mantan tunangan Falery kala itu. Meskipun sempat beberapa hari dirinya dirundung emosi yang memuncak oleh cerita dari sahabatnya perihal perginya Alfian.


Namun kini, berkat penuturan dan juga pengertian dari Falery akhirnya mereka berhubungan baik hingga sekarang.


"Baik... kehamilan istrinya juga sudah berjalan enam bulan" ucap Falery menimpali dengan senyuman penuh harap.


"Kemarin pun saat mereka menikah aku tidak bisa hadir karena anakku meninggal."


Sarah tersentak, dengan kata-kata Falery yang menyebutkan salah satu dari anaknya meninggal. Ia tau betapa berartinya kehidupan anak-anak baginya semenjak dirinya bekerja menjadi seorang dokter pembimbing dan pembina untuk anak-anak disana.


"Siapa yang kau maksud Fay? kenapa kau tidak pernah cerita padaku?" tanya gadis itu antusias.


"Namanya Fernando, tidak apa-apa, dia sudah bahagia dipangkuan Tuhan.. aku hanya sedih, tiap kali melihatnya muntah, bahkan mimisan ataupun pingsan... huhhh jika memang kematian lebih baik untuknya, aku akan mencoba untuk ikhlas, meskipun awalnya aku sempat tidak terima."


Sarah memegang pundak sahabatnya. Mencoba menguatkan Falery saat dimana ia terpuruk dalam kesedihan oleh masalahnya.


"Aku tau itu, kau tak perlu khawatir, mungkin itu sudah menjadi jalannya."


Ia tau bagaimana berartinya kehidupan bagi seseorang. Bahkan anak-anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Semenjak Falery hidup sendiri, dirinya lebih banyak menyimpan rahasia dan tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


Sarah tau itu karena meskipun ia mencoba untuk kuat tapi terkadang mata gadis itu seperti menunjukkan sesuatu yang berbeda.