
Luna melangkahkan kakinya dengan lunglai, sudah lima menitan ia berjalan dan berpisah dari Cindy juga Kanaya. Para sahabatnya pun tidak punya banyak ide maupun solusi atas apa yang ia alami. Apalagi Cindy, teman gilanya itu berani-beraninya membuat Luna semakin stress saja.
Kabur dari rumah, mengancam akan bunuh diri, sampai pura-pura kawin lari. Ide gila yang dihaturkan temannya satu itu menurutnya hanyalah pikiran konyol yang harus dibuang begitu saja. Berbeda dengan Cindy, Kanaya lebih bijak darinya tapi solusinya benar-benar membuat Luna hampir kehilangan nafas.
"Lo harusnya jadi cewek itu yang teges Lun! kalo lo nggak mau ya bilang aja nggak mau. Emangnya lo mau dijodohin terus cerai gara-gara kalian gak cocok. Udahlah Lun, lo harusnya berani buat bilang. Kalau mama papa lo perduli sama kebahagiaan lo, mereka pasti paham kok"
Luna memejamkan matanya seraya menepuk-nepuk kepalanya. Apa yang dikatakan Kanaya memang benar, tapi nyali Luna terlalu ciut untuk melakukan itu semua. Itu semua juga sudah menjadi dasar akan sikapnya selama ini, gadis penurut yang sopan dan berwibawa. Gadis keraton lemah lembut yang bernama Luna Anjasmara, Luna yang berarti bulan dalam bahasa latin yang menggambarkan seorang dewi yang lemah lembut, serta Anjasmara yang berarti mandiri bijaksana, dan berwibawa.
Setidaknya ia masih ingat perkataan almarhum neneknya waktu mereka bercengkrama saat Luna menginjak usia sepuluh tahun. Nama itu pemberian dari neneknya sekaligus mempunyai makna tersendiri. Jika boleh memilih, Luna ingin memiliki kebebasan, ia tak ingin terikat oleh adat. Berkelana dari jalan keluarga, bukannya bebas dan tak ingin diatur.
"Luna, kamu disini?" suara pria tak asing itu membuat lamunan Luna buyar seketika. Kepalanya menengadah, menatap Zayn yang kini berdiri dengan hanya memakai jaket hoodie dan celana training membuat gadis itu menelan saliva.
"Ka-kamu kenapa bisa disini?" tanya Luna dengan perasaan gugupnya. Rasa gundah dan kacau yang ia miliki bahkan tidak imbang dengan perasaannya kala Zayn tiba-tiba duduk disampingnya seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket.
"Tadi malam kamu telfon aku ada apa? aku cari kamu kemana-mana loh, aku chat juga nggak dibales, telfon juga nggak di angkat. Kayanya lagi sibuk banget ya"
"Sibuk?" Luna mengerutkan keningnya, iya sibuk memikirkan perjodohannya yang sebentar lagi akan dilangsungkan. Pikir Luna tanpa bersuara. Ia memang sengaja mengaktifkan ponselnya tanpa suara dan hanya menyisakan mode getar. Takut jika mamanya akan menelfon lagi atau bahkan papanya.
"Aku nggak sibuk kok, ponselnya aku silent aja. Lagian tadi malam, kamu duluan yang telfon aku, terus aku telfon kamu balik eh malah nggak diangkat"
"Masa sih?" tanya Zayn yang agak terkejut membuat dirinya buru-buru memeriksa ponselnya. Benar saja apa yang dikatakan gadis ini, sebelum telfon dari Luna dimulai, memang dirinyalah yang menelfon duluan. Mungkin Zayn tidak sengaja tadi malam. Saking kesalnya ia sampai membanting ponsel diatas kasur dan tanpa sadar membuat panggilan pada Luna.
Zayn tersenyum kikuk, malu sendiri karena perbuatannya. Tapi apa melihat Luna yang kini masih terdiam seraya memijit pelipisnya membuat pria itu tergugah untuk menyentuh lembut rambut ikalnya seraya membantunya untuk sekedar memijit pelan kepalanya yang hendak meledak saja.
"Kamu ngapain?" senyuman itu membuat mata Luna membulat, ia bahkan sampai tergagap menatap netra coklat dari pria blasteran yang masih bertahan memijit pelan kepalanya.
"Cerita aja, kayanya masalah kamu berat banget deh" kata Zayn seraya meyakinkan Luna agar dirinya relaks sesaat dan menikmati pijitan dikepalanya. Luna hanya pasrah saja, gadis itu agak memiringkan kepalanya. Lumayan, pijatan gratis jangan disia-siakan. Apalagi yang memijit kepalanya sekarang adalah pria tampan yang menjadi idaman jika senyuman itu ditujukan pada semua kalangan wanita.
"Masalah aku masih sama, bodohnya aku juga nggak berani ngomong sama mama kalau aku nolak perjodohan ini" Zayn menghela nafasnya, pria itu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Luna. Karena kenyataannya, nasibnya juga tak jauh beda dengan Luna. Sayangnya Luna adalah gadis yang penurut, latar keluarganya berbeda dan itu yang membuat keadaannya jadi lebih sulit daripada dirinya.
Astaga, bisa-bisa Luna sakit jantung jika dadanya terus berdetak tak karuan seperti ini.
"Aku juga sama kok, papa juga mau jodohin aku. Kenapa nasib kita bisa sama kaya gini ya?" Luna masih terdiam tanpa kata. Daripada menyimak apa yang Zayn katakan, ia lebih memikirkan perasaannya saat ini ketika Zayn meletakkan dagunya tepat dikepala Luna yang kini bersandar di pundaknya.
Luna memejamkan matanya erat-erat, merasakan hangatnya saat berada dipelukan Zayn membuat Luna melupakan soal masalahnya sesaat.
Terik mentari diatas sana bahkan dilupakan olehnya yang kini duduk dikursi panjang dengan pohon rindang yang menutupi tubuh mereka diantara keramaian jalan kompleks perumahan elit setapak.
"Luna, gimana sama tawaran aku kemarin?" mendadak Luna gelagapan, ia bangkit dan menarik diri dari dekapan Zayn. Membuat Zayn mengerutkan keningnya seraya menatap Luna yang kini membuang muka saking malunya ia.
"Aku-aku, ehemm kita kan baru kenal Zayn, jadi aku"
"Aku tau kamu belum siap, aku nggak akan maksa kamu kok. Tapi kalau kamu mau, kita bisa kerjasama"
Luna memang belum siap menjalin sebuah komitmen, ia hanya takut jika jatuh dalam cinta dan terjebak didalamnya Luna tak bisa keluar lagi. Luna takut ketika mereka mulai cocok namun takdir berkata lain. Ia takut pstah hati, seperti apa yang dirasakan oleh orang lain. Belum lagi masalah perjodohan itu.
"Kita bisa pura-pura pacaran" lanjut Zayn membuat mata Luna membulat dan menatapnya lamat-lamat. Hatinya sedikit kecewa mendengar rencana Zayn. Sebenarnya Luna sendiri menginginkan lebih, tak ingin sekedar pura-pura saja.
Tapi hati terdalamnya masih belum siap, terlepas dari apa yang ia yakini berakhir dengan patah hati. Apalagi Zayn kemarin hanya bilang 'jika mereka cocok' maka bisa dipastikan jika Zayn tidak merasakan apa yang tengah dirasakan olehnya saat mereka bersama.
Luna berfikir sejenak, ia melemparkan perasaan pribadinya begitu saja. Setelah berpura-pura, mereka akan putus, Luna juga tidak akan berhubungan dengan Zayn lagi. Hubungan kerjasama yang menguntungkan ini akan membuatnya cepat atau lambat menghindar dari Zayn dan melepaskan perasannya secara perlahan.
"Aku mau, tapi aku bener-bener nggak berani buat ngomong sama orang tua aku kalo sebenarnya aku punya pilihan" Zayn tersenyum mengembang, ia menyentuh jemari Luna yang kini berada di lututnya.
"Kamu tenang aja, kalau kamu mau pulang nanti hubungi aku. Aku bakal bantu kamu ngomong" mata Luna membulat dibuatnya. Apa sebenarnya yang Zayn pikirkan, bagaimana dia bisa dengan berani bertemu orangtua Luna. Zayn belum tau saja bagaimana sifat mereka. Jika sampai salah, hidup Luna akan terancam nantinya.