The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Tidak sempurna



Sebelum lift terbuka, gadis itu segera menghapus jejak air matanya, ia tak ingin terlihat menyedihkan bagi orang lain. Terlebih ini adalah masalahnya bersama Yasya, ia takut jika ada berita atau gosip tentang pria itu.


Ting!.


Suara lift menunjukkan bahwa lift sudah sampai, gadis itu buru-buru keluar dari sana. Setelah melalui lobi, kini matanya seperti tak dapat ditahan dan semakin berkaca-kaca kembali. Rasanya begitu sakit dengan dadanya begitu terasa sesak.


Reyna menghentikan langkahnya, untung hari itu sudah masuk jam kerja, jadi didepan gedung itu tiada banyak orang yang lewat, hingga ia bisa menyembunyikan tangisnya. Padahal dulunya, ia dan Yasya sempat menanam kepercayaan dan juga mimpi masing-masing dalam kehidupan mereka. Namun ia seperti tak percaya bahwa semua akan berakhir secepat ini.


"*Sayang, nanti kalo kita udah punya anak, aku nggak bakalan biarin kamu kerja. Kamu harus fokus sama anak kita, kamu juga harus jaga kesehatan kamu. Sebaliknya, aku juga bakal jadi ayah yang protektif, aku nggak bakalan lembur lagi."


"Sya, itu kan masih lama, kita juga belum nikah kok. Kamu mikirnya terlalu jauh banget."


"Sayang, apa salahnya sih kalo kita mimpiin masa depan yang cerah. Aku mau kamu jadi calon ibu buat anak-anak aku*."


Suara percakapan mereka terus menggema dikepala Reyna. Itu hanyalah sebuah mimpi yang kini tak mungkin menjadi nyata, karena kenyataannya berbeda. Hati Reyna pilu mengingat kenangan indah itu.


Bahkan bayangan didalam fikirannya kini berubah, ia belum siap jika akhirnya Syahbila yang akan menjadi calon ibu untuk anak-anak Yasya. Ia terlalu takut untuk membayangkan itu semua.


Perlahan Reyna melangkahkan kakinya kembali, namun langkahnya seperti berat, kepalanya juga semakin pusing, pandangannya kini kabur. Samar-samar ia mendengar suaranya dipanggil, namun ia tak memperdulikan itu. Kepalanya terlalu sakit, tubuhnya bergetar diikuti suara dalam kepalanya yang berteriak kencang.


"Reyna!" teriak Yasya yang kini mendapati Reyna hampir terjatuh dan pingsan. Namun secepat kilat Yasya segera menopang tubuh Reyna hingga dirinya pun tak sampai terjatuh.


"Sayang bangun sayang, aku mohon, kamu kenapa?" Yasya terus mengguncangkan tubuh Reyna. Pria itu sempat menggendong tubuh Reyna ala bridal style sebelum akhirnya kesadaran Reyna kembali.


"Turunin aku Sya" kata gadis itu dengan suaranya yang mendadak dingin. Yasya yang kini menatap heran pada Reyna kini hanya bisa menuruti apa yang dia mau. Kini pria itu menurunkan Reyna dari gendongannya, tak hanya itu, Reyna kini melangkah menjauh membuat Yasya menarik lengannya.


Kini posisi mereka berada di posisi parkiran mobil. Reyna menepis lengan Yasya, namun pria itu berulang kali menarik lengan gadis itu yang membuat Reyna tambah memberontak.


"Lepasin aku Sya" kata Reyna dingin. Yasya mulai mengerti, kali ini yang muncul adalah Falery bukan Reyna. Gadis itu bahkan menarik tangan Yasya yang semakin menempel dan tak mau lepas dari pergelangan tangannya.


"Aku nggak mau Fay, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi" ujar tegas pria itu yang membuat Reyna semakin menatapnya tajam. Gadis itu bahkan secara kasar menghempaskan tangan Yasya.


"Falery nggak suka dipaksa" kata gadis itu yang kemudian membalikkan tubuhnya. Namun Yasya tetap mencekal lengan gadis itu kembali hingga Reyna naik pitam dibuatnya. Lagi-lagi sekuat tenaga Reyna menghempaskan jemari Yasya, dan tak hanya itu.


Plakkkk!!.


"Kamu harusnya tau gimana sifat aku, aku nggak akan segan-segan nyakitin kamu Sya, kalau kamu macam-macam ke aku" ujar Falery yang kini meninggalkan Yasya sendiri, ia bahkan masih mematung dengan pandangannya yang sulit diartikan. Menatap perginya Falery, punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang membuat pria itu semakin lama semakin tak mengerti apa yang diinginkan Falery saat ini.


***


Mata gadis itu kini mulai menerima cahaya yang masuk melalui retinanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali tatkala menyadari keberadaannya yang terasa asing baginya. Namun hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya membuat Reyna tersentuh. Jemarinya kini terasa hangat oleh tautan dari tangan Yasya yang kini tengah tidur menunggunya.


Gadis itu perlahan menarik tangannya, membuat Yasya yang tadinya tertidur kini terperanjat dan segera sadar akan Reyna yang kini sudah siuman.


"Aku dimana?" pertanyaan itu membuat Yasya tersenyum seraya menyentuh wajah Reyna. Ia hanya bisa menatap ketulusan dimata Yasya yang membuat Reyna seketika luluh.


"Kamu ada diruangan Agatha sayang, jangan khawatir" perkataan Yasya membuat Reyna sedikit terkejut. Bahkan mendengar hal yang berbau dengan penyakitnya membuat gadis itu begitu cemas dengan keadaannya.


Reyna menatap Yasya dengan pandangan menyelidik, ia menatap tubuh Yasya yang masih terlihat baik-baik saja. Ia bahkan menyentuh wajah pria itu saking takutnya.


"Sya, Falery nggak ngapa-ngapain kamu kan? ada yang luka? atau kamu dipukul? Sya?" perhatian dari Reyna membuat pria itu terkekeh. Kini Reyna yang mulai sadar dengan tingkahnya menjauhkan diri dari pria dihadapannya.


"Aku nggak apa-apa kok" ujar Yasya dengan senyuman andalannya membuat Reyna menelan salivanya. Gadis itu meremas ujung kemeja yang ia kenakan, ia merasa gugup. Namun niatannya masih tak berubah dari sebelumnya.


Kini Reyna berubah menjadi bungkam, tatapannya kosong menatap lututnya yang kini sedikit ia tekuk. Yasya yang melihat pemandangan itu hanya bisa mengernyit seraya mencoba untuk menarik jemari Reyna untuk mengajaknya berbicara.


"Rey, kamu masih marah ya sama aku soal Syahbila? aku minta maaf sayang, aku bakal jelasin semuanya ke kamu. Awal kita ketemu aku emang kaget pas liat dia, karena kita udah putus dan dia juga pengen menjalin hubungan pertemanan sama aku. Kemarin dia nawarin diri buat ketemu papa, jadi aku iya in sayang. Aku juga nggak enak kalo nolak, apalagi niat dia cuma buat silaturahmi. Dan untuk yang tadi."


"Sya lebih baik kita putus aja" perkataan Reyna membuat Yasya tercengang, ia bahkan belum sempat menyelesaikan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan juga Syahbila. Kata-kata putus itu bagaikan petir yang menyambar di ubun-ubunnya.


"Kamu jangan bercanda dong sayang, kan aku belum selesai ngomong" kata Yasya yang membuat Reyna kini menitikkan air matanya. Ia bahkan tak mampu menatap Yasya yang kini mencoba untuk mendekatinya.


"Aku serius Sya, aku bener-bener serius. Aku nggak bisa lagi ngelanjutin hubungan kita Sya."


"Tapi kenapa Rey? apa kamu nggak suka aku deket-deket Syahbila, kalo itu mau kamu, aku bakal jauhin dia, aku nggak bakalan berhubungan sama dia" kata Yasya yang kini mencoba menarik kedua lengan Reyna. Namun gadis itu masih mempertahankan pandangannya yang tak mau begitu saja menatap Yasya.


"Hidup aku rumit Sya, hidup aku nggak normal, kamu tau kan? aku punya kepribadian ganda. Aku bahkan gagal jadi dokter, aku nggak sesempurna kamu Sya. Kamu tampan, kamu mapan, kamu baik, kamu punya kesempatan untuk ngejar impian kamu. Tapi aku? aku cuma sampah sya!" Yasya kini buru-buru mendekatkan bibirnya. Ia ******* bibir Reyna dengan lembut agar gadis itu tak melanjutkan perkataan yang membuat hatinya teriris.