The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Telfon



"Ka, Kak Reyhan!" suara itu terdengar lembut untuk kesekian kalinya ditelinga Reyhan. Bahkan dalam seminggu ini, ia selalu menunggu Kanaya untuk menghubungi dirinya.


"Kanaya, kamu apa kabar?" tanya pria itu dengan nada seperti biasa. Meskipun hatinya berbunga-bunga, tapi begitu malunya dirinya jika Kanaya mendengar debaran jantungnya yang semakin mengencang itu.


"A-aku baik kak, kak Reyhan sendiri gimana?" pertanyaan itu seolah membuat Reyhan senang tiada henti. Ternyata Kanaya gugup, terlihat dari bicaranya saja yang gagap. Bisa Reyhan tebak jika saat ini Kanaya tengah tersipu dengan pipinya yang memerah seperti tomat itu.


"Baik juga, maafin aku ya kemarin aku belum sempat jenguk kamu"


"Ah nggak apa-apa kok kak, santai aja. Hemm gimana kerjaan kakak seminggu ini?" pertanyaan itu membuat senyum Reyhan bertambah lebar saja. Setelah sebelumnya ia khawatir tanpa ujung, kini dirinya mendengar sendiri betapa manisnya suara gadis itu disebrang sana.


"Lancar, cuma-" suara Reyhan terdengar menggantung, membuat Kanaya menaikkan sebelah alisnya.


"Cuma?" tanya Kanaya yang memang kini dipenuhi tanda tanya didalam kepalanya.


"Nggak apa-apa, cuma kurang semangat aja, soalnya ada yang bikin aku kepikiran terus" kata Reyhan yang kini mencoba menggoda gadis disebrang sana itu.


Kanaya menaikkan sebelah alisnya, ia menimbang-nimbang sejenak, apa gerangan yang membuat Reyhan begitu kepikiran. Bukannya selama ini Reyhan adalah tipe profesional jika soal pekerjaan? kenapa tiba-tiba berbeda. Sejenak Kanaya menghela nafasnya, wajahnya yang menunjukkan semburat bahagia kini berubah menjadi sedikit murung.


"Kakak ada masalah sama Novi ya?"


"Kok Novi sih?!" sejenak Kanaya membulatkan matanya. Apa yang salah dari pertanyaannya? bukannya memang benar jika Reyhan sekarang pacaran dengan Novi.


"Semua orang juga udah tau kok kalo kakak sama Novi pacaran, kalian juga mau tunangan kan? selamat ya kak" kata Kanaya yang kini mencoba untuk tersenyum meskipun sebenarnya dihatinya memberontak untuk marah pada Reyhan. Reyhan hanya bisa menahan tawanya saja saat ini, jika saja ia didepan Kanaya pasti Kanaya akan kesal habis-habisan. Reyhan menutup mulutnya sejenak yang hendak tak tahan mengeluarkan tawa, ia kemudian menggaruk kepalanya dan mengibaskannya ke belakang.


"Kamu tau darimana aku sama Novi udah sejauh itu?" kata Reyhan membuat Kanaya kini hanya bisa terdiam dengan pipinya yang memerah.


"Aku-aku cuma" suara Kanaya terhenti kala Reyhan tiba-tiba menyela kalimatnya dengan suaranya yang begitu lembut itu.


"Nay, apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan apa yang kamu pikirkan. Aku bisa jelasin ke kamu semuanya, aku cuma butuh waktu dan tempat supaya kita bisa ngobrol berdua" Kanaya membulatkan matanya, benarkah Reyhan yang menelfonnya kali ini? apakah benar Reyhan masih semanis ini padanya. Rasanya Kanaya ingin berteriak saja jika dirinya tengah sendiri dirumah.


"Kak, se-sebenernya aku"


"Nay! makan yuk! makanannya udah siap loh!" suara dari balik pintu kamar membuat Kanaya yang sebelumnya hendak mengatakan sesuatu kini terhenti oleh suara lantang dari mamanya yang kini mengajaknya untuk makan siang.


"Kak, maaf, kita lanjut nanti ya, aku dipanggil mama" ujar Kanaya yang terdengar buru-buru membuat Reyhan menggeleng seraya tersenyum.


"Aku akan nunggu kamu kok, kita lanjut chattingan aja ya" ajak Reyhan membuat Kanaya semakin tersipu dibuatnya. Gadis itu buru-buru mematikan ponsel sebelum jantungnya meledak karena perasaannya sendiri.


Kanaya kini memukul kepalanya berulangkali, wajahnya masih memerah dengan senyuman malu karena perkataan Reyhan yang begitu manis itu. Apa dia siap untuk berharap lagi? ataukah Reyhan hanya mempermainkannya saja, bahkan Kanaya tak tau.


Kanaya keluar dari kamarnya, ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan untuk menyusul Mama dan Angga. Senyuman manis diwajah cantiknya itu tak dapat disembunyikan lagi, apalagi pipinya yang masih merona karena perkataan Reyhan lewat telfon tadi. Terlihat Angga yang kini duduk disebelah mama menatap heran pada gadis yang amat ia cintai itu, matanya menatap cemburu, padahal selama mereka jalan berdua Kanaya tidak pernah sedikitpun menampakkan wajah semanis dan semerah itu. Entah mengapa fikiran Angga tiba-tiba saja terganggu, memikirkan siapa yang sebelumnya ditelfon oleh Kanaya baru saja ini.


"Eh eh, anak mama kok senyum-senyum terus dari tadi? kenapa kamu Nay?" sontak saja perkataan Mama yang tiba-tiba membuat Kanaya membulatkan matanya. Setengah malu dan dirinya melirik Angga yang terlihat menatapnya tak suka.


"Masalah kerjaan aja kok ma, oh ya besok Kanaya mau masuk kerja, udah seminggu ambil izin, nggak enak sama temen-temen yang lain"


"Kamu bukannya mau resign Nay?" pertanyaan dari Angga membuat Kanaya dan Mamanya menoleh kearahnya. Memang sebelumnya Kanaya hendak resign dan memilih untuk menganggur beberapa bulan. Tapi itu semua masih wacana, belum ada kepastian maupun kemantapan dari Kanaya sendiri.


"Bener kamu mau resign?" ulang Mama membuat Kanaya mengernyitkan keningnya menatap Angga yang dengan santainya meneguk air putih didepan matanya.


"Iya ma, tapi masih rencana aja kok, tapi Kanaya pikir-pikir lagi kalau nganggur nanti lama-lama Kanaya pasti bosen juga, belum lagi cari kerjaan itu susah" kata Kanaya yang kini meyakinkan Mamanya agar tidak bertanya lebih lanjut.


"Aku udah bilang sama kamu Nay, kamu nggak perlu kerja, nanti kalau kita nikah biar aku yang kerja aja" kata Angga membuat Kanaya menghela nafasnya seraya memutar bola matanya.


Padahal Kanaya ingat beberapa hari lalu, dirinya dan Angga sudah sepakat untuk lebih mengenal satu sama lain dan jangan menyinggung masalah pernikahan jika didepan orang tua. Karena Kanaya sendiri sudah menegaskan dengan jelas bahwa dia belum bisa menaruh hati pada sahabatnya itu.


"Nah tuh calon suami kamu aja udah bilang gitu" ujar Mama yang kini mengambil nasi dan beberapa lauk untuk dimakan.


"Aku juga belum nikah kok, umur aku masih 22, aku masih mau kerja juga, jadi kamu jangan ngatur-ngatur aku Angga, aku nggak suka" ujar Kanaya terang-terangan seraya mendorong kursinya dan beranjak dari meja makan.


"Aku udah nggak selera makan, permisi" kata Kanaya yang kini memang sebal oleh perkataan Angga yang melanggar peraturan mereka sebelumnya.


Kanaya memang tidak mengenal Angga yang sekarang, yang ia kenal adalah Angga yang masih kecil dulu. Darimana Kanaya bisa tau sifat luar dalamnya seperti Angga, bahkan selama mereka berdua menjalani pendekatan Angga tidak menunjukkan sisi kekurangannya. Kanaya memang patut curiga, karena bagaimanapun ia tak ingin bernasib sama dengan wanita-wanita diluar sana, sebelum menikah mereka merasakan manisnya, tapi setelah menikah pasangan mereka bertindak kasar, berkata-kata yang tidak baik dan seolah menunjukkan aslinya setelah bersama. Kanaya tidak mau seperti itu, toh jika saja Kanaya bersedia menikah dengan Angga, ia harus tau dulu kekurangan Angga agar dirinya kelak bisa menghadapinya.