
Seisi kantor dibuat heboh oleh kelakuan Novi yang baru saja membuat ulah. Mana ada orang yang percaya jika Reyhan telah menodainya, sebelumnya sudah banyak beredar jika dirinya memang telah menjadi ayam kampung bagi para atasan seperti manager yang umurnya sudah diatas lima puluh tahun. Tapi selera Reyhan tidaklah serendah itu.
"Si Novi berani banget pegang tangan pak Reyhan kaya gitu, ih pakek nuduh pak Reyhan segala lagi"
"Iya, emang dia pikir kita nggak tau kalau sebelumnya pak Reyhan itu cuma terpaksa aja deket sama dia, dilihat dari wajah pak Reyhan aja dia nggak ada suka-sukanya tuh dari awal sama si Novi, emang dasar ayam kantor kegatelan aja" bisik-bisik itu terdengar ditelinga Novi. Emosinya memuncak kali ini, padahal awalnya ia ingin mempermalukan Reyhan, agar semua orang mendukungnya dan Reyhan terpaksa bertanggungjawab. Namun kali ini, dirinya amat sial, sudah jatuh, ketiban tangga pula.
Bahkan sedikitpun ia tak menyangka jika Reyna akan melabraknya seperti ini. Apesnya lagi sekarang dia telah dipecat dari sana. Novi membalikkan tubuhnya, ia menatap orang-orang yang kini bergumam dengan sumpah serapah terhadapnya. Mereka bertiga pun membalikkan tubuh untuk kembali pada rutinitas pagi dan tak memperdulikan Novi yang kini berjalan dengan langkah kesal itu
Dilain sisi semua orang ramai memperhatikan Novi dengan tatapan sinis. Banyak yang bersyukur karena tidak ada saingan curang lagi dalam pekerjaan mereka. Sementara itu tatapan Novi beralih menatap gadis yang kini membelalakkan matanya terhadapnya. Tak menyangka sekaligus kesempatan menguntungkan baginya untuk balas dendam terhadap Reyhan. Novi berjalan kearah Kanaya yang kini berdiri mematung bersama kedua temannya Luna dan Cindy, Novi hendak keluar dari sana, namun sebelum langkahnya mendekati pintu, ia menarik lengan Kanaya seraya membisikkan kata-kata yang membuat gadis itu menunduk.
"Kalo lo mau kejelasan yang sejelas-jelasnya, ikut gue" ujar Novi dengan senyuman penuh arti. Kanaya masih tak mengerti, apalagi rencana Novi kali ini. Padahal niatnya tadi hendak menemui Reyna, sahabat SMA nya dulu. Hal ini semua seperti diluar dugaan, meskipun ia sempat bingung dengan keberadaan Reyna, tapi ia percaya jika Reyna akan menjelaskan padanya. Namun tanpa disangka semakin Kanaya menghindar, semakin kuat cengkraman Novi pada lengannya.
"Gue nggak mau! lepasin!"
"Lo bakal nyesel kalo lo nggak dengerin apa yang bakal gue bilang ke elo" Kanaya mengerutkan keningnya ketika Novi tersenyum penuh arti mengancamnya.
"Apa lo kira Reyna yang sekarang adalah Reyna yang dulu?" kata-kata itu membuat ronta Kanaya merenggang, pandangannya kini sedikit merendah memikirkan apa yang dikatakan Novi barusan.
"Lo ngapain narik tangan Kanaya? masih nggak tau diri hah!" kata Cindy yang kini naik pitam oleh perlakuan Novi yang membuat temannya satu itu seperti tertekan. Sedangkan Kanaya masih terdiam, pandangannya kosong tanpa peduli Cindy yang kini membelanya.
"Gue ada urusan sama dia, kenapa lo yang sewot!" ujar Novi membuat Cindy semakin geram dibuatnya. Cindy menarik lengan Kanaya sebalah kiri membuat cengkraman Novi menguat.
"Gue nggak bakalan biarin temen gue masuk kedalam trik busuk lo itu!" kata Cindy yang kini mulai terbawa emosi dengan rivalnya itu. Namun bukan malah mengikuti Cindy, Kanaya malah mengatakan sesuatu yang membuat Cindy terkejut.
"Gue ada urusan sama Novi, maaf Cin gue harus pergi sebentar" kata Kanaya yang masih menatap ubin lantai dengan pandangannya yang sulit untuk ditebak. Perlahan cengkraman Cindy melemah, diikuti tarikan kasar dari Novi membuat gadis itu melangkah mengikuti permainan gadis itu.
"Nay, lo bodoh banget sih jadi cewek mau aja lo berhubungan sama cewek uler kaya dia!" teriak Cindy dengan sumpah serapahnya. Sudah lama ia ingin memaki perempuan itu, namun baru sekarang tersampaikan. Sedangkan dari samping Luna menahan tubuh Cindy untuk tetap sabar, karena bagaimanapun mereka masih ada di kantor, tidak baik jika dilihat orang-orang.
***
"Lo mau ngomongin apa?" pertanyaan itu membuat Novi menyunggingkan senyum miringnya. Kali ini mereka berada di halte depan kantor, cukup sepi jam seperti ini karena memang sudah mulai jam kerja.
"Yang lo denger tadi nggak salah Nay" kata Novi yang kini duduk agak berjauhan dari Kanaya yang kini menunduk dengan pandangan matanya yang heran akan perkataan Novi barusan.
"Maksud lo apa Nov? yang gue denger yang mana?" tanya Kanaya yang memang masih bertanya-tanya akan perkataan Novi yang penuh makna.
"Gue sama Reyhan emang udah pernah ngelakuin itu, waktu lo terakhir masuk kerja sebelum masuk rumah sakit itu, Reyhan nganterin gue sampai apartemen. Waktu gue mau masuk kamar, gue kira Reyhan udah keluar dan pulang, tapi ternyata, dia dari belakang meluk gue Nay" kata Novi seraya terisak. Jujur hati Kanaya benar-benar terusik dan sakit mendengarnya, namun ia tak percaya begitu saja. Mana mungkin Reyhan melakukan hal seperti itu, apalagi dia pernah berpesan, bahwa jangan menilai dari apa yang terlihat.
"Hem, terus maksud lo apa ngasih tau ke gue kaya gitu? lo berharap gue bakal percaya terus gue kesel? gue juga nggak ada hubungan apa-apa sama Reyhan, jadi mau setajam apa ngomong lo, gue juga nggak bakal perduli" kata Kanaya seraya hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Gue nggak perduli lo mau percaya atau nggak, tapi kalau sampai gue hamil-" suara itu terhenti kala mata Kanaya terlihat membulat. Kini senyuman Novi mulai mengembang, baru saja dibohongi dengan bumbu sedikit kejam, tapi bodohnya Kanaya percaya begitu saja.
"Gue nggak tau apa yang harus gue lakuin kalau Reyhan nggak mau tanggung jawab."
"Itu bukan urusan gue, dan gue nggak ada waktu buat bahas hal yang nggak penting dan nggak ada hubungannya sama gue. Gue permisi!"
"Tunggu Nay!" belum sempat Kanaya berjalan, Novi dengan cepat menarik lengan Kanaya hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Gue minta tolong sama lo, lo sahabatan kan sama Reyna, gue minta tolong kalau Reyhan nggak mau tanggungjawab gimana nasib anak gue? Reyna adiknya Reyhan Nay, dan lo juga sahabatnya, gue kira omongan lo seenggaknya bakal didengerin, itupun kalo Reyna masih inget sama lo" kata Novi yang kini mulai tersenyum kembali penuh arti.
"Lo denger sendiri kan tadi Reyna bilang apa, semenjak dia jadi orang hebat dan Reyhan juga ikutan, mereka jadi sombong, lo denger sendiri kan Nay. Gue harap lo nggak bernasib sama kaya gue kalo nggak" sambung Novi penuh panjang lebar membuat telinga Kanaya semakin memanas saja. Kanaya menghempaskan lengannya yang masih dicengkeram oleh Novi dan akhirnya kini ia dapat bebas juga dari jeratan wanita paling menyebalkan itu.
Kanaya melangkahkan kakinya tanpa mau menatap Novi yang kini tersenyum penuh kemenangan seraya melipat tangannya.