The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Dirumah Oma



Mendengar bahwa Luna baik-baik saja membuat hati Zayn yang sebelumnya tidak tenang kini berubah menjadi sedikit berkurang. Meskipun Zayn sendiri juga tau Luna sebenarnya hanya berbohong padanya.


Suara sumbang itu membuat Zayn benar-benar tidak tahan untuk selalu didekat Luna saat ini.


"Kamu kenapa Zayn?" suara sedikit gemetar dengan diimbangi langkah dari oma Zayn membuat pandangan pria itu mengarah pada wanita tua yang kini sudah berdiri dihadapannya seraya menatapnya gusar penuh pertanyaan.


"Oma belum tidur?" tanya Zayn balik seraya menggeser duduknya agar oma bisa duduk bersamanya di sofa. Tepat didepan televisi yang tidak dihiraukan sama sekali oleh pria itu.


"Oma belum ngantuk, kamu ada masalah ya? cerita sama oma" bujuk Oma yang menatap manik mata coklat milik cucunya. Sebenarnya Zayn tadi ingin tinggal di hotel saja, namun mengingat jarak tempuh dari rumah Luna dan oma hanya memakan waktu sekitar satu jam an membuat pria itu memutuskan untuk tinggal. Toh ini semua demi Luna, kalau tinggal di hotel nanti malahan tidak ada yang mengurusinya jika terjadi sesuatu.


"Oma, dulu waktu mommy sama daddy mau nikah, apa oma galak sama mereka? nentang gitu, atau timbul rasa nggak suka sama daddy?" oma mengernyit, oma sepertinya mulai mengerti arah pembicaraan cucunya yang terdengar serius itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba tanya gitu? tumben" suara oma terdengar meledek, seperti oma mengerti sesuatu akan apa yang hendak Zayn katakan. Zayn hanya mampu meringis saat oma kini menatapnya dengan matanya yang menyipit, seolah mengintimidasi setiap pandangan dan juga gerak-gerik yang dilakukannya saat ini.


Benar saja, Zayn mulai salah tingkah sendiri. Ia menggaruk tengkuknya seraya menahan rona merah diwajahnya yang tercetak jelas seperti kepiting rebus.


"Yah oma nih, apaan sih liat aku kok kayak gitu?"


"Mommy udah cerita kok ke oma kalau sebenarnya kamu itu punya pilihan sendiri kan?. Ayo dong curhat, nanti pasti oma bantu" bujuk oma dengan senyuman mengembang disertai godaan dari oma yang terdengar merayu itu.


"Atau, kamu ditolak sama keluarganya? makanya kamu tanya gitu ke oma?" Zayn membulatkan matanya ketika perkataan oma seperti tuduhan tanpa bukti yang memang benar nyata untuknya. Apa kata oma dan mommy-nya nanti kalau tau Zayn memang benar-benar ditolak oleh keluarga Luna?. Kalaupun mereka mau membantu maka Zayn juga bingung apa yang harus dilakukan ketika mereka berhasil nantinya. Bagaimana menjelaskannya bahwa sebenarnya Zayn belum siap untuk menikah?. Atau malah keluarga Zayn tidak akan menerima Luna lagi setelah mendengar apa yang ia bicarakan.


"Zayn?! kamu nggak apa-apa kan?" Zayn hanya mampu menggeleng, ia bingung harus menjelaskan pada Omanya seperti apa. Pasalnya jalan buntu sepertinya sudah berada didepan mata.


"Oma, kalau misalkan Zayn putus sama pacar Zayn yang sekarang, apa mommy sama oma masih tetep kekeuh buat jodohin Zayn?" oma mengernyit, baginya kini tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan Zayn. Begitupun keinginan dari keluarganya. Meskipun begitu ketika Zayn sudah beranjak dewasa, ia harusnya sudah siap dengan konsekuensi perjodohan jika pria ini tak kunjung mendapatkan calon istri.


"Iya, memangnya kenapa kamu mau putus sama pacar kamu? baru aja dikenalin, masa mau putus begitu. Kamu nggak coba-coba buat alasan kan?"yang benar saja, oma Zayn ini benar-benar seperti peramal saja. Tau segala isi hati dan pikirannya. Sontak saja dengan perasaan yang berdebar juga hati yang tak karuan, Zayn hanya mampu menggeleng seraya mencoba meyakinkan Omanya.


"Ya nggak lah oma, mana ada Zayn bikin alasan. Zayn beneran serius sama dia"


"Tapi Zayn, cewek yang dijodohin sama kamu ini dia juga cantik loh, kamu aja mungkin langsung klepek-klepek kalo ketemu sama dia" canda oma membuat Zayn membulatkan matanya. Secantik apa wanita itu, mungkin juga kecantikannya akan kalah dengan Luna.


Zayn bertaruh, jika Omanya tau bagaimana rupa dan kecantikan Luna, pasti oma juga akan memperlakukan Luna seperti halnya mommy-nya seperti waktu itu.


"Cantikan pacar Zayn, oma aja yang nggak pernah ketemu sama dia. Mommy aja seneng kok Zayn ngajak dia kerumah" kesal Zayn dengan bibirnya yang sedikit mengerucut itu. Benar-benar cucu oma ini bisa membuat oma ingat akan masa kecil Zayn yang begitu lucu sekali. Tidak rugi Ajeng dulu menikah dengan pria bule, nyatanya sekarang ia mempunyai putra yang begitu tampan dan tentu saja blasteran.


"Ahhhh, Zayn, Zayn. Kamu itu lo udah ganteng, sopan, pinter, tajir lagi. Kamu tinggal tunjuk satu persatu cewek yang kamu sukai, gitu aja kok repot" Zayn kini beralih memeluk Omanya, ia menatap layar televisi yang masih belum berpindah channel sedari tadi. Menampilkan gambar iklan shampo didepan mata Zayn. Pikirannya benar-benar penuh dengan masalah yang terjadi.


Oma bilang begitu karena oma tidak tau bagaimana adat mengalahkan rasa cinta dan juga kenyamanan. Memang benar, budaya dan juga hal yang seperti itu tidak lagi atau sekedar jarang digunakan. Tapi keluarga Luna berbeda. Mereka punya aturan sendiri, apalagi tentang berkeluarga. Bibit bebet bobot harus diperhatikan dalam hal yang lebih serius lagi dalam memilih pasangan.


"Besok, mommy sama papa angkat kamu mau kemari buat nemuin calon mertua mu. Mereka mau ngelamar pacar kamu itu" perkataan oma membuat Zayn bangkit dari duduknya. Ia menatap Oma dengan pandangan gusar seraya mengernyit. Apa? besok? kenapa secepat ini?. Zayn benar-benar tak paham dengan kedua orangtuanya itu. Kenapa semakin kesini semakin ribet saja?.


"Kok aku nggak dikasih tau? kenapa mereka kesini?" tanya Zayn dengan gugup seraya mengusap kasar wajahnya.


"Ini kejutan buat kamu, tapi, kamu jangan bilang ke mereka ya kalau oma kasih tau kamu" bisik Oma seraya tersenyum menggoda membuat Zayn hanya mampu menghela nafas, seraya memejamkan matanya.