The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Flashback : Reyna dan masa lalunya



"Apa yang harus aku lakukan saat ini?" gadis itu bergumam setelah keluar dari kediamannya. Menarik koper besar miliknya dan meneteskan beberapa air mata yang berlinang disana.


Falery mulai memejamkan matanya, dirinya menatap kedua sepatu boot yang ia pakai dan menendang salju dibawahnya.


Diraihnya ponsel yang berada disaku miliknya dan menelfon seseorang disebrang sana.


"Hallo"


"Sarah" kali ini gadis itu memainkan kuku jarinya, duduk dicafe tempatnya biasa bercengkrama dengan sang sahabat. Sedang dihadapannya Sarah tengah menyesap kopinya tanpa mengalihkan pandangan tajam pada Falery.


"Sarah, aku mohon bantu aku untuk mencari apartemen."


"Sebenarnya apa masalah mu Fay? apa jangan-jangan kau kabur dari rumah?" Falery menggeleng, dirinya enggan berterus terang pada sahabatnya kali ini. Gadis itu masih bisa berfikir dengan jernih, Falery takkan mengungkapkan jati dirinya pada siapapun, satu-satunya harapannya adalah tentang Yasya yang selama ini ia ragukan ketika ia kehilangan ingatan untuk waktu yang sangat lama.


"Fay! kau melamun?" tanya Sarah yang kini sedikit khawatir dengan tingkah Falery yang tidak biasa


"Sebenarnya kakak ipar ku sedikit sensitif terhadap ku. Karena perhatian dari kak Alan padaku yang melebihi perhatiannya pada keluarga kecilnya?."


"Hahahaha kau serius Fay?" Falery mengernyitkan keningnya, dirinya bingung dengan sahabatnya kali ini yang tertawa geli oleh perkataannya barusan.


Falery menepuk meja dihadapan Sarah membuatnya bungkam seketika.


"Cukup Sarah, aku serius."


"Maaf maaf. Jadi kakak iparmu cemburu padamu? pffttt."


"Itu tidak penting, yang penting aku mau menghindar."


"Baiklah jika kau memaksa. Aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu."


"Ck, kemana anak itu pergi, sudah dihubungi beberapa kali tetap saja nomornya tidak bisa" ucap Alan dengan suara kesalnya sambil beberapa kali mengumpat. Dirinya hampir menyerah untuk menghubungi adik perempuannya itu. Perasaan khawatir dan dirundung kebimbangan seperti awan bergemuruh yang menggulung dalam hatinya.


"Kak bagaimana? apa Falery bisa dihubungi?" pertanyaan dari Zayn membuat Alan menggeleng sambil menampakkan wajah muramnya.


"Kak, aku percaya padanya. Dia takkan mungkin melakukan itu, kau percaya padanya kan?."


"Masalah percaya atau tidak, aku tidak perduli Zayn. Daddy hanya ingin bertemu dengan anak itu, tapi kenapa dia tak kunjung kembali."


Mereka terlihat cemas dengan wajah yang berkerut khawatir. Nampaknya Thomas belum sadar dari masa kritisnya sebelum dirinya mendengar suara sang malaikat kecil yang menjadi kebanggaannya.


Kakak beradik itu hanya bisa memandang Thomas dengan pilu, terbaring lemah dengan selang oksigen dan beberapa peralatan menempel ditubuh pria paruh baya itu.


"Aku percaya Zayn, aku percaya pada Falery. Sebelum anak itu menjelaskan permasalahannya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Kakak benar. Setelah daddy sembuh nanti dan Falery kembali, akan kucari pria brengsek itu dan kupatahkan tulang-tulangnya" tutur Zayn dengan tatapan tajam dan dendam yang begitu membara.


"Alan, bagaimana keadaan daddy?" suara perempuan yang tak asing membuatnya menoleh kebelakang, matanya mendapati Grace yang kini menatap khawatir pada kaca pintu dihadapannya.


"Bagaimana? apakah Falery pulang pagi ini?" pertanyaan itu membuat Grace membelalakkan matanya, dirinya semakin gugup dan diam sebentar, memikirkan suatu alasan untuk dapat dikatakan pada suami dan juga adik iparnya.


"Fa, Falery. Dia, dia pulang" suara nafas lega keluar dari kakak beradik itu, namun sedetik kemudian.


"Tapi dia pulang untuk pergi."


"Apa maksudmu Grace? pergi kemana dia?!" tanya Alan yang kini mengernyit dengan suaranya yang meninggi.


"Kak, kenapa kau tak mencegahnya?."


"Tenang dulu, aku akan jelaskan."


Grace menarik nafasnya dalam-dalam, dirinya sempat berfikir sejenak. Namun kala itu juga ia menatap serius pada kakak beradik dihadapannya agar mereka tak curiga.


"Pagi ini, Falery pulang naik taksi. Dia kembali, aku mencoba menghentikannya, namun dia seolah tak mendengarku. Dia naik kedalam kamarnya dan membereskan barang-barangnya dari sana. Aku sudah berusaha Alan. Hiks, tapi dia tak mendengarkan ku, hiks hiks.. aku bahkan berlutut padanya, namun dia seolah tak perduli dengan apa yang aku ceritakan perihal daddy Alan hiks. Ketika aku mengintipnya keluar dari kediaman rumah kita, ternyata ada seorang pria yang tengah menunggunya didalam taksi tersebut."


"APAA?! INI TIDAK MUNGKIN!" suara Alan meninggi, sedang Zayn kini mengacak rambutnya frustasi. Mereka tak mengira dengan apa yang diceritakan oleh Grace, namun jika memang tidak, mengapa Grace harus berbohong?.


"Aku bersumpah Alan. Aku hiks, aku sudah berusaha."


Ia tak tau lagi harus bagaimana, sedang keadaan Thomas berada ditangan Falery. Meskipun ia menyadari Falery bukanlah darah daging kedua orang tua mereka, namun rasa persaudaraan dan juga ikatan batin yang kuat membuat mereka sangat menyayangi gadis kecil itu.


Tanpa sadar Zayn bangkit dari tempatnya duduk, dirinya menahan amarah sedari tadi. Pria itu tak semudah dan sedangkal Alan yang begitu mudah percaya pada perkataan orang lain, sebelum membuktikannya sendiri.


"Zayn kau mau kemana?" pertanyaan itu membuat Zayn menatap tajam pada suami istri itu secara bergantian.


"Mencari keberadaan adikku."


"Tapi Falery bilang dia takkan kembali lagi" ucapan dari Grace membuat amarah Zayn tambah memuncak. Ditatapnya tajam sang kakak ipar yang kini membisu dan ketakutan dalam pelukan Alan.


"Kalian dengar, Falery tidak seperti itu Dia adalah adikku. Kak, kita sudah hidup bersama-sama, bahkan sebelum kau berkeluarga. Apakah kau akan dengan mudah percaya begitu saja? apa kau lihat Falery begitu kejam? jika memang ia bertindak jahat, mengapa tidak dari dulu saja dia melakukan itu?."


"Zayn! jadi kau mencurigai ku? kau fikir aku berbohong pada kalian? Alan hiks..." suara Grace meninggi, disusul pelukan manjanya pada sang suami yang kini membalas pelukannya dan menenangkan Grace.


"Aku percaya dengan apa yang kulihat dan apa yang aku rasakan" ucapnya lalu pergi tanpa kata-kata sedikitpun.


Pria itu tetap melangkah meski suara lantang terdengar menggema dari Alan yang kini memilih untuk menenangkan Grace dalam dekapannya.


***


"Huffft" nafas lega dirasakan Falery dan Sarah yang kini telah usai membereskan tempat tinggal Falery yang baru.


Berkat sahabatnya lah dirinya bisa mendapat tempat tinggal meskipun tidak terlalu besar. Falery dan Sarah kini mereka menjatuhkan diri mereka pada kasur yang empuk disalah satu ruang kamar.


"Uhhhh Fay, akhirnya selesai juga kan " ucap Sarah dengan senyuman yang bangga. Sedang Falery menatap lembut sahabatnya yang kini tengah tertidur mensejajari dirinya.


"Ini berkat kau Sarah, terimakasih atas semua bantuan mu. Aku tidak tau lagi harus minta tolong pada siapa lagi, aku benar-benar berterimakasih padamu."


Sarah bangkit dari tidurnya, dirinya beralih menatap Falery yang kian lama kian aneh dengan sifatnya yang begitu ramah itu.


"Kau? ada apa denganmu Fay? kenapa kau jadi hangat seperti ini? kau tak seperti Falery yang aku kenal" ujar Sarah membuat Falery tak mengerti dan ikut bangkit duduk disampingnya.


"Apakah kau ingin aku selalu dingin padamu?apa aku ini terlalu kejam sebelumnya?."


"Ya kau adalah sahabat yang paling dingin yang pernah aku kenal. Kau bahkan tidak pernah menganggap ku ada. Mengapa sekarang kau jadi berubah seperti ini?" Falery menatap bingung pada sahabatnya, mungkin kembalinya ingatan Falery membuatnya kembali menjadi Reyna yang dulu. Reyna yang hangat dan perduli, sangat berbanding terbalik dengan karakter Falery yang dingin dan sombong.


"Apa aku tidak boleh berubah?" tanyanya dengan senyuman.


"Astaga Fay, kau benar-benar berubah? apa aku bermimpi? coba cubit aku atau" suara gadis itu terpotong dan beralih berteriak kala Falery tanpa perasaan mencubit keras lengannya.


"AAAAaaaaaaaahhhhhhhh Fay" teriak gadis itu sambil memegang lengannya, sedang Falery hanya memutar bola matanya malas.


"Nah sekarang kau percaya kalau ini bukan dunia tidurmu itu?."


"Fay, ini sakit" kata Sarah sambil meringis kesakitan.


"Kau yang menyuruhku, aku hanya melakukan perintahmu."


'Asal kau tau Sarah, aku yang sekarang adalah Reyna. Aku bukan Falery, ini memang sifatku, meskipun aku tidak menyadari perubahan dari sikapku saat menjadi Falery. Tapi masalalu itu sangat jelas difikiran ku."


Flashback on


Falery baru saja pulih setelah dirinya melakukan operasi otak kecil. Entah mengapa, dirinya hanya berdiam sambil menatap kosong setiap orang yang berada disekitarnya, termasuk Ajeng dan Zayn.


"Falery" tatapan tajam dari Falery pada Zayn yang baru saja memanggil namanya membuat semua orang bingung termasuk Thomas dan Alan.


"Kau siapa?" semenjak saat itu, Falery tidak mengingat apapun dalam hidupnya. Namun karena traumatis yang ia rasakan dalam kehidupan sebelumnya membuatnya melawan perasaan itu dengan hanya berdiam tanpa mau bicara.


Falery memang tak mengingat apapun tentang kehidupan Reyna, tapi perasaan takut dan sendiri juga luka yang hampir tiap hari ia rasakan membuat fikiran normalnya hilang. Hingga pada suatu hari Falery dibawa ke dokter spesial kejiwaan dan psikologi.


Saat itulah tiap hari dirinya diterapi, diajak bicara perihal kehidupannya yang baru tanpa menyinggung kehidupannya sebagai Reyna. Semenjak saat itu, sifat dan juga pemikirannya pun berubah, menjadi Falery yang kuat dan pemberani. Falery yang sombong dan angkuh. Karakter barunya membuat dirinya kuat, keterbalikan dari sifat Reyna. Meskipun begitu, sikap yang hangat dan manis pada orang-orang tertentu masih ada dalam dirinya.


Hal itu tak menjadi suatu permasalahan dalam keluarga barunya. Malahan bagi mereka, Falery yang sekarang dapat menjaga dirinya dan kuat menghadapi segala yang ada.


Flashback off