The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hawa dingin



Malam tiba dengan angin yang berhembus dingin melewati celah celah pintu rumah yang hangat bersama dengan orang orang didalamnya.


Zayn tengah mencairkan suasana hatinya dengan secangkir kopi yang kini disediakan oleh sang mommy padanya, di sesapnya kopi beraroma khas itu. Pakaian sweater dengan sarung tangan yang ia pakai kini menjadi lengkap dan hangat tatkala hawa dingin mulai menerpa.


"Zayn, dimana adikmu?" suara berat sang ayah membuat pandangannya menengadah, memperhatikan sosok pria paruh baya yang kini bersiap untuk duduk menikmati secangkir kopi bersamanya tepat di meja makan dengan berbagai makanan hangat yang telah terhidang.


"Aku tak melihatnya dad, mungkin dia masih diatas" ujarnya, membuat sang ayah hanya bisa menghela nafas kemudian bangkit kembali dan membawa secangkir kopi dan secangkir coklat panas.


"Dad, kemana?" sebuah pertanyaan dari sang putra membuat Thomas menghentikan langkahnya, dan tersenyum pada Zayn.


"Ini adalah urusan ayah dan anak perempuannya kau takkan mengerti."


"Daddy, kau ini menganggap ku seperti anak tiri saja" ujar Zayn yang hanya mendapat kekehan dari Thomas yang kini mulai melangkah kembali.


Dimalam yang sepi tanpa hiburan yang berarti, bintang seperti tak terlihat namun tergantikan oleh bola kecil yang dingin. Lampu jalanan menghiasi sebagian kompleks perumahan dengan berbagai ornamen natal yang hampir lekas dirayakan terkecuali rumah besar ditengah permukiman mereka.


Falery memetik gitarnya, dengan pakaian biasa tanpa jaket ataupun syal sedikitpun. Blangkon atas merupakan tempatnya untuk berbagi kesunyian dan juga perasaannya yang tengah kacau. Gadis itu merasakan hawa dingin, bersamaan dengan angin yang berhembus melewati wajahnya yang kini tertiup angin, rambutnya melambai dengan lembut.


"Nak" suara itu membuat Falery menghentikan aktivitasnya, sedang matanya tetap tertuju pada pemandangan yang tak dapat ia nikmati lagi.


Thomas meletakkan dua cangkir minuman hangat yang ia bawa, menggeletakkan nya diatas meja tepat dihadapan Falery.


"Daddy" buru-buru gadis itu menghapus sebagian air matanya yang sedikit berlinang dsn meletakkan gitarnya. Thomas melepaskan jaketnya, dipakaikannya jaket itu pada Falery yang kini tersenyum hangat padanya.


Thomas ikut tersenyum, menarik kursi dengan perlahan sambil mendekat kearah Falery.


"Ada apa?" pertanyaan itu membuat Falery menggeleng, sebuah rasa bimbang, kini tumbang oleh sang ayah yang kini setia menemani.


Falery kembali tersenyum, gadis itu meraih cangkir coklat yang berada dihadapannya, menyesapnya dengan perlahan.


"Coklat yang nikmat" ujarnya, membuat sang ayah menggeleng dan kembali mendekat, menepuk pundak gadis itu.


"Kau tidak perlu mengalihkan perhatian ku, kau cukup bercerita dan aku akan menjadi pendengar setia, jika aku bisa memberikan mu sebuah saran, maka aku akan berikan, jika kau tak mampu menerima saran dariku, maka aku akan menerimanya dengan lapang."


Falery tak berani menatap lurus sorot mata sang ayah, ia takut jujur pada Thomas akan kebimbangan hati yang ia rasakan.


Gadis itu terdiam dengan matanya yang masih mengarah pada jalanan didepan.


"Dad, apa kau tau bagaimana masa keciku?" pertanyaan itu membuat Thomas membulatkan matanya, bibirnya kelu ketika hendak berbicara, ada rasa bersalah ketika ia harus berbohong, namun rasa kecewa ketika ia harus mengkhianati kepercayaan akan dirinya sendiri.


"Untuk apa kau bertanya seperti itu nak?."


Falery menghembuskan nafas panjangnya, gadis itu bangkit dan menyentuh sisi balkon yang terdapat bunga-bunga kecil disana.


"Aku hanya ingin ingat semuanya dari awal, aku lelah melupakan semua ini, ketika aku lupa, kalian seperti asing bagiku, mungkin ketika kau mau menceritakan betapa bahagianya aku ketika kecil, aku akan selalu senang dan gembira, bukankah begitu?."


Thomas mendengus, langkahnya bangkit untuk meraih pundak sang anak yang kini masih enggan menatapnya.


"Nak, aku tau apa yang kau rasakan, tapi ada beberapa hal yang tidak kau ketahui tentang masa kecilmu. Foto dan segala media yang kita simpan sudah lama hilang."


Falery menaikkan sebelah alisnya, ia seperti ragu oleh kata-kata sang ayah. Gadis itu tak yakin dengan pengakuan Thomas padanya.