The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Setelah sekian lama



"Papa, baru aja keluar dari rumah sakit" ujarnya membuat Hengky membelalakkan matanya.


"Serius lo? sakit apa?" pertanyaan itu kembali membuat Reyhan menggeleng. Tatapannya sendu dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


"Jantung Ky, papa baru aja di operasi" kata Reyhan dengan suaranya yang lemah membuat Hengky sedikit terkejut dengan perkataan Reyhan barusan.


Pandangan sendu kini menyelimuti wajah Reyhan yang sebelumnya terasa tenang, hal itu membuat Hengky merasa bersalah. Pria itu mencoba untuk menghibur Reyhan yang kini terlihat amat kacau dengan keadaannya.


"Maaf kak, aku nggak bermaksud. Tapi sekarang om Rey udah sembuh dong, boleh aku jenguk?" pertanyaan itu membuat Reyhan mendongak, ia tersenyum dan mengangguk tatkala Hengky berinisiatif untuk menjenguk sang ayah.


Meskipun dulunya Hengky sangat membenci Reyhan, tapi dengan pertemuannya tempo hari dengan Reyna membuat perasaannya tergugah. Bisa saja semuanya hanyalah salah faham, memang semenjak meninggalnya gadis itu, Hengky tidak lagi bertemu dengan Reyhan. Bahkan ketika mereka bertemu, rasa canggung juga senyum nanar maupun sinis ditujukan keduanya. Kini Hengky menyadari, sebenarnya tiada yang salah dari diri Reyhan, pasti ada sesuatu yang terjadi dalam keluarga mereka. Terlebih lagi sebelum datangnya Keyla kala itu, Reyhan begitu sayang dan sangat melindungi adik satu-satunya itu.


Meskipun Hengky tidak pernah tau apa yang terjadi, namun hampir enam tahun berlalu ia selalu saja berfikir dan terus mencari jawaban. Sampai suatu ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Reyna masih hidup dan berada dihadapannya setelah sekian lama ia meninggal.


Ceklek.


Suara itu mengfema didalam sebuah rumah yang cukup besar namun sederhana. Reyhan kini mempersilahkan Hengky masuk, meskipun ada rasa sedikit canggung diantara keduanya namun tak dapat dipungkiri bahwa Hengky sebenarnya tak serta merta membenci Reyhan.


"Masuk Ky, maaf ya rumah agak berantakan" ujar Reyhan membuat Hengky mengangguk dan mengikuti instruksi Reyhan yang kini mempersilahkan padanya untuk duduk.


"Kamu mau minum apa?" pertanyaan itu membuat Hengky mendongak, ia yang semula menatap seluruh ruangan kini tersentak oleh tawaran dari Reyhan padanya.


"Ah, nggak usah repot-repot kak, tadi di cafe aku udah minum kok" kata Hengky merasa canggung.


"Santai aja, kamu dulu kan juga sering main ke sini. Anggap rumah sendiri" kata Reyhan membuat Hengky sedikit terkejut karena memang benar dulunya ia sering ketempat itu menemui sahabatnya.


"Kalo gitu rerserah kakak aja deh" ujar Hengky membuat Reyhan mengangguk.


"Ya udah tunggu disini dulu" kata Reyhan membuat Hengky mengangguk patuh.


Ketika Reyhan tekah menjauh menuju dapur Hengky menatap seluruh ruang tamu itu. Tiada yang berbeda dari dulu, sofa, meja, korden semuanya masih sama, mengingatkannya pada sosok yang selalu menjadi pujaannya. Hengky menghela nafasnya, sejujurnya ia merindukan Reyna, entah mengapa? bagaimana? ia sendiri tak tau tentang semua rahasia yang berada dibalik semua pertanyaan dalam fikirannya.


Hengky menatap sebuah nakas diujung sofa, sebuah foto diatasnya serta vas bunga mempercantik tampilannya. Reyhan perlahan mendekat, ia melihat sendiri sebuah potret keluarga yang membuat hatinya tersentuh.


Reyhan, Reyna, Reynaldi dan juga Almira, mereka begitu bahagia. Mungkin ini adalah kenangan terakhir sebelum Reyna kehilangan keluarganya dan momen dimana ia merindukan kenangan ini juga. Hengky merasa aneh, fikirannya kembali berkecamuk sesaat kala mengingat betapa Reyhan membenci Reyna dan ibu kandungnya. Taoi mengapa foto ini malah dipajang di ruang keluarga. Tempat dan bagian terpenting untuk mereka. Seharusnya, kini Reynaldi telah menikah dengan Cintya dan yang ada didalam frame tersebut adalah Keyla bukan Reyna.


"Ky?" tiba-tiba suar Reyhan membuat Hengky mengembalikan foto tersebut ketempat semula. Ia merasa gugup, dan segera duduk kembali membuat Reyhan menggeleng.


"Ma, maaf kak" kata Hengky membuat Reyhan tersenyum dan mengangguk.


Reyhan segera meletakkan dua gelas jus jeruk dimeja. Ia beralih duduk dan mempersilahkan Hengky untuk meminum jus tersebut.


Perlahan Hengky meneguk minuman tersebut, ia kembali menatap ruang tamu tersebut. Dilihatnya frame yang terpampang di salah satu dinding, ia tercengang bukan main kala foto keluarga mereka lagi dan lagi terpampang disana. Hengky enggan membahasnya, lagi pula ia belum terbiasa dengan pembicaraan mereka sebelumnya. Mengingat temperamen Reyhan, Hengky memilih bungkam daripada membahas Reyna yang malah takutnya membuat pria itu tersinggung.


"Kak, om Rey mana?" pertanyaan itu membuat Reyhan mendongak dan melirik pria dihadapannya.


"Udah tidur Ky, aku sengaja bawa papa pulang biar bisa istirahat dirumah."


"Loh kak, bukannya baru kemarin om Rey dioperasi kok udah dibawa pulang aja. Maaf kak, kalo boleh tau, apa ada masalah?" pertanyaan itu membuat Reyhan tersenyum nanar seraya menggeleng. Sejujurnya ia enggan mengatakan masalahnya pada Hengky, ia memilih menyimpan masalahnya sendiri daripada harus membagi kesedihannya dan orang lain merasa kasihan terhadapnya.


"Kak, kalau ada masalah cerita aja. Nggak perlu ditutup-tutupi, kali aja aku bisa bantu beban kakak. Meskipun nggak bisa bantu, setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik buat kak Reyhan" kata Hengky yang kini mulai membuka hatinya, melihat ekspresi Reyhan yang terlihat mempunyai beban.


Reyhan hanya menggeleng, ia menyandarkan punggungnya disofa. Ia masih ragu harus bercerita atau mempertahankan kebungkamannya. Reyhan mengusap kasar wajahnya, ia perlahan luluh dengan tatapan Hengky yang terlihat tulus dan bersahabat.


"Maafin gue ya Ky, dari dulu gue punya banyak salah sama lo" ujar Reyhan tiba-tiba membuat Hengky tersenyum.


"Aku juga minta maaf sama kakak, dari dulu aku selalu nggak sopan. Padahal aku pernah bilang kalo kak Reyhan udah aku anggap kaya kakak sendiri" kata Hengky yang kini menjulurkan tangannya.


Tatapan Reyhan kini beralih pada tangan Hengky, kemudian pria itu tersenyum lembut seraya menyambut jabatan tangan dari Hengky.


***


Malam semakin larut, bahkan jam menunjukkan pukul sembilan. Kini Hengky dan Reyhan mereka duduk didepan teras, menikmati cerahnya malam bertabur bintang dan bulan purnama yang nenambah indah malam itu.


"Kakak tenang aja, aku bakal bantu cariin kerja buat kakak. Ditempat perusahaan aku kerja aku bakal usahain buat tanyain lowongan ke kakak" kata Hengky membuat Reyhan kini melirik pria disampingnya seraya mengangguk.


"Makasih ya Ky, gue udah banyak salah sama lo, tapi disaat kaya gini lo malah bantuin gue. Gue ngerasa malu" ujar Reyhan yang terlihat tatapannya menunduk, menyesali apa yang ia lakukan pada Hengky waktu lalu.


"Kita udah baikan, dan sebenernya aku nggak dendam kok sama kak Rey."


Reyhan menghela nafasnya, ia tidak salah menceritakan bebannya pada Hengky. Mengingat tiada yang bisa mendengar apa yang ia rasakan saat ini. Meskipun ia sendiri tidak mau membahas Reyna.


"Ini semua salah gue Ky, gara-gara gue perusahaan jadi bangkrut, dan papa sampai masuk rumah sakit. Gue bener-bener nggak berguna Ky" kata Reyhan yang kini mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Hengky menyentuh punggung Reyhan, ia menggeleng untuk menenangkan hatinya.


"Semua yang kita lalui pasti ada hikmahnya kak, kakak jangan nyalahin diri sendiri. Yang terpenting kita masih bisa memperbaiki kesalahan yang kita lakukan, itu lebih baik daripada menyesal sampe lupa buat memperbaikinya" kata Hengky dengan tatapannya yang penuh dengan sisi positifnya.


Memang Bean apa yang dikatakan Hengky, lebih baik memperbaiki keselahan, daripada harus menyesalinya. Karena apapun yang kita perbuat sebagai manusia biasa tidak pernah luput dari kesalahan-kesalahan yang ada. Yang perlu ia lakukan adalah memperbaikinya dan menyimpan perasaan positif dalam kehidupan sehari-harinya.


"Makasih ya Ky, gue sekarang paham, gue aja nggak tau mau cerita sama siapa. Tapi sekali lo dateng, gue jadi sadar" kata Reyhan yang kini menyentuh punggung Hengky.