The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Insiden




"Dasar gila" Falery mendorong tubuh Yasya dan segera pergi dari ruangan yang sudah ia pesan itu membuat hatinya semakin kesal lagi.


Gadis itu melangkahkan kakinya dengan langkah cepat dan wajah yang ditekuk sedari tadi.


"Nona" panggil seorang resepsionis membuat Falery menoleh dengan tatapan tajam membuat wanita berambut pirang itu menunduk ketakutan.


***


Matahari menyeruak, memenuhi ruangan bercahaya emas matahari, terpantul lewat tubuh kekar pria yang kali ini tertidur di sofa. Tubuhnya atletis bertelanjang dada lengkap dengan celana khas nya.


Perlahan wajahnya mengerut, mencium bau alkohol yang memenuhi hidungnya yang kali ini berfungsi dengan baik, setelah sebelumnya akalnya dikendalikan oleh minuman yang ia nikmati sendiri.


"Arrhhhhhgggggggt" pria itu mengeram sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


Yasya telah sadar dalam ingatannya, semula ia tidak percaya tapi ingatan temaram itu akhirnya terkuak oleh hati dan fikirannya sendiri.


"Reyna" ucapnya sambil membelalakkan matanya, menyusuri seluruh ruangan dengan seksama.


"Gadis itu, ck. Aku begitu membencinya hingga melihat bayangannya dimana-mana" kata Yasya yang kini tengah menatap lurus pandangannya dengan penuh kebencian dan amarah yang melanda.


Diraihnya kemeja yang berada diatas sofa sampingnya dan segera memakainya dengan cepat.


Sementara itu ditempat lain kini Falery dan Alan hendak memasuki mobil mereka.


Dakkkk, (suara bagasi mobil yang ditutup dengan keras)


"Ayo Fay" ucap pria bertubuh tinggi itu dengan aksennya yang begitu dewasa. Tampak gadis berambut panjang itu memakai jaket kulit dan syal miliknya serta tas yang siap untuk dibawa kembali ketempat dimana ia tinggal, setelah berminggu-minggu lamanya dirinya menikmati musim gugur di negara Georgia.


"Huffft. Ayo kak!" sahut Falery sambil menggandeng tangan sang kakak.


Mereka berdua menaiki mobil berwarna hitam dan mengulas senyum bersamaan. Falery menghembuskan nafasnya antara lega karena telah usai rasa lelahnya yang selalu menghantam punggungnya setiap saat.


"Kau mau apa sebelum kita tiba di Florida?" pertanyaan dari Alan sambil tetap fokus pada jalanan lengang didepannya, membuat Falery menoleh pada sang kakak.


"Aku mau makan ice cream, boleh tidak?" pertanyaan balik dari Falery membuat Alan mendengus.


"Kak kumohon! aku hanya ingin makan satu saja. Aku tidak akan merusak suara ku."


Ujar Falery membuat pria itu akhirnya tersenyum tipis padanya. Membuat rona bahagia terpancar indah bersamaan dengan senyuman cantik diwajah Falery yang kian mengembang.


"Baiklah, hanya itu?" Falery mengangguk dan tersenyum puas, agaknya kakak tertuanya kali ini menyetujui sesuatu yang disukai Falery namun dilarang keras untuk karier nya.


"Kak" panggilnya dengan lembut.


"Heum" ujar Alan sambil menaikkan sebelah alisnya menatap Falery.


Falery kali ini tengah duduk di sebuah cafe diluar menghadap pada jalanan, terlihat beberapa dedaunan berlari bersama dengan angin yang membawanya. Membuat hawa dingin seperti sambutan pada musim yang hendak berganti.


"Apa kakak juga rindu Daddy?."


"Tentu saja, kita semua juga merindukannya, bukan hanya kau"


"Tapi kenapa Daddy tidak kembali?" lanjutnya dengan raut wajah kecewa.


Alan mendengus, dibelainya rambut sang adik yang kini tertiup angin, membuat helaiannya menutupi sedikit pipi merona Falery.


"Bukannya kau tau, kalau Daddy kali ini bertugas untuk negara? kita cukup beruntung dan bersyukur dengan kesehatannya, berdoa agar dia baik-baik saja san segera kembali pada kita" ucapan dari Alan membuat Falery tak bisa tenang, rasanya dirinya ingin sekali menyusul keberadaan sang ayah yang tak pernah berada disisinya.


Setelah sebulan Falery bangun dari koma, Thomas lah yang selalu memberikan perhatian bagai ayah yang selalu menyayangi nya setiap saat, membuatnya tak bisa melupakan sekejap mata abu-abu dari pria berdarah Amerika itu.


"Aku mengerti, tapi seharusnya ayah tidak perlu lagi bekerja. Biarkan aku yang menghidupinya kak, aku bisa menjadi dokter."


Ucap Falery dengan penuh keyakinan.


"Kau tak tau betapa ayah sangat berambisi dan bersemangat pada pekerjaannya ini."


Falery mendengus, punggungnya bersandar pada kursi membuatnya mengalihkan pandangan. Ada rasa lelah karena rindu pada sang ayah, dan ada rasa kecewa didalam dirinya tiap kali mengingat kebersamaan dari keluarga yang tak ia dapat semenjak memasuki sekolah menengah atas.


"Aku ingin pulang" ujar sang adik merengek dengan datar, membuat pria dihadapannya tersentak.


"Ice cream" lanjut pria itu menawarkan.


"Tidak perlu! aku hanya ingin Daddy" kata gadis itu yang kini berlalu pergi meninggalkan Alan yang masih duduk mematung.


Alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita hendak terjun dari sana, membuat gadis itu mengerutkan kening bersamaan dengan dadanya yang berdebar khawatir.


Falery berlari, tak dihiraukannya suara sang kakak yang berulang kali memanggil namanya.


"Permisi - permisi" ucapnya ditengah kerumunan yang menyesakkan.


"Orang itu sudah gila. Dia mau bunuh diri hanya karena orang yang ia cintai."


Kata salah satu orang yang membuat Falery tambah gencar untuk menaiki gedung itu. Gadis itu tampak berlari dengan sekuat tenaga, membuat beberapa orang memperhatikannya, namun Falery tampaknya tak perduli, dia hanya menuruti hati dan nalurinya.


Brakkkk


Hosh


Hosh


Hosh


Suara Falery tersengal oleh udara yang semakin sempit, membuat jantungnya ikut berlari bersamaan dengan keringat yang membasahi keningnya.


Terlihat beberapa orang yang telah berada didalam sana mencoba untuk membujuk wanita itu yang kini bersiap untuk terjun dari lantai 15.


"Hiks aku akan mati! pacar ku tidak mencintai ku lagi. Hiks hiks."


"Tenanglah nona, jangan berfikiran sempit, semua masalah pasti mempunyai solusi. Kau jangan bertindak nekat."


"Iya nona, turunlah" ucapan mereka bergantian membuat Falery mencoba mengatur nafasnya kembali.


Dua pria yang kini didalam ruangan itu masih mencoba membujuk wanita yang kali ini berdiri diatas balkon dengan menangis.


"Tuan" suara Falery membuat dua pria itu membalikkan tubuhnya menatap gadis yang kini dengan berani mendekati mereka.


"Biar aku saja yang membujuknya, kalian mundur saja."


"Tapi nona ini sangat berbahaya."


"Tidak apa, kami sama-sama perempuan, mungkin dia lebih mau mendengarkan ku jika aku yang mengajaknya untuk bicara."


Ucapan dari Falery membuat kedua pria itu mengerutkan keningnya. Ada keraguan dalam diri mereka, namun sekian detik kemudian mereka akhirnya setuju, mempersilahkan gadis itu untuk maju.


Dengan langkahnya gadis itu perlahan mendekati balkon yang menghadap pada jalanan dibawahnya.


"Hey!" teriakan dari Falery tak digubris gadis itu, membuat Falery semakin gencar mendekatinya.


"Kau adalah wanita dewasa, jangan bertingkah seperti anak kecil."


"Kau tak tau apa-apa. Aku akan lompat sekarang."


"Jika kau lompat, apakah kekasihmu akan kembali padamu?" kata Falery dengan senyuman liciknya.


Wanita itu hanya diam tanpa pergerakan.


"Kau adalah wanita, banyak pria yang mau padamu, dan kau hanya akan merugikan dirimu sendiri jika kau bertindak nekat. Apa kau fikir semua orang akan bersimpati padamu? apa kau fikir kekasihmu akan menyesal setelah kau mati?" Falery menggantung kata-katanya, membuat gadis itu menyeka air matanya yang kian deras mengalir.


"Kau hanya akan ditertawakan" lanjutnya dengan lantang.


"Cukup! kau tidak tahu betapa aku sangat mencintai dia dan dia hiks, dia memilih untuk memutuskan kami hanya karena perempuan sialan yang ia kagumi."


Falery mendengus, dirinya dengan perlahan ikut menaiki balkon dengan hati-hati, membuat dua pria dibelakangnya terkejut dan mencoba untuk menahan gadis itu, namun Falery menggeleng, memberikan isyarat bahwa dirinya akan baik-baik saja.


"Kalau begitu, tunjukkan padanya, jika kau bisa menemukan yang terbaik darinya."


Wanita itu akhirnya menoleh, menatap Falery dengan ekspresinya yang berubah menjadi sorotan tajam dan aura kebencian.


"Mari kita turun" ucapan dari Falery seperti tak digubris oleh wanita itu, dirinya dengan sengaja malah mendekat kearah Falery.


"Kau, kau adalah wanita jahat itu. FALERY GILBERT! KAU YANG HARUSNYA MATI!" teriak gadis itu dengan brutal.


Falery mundur selangkah, ia hendak turun dari balkon, namun gerakannya kalah cepat oleh gadis itu yang mendorongnya, membuatnya terlempar dan terjun dari ketinggian gedung.


"Aaahh... DADDY..!!"