The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Calon suami Kanaya



"Sya, jangan Sya, sayang! ah!" teriak Reyna kala dirinya kini sudah berbaring diatas sofa dengan Yasya menindih tubuhnya.


"Aku udah nggak kuat nih, cari hotel yuk!" ajak pria itu membuat Reyna memelototkan matanya, ia kemudian meraih pundak Yasya dan mendorongnya membuat Yasya kini beralih duduk dan masih sempat menarik pinggang Reyna membuat tubuh mereka menyatu.


"Bentar lagi Sya! ih nggak sabaran deh!" kata Reyna kesal seraya mencubit perut pria dihadapannya itu membuat Yasya meringis kesakitan. Yang benar saja, Yasya ingin melakukannya di luar nikah, bagaimanapun juga Reyna akan mempertahankan kesuciannya, dan itu demi Yasya. Bukan ia tak percaya, tapi Reyna memilih jalan yang benar sebelum hari itu datang.


"Kenapa sayang? hemm?" kata Yasya yang kini menenggelamkan wajahnya tepat dibawah belahan gaun yang hampir terbuka itu. Hal itu membuat Reyna geli setengah mati. Tidak, jika Yasya dibiarkan nanti mereka pasti lama kelamaan akan berbuat sesuatu yang lebih, daripada terlanjur lebih baik Reyna bertindak dari sekarang.


"Yasya, dengerin aku Sya" kata Reyna seraya menarik wajah Yasya dari dadanya itu. Ia tersenyum kemudian memeluk tubuh Yasya, ia tau hasrat Yasya kini sudah tak tertahankan, tapi bagaimanapun juga kegiatan mereka harus dihentikan sebelum terlambat.


"Kenapa Rey? kenapa tiba-tiba meluk? aku belum puas" ujar Yasya dengan nada kesal membuat Reyna mendongak menatap pria itu.


"Kamu cinta kan sama aku?" pertanyaan itu membuat Yasya mengangguk seraya masih menunjukkan ekspresi kesalnya membuat Reyna saat ini hanya bisa menahan tawa saja.


"Aku tau kamu nggak akan ngerusak aku sebelum aku sah jadi milik kamu, aku percaya sama kamu kalau kamu nggak akan lakuin itu kan?" Yasya menghela nafasnya, ia mengusap kasar wajahnya seraya menggaruk rambutnya. Bisa frustasi ia jika dirinya selalu termakan oleh hawa nafsu.


"Tapi Rey-"


"Yasya, kamu cinta kan sama aku?" tanya Reyna lagi untuk meyakinkan Yasya kembali. Dulu saat Reyna masih duduk dibangku SMA ia juga hampir menodai Reyna, jika saja hasratnya tidak ia tahan.


'Sudahlah Sya, tahan bentar lagi" kata Yasya menyemangati diri membuat dirinya tersenyum pada Reyna dan mencium lembut bibirnya sekilas.


"Aku sabar kok, aku bakal nunggu Rey, tapi-"


"Tapi apa?!" sejenak Reyna lega, namun perkataan Yasya membuat hatinya berdebar kala ucapannya menggantung dengan senyuman penuh arti darinya.


"Aku pengen malam pertama kita nanti, akan jadi malam terindah. Kamu siap kan buat aku seneng dan layani aku?" pertanyaan Yasya membuat Reyna menelan ludahnya kasar. Pasti ada apa-apanya, Reyna benar-benar tak mengerti, lagipula ia tak berpengalaman soal itu. Reyna tersenyum, ia mengangguk pada Yasya yang kini tersenyum hangat padanya.


***


Malam telah tiba, kini Reyhan tengah fokus berkendara, ia membelah jalanan kota yang penuh sesak dengan Kanaya yang tengah tertidur disampingnya. Kini ia menghentikan mobilnya kala lampu merah menyala, tatapannya tiba-tiba beralih pada gadis yang tengah terlelap dalam mimpinya. Perlahan jemari Reyhan bergerak menyentuh pipi Kanaya pelan, takut ia membangunkan tidurnya yang damai.


Ia tersenyum, senyuman yang tak dapat diartikan kebahagiaannya. Saat lampu hijau kembali menyala, tak lama Reyhan menjalankan mobilnya lagi menuju rumah Kanaya untuk mengantarnya sebelum malam semakin larut.


Pukul 20.00, sebuah mobil berhenti tepat didepan gerbang rumah Kanaya. Perlahan Reyhan melepaskan sabuk pengamannya kemudian ia beralih melepaskan sabuk pengaman milik gadis itu. Namun belum sempat sabuk itu terlepas, Kanaya tiba-tiba menggeliat, perlahan matanya terbuka kala Reyhan berusaha meraih sesuatu dari ujung jok mobil Kanaya. Mata mereka saling bertemu, begitupun dengan Kanaya yang kini memejamkan matanya kala Reyhan tiba-tiba semakin mendekati wajahnya.


"Kamu kenapa?" pertanyaan itu membuat Kanaya membuka matanya lebar-lebar, ia sedikit terkejut dengan gerakan mata Reyhan yang terlihat bertanya-tanya.


"Hah?"


"Aku cuma mau ngelepas ini kok" ujar Reyhan seraya mengangkat sabuk pengaman yang ia pegang. Seketika wajah Kanaya memerah, baru saja ia memikirkan sesuatu yang memalukan. Reyhan hanya bisa menahan tawanya, sebenarnya ia paham apa yang dipikirkan oleh gadisnya, namun tidak apa, ia suka jika Kanaya berfikir begitu.


"A-aku, aku permisi dulu kak" kata Kanaya yang kini buru-buru membuka pintu mobil, namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya kala lengannya tiba-tiba ditarik oleh Reyhan dengan sengaja.


Satu kecupan lembut mendarat dibibir Kanaya membuat matanya kini membulat sempurna. Jantungnya berdegup kencang seolah terkejut dan bahagia bersamaan.


"Lain kali kalo kamu pengen, kamu tinggal minta, nggak perlu malu-malu" ujar Reyhan seraya berbisik membuat Kanaya menelan ludahnya dan sedetik kemudian ia menunjukkan wajah kesalnya.


"Ih kak Reyhan, apaan sih!" kata Kanaya seraya memukul pelan dada bidang pria dihadapannya seraya menyembunyikan wajahnya yang kini merona. Kanaya kini buru-buru keluar dari mobil, dan ia berlari menuju depan gerbang rumahnya.


"Sayang!" suara Reyhan membuat Kanaya membelalakkan matanya, ia membalikkan tubuhnya seraya tersenyum malu-malu.


"Aku cinta sama kamu!" teriak Reyhan lagi membuat Kanaya buru-buru membalikkan tubuhnya lagi seraya tersenyum menahan rona diwajahnya yang kini bak tomat memenuhi pipinya.


"Kak Reyhan, aku juga cinta kamu" gumam Kanaya seraya merasakan dadanya yang kini seolah meledak-ledak karena perbuatan Reyhan yang begitu manis padanya. Kanaya bisa gila jika Reyhan selalu bersikap seperti itu, bahkan senyum mengembang masih ia tunjukkan meskipun kini langkahnya mulai mendekat kearah pintu rumahnya.


"Dari mana aja kamu? kok senyum-senyum sendiri? pulang sama siapa?" pertanyaan itu seolah membuyarkan mood Kanaya yang sedang bahagia. Ia melirik wajah pria yang kini berdiri dengan berkacak pinggang menatapnya dengan angkuh.


"Bukan urusan kamu, aku mau masuk dulu!" kata Kanaya yang kini mulai mengubah ekspresi wajahnya semakin masam. Kanaya melangkahkan kakinya masuk menerobos tubuh Angga, namun sebelum Kanaya melewatinya Angga dengan cepat meraih lengan Kanaya membuat gadis itu meronta.


"Aku belum selesai Nay, aku berhak tau sama keadaan kamu! aku itu calon suami kamu Kanaya!" ujar Angga dengan suaranya yang meninggi membuat Kanaya menaikkan sebelah alisnya pada pria dihadapannya itu.


"Lepasin aku Angga! aku mau masuk, ini nggak ada urusannya sama kamu. Lepasin!" kata Kanaya membentak seraya mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan Angga.


"Nggak! sampai kamu bilang dan jujur sama aku. Kemana aja kamu hari ini?" pertanyaan itu membuat Kanaya hanya terdiam seraya meronta namun Angga tak kunjung melepaskannya, malah semakin kuat cengkraman pria itu dilengannya.


"Ada apa ini?! Kanaya!" Teriak Reyhan yang kini tiba-tiba datang dan menarik Kanaya dari cengkraman pria itu membuat mata Angga memanas dibuatnya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Reyhan dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran itu. Dengan cepat Kanaya menggeleng membuat Reyhan tersenyum lega.


"Kak Reyhan? kenapa kakak masih disini, aku pikir-" Reyhan menghentikan kata-kata Kanaya menggunakan jemarinya kala Kanaya hendak mengatakan sesuatu. Reyhan segera memberikan ponsel Kanaya yang kini berada ditangannya, gadis itu tersenyum, ia bahkan tak sadar jika ponselnya tertinggal di mobil Reyhan.


"Siapa dia Nay? kamu mau main-main sama aku?, jangan lupa Kanaya, kamu itu calon istri aku" Kanaya membalikkan tubuhnya, ia menatap Angga dengan pandangan tidak suka. Bukankah sebelumnya mereka telah mencapai kesepakatan, jika Kanaya belum setuju maka Angga belum tentu menjadi pilihan dirinya. Seharusnya Kanaya yang marah, bukan Angga.


"Aku nggak pernah bilang kalau aku setuju buat nikah sama kamu Angga! inget perjanjian kita dari awal, apa kamu lupa?"


"Tapi kita udah dijodohin Nay, dan orangtua kita udah setuju" kata Angga membuat Kanaya jengah dibuatnya. Kanaya kini menahan amarahnya yang semakin membara, Angga benar-benar keterlaluan kali ini.


"Aku pacar Kanaya, pria berhak memilih tapi wanita berhak menolak, meskipun orang tua kalian udah pada setuju, tapi mereka belum dengar lamaran aku" ujar Reyhan membuat mata Kanaya membelalak. Begitupun dengan Angga yang kini tak bisa menahan amarahnya lagi. Mau bagaimanapun Kanaya akan menjadi istrinya, Angga tidak akan semudah itu melepaskan gadis yang ia suka.


"Kak Reyhan, kakak beneran?" pertanyaan itu membuat Reyhan tersenyum seraya mengangguk membuat hati Kanaya merasa berdebar dibuatnya.


"Apa sih brisik-brisik!" teriak pria yang kini keluar dari dalam rumah Kanaya membuat Kanaya dan Reyhan terkejut dibuatnya.


"Kak Edwin"