
"Iya, iya maaf. Lagian kamu ngapain sih nanyain tipe calon suami aku itu kaya apa? kaya bukan kamu banget deh."
"Kali aja aku termasuk kriteria kamu, kan kamunya nggak usah cari jauh-jauh kalo didepan mata aja bisa" perkataan Zayn sontak membuat Luna melemparkan bantal kecil disampingnya tepat mengenai wajah pria dihadapannya yang berhasil Zayn tangkap.
"Nggak usah ngomong sembarangan deh" lanjut Luna seraya terkekeh, meskipun hatinya merasa berdebar karena Zayn mengatakan demikian, tapi Luna tak semudah itu dibuat serius kalau Zayn tidak mengatakannya secara jelas.
Walau wanita itu butuh kepastian, bukan rayuan gombal yang memabukkan, tapi telinga gadis mana yang tidak tergoda oleh kata-kata manis pemberian dari pria tampan. Luna bukan gadis munafik, jika dia memang suka, maka Luna akan bilang suka. Tapi jika tidak, dia pasti juga akan mengatakan demikian. Luna hanya tidak ingin dirinya mengejar duluan, kalau Zayn mau biar saja mereka memainkan peran tarik ulur saja.
Sayangnya, jika perkataan Zayn hanyalah gurauan semata, maka hati Luna yang akan sakit nantinya. Tapi tak apa, ini juga kodratnya, memiliki hati lembut dan mudah terbawa suasana adalah sikap dari setiap wanita, tidak terkecuali Luna.
***
Satu bulan kemudian, acara pernikahan Reyhan dan Kanaya berlangsung meriah. Sahabat, kerabat dan para tamu undangan berdatangan silih berganti menyalami kedua pengantin yang kini berdiri seraya mengenakan kebaya putih dengan Reyhan yang memakai pakaian senada.
Kini giliran Cindy dan Luna yang menyalami keduanya, dengan senyuman mengembang dari Cindy serta Luna yang kini mengekor dibelakangnya.
"Naya, lo cantik banget, selamat ya Nay. Semoga jadi keluarga yang samawa" ucap Luna seraya bercipika-cipiki ria bersama sahabatnya itu disusul dengan senyum mengembang dari Cindy yang kini mensejajarkan tubuh mereka.
"Makasih lo, gue tunggu lo giliran undangan dari kalian"
"Kalo gue sih kayanya masih lama, ada yang mau nyusul loh nih, soalnya dia kan mau dijodohin juga" celetuk Cindy yang menyenggol lengan Luna membuat gadis itu menggeleng seraya memutar bola matanya malas.
"Males deh gue bahas itu"
"Iya-iya, oh ya ngomong-ngomong dimana saudaranya pak Reyhan, pak Gilbert itu loh Nay, kenalin dong?" sambung Cindy yang kini tersenyum penuh arti pada gadis yang kini melirik Reyhan dengan pandangan bertanya.
Sebenarnya Kanaya sendiri belum pernah berkenalan dengan Zayn secara langsung. Ia hanya melihat foto atau kadang ketika mereka ada urusan dirumah Reyhan hanya bertemu sesekali. Sikapnya acuh, namun begitu hangat pada Kanaya.
Tapi hari ini bahkan Reyhan juga tidak memberitahunya dimana keberadaan Zayn yang belum muncul juga batang hidungnya.
"Dia nggak bisa datang katanya, ada urusan mendadak" jelas Reyhan membuat Cindy manggut-manggut saja. Padahal ini adalah kesempatan emas baginya untuk bertemu sang idola sekaligus menjalin pendekatan.
"Yah, gitu ya, pupus deh harapan gue"
"Jangan lebay deh, dia aja pernikahan sodaranya sendiri nggak datang, lo masih mau gitu ngarepin orang yang belagu kaya dia?" seru Luna yang kini memang agak kesal dengan pria satu ini. Hal itu membuat Cindy dan Kanaya melongok. Makan apa anak satu ini, bisa-bisanya dengan terang-terangan dia mengatakan hal seperti itu persis di hadapan Reyhan yang kini terkekeh.
Memang Luna tidak terlalu menyukai presdir misterius itu. Hanya ada namanya yang terpampang dan terdengar jelas ditelinga para karyawannya. Kabarnya juga pria itu adalah pria yang dingin dan cuek, tentu saja hal itu menambah kekesalan Luna yang sudah menempel pada pada sosok petinggi perusahaan utama itu setelah Reyhan.
"Lo gila ya Lun! masih ada pak Reyhan disini loh, lo nggak takut mati?" bisik Cindy membuat Luna menggeleng seraya mengernyitkan keningnya.
Keduanya langsung melangkah, mendekati meja dengan beberapa kue diatasnya. Sedangkan Kanaya kini menatap suaminya itu dengan pandangan menyelidik.
"Kak Reyhan kenapa senyum-senyum sendiri? kak Reyhan nggak marah denger Luna ngatain Zayn tadi?"
"Ya nggak lah, aku aja juga kesel kok sama bule sialan itu. Emang bener omongannya temen kamu, harusnya datang tuh bule malah main kabur aja semalam" seru Reyhan yang kini memang sangat kesal dengan saudara angkatnya itu. Bisa-bisanya semalam ia kabur dan hanya menyisakan sepucuk surat dengan kado pernikahan diatas ranjangnya.
Kalau saja Reyhan tau Zayn akan kabur ia pasti akan mengurungnya didalam kamar. Enak saja, dihari yang spesial dan terpenting dalam hidupnya kini Zayn malah pergi entah kemana.
"Lun, lo gila atau gimana sih! jelas-jelas tadi ada pak Reyhan. Dia itu saudaranya pak Gilbert loh, masa lo ngmong sembarangan kaya gitu didepan dia" Luna yang hendak mengambil ayam dihadapannya terhenti kala Cindy dari tadi mengomel saja tanpa henti. Memang kenapa kalau dirinya memaki petinggi perusahaan satu itu. Memang gayanya sok misterius dan sok ganteng saja. Kalau dia menampakkan diri, memangnya berapa banyak wanita yang akan mengaguminya? percaya diri sekali pria itu sampai takut untuk menghadapi orang-orang.
"Emang bener kok, gue aja eneg tiap kali lo ngomongin soal pak Gilbert itu. Keliatan blagu jadi orang, kaya paling ganteng aja sedunia. Heran deh gue" ucap Luna seraya melanjutkan mengambil ayam dan nasi di hadapannya.
Cindy menepuk jidatnya, anak ini benar-benar terus terang sekali. Takutnya jika nanti ia bertemu langsung dengan pak Gilbert, sahabatnya ini akan dipecat atau bernasib buruk.
***
"Aduh, maaf ya aku sama Yasya terlambat" suara itu membuat kedua pengantin baru itu menoleh, menatap Reyna yang kini datang tergopoh-gopoh bersama dengan Yasya disampingnya.
Reyhan tersenyum senang meskipun adiknya satu ini terlambat entah karena apa. Namun berbeda dengan Reyhan, Luna justru membuang muka seraya berperilaku kesal pada sahabatnya satu ini, yang tentu saja kini sudah menjadi adik iparnya.
"Kak selamat menempuh hidup baru ya" seru Reyna yang kini memeluk Reyhan dengan erat. Disusul dengan Yasya yang kini juga memeluknya dengan senyuman mengembang.
"Laku juga lo akhirnya, selamat hidup gue"
"Maksud lo apa? lo ngeledek gue?"
Reyna menggeleng, pasti setelah ini keduanya akan bertengkar seperti biasanya. Reyna lebih baik menghindar dan memeluk Kanaya yang kini tampak marah padanya.
"Naya! selamat ya, akhirnya lo jadi kakak ipar gue"
"Dih, nggak usah sok polos dan nggak punya dosa lo"
"Hehehe kan gue udah minta maaf tadi, masa lo nggak mau maafin adek lo ini sih Nay" Kanaya melirik Reyna yang kini tampak menatapnya dengan memelas. Benar-benar Reyna ini membuatnya tak bisa marah padanya lama-lama. Lagipula statusnya bukan lagi sahabat, tapi sudah menjadi seorang ipar.
"Iya deh gue maafin" ucap Kanaya membuat Reyna kembali berpelukan dengan kakak iparnya satu itu.
"Oh ya? kak Zayn mana?"