The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Di pecat



Alfian melangkahkan kakinya menuju kantor manager. Ia masih mengingat betapa egoisnya Martin ketika tempo hari ia memaksa timnya untuk melakukan operasi tanpa Reyna. Memang saat itu ada perseteruan diantara mereka, dan Alfian bisa memahami keadaan Reyna yang sesungguhnya.


Padahal hari itu, Reyna hendak membantu timnya untuk melakukan operasi pada pasien utama, dan sekarang akibat ulahnya pasien masih dalam keadaan koma. Jika saja waktu itu Reyna dapat bergabung, mungkin saja semuanya tidak seperti ini.


Ceklek.


Suara terbukanya pintu membuat Martin menatap Alfian yang kini masuk tanpa permisi kedalam ruangannya. Tatapannya menjurus pada Alfian dengan tajam dan dingin, bak pedang menghunus hati Alfian yang kini dapat mengendalikan amarahnya.


"Ada apa dokter Martin memanggil saya?" ujar pria itu dengan tatapannya yang begitu dingin.


"Dokter Alfian, sepertinya anda sudah lupa bagaimana tata krama. Saya sudah peringatkan jangan membantu dokter Reyna."


"Kenapa dok? bukannya membantu dan menolong pasien itu sudah kewajiban kami. Apa anda punya hal pribadi yang membuat anda tidak suka dengan dokter Reyna?" Martin bangkit, ia melepaskan kacamatanya yang sedari tadi bertengger di bawah matanya.


Kini tatapan tegas itu terlihat jelas diwajah pria paruh baya yang kini mendekat kearah Alfian yang masih tak mau duduk meski ia sudah dipersilahkan beberapa kali.


"Saya hanya tidak ingin ada dokter yang tidak konsentrasi mengikuti operasi ini. Anda tau kan dokter Al, saat kita melangsungkan rapat bagaimana sikap dokter Reyna?. Saya bukannya bersikap tidak adil terhadap dia, tapi saya hanya takut pada akhirnya kita tidak bisa menyelesaikan dengan benar."


"Tapi kenapa dokter tidak memberitahu Reyna dulu? dia bahkan sudah mau bersiap-siap


untuk membantu kita, sebelum akhirnya dia mengoprasi seorang pasien sendirian" tiba-tiba saja rahang pria paruh baya itu mengeras, ia menatap tajam pada Alfian yang kini tengah menahan amarahnya.


"Jadi, dokter Reyna melakukan operasi sendirian? dan dia melukai dirinya sendiri? itu semua adalah benar?" pertanyaan itu membuat Alfian tersenyum dan menganggukk. Senyuman itu bak meremehkan atasannya yang kini makin dilanda emosi.


"Baiklah, sepertinya saya sudah tau apa yang seharusnya saya lakukan selanjutnya" ujar pria itu seraya duduk kembali menuju bangkunya dan memberikan sebuah berkas pada Alfian.


Alfian membuka berkas itu, ia menatap heran dan tajam pada pria paruh baya yang kini tak mengindahkan pandangannya sama sekali. Pria itu perlahan membaca kata demi kata tulisan yang berada di atas kertas tersebut.


Tiba-tiba saja pandangan Alfian menatap tajam pada pria yang kini tengah meliriknya. Alfian semakin tak percaya, ia menggebrak meja dihadapan Martin membuat pria itu terkejut dan menatap tajam pada dirinya.


"Maksud dokter apa memecat Reyna? salah Reyna apa dokter?" ujar pria itu dengan nada tinggi membuat Martin bangkit dan berbalik menggebrak meja dihadapannya.


"Baca baik-baik dokter Alfian, jangan bersikap seperti ini. Dokter Reyna telah melakukan kesalahan dengan tidak mempertimbangkan keselamatan pasien. Bahkan dia tidak membutuhkan satu dokter pun maupun menginformasikan pada pihak lain. Itu namanya ilegal, dan sudah menjadi peraturan rumah sakit untuk tidak melakukan hal tersebut."


***


Kini gadis itu tengah makan dari suapan Yasya yang membuat pria dihadapannya merasa lega dengan bangunnya Reyna kali ini. Yasya menyentuh rambut Reyna ia mengelus rambut tersebut dengan lembut dan mencium keningnya.


"Enak?" pertanyaan itu membuat Reyna mengangguk. Ia begitu mencintai Yasya, rasanya dengan adanya Yasya disampingnya seperti melengkapi hidupnya saat ia mulai tak berdaya.


Namun sejenak, fikiran gadis itu terganggu, ia mengingat bayangan Reyhan saat kemarin dirinya hendak siuman dan menatap punggung kakaknya yang begitu ia rindukan.


"Sya, aku, aku mau tanya" ujar Reyna dengan suaranya yang sedikit gugup. Yasya menatap gadisnya dengan pandangan bertanya, ada rasa ragu dalam diri Reyna kala kedua matanya menatap Yasya yang kini menaruh mangkuk berisi bubur diatas meja.


"Sya, kemarin" ujarnya terhenti kala tiba-tiba saja Alfian memasuki ruangan tersebut dengan pandangannya yang mengarah pada pasangan itu. Ia menatap Reyna yang kini masih lemah dan wajahnya yang begitu pucat. Ia perlahan mendekat, menatap dua insan yang kini tampak heran dengan ekspresi Alfian yang tampak kacau.


"Kenapa Al?" pertanyaan itu membuat Alfian menggeleng, ia menatap sendu sebuah berkas yang berada ditangannya. Hendak ditunjukkan pada Reyna.


"Ada masalah Al? bilang aja" kata Reyna yang kini mulai beralih melihat berkas misterius yang dibawa oleh pria yang kini berdiri dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Rey, maafin aku, tapi aku harus sampein ini ke kamu. Kalo kamu" suara Alfian tiba-tiba saja terhenti. Ia seperti tak tega jika harus mengatakannya pada sahabatnya yang kini masih terbaring lemah.


"Aku kenapa Al? bilang aja" ujar Reyna yang kini mulai penasaran. Ia hanya berharap fikiran negatifnya bukanlah sesuatu yang harusnya terjadi padanya.


"Dokter Martin bilang, kamu dipecat" ujar Alfian membuat Reyna terdiam sejenak. Sedang Yasya kini segera bangkit dan meraih berkas yang dibawa oleh pria itu dan membukanya perlahan.


Yasya membaca berkas tersebut sedang Reyna hanya terdiam dan mematung. Tak tau apa yang harus dilakukannya saat ini, namun yang pasti ia tak ingin melihat Yasya khawatir padanya.


"Rey, ini pasti salah Rey, aku bakal jelasin semuanya ke dokter Martin. Kamu tenang ya sayang, kamu nggak akan di pecat kok" ujar Yasya yang kini menggenggam jemari gadis itu yang kini tampak tersenyum.


"Nggak perlu Sya, aku nggak apa-apa kok. Lagian ini juga salah ku, aku ngelakuin operasi ilegal. Kamu jangan gegabah, aku nggak apa-apa kalo harus dipecat" kata Reyna yang kini tersenyum menatap Yasya yang terlihat Pandangannya yang begitu sayu.


"Rey, kamu nggak papa? tapi ini cita-cita kamu kan sayang" perkataan Yasya memang ada benarnya. Tapi untuk apa mempertahankan perkejaan yang tidak bisa menghargai jasanya. Ia juga seharusnya berfikir dua kali untuk masuk dan bergabung dalam rumah sakit sebesar ini. Karena dalam rumah sakit ini, banyak sekali persaingan juga peraturan yang tidak masuk akal.


Reyna mencoba tersenyum, memang inilah resiko yang seharusnya berani ia ambil dari awal. Demi menyelamatkan Reynaldi, ia sampai rela harus kehilangan pekerjaannya.


"Aku bisa cari rumah sakit lain kok Sya, atau aku bakal ngurus kafe mama yang udah lama tutup itu. Kamu jangan khawatir, oh ya Al makasih banget kamu udah ngasih tau aku dari awal."


"Rey, sekali lagi maafin aku. Aku awalnya bingung mau ngasih tau kamu kaya gimana, tapi liat kamu yang sekarang ceria, aku jadi lega" ujar Alfian yang kini mulai tersenyum menatap Reyna.