The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Cerita kelam Yasya



Yasya menatap gadisnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Ia buru-buru memeluk Reyna dalam dekapannya erat-erat. Yasya meneteskan air matanya, ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya, tapi Yasya bingung harus mulai darimana. Reyna yang mengerti situasi hanya bisa mengelus punggung pria itu seraya menenangkan hatinya yang berkecamuk tak karuan.


"Aku cinta sama kamu Yasya, aku juga pengen ada buat kamu saat kamu terpuruk."


"Rey, kalau kamu pengen tau yang sebenarnya aku bakal jujur. Tapi kamu harus janji sama aku, setelah ini kamu nggak boleh sedih lagi okay" kata Yasya disusul anggukan gadis itu seraya melepaskan pelukan mereka dan tersenyum lembut pada pria dihadapannya itu.


Yasya menyatukan wajah mereka, mungkin ini saatnya yang tepat agar Reyna tau sesungguhnya ada beban terselubung dalam hatinya. Ia tak ingin diam lagi, sudah cukup dirinya bungkam dan menyimpan ini dari Reyna. Sudah sangat lama ia memikirkan jika suatu saat, lambat laun Reyna pasti akan tau. Tapi daripada dirinya tau dari orang lain atau malah tak sengaja mengetahuinya sendiri. Malah akan sangat membuat hubungan keduanya renggang suatu hari nanti.


"Sya kita mau kemana? kok putar balik? ini bukan jalan ke toko kue kan?" pertanyaan itu membuat Yasya tersenyum tenang seraya menggenggam jemari Reyna. Ia memang hendak mengajak Reyna kesuatu tempat untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Kamu mau tau kan masalah aku?" pertanyaan itu membuat Reyna mengangguk lemah dengan dahinya yang berkerut penasaran.


"Kalo gitu, kita bakal ke villa aku diluar kota"


"Tapi Sya-" belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya, Yasya segera menyentuh bibir gadis itu menggunakan jari telunjuknya. Reyna hanya bisa pasrah, ia tau villa Yasya jauh dari ibukota, bahkan itu terletak diluar kota dengan pegunungan disekitarnya. Tapi Reyna percaya, apa yang dikatakan Yasya akan mengungkapkan beban isi hatinya.


Setelah dua jam berlalu, Yasya dan Reyna telah sampai ditempat tujuan. Perlahan jemari Yasya menyentuh lembut wajah Reyna yang tertidur karena kelelahan. Bahkan kepalanya kini bersandar di pintu mobil dengan wajahnya yang tertutupi beberapa helai rambut. Reyna menggeliat, ia membuka matanya perlahan, ia menajamkan pandangannya yang baru saja terlelap dalam mimpi dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah.


"Sya? udah sampe ya?" tanya gadis itu dengan suara seraknya. Matanya tiba-tiba membulat ketika ia menyadari bahwa tempat yang mereka kunjungi bukanlah villa namun sebuah pemakaman.


"Ini bukan di villa, kenapa kamu ngajak aku kesini?" Reyna masih tak bisa berfikir dengan jernih, dengan tenaga dan fikirannya yang masih belum seutuhnya kembali, ia bertanya-tanya dalam hati. Mencoba menebak pun tak mampu, ia hanya bisa mengandalkan Yasya yang kini turun dan berjalan membukakan pintu untuknya. Sudahlah, hanya Yasya yang tau, dan Reyna cukup mendengar apa yang harusnya ia ketahui.


"Villa aku nggak jauh dari sini, cuma lima belas menitan pasti udah sampek, ayo turun" ajak Yasya yang mempersilahkan gadisnya seraya menggantungkan tangannya di udara kemudian disambut hangat oleh Reyna.


"Dia ibu kandung aku" ujar Yasya membuat mata Reyna membulat. Reyna masih diam, ia menunggu penjelasan dari Yasya yang kini berjongkok dan menyentuh batu nisan itu disusul oleh Reyna seraya menyentuh bahu Yasya.


"Dia cuma ibu tiri Rey, ibu tiri yang udah anggep aku sebagai anaknya sendiri" lanjut Yasya membuat Reyna terkejut. Bahkan ia baru mengetahui yang sebenarnya setelah lama mereka bersama.


"Dulu dia punya anak setelah nikah sama papi, waktu itu umur aku sepuluh tahun namanya Ezi. Saat itu anaknya udah umur tiga tahun waktu aku SMP. Aku pulang sekolah waktu Ezi main dijalanan, waktu itu aku naik angkot dan aku buru-buru mau gendong dia buat balik ke rumah, karena waktu itu nggak ada pengasuh dan dia juga teledor. Tapi pas aku mau gendong dia, tiba-tiba ada mobil truk yang langsung nabrak dia. Ezi meninggal ditempat, didepan mata aku sendiri. Tapi mami nggak terima, dia nuduh aku sebagai penyebab kematian Ezi, mami berprasangka kalau aku yang bikin Ezi main dijalanan pas aku kebetulan turun dari angkot. Aku trauma Rey, saat itu mami depresi dan selalu teriak-teriak bilang kalau aku pembunuh. Sampai mami dibawa ke psikiater dan akhirnya sembuh, mami udah nggak kaya dulu lagi, tapi karena aku trauma mami jadi ngerasa bersalah, dia akhirnya buang semua foto-foto serta barang-barang milik Ezi."


Hela nafas pria itu terdengar lelah, ingin ia menghentikan cerita itu yang begitu menyakitkan untuknya. Sedangkan Reyna kini mulai menggenggam jemari Yasya, memberikan kekuatan padanya, ia masih menyimak meskipun perasaannya sama sedihnya dengan posisi apa yang dirasakan oleh Yasya kala itu.


"Mami sayang sama aku udah kaya anak kandungnya sendiri, bahkan dia udah nggak mau punya anak lagi. Tapi masalahnya saat kita jatuh cinta dulu, dan mami nggak setuju soal kamu. Aku tau aku salah, aku tau aku udah tunangan sama Syahbila tapi main belakang sama kamu. Tapi aku bener-bener cinta sama kamu Rey, waktu mama denger kamu meninggal aku denger mama bergumam di kamar sambil liat foto Ezi yang masih dia simpan"


Flashback on.


"Akhirnya mami bisa balas dendam sayang, mami bisa balas dendam atas kematian kamu. Jika kematian Yasya terlalu mudah buat dia, maka mami akan puas jika dia kehilangan orang yang paling dia cintai"


Flashback off.


"Mami aku sengaja Rey, ternyata selama ini mami emang nggak pernah peduli sama aku. Semenjak saat itu papi ceraiin mami dan aku nggak mau ketemu sama siapapun, bahkan aku nolak buat dijodohin. Aku udah trauma lihat kamu kecelakaan demi nyelametin aku didepan mata kepala ku sendiri, aku bahkan udah mau coba bunuh diri berkali-kali biar bisa nyusul kamu Rey, aku bener-bener terpuruk" ujar Yasya panjang lebar membuat Reyna meneteskan air matanya. Reyna segera memeluk tubuh pria itu dari belakang. Ia tau Yasya pasti memendam ini sendiri, Yasya pasti tidak ingin Reyna mengetahuinya karena takut dirinya merasa bersalah atas beban yang ditanggungnya sendiri.


"Sya! kenapa kamu baru cerita? kenapa selama ini kamu selalu diem? aku bisa jadi sandaran kamu saat kamu gagal, saat kamu sakit. Aku bisa dengerin beban kamu tanpa harus takut kalau aku ngerasa bersalah" isak Reyna dalam dekapan Yasya yang kini tersenyum tenang.


"Aku cuma butuh waktu yang tepat buat cerita ini ke kamu. Karena aku cinta sama kamu sayang, aku nggak akan biarin kamu sedih, karena aku tau kamu orangnya selalu memikirkan orang lain."